Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Keajaiban Giok Penyembuh dan Ketulusan yang Meruntuhkan Keangkuhan
Rencana Chen dan Liu untuk bergerak cepat ternyata tidak berjalan semulus yang mereka bayangkan. Sesampainya di kediaman mewah bergaya klasik milik Tuan Tang, sambutan yang mereka terima justru sangat dingin. Belum sempat Liu mengutarakan niatnya untuk bernegosiasi, Tuan Tang yang berwajah lesu dan penuh beban langsung berdiri dari kursinya.
"Sudah kukatakan pada asistenmu lewat telepon, Tuan Muda Liu! Lahan di tepi sungai itu tidak akan pernah kujual!" seru Tuan Tang dengan suara serak, wajahnya mengeras. "Sekarang, silakan kalian angkat kaki dari rumahku!"
Liu sempat terpancing emosinya karena diusir begitu saja, namun Chen dengan sigap menahan lengan sahabatnya. Chen melangkah maju, memusatkan fokusnya pada aliran energi hangat yang bersarang di balik kepalanya. Sepasang mata ajaib Chen mulai berdesir hebat, membedah seisi ruangan hingga menembus dinding kamar belakang kediaman tersebut.
Melalui penglihatan tembus pandangnya, Chen melihat seorang wanita paruh baya sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat bantu medis. Struktur tubuh wanita itu terlihat memprihatinkan; ada titik hitam pekat yang menyumbat aliran energinya—sebuah penyakit dalam yang sangat parah.
Chen kembali menatap Tuan Tang. Alasan yang dilontarkan pria tua itu bahwa lahan tersebut adalah satu-satunya aset yang tersisa, jelas hanyalah kebohongan untuk menutupi kenyataan pahit.
"Tuan Tang," ucap Chen dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa. "Alasan Anda tidak ingin menjual lahan itu bukan karena masalah aset keluarga. Anda dan istri Anda... berencana untuk membangun makam berdua di tepi sungai itu, bukan?"
Rahasia di Balik Keputusasaan
Deg!
Tuan Tang seketika terpaku di tempatnya. Wajahnya yang tadi tegang langsung berubah pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat saat rahasia terdalamnya dibongkar oleh seorang pemuda yang baru pertama kali ia temui.
"B-bagaimana kau bisa tahu?!" bisik Tuan Tang dengan mata berkaca-kaca.
Chen menghela napas lembut, menunjukkan rasa empatinya. "Dokter-dokter ternama telah angkat tangan dan mengatakan bahwa usia istri Anda hanya tinggal menunggu hari. Anda ingin menguburnya di tempat yang tenang di tepi sungai, dan kelak Anda akan menyusulnya di sana. Itulah alasan sebenarnya Anda mempertahankan lahan itu."
Tuan Tang akhirnya runtuh. Ia terduduk di kursinya dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, menangis tersedu-sedu. "Benar... Istriku adalah segalanya bagiku. Uang ratusan juta pun tidak ada gunanya jika dia pergi!"
Namun, Chen tersenyum tipis. Mata laboratriumnya tidak hanya melihat penyakit, tetapi juga mendeteksi bahwa sel-sel vital istri Tuan Tang belum sepenuhnya mati. Penyakit itu bisa disembuhkan jika sumbatan energinya dihancurkan dengan getaran mineral murni tingkat tinggi.
Chen merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebutir batu giok kecil berwarna hijau susu yang sangat pekat—sebuah giok berenergi murni yang ia dapatkan secara khusus dari sisa pemotongan Giok Darah Naga tempo hari. Di bawah penglihatan mistis Chen, batu ini memancarkan aura restorasi kehidupan.
"Tuan Tang, bawa batu giok ini dan kalungkan di leher istri Anda. Ini adalah batu giok penyembuh yang mampu menyeimbangkan kembali energi tubuh dan meluruhkan racun penyakit. Percayalah padaku, istrimu belum akan mati," ucap Chen penuh keyakinan.
Tuan Tang menatap batu giok di tangan Chen dengan ragu, namun demi melihat secercah harapan untuk belahan jiwanya, ia menerima batu itu dengan tangan gemetar.
Kesembuhan dan Balas Budi
Satu minggu pun berlalu dengan cepat. Selama tujuh hari itu, Chen, Liu, dan Mei terus memantau perkembangan kesehatan di kediaman keluarga Tang, bahkan membantu mengirimkan tim medis terbaik untuk mendampingi.
Keajaiban sejati pun terjadi. Energi dari batu giok pemberian Chen secara bertahap menghancurkan titik hitam penyakit di tubuh istri Tuan Tang. Tepat pada hari ketujuh, wanita itu sudah bisa membuka matanya dengan binar yang sehat, bahkan sudah bisa turun dari ranjang dan kembali beraktivitas seperti sediakala. Dokter yang memeriksanya sampai kebingungan karena seluruh sel kankernya telah hilang tanpa bekas!
Sore itu, Tuan Tang mengundang Chen dan Liu kembali ke rumahnya. Kali ini tidak ada pengusiran. Tuan Tang menyambut mereka dengan air mata kebahagiaan, didampingi sang istri yang tampak tersenyum hangat.
Bruk!
Tuan Tang langsung berlutut di hadapan Chen. "Tuan Chen... Anda adalah dewa penyelamat keluarga kami! Nyawa istriku jauh lebih berharga dari lahan mana pun di dunia ini!"
Chen segera membantu pria tua itu berdiri. "Bangunlah, Tuan Tang. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan."
Sambil menghapus air matanya, Tuan Tang langsung mengambil sertifikat lahan tepi sungai tersebut dan meletakkannya di meja.
"Sebagai rasa terima kasihku yang tidak terhingga, lahan tepi sungai ini resmi menjadi milik kalian! Aku tahu awalnya kalian ingin membelinya, maka dari itu..." Tuan Tang tersenyum tulus. "Aku memotong harganya menjadi setengah harga dari harga asli yang kupatok dulu. Silakan ambil, Tuan Chen, Tuan Muda Liu. Ini adalah kehormatan bagi keluarga kami!"
Liu yang berdiri di samping Chen langsung bersorak dalam hati sembari melirik Chen dengan kekaguman yang semakin tak terbendung. Lahan 'sampah' yang sebenarnya berisi harta karun ratusan juta yuan kini berhasil mereka dapatkan dengan harga setengahnya saja, semua berkat kebaikan hati dan kehebatan mata ajaib Chen.