Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Siang itu, langit sangat cerah dan membawa hawa panas yang terik ketika Rena kembali ke rumah setelah mengajak Dio makan di luar. Sengaja dia juga membawa bungkusan makanan untuk makan malam mereka berdua nanti di kamar. Hari ini, dia benar-benar berniat untuk tidak melakukan pekerjaan rumah apa pun, termasuk memasak, sebagai bentuk protes dan penegasan batas harga dirinya yang diinjak-injak oleh keluarga suaminya dan kini suaminya pun sudah mulai bermain api.
Ibu mertuanya yang sejak pagi menahan amarah, langsung berdiri dari sofa saat melihat kedatangan Rena. Wajah tua itu berkerut dalam, menatap tajam bungkusan di tangan menantunya.
"Sebenarnya apa maumu, Rena?!" omel Bu Broto dengan suara melengking, menuntut penjelasan. "Seharian rumah ini telantar! Baju kotor menumpuk, piring kotor di wastafel sampai dikerubuti semut, dan kamu malah enak-enakan kelayapan membawa makanan sendiri! Kenapa kamu tidak mau melakukan pekerjaan rumah, hah?!"
Rena menghentikan langkahnya sejenak, menatap ibu mertuanya dengan kedataran ekspresi yang luar biasa. Dengan enteng Rena menjawab, "Sebaiknya tanyakan saja pada anak Ibu. Tanyakan pada Mas Aris, apa yang sudah dia lakukan di luar sana hingga membuatku semarah dan sekecewa ini kepadanya."
Bu Broto tertegun, mulutnya sedikit menganga. "Apa maksudmu—"
Tanpa menjawab dan menunggu kelanjutan kalimat mertuanya, Rena langsung melangkah masuk ke dalam kamar bersama Dio, lalu mengunci pintu dari dalam dengan bunyi klik yang tegas.
Malam harinya, suasana rumah terasa sangat canggung. Aris pulang lebih cepat dari biasanya, tidak seperti akhir-akhir ini di mana dia selalu pulang larut malam. Pria itu melangkah masuk dengan menjinjing beberapa kotak makanan yang dibelinya dari luar untuk ibu dan adiknya.
Namun, sesampainya di dalam, pemandangan rumah tetap sama, pekerjaan tetap terbengkalai. Rena tidak keluar kamar sama sekali, bahkan untuk mandi, mencuci piring, atau sekadar menyapa suaminya. Hingga dengan terpaksa, Bu Broto harus mengerjakan pekerjaan kotor itu sendiri, mencuci tumpukan piring di wastafel sambil mengucapkan sumpah serapah yang ditujukan kepada Rena agar mereka bisa menggunakan piring bersih untuk makan malam.
Di meja makan, Bu Broto meletakkan piring dengan denting yang keras ke hadapan Aris. Sambil mengomel, dia menuntut jawaban dari anak kesayangannya.
"Aris, sebenarnya apa yang kamu lakukan kepada Rena hingga membuatnya bersikap menyebalkan seperti ini?" tanya Bu Broto dengan nada menuduh. "Dia bilang Ibu harus tanya langsung kepadamu!"
Aris yang sedang menyuap nasi mendadak tersedak pelan. Dia meletakkan sendoknya, mencoba bersikap tenang meski hatinya gelisah setengah mati. "Tidak ada apa-apa, Bu. Kami... kami hanya sedang sedikit bertengkar karena masalah sepele."
"Sepele bagaimana kalau sampai dia mogok kerja begini?!" sahut Siska ikut menimpali dengan kesal.
"Sudahlah, ini urusan rumah tanggaku. Biar Aku yang selesaikan," potong Aris pelan, tidak ingin memperpanjang obrolan yang bisa membongkar boroknya.
Setelah makan malam yang suram itu selesai, Aris melangkah masuk ke dalam kamar. Dia melihat Rena sedang mengajari Dio membaca. Melihat kedatangan suaminya Rena hanya mendongak sebentar lalu melanjutkan mengajari Dio belajar.
"Rena, haruskah kamu bersikap kekanakan seperti ini? Tidak bisakah kamu bersikap lebih dewasa dan pengertian sedikit saja. "
Mendengar ucapan Aris, Rena langsung menatap suaminya itu dengan tajam. Dia meminta Dio untuk pergi kekamarnya yang hanya dibatasi tembok dalam satu ruangan.
"Apa maksudmu aku harus bersikap dewasa dan pengertian. Apakah selama ini aku masih kurang pengertian terhadap semua sikapmu dan keluargamu padaku? Apakah aku kurang dewasa menyikapi omelan ibumu dan sikap acuh mu itu? Dan semua kesabaranku ini, kamu balas dengan penghianatan, Mas! Dan kamu masih memintaku untuk bersikap pengertian.. Kau pikir aku bodoh? "
Benar saja, keributan kecil terjadi lagi di dalam kamar sebelum mereka tidur. Aris mencoba membujuk Rena agar menyudahi aksi mogoknya, namun tanggapan Rena tetap sedingin es, membuat Aris akhirnya menyerah dan memilih tidur memunggungi istrinya.
Suasana kamar menjadi sunyi senyap, menyisakan detak jam dinding yang terus berputar. Dan tepat di tengah malam, saat Aris sudah terlelap dengan dengkur halus, ponsel di genggaman Rena bergetar pelan. Ada sebuah pesan masuk dari Ririn.
Rena segera membuka pesan dari aplikasi hijau tersebut dengan debar jantung yang tak menentu. Begitu membaca baris demi baris kalimat dari Ririn, mata Rena membelalak sempurna dalam kegelapan kamar. Tubuhnya seketika bergetar hebat menahan rasa syok yang teramat sangat.
"Mbak Rena, saya sudah bertanya pada suami saya tentang Mas Aris. Ternyata benar, suamiku mengenalnya. Dan ada hal besar yang harus Mbak tahu..." tulis Ririn memulai pesannya.
"Suamiku bilang, Aris bukanlah karyawan biasa di perusahaan. Dia sudah naik posisi di tempat kerjanya sejak setahun yang lalu. Dia sudah menjabat sebagai Supervisor lapangan. Gajinya sudah sangat lumayan Jika hanya untuk kebutuhan rumah tangga atau menyekolahkan anak yang masih SD seperti Dio, uang itu bahkan masih sisa banyak kalau kita tidak menggunakannya secara berlebihan.”
Rena menutup mulutnya dengan tangan, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Setahun yang lalu? Jadi selama setahun ini, suaminya telah membohonginya mentah-mentah tentang uang bulanan yang hanya satu juta rupiah itu?
Namun, kejutan paling menyakitkan baru saja dimulai pada pesan berikutnya dari Ririn.
"Tapi ada satu hal lagi, Mbak... Suamiku dan teman-teman kantornya sering sekali melihat Mas Aris menjemput, bahkan makan siang bersama dengan seorang wanita yang bekerja di salon di seberang perusahaan. Wanita itu selalu membawa seorang anak perempuan kecil yang berumur sekitar tiga tahun.”
"Selama ini, suamiku bahkan semua teman-teman kerjanya mengira kalau wanita yang kerja disalon dan anak kecil itu adalah istri dan anak kandung Mas Aris, karena mereka terlihat sangat mesra dan bahagia seperti sebuah keluarga.”
Ponsel di tangan Rena hampir saja terlepas ke lantai. Dadanya terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar hingga membuatnya sesak napas. Kenyataan yang baru saja dia baca jauh lebih mengejutkan dan menjijikkan dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.
Cepat-cepat dia mengetikkan sesuatu dan dikirim kepada Ririn, "Terima kasih, mbak atas informasinya. Ini adalah sesuatu yang sangat mengejutkan untukku. Besok kita bicara lagi."
Rena segera menutup ponselnya karena waktu sudah sangat larut dan dia tidak ingin mengganggu malam Ririn.
Rena menoleh perlahan, menatap punggung Aris yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Rasa jijik dan benci yang teramat sangat seketika menjalar ke seluruh aliran darahnya. Suaminya tidak hanya berselingkuh untuk bersenang-senang sesaat, tetapi pria itu tampaknya telah membangun sebuah kehidupan dan 'keluarga' kedua yang utuh di luar sana, menggunakan uang hasil kenaikan jabatannya yang sengaja disembunyikan dari istri sahnya sendiri.