Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 penyesalan
Nadia melangkah keluar dari restoran dengan langkah yang tidak beraturan. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena ucapan Adrian yang meminta dirinya menggugurkan kandungan, tetapi karena kini ia merasa telah menemukan alasan di balik semua itu. Di benaknya hanya ada satu kesimpulan yang terus berputar, Adrian sudah akan memiliki keluarga baru bersama Bianca. Sebentar lagi mereka akan menikah, sebentar lagi anak Bianca akan lahir, sehingga kehadiran anak yang sedang dikandungnya dianggap tidak lagi diperlukan. Pikiran itu menghancurkan hati Nadia lebih dalam daripada pengkhianatan yang pernah ia rasakan.
Tangannya perlahan mengusap perutnya yang masih rata. Air matanya kembali jatuh tanpa henti. Dulu mereka berdua begitu mendambakan suara tangisan seorang bayi memenuhi rumah mereka. Berkali-kali mereka berharap, berkali-kali pula harus menerima kekecewaan. Namun ketika Tuhan akhirnya mengabulkan doa itu, Adrian justru memilih wanita lain dan meminta anak yang selama ini mereka impikan untuk tidak dilahirkan. Nadia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tidak semakin pecah, merasa bahwa dirinya dan anaknya benar-benar telah disingkirkan dari kehidupan pria yang pernah menjadi pusat dunianya.
Di sisi lain, Adrian hanya terduduk diam di restoran dengan kepala tertunduk. Tamparan Nadia masih terasa membakar pipinya, tetapi pikirannya dipenuhi kekacauan lain yang jauh lebih besar. Ia sadar ucapannya telah melukai Nadia, namun alasan yang sebenarnya tidak pernah berhasil ia jelaskan. Ketakutan akan perebutan warisan, pertengkaran keluarga yang tidak akan pernah selesai, dan masa depan anak-anak yang akan terus dibandingkan membuatnya mengambil keputusan yang justru paling menyakitkan. Sayangnya, semua itu terdengar seperti penolakan terhadap darah dagingnya sendiri.
Sementara itu di rumah keluarga Mahendra, Bianca tidak dapat menyembunyikan kekesalannya setelah mengetahui isi pembagian warisan secara lebih rinci. Selama ini ia membayangkan bahwa setelah menikah dengan Adrian dan melahirkan anak mereka, masa depan keluarganya akan terjamin. Namun keputusan ayah Adrian mengubah semuanya. Bagian terbesar justru diberikan kepada anak yang sedang dikandung Nadia, sedangkan bagian Adrian jauh lebih kecil dari yang mereka bayangkan.
Bianca menggenggam dokumen itu hingga jemarinya memutih. Perasaannya dipenuhi rasa iri yang sulit ia sembunyikan. Bukan karena membenci anak yang belum lahir itu, melainkan karena kenyataan bahwa kehadiran anak Nadia telah mengubah seluruh pembagian yang selama ini ia bayangkan. Setiap kali melihat angka-angka di atas dokumen tersebut, ia merasa seolah masa depan yang sudah ada dalam angannya perlahan menjauh.
"Kenapa harus anak Nadia..." gumam Bianca lirih dengan mata yang mulai memerah. "Padahal anakku juga cucu keluarga ini."
Ucapan itu membuat Adrian yang baru pulang hanya terdiam. Ia tidak memiliki tenaga untuk kembali berdebat. Di satu sisi ia baru saja menyakiti Nadia dengan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan, di sisi lain Bianca terus menunjukkan kekecewaannya terhadap keputusan ayahnya. Untuk pertama kalinya Adrian merasa terjebak di antara dua kehidupan yang sama-sama dipenuhi luka, sementara semua pilihan yang diambilnya di masa lalu kini kembali menghampirinya dalam bentuk penyesalan yang tidak ada habisnya.
Malam itu rumah keluarga Mahendra terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Setelah keributan mengenai warisan dan berbagai persoalan yang tidak kunjung usai, tidak ada lagi suasana hangat di meja makan. Adrian memilih mengurung diri di ruang kerja, sementara Bianca sejak sore tidak keluar dari kamar. Kondisinya menurun akibat tekanan batin yang terus menumpuk, ditambah kehamilannya yang membuat tubuhnya mudah lelah dan kehilangan nafsu makan.
Meski perasaannya sedang kacau, ibu Adrian tetap memasak semangkuk bubur hangat. Dengan langkah pelan ia menaiki tangga menuju kamar Bianca. Setelah mengetuk beberapa kali tanpa jawaban, ia membuka pintu perlahan. Bianca tampak berbaring membelakangi pintu dengan wajah pucat, matanya sembap karena terlalu lama menangis.
"Ayo makan sedikit."
ucap ibu Adrian datar sambil meletakkan mangkuk bubur di atas meja samping tempat tidur.
"Kalau terus seperti ini, kesehatanmu dan bayi akan terganggu."
Bianca perlahan duduk sambil menundukkan kepala.
"Maaf, Bu..."
gumamnya lirih.
Namun permintaan maaf itu tidak lagi mampu menggerakkan hati wanita paruh baya tersebut.
Ia hanya memandang Bianca dalam diam.
Entah mengapa, setiap kali melihat wajah wanita itu, yang terlintas di benaknya justru sosok Nadia.
Dulu...
Setiap kali Nadia sedang kurang sehat, wanita itu tidak pernah mengeluh.
Tetap bangun pagi menyiapkan sarapan.
Tetap menyapa semua orang dengan senyum.
Bahkan ketika dirinya sering menerima sindiran dan perlakuan dingin, Nadia tidak pernah membalas dengan kata-kata kasar.
Sebaliknya, Bianca yang baru beberapa bulan berada di rumah itu justru membuat seluruh keluarga dipenuhi pertengkaran dan ketegangan yang tidak pernah berhenti.
Ibu Adrian mengembuskan napas panjang.
Tatapannya perlahan berubah sendu.
"Aku baru sadar..."
ucapnya pelan.
"Dulu aku terlalu keras pada Nadia."
Bianca perlahan mengangkat wajah.
"Dia sudah berusaha menjadi menantu yang baik."
lanjutnya.
"Aku yang tidak pernah mau melihat semua usahanya."
Suara wanita itu mulai bergetar.
Ada penyesalan yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Kini semuanya muncul bersamaan.
"Dulu setiap aku memarahinya, dia hanya diam."
"Setiap aku menyalahkannya karena kalian belum punya anak, dia tidak pernah sekalipun membantah."
"Padahal sekarang aku tahu... dia menanggung semuanya sendirian."
Bianca menggigit bibirnya.
Dadanya terasa sesak mendengar setiap kalimat tersebut.
Ibu Adrian memejamkan mata sejenak.
"Aku kehilangan menantu yang memperlakukan keluarga ini dengan tulus."
ucapnya lirih.
"Lalu rumah ini kehilangan ketenangannya."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menusuk hati Bianca.
Ia tahu ucapan tersebut bukan sekadar penyesalan.
Melainkan perbandingan yang secara tidak langsung ditujukan kepadanya.
Ibu Adrian menatap Bianca dengan sorot mata yang dingin.
"Aku akan tetap bertanggung jawab karena kamu mengandung cucuku."
katanya tegas.
"Tapi jangan pernah berpikir bahwa semua yang terjadi di keluarga ini tidak ada hubungannya dengan pilihanmu."
Air mata Bianca kembali mengalir.
Ia tidak mampu membela diri.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu wanita di hadapannya tidak sepenuhnya salah.
Ibu Adrian kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Dulu aku membenci Nadia karena menganggap dia tidak cukup baik untuk anakku."
Suara wanita itu terdengar berat.
"Sekarang aku justru membenci kenyataan bahwa aku ikut mendorongnya pergi."
Pintu kamar tertutup perlahan.
Meninggalkan Bianca seorang diri dengan semangkuk bubur yang mulai kehilangan kehangatannya.
Ia menatap mangkuk itu dengan mata kosong, sementara tangisnya pecah tanpa mampu lagi ditahan.
Untuk pertama kalinya, Bianca benar-benar menyadari bahwa meskipun ia berhasil menjadi istri Adrian, ia tidak pernah benar-benar menggantikan tempat Nadia di hati keluarga Mahendra.
Rumah keluarga Mahendra yang dulu dibayangkan Bianca sebagai tempat penuh kehangatan justru berubah menjadi ruang yang paling membuatnya merasa asing. Ia memang berhasil mendapatkan Adrian dan resmi menyandang status sebagai istrinya, tetapi setiap hari yang dijalani di rumah itu membuatnya sadar bahwa sebuah status tidak selalu diikuti dengan penerimaan. Tidak ada yang mengusirnya, tidak ada yang memperlakukannya dengan kasar, tetapi jarak yang diciptakan keluarga Adrian jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata tajam.
Ibu Adrian bersikap sopan sebatas kewajiban, memastikan Bianca dan bayi yang dikandungnya tetap mendapatkan perhatian sebagai tanggung jawab keluarga. Namun kehangatan yang dulu perlahan mulai tumbuh untuk Nadia tidak pernah Bianca rasakan. Setiap kali melihat cara ibu mertuanya tanpa sadar membicarakan Nadia dengan nada penuh penyesalan, dada Bianca terasa sesak. Wanita itu mulai menyadari bahwa rasa hormat dan kasih sayang tidak bisa diperoleh hanya karena sebuah pernikahan.
Ayah Adrian bahkan lebih sulit didekati. Sejak mengetahui seluruh kebenaran yang menyebabkan rumah tangga Adrian dan Nadia berakhir, pria itu hampir tidak pernah mengajak Bianca berbicara lebih dari yang diperlukan. Jika Anna datang berkunjung, pembicaraan mereka lebih sering berakhir dengan menanyakan kabar Nadia atau calon cucu yang sedang dikandungnya. Nama Nadia masih terdengar hidup di dalam rumah itu, seolah wanita tersebut belum pernah benar-benar pergi.
Anna pun tidak berusaha menyembunyikan perasaannya. Meski tidak pernah bersikap kurang ajar kepada Bianca, sikap dingin yang ditunjukkannya sudah cukup menjelaskan semuanya. Baginya, tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan posisi Nadia sebagai kakak ipar yang selama ini selalu menyayanginya dengan tulus. Setiap kali Bianca mencoba mendekat atau memulai percakapan, Anna hanya menjawab seperlunya sebelum kembali mengakhiri pembicaraan.
Semakin hari, Bianca semakin merasa terasing. Ia memiliki Adrian, tetapi tidak memiliki keluarga Adrian. Ia tinggal di rumah itu, tetapi tidak pernah benar-benar merasa menjadi bagian darinya. Bahkan di saat ia sedang mengandung, perhatian yang diterimanya terasa seperti kewajiban, bukan kasih sayang yang lahir dari hati.
Pada malam-malam yang sunyi, Bianca sering menangis sendirian. Dulu ia berpikir bahwa memenangkan Adrian berarti memenangkan segalanya. Kini ia memahami bahwa ia memang mendapatkan pria yang dicintainya, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit didapatkan, yaitu penerimaan, kepercayaan, dan rasa hormat dari keluarga yang kini menjadi mertuanya. Ironisnya, semakin ia berusaha mengisi tempat yang pernah ditempati Nadia, semakin ia menyadari bahwa tempat itu tidak pernah benar-benar kosong. Bayang-bayang Nadia masih hidup di setiap sudut rumah, di setiap kenangan keluarga Mahendra, dan di setiap penyesalan yang mereka rasakan, membuat Bianca perlahan tenggelam dalam kesepian yang ia ciptakan dari pilihannya sendiri.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah