menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(perjalanan 2, politik Oscar) keluarga baru
Setelah berhasil mengekstrak dan menciptakan seluruh variasi cetak biru persenjataan modern baru buatan bumi di lapangan belakang kastil, aku segera menyerahkan seluruh peralatan taktis canggih itu kepada para jenderal baruku untuk segera diedarkan ke seluruh barisan bawahan peleton mereka.
Sebagai rute terakhir dari agenda inspeksi subuh ini, aku melangkah kaki menuju ke markas terbuka bagian barat milik divisi Angkatan Udara pimpinan Delta. Setelah merampungkan serah terima armada jet tempur supersonik bersayap Mirthil dan ribuan unit senapan otomatis Tommagia di sana, aku pun berjalan melangkah pulang menyusuri area luar gerbang teritorial kastil sembari menenteng sekantong kertas karton penuh berisi buah-buahan segar pemberian dari Delta.
"Huhh... Delta tuh ya... Kebiasaan banget, lengah dikit tau-tau langsung meluk dan nyosor gak jelas begitu ke arah badan gua," ucapku lirih sembari mengusap-usap pipi manusiaku sendiri, tersenyum kecil mengingat kelakuan brutal nan manja ras Naga Legendaris tersebut.
Aku merogoh kantong kertas karton di genggamanku, mengambil sebutir buah apel merah yang ranum lalu menggigitnya pelan.
CRREEKKK...!
Baru saja satu kunyahan apel itu mendarat di mulutku, langkah kaki manusiaku mendadak langsung terhenti mendadak tepat di depan sebatang pohon rindang raksasa yang berada di area gersang perbatasan antara wilayah Shadow Aethelgard dan Kerajaan Oscar.
Sepasang mata ungu menyalaku seketika terkunci mutlak ke arah bawah batang pohon tersebut. Fokus pengamatanku menangkap siluet dari dua anak remaja yang sedang tertidur saling bersandar di atas tanah dengan kondisi fisik yang bener-bener teramat sangat mengenaskan. Tubuh mereka kurus kering, kotor berdebu, dan dipenuhi pakaian compang-camping.
Berdasarkan hasil sirkulasi scanning spionase sistem dungeunku, anak yang satu berasal dari ras manusia biasa, seorang gadis berambut merah menyala dengan tinggi badan sekitar 150 sentimeter dan berusia kisaran 15 tahun. Sedangkan anak di sebelahnya berasal dari kaum manusia semi-hewan, sesosok anak ras semi-elang dengan tinggi badan 140 sentimeter dan baru menginjak usia 10 tahun.
Didorong oleh rasa penasaran taktis, aku perlahan berjalan melangkah menghampiri posisi kedua anak terlantar itu, lalu mengulurkan tangan manusiaku untuk membangunkan mereka dengan lembut.
"Nak... Bangun, Nak..." Ucapku lirih membangunkan mereka.
DEG!
Mendengar suaraku, kedua anak itu seketika langsung membuka kelopak mata mereka dan terkejut setengah mati. Detik itu juga, sekujur tubuh kurus mereka gemetaran hebat diserang rasa ketakutan yang luar biasa pekat. Mereka berdua secara refleks bergerak mundur merapat ke batang pohon, menatapku dengan pandangan mata yang penuh trauma karena mereka mengira bahwa aku adalah bagian dari kelompok bandit kejam yang selama ini mengincar dan memburu nyawa mereka untuk diperjualbelikan menjadi budak ilegal di pasar gelap!
"Ah... Tenang... Tenang dulu, Nak. Aku sama sekali gak jahat kok... Gak usah takut," ucapku dengan nada suara yang teramat lembut, menyunggingkan sebuah senyuman hangat yang tulus untuk menenangkan gejolak batin mereka.
Aku pun terus berbicara perlahan, meyakinkan logika mereka bahwa aku bukanlah faksi penat jahat pemburu budak, melainkan entitas pelindung yang kini berada di faksi pihak mereka. Setelah sepasang mata mereka mulai mereda dari rasa panik, aku merogoh kantong kartonku, mengambil beberapa buah-buahan segar pemberian Delta tadi lalu menyerahkannya ke tangan mereka. Tanpa membuang waktu lagi, kedua anak yang kelaparan itu langsung melahap buah tersebut dengan sangat rakus.
"Kalau boleh tahu... nama kalian berdua siapa, Nak?" Tanyaku pelan, duduk bersila di depan mereka sembari menikmati sisa apelku.
Mendengar pertanyaanku, si gadis kecil berambut merah menghentikan kunyahannya sejenak dengan tatapan sayu. Dia bercerita dengan nada lirih bahwa mereka berdua sama sekali tidak memiliki nama identitas.
Dahulu kala, mereka berdua dibesarkan di dalam sebuah panti asuhan manusia. Namun, ketika posisi kepala panti asuhan tersebut sudah diganti oleh sosok penguasa baru yang tidak mereka kenal, mereka berdua langsung diusir paksa keluar dari panti secara kejam. Dan saat momen pengusiran itu terjadi, usia mereka masih teramat sangat kecil dan belum mengerti apa-apa soal nama, sehingga sampai detik ini mereka bener-bener gak tahu siapa nama asli mereka sendiri.
Aku yang mendengarkan kesaksian pilu mereka bener-bener langsung merasa kasihan yang teramat mendalam di dalam batinku. Duo sahabat yang saling melindungi di tengah kerasnya jalanan sembari diincar pemburu budak ini bener-bener punya mental yang mahal.
"Kalau situasinya begitu... bagaimana kalau aku angkat kalian berdua jadi anakku...? Apakah kalian mau ikut pulang bersamaku?" Ucapku lembut penuh karisma.
Mendengar tawaran adopsi itu, si gadis rambut merah dan anak semi-elang itu serentak saling pandang sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala mereka dengan cepat. "Mau... Kami mau...!" Ucap mereka bersamaan dengan binar mata yang kembali bernyawa.
,"Bagus sekali... Terhitung mulai detik ini, kamu si gadis rambut merah, nama aslimu adalah Elizabeth ya... Dan kamu, anak semi-elang, namamu adalah Gamma... Bagaimana, kalian suka?" Ucapku tersenyum menatap mereka berdua.
Mendengar nama baru mereka, keduanya langsung saling tunjuk satu sama lain dengan wajah yang ceria.
"Gamma...!" Ucap Elizabeth sembari menunjuk sahabat elangnya dengan tawa kecil.
"Elizabeth...!" Ucap Gamma balik menunjuk ke arah Elizabeth dengan sayap kecilnya.
Menyaksikan tingkah polos mereka, kami bertiga pun akhirnya tertawa bersama di bawah rindangnya pohon perbatasan, mencairkan seluruh ketegangan trauma masa lalu mereka.
"Anu... Boleh... bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan Ibu...?" Bisik Elizabeth malu-malu kucing menatap wajah manusiaku.
"Iya... Aku... aku juga mau manggil kamu dengan sebutan Ibu, boleh kan...?" Tambah Gamma ikut menimpali dengan nada polosnya.
BLUSH!
Seketika itu juga, sekujur wajah manusiaku langsung memerah padam mewah menahan malu yang luar biasa pekat. Jantungku berdegup canggung mendapat todongan panggilan keramat tersebut.
“Anjirrr... Dipanggil Ibu...?! Iya sih, gua baru sadar kalau sirkulasi suara raga manusiaku ini emang sama sekali gak ada macho-machonya parah, dan malah kedengeran teramat halus kayak suara cewek cantik astagaaa... Yaudah lah ya, nasib raga androgini, terima aja daripada mereka nangis,” ucapku berteriak pasrah di dalam batinku.
"I-Ibu...? Ahh... I-Iya... Boleh kok, panggil saja begitu," ucapku terbata-bata sembari mengulas senyuman canggung. "Kalau begitu, ayo kita pulang sekarang ya, Anak-anakku... Kita pulang ke rumah kita..."
"Iya, Ibu...!" Jawab mereka berdua dengan kompak nan ceria. Kami pun berjalan melangkah bersama pulang menuju ke arah Istana Aethelgard.
Sesampainya di dalam area kompleks kastil utama, kedua anak yatim piatu itu bener-bener langsung terkejut setengah mati hingga melongo bodoh. Yang ada di dalam ekspektasi awal mereka, sosok "Ibu" yang menyelamatkan mereka hanyalah seorang rakyat manusia biasa yang ramah. Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa sosok penolong mereka ternyata adalah sesosok Pemimpin Tertinggi dari sebuah faksi Kerajaan Dungeon raksasa yang teramat dihormati oleh ratusan ribu jiwa monster! Tanpa membuang waktu, aku langsung mengalokasikan dan memberikan dua unit kamar mewah khusus untuk mereka berdua, yang posisinya terletak tepat berada di samping kamar tidur pribadiku sendiri.
Waktu pun terus bergulir dinamis... Hingga satu bulan lamanya telah resmi berlalu...
Dalam kurun waktu satu bulan masa pendidikan tersebut, Gamma telah tumbuh berkembang menjadi seorang pemuda cilik yang bertubuh gagah, cerdas, dan memiliki kejeniusan strategi otak yang luar biasa pintar. Sementara itu, Elizabeth yang memiliki sifat dasar gila tarung, bener-bener menghabiskan waktu sebulannya untuk berlatih fisik secara ekstrem bersama barisan pasukan tempur garis depan Aethelgard.
Keahlian seni berperang, insting membunuh, hingga bela diri tangan kosong miliknya berkembang sangat mengerikan, hingga dia sukses mendapatkan julukan sebagai "Putri Monster" dari para prajurit karena level kekuatannya dinilai sudah setara dengan kasta seorang jenderal militer!
"Gamma... Elizabeth...!" Seru ku memanggil kedua anak kesayanganku dari ujung koridor aula lantai atas.
"Ibundaaaa...!"
Mendengar suaraku, kedua anak angkatku itu langsung berteriak ceria dan berlari kencang menuju ke arah posisiku mendekat. Namun, Alpha yang saat itu sedang berjalan mengekor di belakang tubuhku, seketika langsung terbelalak terkejut setengah mati mendengar panggilan tersebut. Wajah cantiknya melongo syok menatapku.
"Anu... Tuan Miko...? Kok... Kenapa mereka memanggilmu dengan panggilan... Ibu...?" Ucap Alpha dengan nada suara yang bener-bener bingung tujuh keliling.
"Ahh... Sudahlah, Alpha. Biarkan aja mereka begitu, lagian mereka juga gak tahu status gender asliku, hehe," ucapku lembut berbisik sembari tersenyum geli.
"Ibu...! Aku hari ini sudah sukses menyelesaikan seluruh materi latihan pelajaran strategi ekonomi makro dan hukum perdagangan dunia dari mentor, hehemm...!" Ucap Gamma dengan nada ceria, memamerkan buku catatannya yang rapi.
"Aku juga, Ibu...! Aku baru saja selesai ikut latihan gabungan spionase pengintaian bersama faksi peleton darat, dan aku dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi juga, nih...!" Ucap Elizabeth tidak mau kalah, memamerkan aura gila tarungnya dengan ceria.
"Ahh... Anak-anakku... Kalian berdua bener-bener hebat dan luar biasa pintar ya... Ibu bangga parah!" Jawabku dengan nada suara yang teramat lembut penuh kasih sayang. Aku mengulurkan kedua tanganku, mengelus lembut kepala mereka satu per satu lalu mendaratkan sebilah ciuman hangat di dahi mereka penuh kasih sayang seorang orang tua.
Alpha yang berdiri menyaksikan pemandangan kemesraan keluarga itu mendadak langsung merasakan api cemburu yang luar biasa pekat di dalam dadanya. Sudut matanya menatap iri, wajah cantiknya merengut kesal karena merasa posisinya sebagai ciwi terdekat Miko mulai tersisihkan.
"Tuan Miko...!" Ucap Alpha dengan nada manja yang merajuk.
Aku menolehkan kepalaku menatap ke arah Alpha. "Emm...? Ada apa, Alpha?" Tanyaku polos.
"Aku... Aku hari ini juga udah selesai-in seluruh tugas berkas birokrasi kerajaan yang Anda berikan kemarin tahu...!" Ucap Alpha sambil menggembungkan kedua pipinya yang merona merah, bener-bener kode keras minta diperhatikan.
“Ahh... Astaga, penyihir elf gua yang satu ini ternyata bisa cemburu ucul begini sama anak kecil, haha,” ucapku tertawa geli di dalam batin.
Tanpa ragu, aku langsung melangkah maju berdiri tepat di hadapan tubuh Alpha. Aku mengulurkan telapak tanganku, mengelus lembut helai rambut putih panjangnya dengan penuh kehangatan.
"Kerja bagus, cantik..." Ucapku dengan nada suara yang teramat dalam nan lembut, lalu mencondongkan tubuhku untuk mencium dahi Alpha dengan penuh kasih sayang layaknya sebilah penghargaan manis. Wajah Alpha seketika langsung memerah padam sempurna berbalut senyuman bahagia.
Setelah momen manis itu, kami berempat pun segera melangkah kaki bersama menuju ke ruang perjamuan makan untuk menyantap hidangan makan siang.
Namun, di tengah-tengah kehangatan suasana santap siang itu, atmosfer mendadak berubah serius.
"Ibunda... ada satu hal yang mau kuomongin kepadamu saat ini..." Ucap Elizabeth mendadak menghentikan kunyahannya, menatap wajahku dengan sorot mata yang penuh tekad membara.
"Silakan, Nak... Kau mau ngomongin soal apa?" Jawabku santai sembari memotong sebilah daging steak di atas piringku.
"Aku... aku mau mendaftar masuk menjadi bagian dari pasukan Korps Pengintai Kerajaan, tapi aku sama sekali gak mau diatur atau berada di bawah komando divisi Jenderal Zeta nanti...!" Ucap Elizabeth tegas meluncurkan argumen gilanya.
DEG!
Mendengar pernyataan anak gadisku, garpu di tangan kanan manusiaku seketika berhenti mematung di udara tepat sebelum menyuapkan potongan daging ke dalam mulutku. Tubuhku membeku. Sepasang mata ungu menyalaku terbelalak lebar, menatap lurus ke bawah meja dengan tatapan yang mendadak mendingin pekat.
Aku menurunkan peralatan makan piringku perlahan, menghasilkan bunyi dentingan logam yang sunyi. Aku berbicara dengan nada suara yang lirih berbalut getaran emosi yang tertahan.
"Maksud dari perkataanmu itu... kamu mau mendirikan faksi regu pengintaimu sendiri, dan kamu yang akan bertindak sebagai Pemimpin Jenderalnya langsung, begitu?" Tanyaku lirih tanpa ekspresi.
"Emm... Iya, Ibu! Aku mau memimpin pasukanku sendiri!" Jawab Elizabeth sembari menganggukkan kepalanya kuat-kuat penuh keyakinan.
Aku terdiam sejenak. Aku bangkit berdiri dari kursiku, berjalan melangkah perlahan memutari meja makan hingga posisiku berhenti tepat di belakang kursi tempat duduk Elizabeth. Kedua tangan manusiaku bergerak mencengkeram lembut namun kuat kedua pundak bahu Elizabeth. Aku menundukkan kepalaku, berbicara lirih menahan gejolak emosi ketakutan di dalam dadaku.
"Aku... Aku... Aku bener-bener gak mau anak gadis kesayanganku harus turun tangan langsung bertaruh nyawa di dalam medan tempur yang berdarah-darah, Elizabeth...!" Ucapku lirih bergetar, menyuarakan naluri protektifku yang tidak ingin kehilangan faksi keluarga lagi setelah kematian Jerry.
"Tapi Ibu... kapasitas keahlian spesifikku emang murni berada di bidang pertempuran itu... Aku mau berguna bagi Ibu...!" Jawab Elizabeth menatapku dengan tatapan mata memelas yang teramat sangat memohon.
Mendengar jawabannya, aku terbungkam seribu bahasa. Aku melepaskan cengkeraman tanganku di pundaknya, lalu berjalan melangkah mundur keluar meninggalkan area ruang makan dengan langkah kaki yang nampak agak kesal menahan beban pikiran. Begitu tubuhku sampai di ambang pintu, aku menghentikan langkahku sejenak tanpa berbalik tubuh.
"Aku sudah selesai makan siangnya... Kalau begitu nanti malam... engga, maksudku habis makan siang ini selesai, segera temui aku sendirian di dalam kamar tidur pribadiku, Elizabeth..." Ucapku lirih sebelum akhirnya melangkah pergi menghilang dari pandangan mereka.
Alpha yang menyaksikan kepergianku hanya bisa terdiam membeku diliputi rasa khawatir yang teramat mendalam melihat keretakan emosi rajanya. Tanpa membuang waktu, Alpha langsung menghentikan makannya, bangkit berdiri lalu berjalan cepat mengekor keluar demi menghampiri posisiku yang kini sedang berdiri termenung sendirian di balkon aula luar, menatap hampa ke arah area lapangan latihan belakang kerajaan.
Dari arah belakang, Alpha perlahan merengkuh dan memeluk erat lingkar pinggang manusiaku menggunakan kedua lengan lembutnya, membenamkan wajah cantiknya di punggungku sembari berbisik lirih tepat di sela telingaku.
"Tuan Miko... Ada apa...? Tolong ceritakan kepadaku..." Bisik Alpha dengan nada suara yang teramat lembut menenangkan.
Aku memiringkan sedikit kepalaku ke samping, menghela napas panjang menahan sesak di dada. "Aku... Aku hanya teramat sangat takut kalau anak gadisku kenapa-napa di luar sana, Alpha... Apakah... apakah tindakan protektifku ini salah bagi kalian...?" Ucapku lirih meratapi batin.
"Hehemm... Anda sama sekali gak salah kok, Tuan Miko. Tindakan Anda adalah bukti ketulusan seorang orang tua yang hebat," ucap Alpha berbisik lembut, mengeratkan pelukannya demi menyalurkan kehangatan. "Elizabeth hanya ingin menempa sisa-sisa kapasitas skill bertarung yang dia miliki demi kebaikan istana ini. Jadi, tolong jangan terlalu dipikirkan sampai merusak pikiran Anda ya, Tuanku...?"
Mendengar bisikan bijaknya, ketegangan di dadaku perlahan mulai mencair. Aku membalikkan tubuh manusiaku ke belakang, berputar hingga posisiku kini berdiri berhadapan langsung menatap sedekat mungkin wajah cantik Alpha. Kedua telapak tangan manusiaku bergerak perlahan, memegang kehangatan kedua sisi wajah mulus sang penyihir Elf.
WUSSS...!
Di titik koordinat balkon sunyi itu, atmosfer dimensi mendadak terasa bergeser drastis.
Aliran waktu di sekeliling kami seolah-olah berjalan melambat menembus batas kesunyian. Semakin berjalannya detik, posisi jarak wajah kami perlahan-lahan bergerak saling mengikis mendekat satu sama lain di bawah hipnotis getaran cinta yang pekat.
Tatkala sepasang kelopak mata Alpha mulai terpejam pasrah dan ujung hidung manusiaku sudah bener-bener saling menyentuh mesra dengan hidungnya—di mana bibir kami tinggal sisa satu milimeter lagi untuk melakukan sebilah ciuman asmara terdahsyat—mendadak...
"YANG MULIAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!! DARURAAAAATTTTT!!!"
Sebuah teriakan lantang bergemuruh super kencang dari arah tangga balkon seketika meledak brutal memutus seluruh sihir atmosfer romantis kami! Sesosok ksatria penjaga gerbang kastil berlari kencang ngos-ngosan bagaikan banteng menyeruduk, menggebrak masuk ke area balkon tanpa sebilah rem!
VRAAAKKK...!
Detik itu juga, tubuhku dan Alpha langsung melompat mundur ke belakang akibat tersentak kaget setengah mati! Jantungku berdegup canggung, sedangkan sekujur wajah cantik Alpha sudah terlanjur memerah padam sempurna sampai ke ujung telinga runcing Elf-nya saking syok dan malunya kepergok dalam posisi mesra.
"Ehh... A-Anu... Waduh... Kayaknya... kayaknya kedatangan saya bener-bener beneran ngeganggu momen penting Anda berdua ya, Yang Mulia...?" Ucap si penjaga gerbang koplok itu dengan wajah polos tanpa dosa, mendadak gemetaran melihat aura hitam tiraniku mulai bergejolak tipis menahan kesal.
“ANJIRRR ASLI JAHANAM SEJATI!!! INI BUKAN CUMA NGEGANGGU LAGI WOI, TAPI GANGGU BANGET PAKE BANGET-BANGETAN KOPLOKK SERATUS PERSEN BAJINGAAAAAN!!! DIKIT LAGI GUA SAKSES CIPOKAN SAMA ELF GUA KENAPA LU HARUS DATANG DI DETIK ITU, KEPARAAATT!!!” Raungku menjerit brutal murka di dalam lubang batin kegelapanku, bener-bener ingin menembak kepala si penjaga gerbang pakai Eaglemagia saat itu juga!
"Ahh... G-Gak kok... Engga ada apa-apa. Ada laporan darurat apa sampai kau berteriak seperti itu?" Tanyaku memotong cepat dengan nada suara yang dipaksakan tenang berwibawa, meskipun kepalaku sudah overheat menahan kesal.
"Anu... Itu, Yang Mulia...! Di depan gerbang luar kastil, Raja Utama dari Kerajaan Oscar telah tiba secara mendadak bersama dengan barisan sisa regu pahlawan reinkarnator bumi mereka! Kondisi mereka nampak tergesa-gesa memohon audiensi langsung dengan Anda!" Lapor si penjaga gerbang memberikan informasi krusial.
Mendengar nama Kerajaan Oscar disebut, seluruh sirkulasi otak taktisku langsung aktif menyala kembali 100% penuh. "Begitu ya... Baiklah. Perintahkan peleton pelayanan untuk segera mengantar rombongan Raja Oscar menuju ke dalam Ruang Rapat Agung, dan suguhi mereka semua dengan seduhan teh magis kualitas terbaik sekarang juga!" Perintahku tegas penuh disiplin militer.
"Siap, perintah dilaksanakan, Yang Mulia!" Jawab si penjaga membungkuk hormat lalu bergegas undur diri secepat kilat.
Aku menghela napas panjang, mencoba menstabilkan debaran jantung manusiaku kembali lalu menoleh menatap Alpha.
"Alpha..." Panggilku pelan.
"Eh... I-Iya, Tuan Miko...?" Jawab Alpha agak tersentak kaget dengan nada suara yang masih malu-malu, kedua tangannya meraba pipinya yang masih terasa teramat sangat panas menyala akibat insiden ciuman gagal tadi.
"Hehemm... Maaf ya buat kejadian barusan, kita tunda dan lain kali aja ya kelanjutannya, hehe," ucapku tersenyum manis penuh arti ke arah Alpha, membuat wajah sang Elf makin merah merona. "Oh ya, tolong sampaikan pesan kepada Gamma dan Elizabeth agar mereka berdua segera datang menemuiku di dalam ruang rapat agung setelah urusan makan siang mereka selesai."
"I-Iya, titah dipahami, Tuanku..." Jawab Alpha membungkuk hormat penuh kepatuhan yang manis.
Aku membalikkan tubuh manusiaku, berjalan tegap melangkah cepat menyusuri koridor karpet merah menuju ke arah Ruang Rapat Agung dengan setelan pakaian kasual rumahanku yang santai.
Penampilanku ini bener bener tidak mencerminkan status bahwa aku adalah sosok raja iblis penguasa ribuan pasukan monster, karena dalam prinsip hidupku, aku emang bener bener tidak suka tampil mewah jika berada di kastil kediaman ku sendiri hehee...