NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Desa di Bawah Bayangan

Mentari baru saja melewati puncak langit ketika Ryosuke kembali melanjutkan perjalanan menuju utara. Semakin dekat ia menuju wilayah perbatasan, semakin sering ia melihat bekas-bekas peperangan yang tertinggal di sepanjang jalan. Sawah-sawah yang dahulu subur kini dibiarkan mengering karena para petaninya telah mengungsi. Beberapa jembatan kayu yang menghubungkan desa-desa kecil sengaja dihancurkan agar tidak dapat digunakan pasukan musuh, sementara rumah-rumah kosong berdiri membisu dengan pintu dan jendelanya terbuka diterpa angin.

Perang belum benar-benar mencapai seluruh wilayah Green Continent, tetapi bayangannya telah lebih dahulu mengubah kehidupan masyarakat.

Menjelang sore, Ryosuke tiba di sebuah desa kecil bernama Arvend. Desa itu berada tidak jauh dari Benteng Vargan, benteng terakhir Green Continent sebelum wilayah Empire Krusador dimulai. Letaknya yang strategis membuat banyak pengungsi berhenti untuk beristirahat sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan perjalanan ke pedalaman atau tetap bertahan menjaga kampung halaman mereka.

Begitu memasuki gerbang desa, Ryosuke langsung merasakan suasana yang jauh berbeda dibandingkan desa-desa yang pernah ia singgahi sebelumnya. Tidak terdengar suara anak-anak bermain di halaman rumah. Para pria dewasa berjaga di atas pagar kayu dengan tombak di tangan, sementara para perempuan sibuk menyiapkan perban dan obat-obatan di balai desa.

Mereka tidak sedang mempersiapkan pesta.

Mereka sedang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Kepala Desa Arvend, seorang pria tua bernama Roland, menyambut Ryosuke dengan wajah lelah.

"Maaf jika penyambutan kami kurang layak. Akhir-akhir ini keadaan desa tidak pernah benar-benar tenang."

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Ryosuke.

Roland menghela napas panjang.

"Sejak perang pecah, banyak monster mulai turun dari pegunungan. Kami menduga mereka terpengaruh oleh mana yang tidak stabil akibat penggunaan Meriam Rune di berbagai medan perang."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dua malam terakhir, monster-monster itu menyerang desa. Kami berhasil mengusir mereka, tetapi korban mulai berjatuhan."

Ryosuke memandang pagar kayu yang baru diperbaiki.

Bekas cakaran besar masih terlihat jelas pada beberapa bagian.

"Aku akan membantu."

Roland sempat terdiam sebelum membungkukkan badan.

"Jika benar begitu, seluruh warga akan berutang budi kepadamu."

Menjelang malam, para penjaga mulai menyalakan obor di sepanjang pagar desa.

Ryosuke berdiri di gerbang utama sambil memperhatikan hutan yang perlahan diselimuti kegelapan. Nichirin-gatana berada di pinggang kanannya, sedangkan Tenkū Matō menggantung di sisi kiri. Selama beberapa hari terakhir ia terus berlatih menggunakan kedua pedang itu secara bersamaan. Gerakannya mulai terasa lebih alami dibandingkan saat pertama kali memperoleh Tenkū Matō, meskipun ia masih harus menyesuaikan diri dengan berat dan aliran mana yang berbeda dari pedang legendaris tersebut.

Keheningan malam tiba-tiba pecah.

Suara lolongan panjang menggema dari dalam hutan.

Sesaat kemudian, puluhan pasang mata berwarna merah mulai bermunculan di antara pepohonan.

"Mereka datang!"

Teriakan para penjaga segera membangunkan seluruh desa.

Monster-monster itu berlari keluar dari hutan tanpa rasa takut.

Sebagian menyerupai serigala.

Sebagian lagi memiliki tubuh seperti babi hutan raksasa dengan tanduk batu di kepalanya.

Akan tetapi, seluruh tubuh mereka dipenuhi retakan hitam yang sama seperti monster yang pernah dihadapi Ryosuke sebelumnya.

Mereka telah terpapar mana yang rusak.

Monster pertama melompat melewati pagar.

Ryosuke segera bergerak.

Nichirin-gatana menangkis cakar lawannya, sementara Tenkū Matō berputar mengikuti putaran tubuhnya. Ayunan pedang hitam itu membelah udara sebelum mengenai sisi tubuh monster tersebut.

Semburat mana kegelapan kembali muncul.

Kali ini lebih jelas dibandingkan sebelumnya.

Retakan hitam pada tubuh monster itu seakan bereaksi ketika terkena bilah Tenkū Matō.

Dalam sekejap, monster tersebut roboh tanpa sempat bangkit kembali.

Namun, Ryosuke menyadari sesuatu.

Setelah setiap ayunan yang memanfaatkan mana Tenkū Matō, lengannya terasa sedikit lebih berat.

Seolah-olah pedang itu menyerap sebagian tenaga pemiliknya untuk membangkitkan kekuatannya.

"Jadi... ini harga dari kekuatanmu."

Ia tidak sempat memikirkannya lebih lama.

Gelombang monster berikutnya telah tiba.

Dengan tenang Ryosuke kembali memasuki kuda-kuda Hyoho Niten Ichi-ryū.

Ia tidak mengandalkan kekuatan Tenkū Matō semata.

Nichirin-gatana tetap menjadi pusat pertahanannya, sementara Tenkū Matō hanya digunakan ketika benar-benar menemukan celah yang tepat.

Cara itu membuat penggunaan mana menjadi jauh lebih hemat.

Pertempuran berlangsung hampir satu jam.

Berkat bantuan Ryosuke dan para penjaga desa, serangan monster akhirnya berhasil dipatahkan.

Ketika fajar mulai menyingsing, halaman depan desa dipenuhi bangkai monster.

Para warga yang selamat segera keluar dari rumah masing-masing.

Sebagian menangis karena berhasil melewati malam.

Sebagian lagi sibuk merawat mereka yang terluka.

Roland menghampiri Ryosuke dengan wajah penuh rasa syukur.

"Kau telah menyelamatkan desa kami."

Ryosuke hanya menggeleng pelan.

"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan."

Roland tersenyum tipis.

"Mungkin bagimu itu hal biasa. Tetapi bagi kami, kau telah memberikan kesempatan untuk tetap memiliki rumah."

Ucapan itu mengingatkan Ryosuke pada Desa Tagawa.

Ia pernah gagal menjaga rumahnya sendiri.

Namun, setidaknya kali ini ia berhasil mencegah desa lain mengalami nasib yang sama.

Saat para warga mulai membersihkan sisa-sisa pertempuran, seorang perempuan tua berjalan perlahan menghampiri Ryosuke.

"Apa kau benar sedang mencari seorang gadis kecil?"

Ryosuke segera menoleh.

"Ibu pernah mendengar tentang itu?"

Perempuan tua tersebut mengangguk.

"Beberapa hari yang lalu aku sedang mengantarkan obat ke Benteng Vargan."

"Di jalan, aku melihat iring-iringan pasukan Krusador dari kejauhan."

Ryosuke menahan napas.

"Aku melihat beberapa kereta tahanan."

"Waktu salah satu kereta melewati tikungan, tirainya sempat tersibak angin."

"Wajah gadis itu hanya terlihat sesaat."

"Yang kuingat, rambutnya hitam panjang."

"Usianya sekitar dua belas tahun."

"Dan..."

Perempuan tua itu memejamkan mata, berusaha mengingat.

"Dia masih hidup."

Jantung Ryosuke berdegup begitu keras hingga ia dapat mendengarnya sendiri.

Informasi itu masih belum membuktikan bahwa gadis tersebut adalah Hana.

Namun, untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar melihatnya secara langsung.

Harapan yang selama ini hanya berupa rumor kini terasa sedikit lebih nyata.

Perempuan tua itu kembali berbicara.

"Aku tidak tahu siapa gadis itu."

"Tetapi rombongan tersebut tidak berhenti di Benteng Vargan."

"Mereka terus bergerak ke utara."

"Menuju wilayah Empire Krusador."

Ryosuke memandang ke arah benteng yang berdiri jauh di utara.

Di balik benteng itulah negeri yang telah menghancurkan hidupnya berada.

Di sanalah pula satu-satunya petunjuk mengenai Hana menghilang.

Angin pagi bertiup pelan melewati desa.

Ryosuke menggenggam gagang Nichirin-gatana dan Tenkū Matō secara bersamaan.

Perjalanannya sebagai seorang ronin belum berakhir.

Sebaliknya, jalan itu kini semakin jelas terbentang di hadapannya.

Dan di ujung jalan tersebut, menunggu sebuah negeri musuh yang menyimpan jawaban atas seluruh pertanyaan yang selama ini membebani hatinya.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!