Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Gimana, Fath? Ada yang ingin kamu sampaikan?"
Akhirnya Arslan memberanikan diri membuka percakapan. Nada suaranya terdengar datar, namun jelas menyimpan kehati-hatian.
"Oh iya... silakan duduk."
Ia tersadar, terlalu larut dalam kecanggungan hingga lupa mempersilakan tamunya untuk duduk. Fathiya yang mengenakan rok span selutut itu segera duduk dengan anggun. Ia berusaha terlihat tenang, meski di dalam dadanya, gelombang perasaan berdesir tak terkendali.
"Maaf kalau aku mengganggu kesibukanmu," ucapnya pelan.
"Kebetulan rapatnya baru saja selesai, sekarang agak longgar." Jawab Arslan singkat. Ia berusaha terdengar biasa. Seolah pertemuan ini bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
"Pertama-tama aku mau minta maaf atas kejadian semalam, Kalau kehadiranku membuat istrimu tidak nyaman karena masa lalu kita." lanjut Fathiya, suaranya sedikit tertahan. Arslan tidak langsung menanggapi. Tatapannya beralih sesaat, seolah memilih untuk tidak masuk lebih jauh ke dalam topik itu.
"Lebih baik kita nggak perlu membahasnya lagi," ucapnya akhirnya, tegas namun tetap terkendali. Fathiya mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya yang sempat redup, namun segera ia sembunyikan.
"Dan yang kedua..."
Ia meraih tasnya, lalu mengeluarkan sebuah map berisi dokumen. "Aku baru saja ditunjuk sebagai wakil direktur di rumah sakit tempatku bekerja sekarang."
Berkas itu ia sodorkan ke arah Arslan. Arslan menerimanya. Membuka lembar demi lembar dengan serius. Tatapannya kembali berubah kini lebih profesional. Ternyata itu adalah proposal pengajuan dana, tentang rencana pengembangan gedung, serta penambahan fasilitas medis di rumah sakit tersebut. Sebuah permohonan resmi kepada para donatur, dan Arslan adalah salah satunya. Bukan tanpa alasan Fathiya meminta Arslan sebagai donatur sebab rumah sakit itu didirikan oleh keluarga Arslan, bersama beberapa investor lain. Namun nama besar keluarga Ardiwilaga masih melekat kuat di dalamnya.
Tak heran jika Fathiya bisa dengan mudah mendapatkan posisi penting di sana— tentu atas keterlibatan Farah .
"Aku ke sini sebagai perwakilan resmi," lanjut Fathiya, kini nadanya lebih lembut. "Bukan untuk hal lain."
Arslan menutup berkas itu perlahan. Menatap Fathiya.
"Proposalnya bagus," katanya singkat. "Aku akan pelajari lebih lanjut."
"Terima kasih." Jawab Fathiya.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"
Pertanyaan Arslan membuat Fathiya terdiam sejenak. Ada keraguan yang jelas terlihat di wajahnya—seolah ia sedang menimbang antara mengatakan atau mengurungkan niatnya.
Namun pada akhirnya, ia memilih tetap melangkah.
"Kalau nggak keberatan, aku ingin mengajak kamu makan siang." Kalimat itu sempat menggantung di udara. Fathiya buru-buru melanjutkan, takut disalahartikan.
"Maksudku... bukan cuma kita berdua," tambahnya cepat. "Ada Ibu Risma juga—selaku pengelola rumah sakit yang bertanggung jawab langsung atas proyek pengembangan ini. Jadi... kamu bisa tanya lebih detail." Nada suaranya terdengar lebih profesional, namun tetap saja ada sesuatu yang terselip di baliknya.
Arslan menghela napas pelan, tatapannya tidak langsung menjawab. Ia bersandar sedikit ke kursinya, jemarinya bertaut di atas meja, sementara pikirannya mulai bekerja. Ajakan itu terdengar profesional. Masuk dalam ranah bisnis yang tidak akan muncul kesalah pahaman. Namun entah kenapa hal ini tidak sepenuhnya terasa benar.
Di sisi lain, ia memang membutuhkan kepastian, bukan hanya tentang proyek. Tapi tentang kepercayaan. Arslan pernah terlalu percaya hingga akhirnya ia membayar mahal untuk itu. Ia pernah ditipu oleh sebuah yayasan.
Sebuah donasi yang seharusnya ia tujukan pada sebuah yayasan justru lenyap, dibawa kabur oleh pihak pengelola. Sejak saat itu, Arslan tidak pernah lagi mengambil keputusan tanpa memastikan semuanya sendiri. Arslan menatap kembali berkas di tangannya. Lalu menatap Fathiya, lebih lama dari sebelumnya.
"Ada Ibu Risma?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawab Fathiya mantap. "Beliau sudah menunggu di restoran dekat rumah sakit."
Hening beberapa detik yang terasa panjang. Arslan kembali menarik napas dalam. Seolah sedang mengambil keputusan yang tidak sederhana. Arslan kembali mengingat jam makan siangnya, Ia ingat kalau pagi tadi Zulfa meminta ijin untuk bertemu sahabatnya jadi ia tidak bisa mengirim bekal makan siang seperti biasanya. Dan kebetulan sekali perutnya sudah keroncongan.
"Baik." Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Arslan, namun cukup untuk membuat jantung Fathiya berdegup lebih cepat.
"Aku ikut." Lanjut Arslan lagi.
Fathiya mengangguk pelan. Berusaha menahan ekspresi. Meski di dalam hatinya, perasaan itu kembali bergerak.
Arslan bangkit dari sofa, diikuti oleh Fathiya yang juga berdiri. Namun baru beberapa langkah ia bergerak, tubuhnya mendadak limbung. Pandangannya berkunang-kunang, dan rasa nyeri di kepalanya kembali menyerang lebih kuat dari sebelumnya.
"Arslan..."
Fathiya refleks menangkap tubuh Arslan yang tiga kali lebih besar dari tubuhnya.
Gerakannya cepat, hampir tanpa berpikir. Ia menopang tubuh Arslan, lalu perlahan membantunya kembali duduk di sofa.
"Kamu sakit?" tanyanya cemas. Tanpa sadar, tangan Fathiya terangkat. Ia menyentuh kening Arslan, lalu berpindah ke leher Arslan, memastikan suhu tubuhnya, hal yang biasa ia lakukan pada pasiennya.
"Badan kamu hangat... kamu lagi nggak enak badan, ya?" Sentuhan itu terlalu dekat. Terlalu personal. Arslan tersadar.
Dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya, menciptakan jarak di antara mereka. Napasnya sedikit memburu bukan hanya karena pusing yang menyerang, tetapi juga karena situasi yang terasa tidak semestinya. Apalagi ketika Fathiya tadi sempat merengkuhnya. Jantungnya berdebar tidak teratur. Bukan karena masih menyimpan perasaan, tetapi kekhawatiran, takut kalau ada yang melihatnya dan menciptakan kesalah pahaman.
"Maaf..." suara Fathiya melemah. "Aku terlalu lancang menyentuh kamu." Ia langsung menarik tangannya, menunduk, menyadari batas yang nyaris ia langgar.
Arslan terdiam sejenak, Ia mencoba berpikir jernih. Yang ada di hadapannya adalah seorang dokter tentu hal seperti ini biasa ia lakukan pada pasiennya.
"Sudah, nggak apa-apa," ucapnya akhirnya, lebih tenang. "Aku cuma agak pusing."
Ia mengusap pelipisnya pelan. "Tadi sudah minum obat, sempat istirahat juga. Mungkin efeknya belum hilang sepenuhnya."
Fathiya mengangkat wajahnya. Tatapannya masih menyimpan kekhawatiran.
"Harusnya kamu istirahat, bukan malah keluar," ucapnya pelan, nada profesionalnya sebagai seorang dokter kembali muncul. "Kondisi kamu belum stabil."
Arslan tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
"Aku sudah nggak apa-apa lebih baik kita berangkat sekarang. Mumpung masih ada waktu buat makan siang." Ajak Arslan kemudian.
Kali ini dengan langkah yang pasti Arslan berdiri, ia sudah tak merasakan sakit di tubuhnya. Mereka keluar ruangan bersama. Disana ada Vania yang menatap mereka dengan tatapan intens. Sebab tak biasanya ia melihat atasannya keluar bersama seorang wanita. Namun Vania memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat, ketimbang karirnya jadi taruhannya.
Sesampainya di lobby, mereka berpisah. Fathiya memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri menuju restoran tersebut, sebab Arslan juga tak memberi tawaran untuk mengajaknya dalam satu mobil, jadi Fathiya cukup tau diri saja. Arslan sendiri pun tak berniat mengajak Fathiya masuk ke dalam mobilnya, ia juga tau batasan, siapa yang saat ini sedang bersamanya.
Tak lama kemudian, keduanya tiba hampir bersamaan di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan besar. Restoran yang menjadi tujuan mereka terletak di dalamnya.
Fathiya turun dari mobil. Begitu pula Arslan. Tanpa banyak kata, mereka kembali berjalan berdampingan, namun kali ini terasa berbeda. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak sepenuhnya jauh.
Langkah mereka seirama, memasuki area dalam mall yang ramai oleh lalu-lalang pengunjung. Suara percakapan, denting sendok, dan alunan musik lembut dari berbagai sudut ruangan seolah menjadi latar yang kontras dengan keheningan di antara mereka.
Sesekali, tanpa sadar, pandangan mereka saling berpapasan. Namun cepat-cepat dialihkan. Seolah takut jika terlalu lama bertahan akan membuka sesuatu yang tak seharusnya kembali.
"Bu Risma sudah menunggu," ucap Fathiya pelan, berusaha mencairkan suasana.
Arslan mengangguk singkat.
"Ya." Hanya itu. Namun cukup untuk kembali mengingatkan bahwa tujuan mereka ke sini adalah urusan donasi bukan yang lain.
Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di depan restoran.
Seorang wanita paruh baya berdiri dari kursinya begitu melihat kedatangan mereka. Senyumnya hangat, seolah telah lama menunggu.
"Fathiya," sapanya ramah. Lalu pandangannya beralih pada Arslan. "Dan ini pasti Pak Arslan." Fathiya mengangguk.
"Maaf membuat Anda menunggu lama."
"Tidak apa-apa," jawab Bu Risma. "Silakan, kita duduk dulu."
Mereka bertiga pun menuju meja yang telah disiapkan. Suasana restoran terasa hangat, namun percakapan yang terjadi di meja itu berjalan serius. Bu Risma mulai menjelaskan detail proyek pengembangan rumah sakit—mulai dari rencana perluasan gedung, pengadaan alat medis, hingga proyeksi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Arslan mendengarkan dengan saksama. Tatapannya tajam. Sesekali ia membuka kembali berkas yang tadi diberikan Fathiya, mencocokkannya dengan setiap penjelasan yang disampaikan.
Dan semuanya—selaras. Tak ada yang janggal. Tak ada celah yang mencurigakan. Justru sebaliknya, setiap kalimat yang keluar dari Bu Risma terdengar meyakinkan, terstruktur, dan penuh perhitungan matang. Hal itu membuat Arslan mulai melunak. Kepercayaannya perlahan tumbuh.
"Kalau semua berjalan sesuai rencana," ucap Risma di akhir penjelasannya, "rumah sakit ini akan mampu menjangkau lebih banyak pasien, terutama mereka yang membutuhkan layanan dengan biaya terjangkau."
Arslan mengangguk pelan.
"Baik. Saya akan pertimbangkan untuk menambah kontribusi," jawabnya singkat, namun cukup untuk membuat wajah Risma dan Fathiya sedikit berbinar.
"Terima kasih, Pak Arslan," sahut Risma tulus
Fathiya hanya tersenyum kecil. Namun di balik senyum itu hatinya tidak sepenuhnya tenang. Karena di sela-sela pembicaraan tadi, ia beberapa kali menangkap tatapan Arslan yang berbeda.
Bukan lagi sekadar profesional, dan itu membuatnya semakin gelisah.
—
Di sisi lain...
tanpa mereka sadari,
sepasang mata tengah memperhatikan dari kejauhan.
Zulfa berdiri tak jauh dari area restoran, setengah bersembunyi di balik pilar besar. Awalnya, ia tak sengaja melihat sosok Arslan dari kejauhan—sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Dan ketika ia memastikan—dunia seakan berhenti sejenak.
Arslan.
Suaminya.
Duduk satu meja dengan seorang wanita.
Bukan hanya satu. Tapi salah satunya, dan itu Fathiya.
Nama yang beberapa hari terakhir terus mengusik pikirannya. Nama yang mulai terasa asing namun juga mengancam.
Zulfa menahan napas. Matanya tak berkedip. Ia memperhatikan setiap gerak mereka.
Cara mereka duduk.
Cara mereka berbicara.
Cara mereka saling menatap.
Dan entah kenapa—hatinya langsung berdenyut nyeri.
Bukan karena melihat sesuatu yang jelas salah.
Namun justru karena—terlalu terlihat nyaman.
Dan itu yang paling menyakitkan. Tangannya mengepal pelan. Ponsel di genggamannya terasa dingin.
Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.
"Kenapa... dia nggak bilang?" bisiknya lirih. Namun yang ia lihat sekarang adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
***