Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28.kudeta Fajar
Sinar fajar Wasteland yang berwarna merah keunguan menembus sela-sela atap teater tua yang hancur. Gua dan Jinho bergerak cepat menembus sisa-sisa reruntuhan kota. Berkat **[Kunci Akses Kamp Iron-Fang]**, sebuah peta hologram mini muncul di komunikator pergelangan tangan Jinho, menuntun kami ke sebuah distrik industri terbengkalai sekitar satu kilometer dari bunker.
"Ji, berdasarkan data dari kunci ini, Kamp Iron-Fang diisi oleh sekitar dua puluh orang," bisik Jinho sambil mengendap-endap di balik bangkai mobil tangki. "Tapi karena lima elit mereka—termasuk ketuanya—udah lu bikin jadi abu semalam, sisa anggota di sana kemungkinan besar cuma pekerja logistik dan penjaga tingkat rendah."
Gua memeriksa status diri sendiri.
### **[STATUS PENGGUNA]**
* **ID:** SwordGod77
* **Level:** 5 (Fase Awal)
* **Stat Utama:** STR: 15 | DEX: 25 | VIT: 12 | INT: 10
* **Senjata:** [Bone-Eater (Tier 1 - Rare)]
Poin dari Level 5 sengaja gua distribusikan lebih banyak ke *Dexterity* dan sedikit ke *Strength* untuk mengimbangi bobot **[Bone-Eater]**. Di dunia nyata, tubuh asli gua di dalam kokpit *Sovereign Edition* terasa sangat rileks. Sensor enkripsi 100% dari s-Teknologi benar-benar memisahkan rasa lelah fisik dengan ketajaman mental gua.
"Dua puluh orang tanpa pemimpin itu bukan faksi, Jinho," ucap gua dingin sambil menatap pagar kawat berduri tinggi di depan kami. "Itu cuma tumpukan logistik berjalan."
Di balik pagar kawat tersebut, berdiri sebuah pabrik pengolahan pabrik tua yang sudah dimodifikasi menjadi benteng kecil. Ada dua menara penjaga kayu di sisi kiri dan kanan, masing-masing dijaga oleh satu orang yang memegang senapan runduk rakitan. Di tengah gerbang, ada lampu sorot yang mati karena siang hari.
"Ji, gimana cara masuknya? Kalau kita dobrak gerbang depan, mereka bakal dapet peringatan sistem dan langsung nembakin kita dari menara," Jinho cemas.
Gua melepaskan **[Senapan Serbu Scrap]** hasil jarahan semalam dari punggung gua, lalu melemparkannya ke arah Jinho. "Lu bisa nembak, kan?"
"Hah?! Gua kan bagian logistik, Ji! Stat *Dex* gua cuma sebelas!" Jinho panik, memeluk senapan itu kayak memeluk bom waktu.
"Gua gak minta lu nge-kill," gua menunjuk ke arah tangki bahan bakar cadangan generator yang berada di luar pagar pembatas, tepat di bawah menara penjaga sebelah kanan. "Tembak pipa penyalur tangki itu pas gua mulai bergerak. Suara ledakan dan asapnya bakal mengalihkan fokus penembak jitu di menara kiri."
Gua gak nunggu jawaban Jinho. Tubuh gua langsung melesat maju, memanfaatkan reruntuhan pipa-pipi besi besar di tanah sebagai pelindung *blind-spot*.
*DOR!*
Suara tembakan dari Jinho terdengar agak canggung, tapi pelurunya berhasil menghantam pipa tangki bahan bakar tua yang sudah korosi.
*BOOOMM!*
Ledakan api oranye langsung membubung tinggi, meruntuhkan menara penjaga sebelah kanan beserta orang di atasnya. Asap hitam pekat menyelimuti area gerbang depan.
"Ada serangan! Menara kanan hancur!" Penjaga di menara kiri berteriak panik, langsung memutar laras senapannya ke arah asal tembakan Jinho.
Namun, sebelum jarinya sempat menarik pelatuk, sesosok bayangan hitam berkerudung sudah melompat dari bawah menara, berlari vertikal di tiang penyangga kayu menggunakan dorongan stat *Dexterity* 25.
*Sret!*
Gua muncul tepat di samping platform menara kiri. *Bone-Eater* di tangan kanan gua berkilat dingin di bawah sinar matahari fajar.
"Siap—"
*JLESSS!*
Tebasan horizontal yang bersih memotong leher penjaga menara kiri sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya meledak menjadi abu digital, menjatuhkan beberapa butir amunisi ke lantai kayu.
Gua langsung melompat turun dari menara setinggi lima meter, mendarat dengan mulus di tengah halaman kamp yang sekarang sudah dipenuhi oleh belasan anggota Iron-Fang yang keluar dari dalam pabrik dengan senjata seadanya—mulai dari pipa besi, kapak kapak rakitan, hingga pistol otomatis.
"Dia yang membunuh Ketua semalam! Habisi dia!" teriah salah satu anggota dengan tato serigala di lengannya.
Belasan orang itu mengepung gua dalam formasi lingkaran. Udara di halaman pabrik mendadak tegang.
Gua berdiri di tengah kepungan, menurunkan posisi tubuh gua, dan perlahan menarik gagang *Bone-Eater* dengan kedua tangan. Mata emas gua berkilat tajam, memindai setiap celah dari pergerakan belasan orang amatir di depan gua.
"Gua kasih kalian satu pilihan," suara gua terdengar datar namun menembus riuh suara sirine kamp. "Letakkan senjata kalian sekarang dan serahkan inventaris kamp... atau kalian semua bakal menyusul ketua kalian jadi abu di tanah ini."