Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Aliansi dalam kegelapan
Aroma tajam antiseptik dan semerbak wangi kayu cendana yang mewah langsung menyengat indra penciuman Nadia saat kesadarannya perlahan pulih.
Dia membuka mata secara perlahan, mendapati dirinya berbaring di atas tempat tidur berukuran king-size di dalam sebuah kamar VIP rumah sakit yang sangat luas. Hal pertama yang Nadia lakukan adalah menyentuh perutnya yang masih terasa sedikit kram.
"Bayimu aman. Dokter bilang kamu hanya syok dan kelelahan."
Sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan. Nadia tersentak dan langsung menoleh ke arah sofa di sudut ruangan.
Seorang pria bertubuh tegap sedang duduk dengan kaki bersilang. Dia sudah mengganti pakaian basahnya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga sikut, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mata Nadia.
Nadia mengenalinya. Dia adalah Devan Alister, CEO dari Alister Group sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis.
"P-Pak Devan? Kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Nadia dengan suara serak.
Devan bangkit berdiri, melangkah mendekati ranjang Nadia dengan aura intimidasi yang kuat namun tenang. Dia meletakkan sebuah dokumen tebal di atas meja nakas tepat di samping Nadia.
"Kamu pingsan di depan mobilku setelah berlari seperti orang gila dari Sky Lounge," ucap Devan datar. "Dan dalam waktu satu jam, asistenku sudah mengumpulkan semua informasi tentang apa yang terjadi padamu di restoran itu."
Nadia seketika menunduk. Mengingat kembali pengkhianatan Arkan dan Ghea membuat dadanya kembali berdenyut perih. Air mata hampir saja menetes lagi, namun dia sekuat tenaga menahannya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan rival suaminya.
"Arkan mengincar seluruh warisan mendiang ayahmu, bukan?" Devan melanjutkan, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. "Dia memanfaatkan pernikahan ini untuk menyita aset perusahaan keluargamu, lalu berencana membuang mu demi kakak tirimu setelah semua prosesnya selesai."
Nadia mengepalkan tangannya di balik selimut. Kenyataan itu terdengar jauh lebih kejam saat diucapkan oleh orang lain.
"Lalu apa peduli Anda, Pak Devan? Bukankah ini urusan rumah tangga kami?" tanya Nadia, mencoba tegar meskipun suaranya bergetar.
Devan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelicikan. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Nadia dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku peduli karena musuh dari musuhku adalah temanku, Nadia" bisik Devan. Nadia mengerutkan kening tak mengerti, tapi sebelum dia bertanya Devan sudah lebih dulu berbicara. "Arkan baru saja merebut proyek pelabuhan besar yang ku incar menggunakan dana dari perusahaan ayahmu. Jika kamu membiarkan dirimu diceraikan begitu saja, kamu akan kehilangan segalanya—termasuk hak asuh anak di kandunganmu."
Kata-kata Devan bagai petir di siang bolong bagi Nadia. Benar, Arkan adalah pria yang kejam. Jika dia tahu Nadia hamil, Arkan pasti akan merebut anak ini hanya untuk memastikan warisan ayahnya aman secara hukum.
Nadia menyadari satu hal, Menangis tidak akan mengubah keadaan. Di dunia yang kejam ini, air mata hanya akan membuat musuhnya tertawa lebih keras.
"Jadi, apa yang Anda inginkan sebenarnya?" tanya Nadia, matanya yang semula redup kini memancarkan kilat kemarahan yang baru.
Devan kembali menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada dengan puas melihat perubahan tatapan mata wanita di hadapannya.
"Tinggalkan Arkan sebelum dia membuang mu. Ajukan gugatan cerai atas dasar perselingkuhan, dan aku akan memfasilitasi pengacara terbaik di negeri ini untuk menarik kembali seluruh aset ayahmu dari tangannya" ujar Devan tegas.
"Sebagai gantinya—"
"Jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun ke depan" tawar Devan tanpa ragu. "Aku butuh status pernikahan untuk mengamankan posisi sebagai pewaris tunggal Alister Group, dan kamu butuh perlindungan mutlak dari pengaruh Arkan. Kita saling memanfaatkan."
Nadia terdiam. Menikah lagi dengan pria asing yang bahkan tidak dia cintai terdengar gila. Namun, melirik ke arah dokumen yang dibawa Devan—yang berisi rincian bagaimana Arkan perlahan meracuni finansial perusahaan ayahnya—Nadia tahu dia tidak punya pilihan lain.
Nadia menarik napas dalam-dalam, menatap Devan dengan keyakinan penuh yang belum pernah dia miliki sebelumnya.
"Baik. Aku terima penawaran mu, Devan."
★★★