Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Arsen!
Aira mencengkeram erat pinggiran meja kayu warung Bu Darmi. Matanya menatap lurus ke arah Bu Romlah, tidak ada lagi pandangan layu atau kepala yang menunduk pasrah seperti hari-hari lalu.
"Jaga ya, Bu, mulutnya! Jangan menyamakan nasib orang lain dengan saya, apalagi sampai menuduh yang tidak-tidak tanpa ada bukti," ucap Aira, suaranya tidak tinggi, namun begitu tajam dan penuh penekanan hingga membuat ketiga wanita paruh baya itu tersentak.
Bu Romlah yang tidak menduga akan mendapat perlawanan seketika mendengus dan mencoba mengembalikan harga dirinya, "Lho, ya kan saya cuma mengingatkan, Ra. Lagian kalau emang beneran orang kaya dan nggak ada yang disembunyikan, masa nikahnya sepi begitu? mana cuma dinikahi siri, pasti biar kamu gampang ditinggal nanti," tuduh Bu Romlah.
Aira tersenyum sinis, sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya. "Saya memang nikah siri, tapi tidak ada yang perlu disembunyikan dari pernikahan itu. Saat pernikahan saya, bukannya Bu Romlah dan warga lainnya juga ada ya, pasti ibu sudah tahu apa yang terjadi bukan? Kalau Ibu-ibu sekalian merasa ada yang tidak beres, coba tanya ke Pak De Karwo, beliau lah yang bertanggung jawab atas pernikahan kilat saya," ucap Aira, dengan menatap Bu Romlah dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang jarang ia tunjukkan.
"Daripada Ibu sibuk mengurusi sah atau tidaknya pernikahan saya, lebih baik Ibu urusi anak Ibu sendiri yang kemarin kabarnya dikejar-kejar orang pinjol sampai ke rumah. Permisi. Ini uangnya, Bu Darmi. Kembaliannya ambil saja," lanjutnya.
Aira meletakkan selembar uang dua puluh ribu rupiah ke atas meja lalu menyambar bungkusan garam dan tempe dengan gerakan cepat. Ia berbalik dan melangkah lebar-lebar meninggalkan warung kelontong itu, mengabaikan wajah Bu Romlah yang seketika berubah merah padam menahan malu, serta kasak-kusuk baru antara Bu Darmi dan Bu Lastri yang kini justru berbalik menertawakan Bu Romlah.
Sepanjang jalan kembali ke rumah, napas Aira masih naik turun secara tidak teratur, dadanya bergemuruh hebat oleh sisa amarah yang menggelegak. Namun, begitu kakinya menginjak halaman rumah bambunya, Aira memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Ia mati-matian menata kembali raut wajahnya, ia tidak ingin Ibu Astri menangkap riak emosi yang bisa menimbulkan kekhawatiran baru.
"Ibu, ini garam sama tempenya," ujar Aira begitu masuk ke dapur, berusaha mengulas senyum semanis mungkin.
"Lho, kok agak lama, Nduk? Ramai ta warungnya Bu Darmi?" tanya Ibu Astri sambil menerima bahan masakan tersebut.
"Enggih, Bu. Tadi mengobrol sebentar sama tetangga," jawab Aira berbohong demi kebaikan.
"Aira bantu potong tahunya ya, Bu," ucapnya.
Dengan cekatan, Aira membantu sang ibu menyelesaikan sayur lodeh dan menggoreng lauk pauk hingga aroma gurih masakan pedesaan itu memenuhi seluruh ruangan dapur. Setelah memastikan semua hidangan siap di atas meja makan, Aira mencuci tangannya dan melangkah menuju kamar.
Saat pintu kayu dibuka dengan pelan agar tidak menimbulkan suara berisik, pandangan Aira langsung tertuju pada ranjang kapuk. Ternyata, Arsen masih terlelap dengan sangat nyaman.
Pria itu tidur menyamping, dengan satu lengan ditekuk di bawah kepala dan selimut pudar yang menutupi hingga sebatas pinggangnya. Sinar fajar yang menerobos celah anyaman bambu jatuh tepat di atas wajah tegasnya, menyamarkan guratan lelah yang biasanya selalu ada di sana saat ia bekerja di ibu kota.
Aira berjalan mendekat dengan langkah tanpa suara lalu mendudukkan dirinya di tepi kasur yang kosong, ia memandangi wajah suaminya yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Mengingat bagaimana beraninya ia berdiri membela harga diri pernikahan mereka di warung tadi, sudut bibir Aira perlahan terangkat membentuk senyuman tipis.
Rasa marahnya pada ibu-ibu penggosip itu mendadak menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa hangat yang memenuhi dadanya. Pria yang sedang tertidur lelap di hadapannya ini telah menjadi kekuatannya sekarang.
Aira mengulurkan tangannya ragu-ragu, sebelum akhirnya dengan sangat lembut merapikan beberapa helai rambut Arsen yang jatuh berantakan di dahi suaminya.
"Terima kasih sudah membantuku dari tempat buruk ini, aku sang berutang budi karena kebaikan kamu ke aku dan Ibu," bisik Aira teramat pelan, takut mengusik tidur nyenyak sang suami.
Sentuhan lembut jemari Aira di dahinya rupanya cukup untuk mengusik tidur nyenyak Arsen. Sepasang mata tajam itu perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan berkas cahaya fajar yang menyusup dari celah dinding bambu.
Melihat Aira yang duduk di tepi kasur sambil menatapnya dengan pandangan teduh, sudut bibir Arsen perlahan ketarik ke atas. Sebelum Aira sempat menarik kembali tangannya, Arsen dengan gerakan kilat menangkap pergelangan tangan sang istri lalu menariknya lembut hingga tubuh Aira sedikit terdorong ke depan.
"Mas Arsen! Kaget, tahu!" pekik Aira tertahan, wajahnya merona merah mendapati jarak wajah mereka yang kini hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Sudah bangun dari tadi, hm?" suara bariton Arsen terdengar begitu serak khas bangun tidur, terdengar seksi di telinga Aira.
Arsen menggenggam jemari Aira dan menempelkannya di pipinya yang mulai ditumbuhi janggut tipis.
"Bau masakannya sudah sampai sini, istriku masak apa?" tanya Arsen.
"Lodeh sama tahu dan tempe goreng. Mas bangun, yuk, mandi terus sarapan," ujar Aira dan mencoba menetralkan degub jantungnya yang kembali berpacu liar.
Arsen tersenyum lalu bangkit duduk dan meregangkan otot-otot punggungnya yang sedikit kaku karena ukuran kasur kapuk yang pas-pasan.
"Ra," panggil Arsen.
"Ada apa?" tanya Aira.
"Habis ini temenin aku keliling desa yuk! Selama aku disini, aku belum pernah jalan-jalan di desa i i loh," ajak Arsen.
"Boleh, tapi Mas mandi dulu terus sarapan," ucap Aira.
"Siap! Oh ya, mau mandi bareng," goda Arsen.
"Ish, apaan sih," ucap Aira.
Aira segera berdiri dari tepi ranjang, menyembunyikan wajahnya yang kini dipastikan sudah sewarna udang rebus akibat godaan suaminya.
"Mas Arsen buruan mandi! Handuknya sudah Aira siapkan di paku dekat pintu belakang!" serunya tanpa menoleh lagi, bergegas melangkah keluar kamar demi menyelamatkan jantungnya yang sudah berdegup tidak karuan.
Di balik punggungnya, suara tawa rendah Arsen kembali menggema, terdengar begitu puas karena berhasil membuat istrinya salah tingkah sejak pagi buta.
Setengah jam kemudian, suasana meja makan yang terbuat dari kayu jati tua beralas taplak plastik tipis itu terasa begitu hangat. Arsen, yang kini sudah segar dengan kaus santai dan rambut yang masih sedikit basah, tampak makan dengan sangat lahap.
Sayur lodeh buatan Ibu Astri yang gurih dan sedikit pedas, dipadukan dengan tahu dan tempe goreng garing, ternyata sangat cocok di lidah pria yang biasa memakan hidangan restoran bintang lima.
"Masakan Ibu juara. Gurihnya pas, ndak kalah sama restoran," puji Arsen tulus setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Ibu Astri yang duduk di seberangnya tersenyum lebar, matanya berbinar haru. "Alhamdulillah kalau kamu suka, Ibu tadinya takut kalau masakan ndeso begini ndak cocok di lidah orang kota," ucap Ibu Astri.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal