NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku Harian Bella

Sudah, Non, biar Bibi saja yang membereskan mejanya,” ujar asisten rumah tangga yang sudah membantu Rindu sejak tiga bulan menjadi istri Elang itu.

Meski menjadi wanita karir dan bekerja diluar, tapi Rindu tetap tidak melupakan tugasnya di rumah. Ia tetap menyiapkan segala keperluan suaminya, serta membantu Bibi sebisanya.

“Tidak apa, Bi. Cuma bawa piring ini ke tempatnya saja kok. Sekalian cuci tangan,” jawab Rindu sambil tersenyum ramah.

Hal ini yang membuat Bibi betah bekerja dengan Rindu, karena majikannya itu tidak pernah marah. Bahkan selama ia bekerja di rumah ini, Bibi tidak pernah sekali pun melihat Rindu marah. Hanya akhir‑akhir ini saja, ia sering mendapati wajah ketus Rindu jika sedang bersama suaminya.

Tring

Ponsel Rindu berdering menampilkan sebuah notifikasi. Namun, Rindu yang masih berdiri di wastafel dan sedang membersihkan tangannya, belum sempat memegang ponsel yang ia geletakkan di meja makan tadi.

Usai membersihkan tangannya hingga kering, Rindu pun mengambil ponsel itu dan membuka pesan whatsup. Cukup banyak pesan yang masuk dan belum ia baca. Dan, Rindu memilih membaca pesan dari bosnya terlebih dahulu.

“Rin, kamu tidak perlu buru‑buru, ternyata pertemuan kita dengan Tuan Abigail tidak pagi‑pagi. beliau meminta pas jam makan siang saja. Jdi kamu bisa urus rumah dulu.”

Rindu tersenyum membaca pesan itu. ia pun segera membalasnya.

“Oke, terima kasih, Pak.”

Rindu membalas pesan itu dengan menyelipkan emod senyum setelahnya. Sungguh, Rayen begitu pengertian. Ditambah, wajahnya yang tampan dan bersahaja. Seketika RZindu membayangkan wajah bosnya itu.

“Haish, Rindu. Kamu sudah bersuami. Dilarang membayangkan wajah pria lain.” Rindu menepis pikirannya dengan menggelengkan kepala, agar isi kepalanya tidak lagi tergambar wajah Rayen.

Tring

Pesan Rindu langsung dijawab oleh Rayen.

“Sama‑sama. Nanti siang langsung ke TKP ya, tidak perlu ke kantor dulu.”

“Siap, Bos.”

Rindu kembali membalasnya cepat. Rayen membalas lagi dengan emod senyum, hingga keduanya saling tersenyum meski di tempat berbeda.

Rayen senang mendapatkan sekretaris cekatan seperti Rindu. Selain cantik, Rindu juga pintar dan energik. Di kantor milik keluarga Vera, ia memiliki sekretaris seusia Rindu, tapi entah mengapa ia masih selalu kerepotan dan seolah pekerjaan itu tidak pernah selesai.

Perusahaan yang sengaja dipegang oleh Dirga ini adalah benar‑benar perusahaan milik Rayen tanpa sepengetahuan Vera.

Rindu melihat pesan yang datang dari Lita.

“Woy, hari ini ngga ke kantor dulu ya? Langsung ketemu Mr. Abigail?”

Rindu membalas pesan itu. “Iya, si bos ngizinin aku buat beres‑beres rumah dulu.”

“Ish, pengertian sekali sih, si bos.”

“Iya dong,” jawab Rindu lagi sambil tersenyum senang.

“Ya udah, kalau ke kantor, jangan lupa bawa makanan yang banyak! Mumpung lagi sama si bos, palak sekalian.”

Rindu tergelak membaca pesan dari sang sahabat. “Siap. Sekalian beli cemilan buat besok ya.”

“Yoi.”

Besok adalah keberangkatan Rindu dan teman‑teman se‑divisinya untuk berlibur, mengingat mereka sudah meraih target yang lebih dari target seharusnya.

Lalu, saat hendak mengubah layarnya ke layar depan. Rindu mendapati pesan dari Sam. Pesan tanggapan Sam dari statusnya tentang Pulau seribu.

“Ciye, yang mau halan‑halan. Jangan lupa oleh‑oleh!”

Rindu menjawab pesan itu. Baginya, Sam adalah sekedar teman kerja.

“Sama, kamu malah jalan‑jalannya jauhan.”

Sam yang sedang online, langsung menjawab chat itu.

“Di Singapura, gue kerja Rin. kaga jalan‑jalan kaya divisi lu.”

“Sama aja, yang penting naik pesawat kan?”

Sam membalas dengan emod tertawa. “Lu kira, gue anak kecil yang girang karena naik pesawat.”

Rindu ikut tertawa dan tak lagi membalas pesan itu. Sungguh, jika tidak bekerja, mungkin ia akan larut dalam kesedihan dan semakin terpuruk. Beruntung, Rindu memiliki teman kerja yang dapat membuatnya tersenyum.

Mengingat waktu untuk berangkat masih cukup lama, Rindu berinisiatif untuk membereskan kamar tamu, kamar yang sebelumnya digunakan oleh Bella selama lebih dari dua minggu.

“Bi, saya bereskan kamar tamu ya,” pamit Rindu pada Bibi yang masih sibuk mencuci piring.

“Jangan, Non. Biar sama Bibi aja, kan Non Rindu mau berangkat kerja.”

“Ngga. Kebetulan hari ini, saya berangkat siang.”

Rindu langsung berjalan menuju kamar tamu dan meninggalkan Bibi di dapur. Saat membuka kamar, kamar itu tampak rapih. Bella memang dikenal tidak suka berantakan. Hidupnya pun selalu terencana, makanya tidak heran jika Bella tetap sukses, meski sang suami meninggalkannya seorang diri dan membesarkan anaknya sendiri.

Rindu menarik nafasnya kasar. Ia memang mengidolakan ibu mertuanya. Bagi Rindu, Bella adalah sosok wanita yang patut dicontoh. Bella mampu menjadi pemimpin perusahaan, sebelum Elang menggantikannya karena usia. Bella juga wanita yang serba bisa dan bisa menempatkan diri dimana pun wanita itu berada. Bella juga pantas memantaskan diri, baik dalam berpakaian maupun bertutur kata.

Rindu memasuki kamar itu dan merapikan sesuatu yang tampak terlihat belum sesuai dengan letak sebelumnya. Ia juga mengganti seprei di sana dengan yang baru. Tak hanya seprei ranjangnya saja yang diganti, kedua bantal dan gulingnya pun diganti dengan bahan yang baru.

Tuk

Ketika Rindu mengangkat bantal itu, tiba‑tiba sebuah benda jatuh ke lantai.

Sontak, pandangan Rindu tertuju pada benda itu. ia berjongkok dan mengambil benda yang bentuknya seperti buku. Buku itu tidak tebal dan tidak tipis juga.

“Ck. Mama. pasti ada saja yang ketinggalan.” Rindu tersenyum dan menggeleng. Ia tak berani membuka buku itu. Pikirnya, buku ini adalah catatan kegiatan sang mertua.

Rindu meletakkan buku itu di atas nakas. Lalu, membawa saat kamar sudah tampak lebih rapih dari sebelumnya. Ia beriat akan mengembalikan buku itu nanti. Sebelumnya, Rindu akan menyimpan buku ini dulu.

“Bi, kamar tamunya sudah rapi. Tapi cucian kotornya masih saya tinggalkan di dalam. Tinggal diambil ya,” pesan Rindu pada si Bibi ketika kakinya melangkah menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri untuk bersiap bertemu klien.

Meski masih banyak waktu, tappi Rindu merasa ritualnya membersihkan diri cukup lama, apalagi ditambah dengan berdandan. Jika waktunya masih lama, maka ia pun tidak tergesa saat melakukan ritual itu semua.

Bruk

Buku itu kembali terjatuh, saat Rindu hendak meletakkannya di dalam laci meja riasnya. Posisi benda itu pun terjatuh tidak seperti sebelumnya yang tertutup sempurna.

namun, buku itu justru jatuh dalam posisi terbuka, hingga tulisan Bella pun terlihat di sana.

“Maafkan Mama, Rindu.”

Kalimat di awal paragraf dan menggunakan huruf besar itu, mengundang perhatian Rindu.

Rindu kembali berjongkok dan mengambil buku itu. Namun, ekspresinya tidak se‑cuek sebelumnya. Kini, Rindu justru antusias untuk membuka benda yang bukan miliknya itu. Salah memang. Namun, nama yang tertera di sana mengundang Rindu ingin mengetahui isinya.

Rindu menghampiri sofa dan dengan santai duduk di sana sambil membuka buku yang baru beberapa helai tertulis. Jelas di sana bahwa tulisan tangan itu adalah tulisan tangan milik Bella.

“Sofia, aku menemukan putrimu. Dia cantik, sama sepertimu. Cara bicaranya lembut. Berbincang dengan Rindu, seolah sedang berbincang denganmu. Oh, sahabat kecilku. Kamu begitu cepat meninggalkanku.”

Membaca tulisan itu membuat Rindu ingin meneteskan airmata. Sofia adalah nama Ibu Rindu. Seketika, ia pun rindu mengunjungi makam sang ibu dan sang ayah yang juga ada tepat di samping perisitrahatan terakhir istrinya.

Saat berusia lima tahun, penyakit menular melanda desa yang ditinggali Rindu dan semua keluarga besarnya. Satu persatu, penyakit menular itu menewaskan banyak penduduk di sana termasuk ibu dan kerabat yang lain. wabah itu menyisakan ayah dan Rindu yang kebetulan dinyatakan tidak terinfeksi penyakit itu.kemudian, ayah Rindu hijrah ke ibukota, lalu menitipkan Rindu ke sebuah panti asuhan dengan niatan akan mengambil kembali putrinya setelah ia mendapatkan pekerjaan, mengingat saat datang ke kota ini, ayah Rindu hanya membawa diri dengan pakaian seadanya, uang pun tak ada.

Namun, takdir berkata lain, ayah meninggal saat dua minggu bekerja menjadi buruh proyek jembatan layang. Tubuhnya tertimpa krane yang rubuh tiba‑tiba.

“Aku tidak salah memilih putrimu untuk putraku. Rindu juga wanita yang tangguh. Dia mandiri dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Bahkan untuk meminta tolong padaku saja, dia selalu sungkan. Jadi, mesti aku yang menawarkan diri. Putrimu menggemaskan, Sofia. Aku benar‑benar terpesona padanya. Aku langsung jatuh hati dan menyayanginya dengan sepenuh hati.”

Rindu tersenyum membaca penggalan paragraf yang ada di tengah. Ia ikut berucap usai menyelesaikan rangkaian paragraf itu. “Rindu juga sayang Mama.”

Kemudian, Rindu membaca lagi paragraf selanjutnya. Sekilas Rindu merasa bersalah karena telah lancang membaca buku yang tenyata adalah buku harian ibu mertuanya. Buku yang sudah cukup usang dengan tinta yang tampak baru di halaman‑halaman terakhir. Ingin rasanya Rindu mengakhiri sikap lancangnya ini. Namun, kaliamt awal di paragraf itu membuat Rindu penasaran.

“Aku tahu putraku. Aku tahu dia memang laki‑laki brengs*k, sama seperti ayahnya.”

Deg

Rindu semakin penasaran untuk melanjutkan bacaan selanjutnya.

“Aku melihat Rindu begitu mirip denganku. Aku yakin, Rindu mampu membawa putraku menjadi lebih baik, meski aku tahu bagaimana kelakuan putraku dibelakang putrimu. Maafkan, aku Sofia. Aku tidak bisa mendidik putraku menjadi lebih baik dari ayahnya. Buah jatuh tak jauh dari pohonny, Pepatah itu memang cocok untuk Elang dan almarhum ayahnya. Sekuat apa pun aku berusaha mendidik Elang menjadi laki‑laki baik, tetap saja darah Mas Bagus mengalir kental di sana.”

Seketika darah Rindu mendidih. Dadanya bergerak naik turun menahan amarah dan kesal.

“Maaf, aku mengorbankan hidup putrimu untuk putraku. Maafkan aku, Sofia.”

“Maafkan Mama, Rindu.”

Seketika, tangis Rindu pun pecah. Sungguh, ia merasa dibodohi oleh ibu dan anak itu. karena hanya dia yang paling tidak tahu bagaimana perangai Elang, padahal ia sudah hidup lima tahun bersama pria itu.

“Ibu …” teriak Rindu menahan pilu.

Ia benar‑benar merasa dimanfaatkan oleh Bella dan terjebak dalam pernikahan yang menyesakkan dada. Wanita yang selama ini ia puja, ia idolakan, dan ia sayangi bagai ibu kandungnya sendiri justru membawanya dalam hidup yang penuh prahara.

Bella seperti telah merencanakan pemanfaatan itu dengan sempurna, dengan memberi semua yang Rindu butuhkan hingga ia merasa berhutang budi dan tak bisa lari dari semua permintaan Bella.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!