Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Di ruang kerja utama mansion Bramantyo yang kini telah mereka kuasai, Andre dan Riko duduk berhadapan dengan tumpukan dokumen legalitas aset di atas meja.
Secangkir kopi hitam dan asap rokok yang mengepul pekat menambah pengap atmosfer ruangan yang dulu sangat dihormati itu.
Riko membanting sebuah berkas tebal berlogo bank swasta nasional ke atas meja dengan wajah frustrasi.
"Sialan! Pihak bank tetap meminta verifikasi tanda tangan dan kehadiran fisik Papa kalau kita mau mengagunkan sertifikat mansion ini untuk pinjaman modal besar. Mereka tidak mau menerima posisi kita yang hanya sebagai pimpinan sementara!"
Andre menyesap kopinya perlahan, matanya menyipit memancarkan kilatan kelicikan yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.
Ia bersandar pada kursi kebesaran Darren, lalu mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja.
"Tenang, Riko. Mengagunkan mansion ini hanya langkah kecil," ucap Andre dengan nada suara yang dingin dan datar.
"Masalah terbesar kita adalah harta peninggalan Mama. Kita masih belum bisa mencairkan semua warisan Mama yang tersimpan di trust fund internasional dan rekening korporasi."
Riko mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap kakaknya dengan serius.
"Lalu apa rencana kamu? Saham perusahaan memang di tangan kita, tapi dana segar itu dikunci atas nama Papa sebagai wali utama."
Andre tersenyum sinis, sebuah seringai iblis terukir di wajahnya.
Ia menarik selembar kertas kosong dan sebuah pulpen mahal milik ayahnya.
"Kita tidak punya waktu untuk menunggu si tua itu sembuh, lagipula otaknya sudah tidak bisa diselamatkan," bisik Andre dengan suara yang sangat rendah, memastikan tidak ada pelayan yang mendengar.
"Kita masih belum bisa mencairkan warisan Mama kecuali kita memalsukan tanda tangan Papa pada berkas pelimpahan hak mutlak ini."
Riko terdiam sejenak, lalu perlahan senyum kelicikan yang sama mulai mengembang di wajahnya.
"Memalsukan tanda tangan Papa, itu mudah. Aku tahu dokumen lama yang bisa kita contoh."
"Tapi itu saja tidak cukup, Riko," potong Andre, matanya menatap tajam sang adik tanpa ada sedikit pun rasa kemanusiaan tersisa.
"Setelah semua berkas pencairan dan balik nama aset selesai kita palsukan, kita kirim Papa ke alam baka."
Deg!
Riko sempat tertegun mendengarnya, namun rasa serakah yang sudah mendarah daging dengan cepat menghapus sisa keraguannya.
"Kalau Papa mati dalam kondisi 'kecelakaan' atau serangan jantung akibat gilanya itu, tidak akan ada yang curiga," lanjut Andre dengan bisikan yang sarat akan racun pembunuhan.
"Dengan begitu, kita akan mendapat warisan dobel. Warisan dari Mama cair sepenuhnya, dan seluruh sisa harta pribadi milik Papa otomatis jatuh ke tangan kita sebagai ahli waris utama tanpa ada Angela yang mengganggu. Kita akan menjadi penguasa mutlak di kota ini."
Kedua kakak beradik itu kemudian saling melempar pandangan penuh kemenangan, lalu tertawa renyah di dalam ruangan yang sunyi itu.
Mereka merasa di atas angin, sama sekali tidak menyadari bahwa di rumah Jonas, mata-mata Deacon sedang merekam setiap pergerakan keuangan mereka, dan di Toronto, "Cinderella" bersama sang mantan perwira polisi sedang bersiap untuk pulang membawa badai pembalasan.
Riko melajukan mobil sportnya membelah kegelapan malam Jakarta menuju ke sebuah kawasan industri terbengkalai di pinggiran kota.
Rasa serakah telah sepenuhnya membutakan mata hatinya.
Demi harta dobel yang dijanjikan Andre, ia rela melangkah sejauh ini—merencanakan pembunuhan terhadap ayah kandungnya sendiri.
Di dalam sebuah gudang tua yang remang-remang, seorang pria bertubuh tegap dengan tato ular di sepanjang lengannya sudah menunggu.
Pria itu adalah gembong eksekutor bayaran yang biasa melakukan "pekerjaan kotor" kalangan atas tanpa meninggalkan jejak.
"Jadi, siapa targetnya?" tanya pria bertato itu, suaranya parau dan dingin sembari menyalakan korek api gas.
Riko tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berisi tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu sebagai uang muka, lalu melemparkannya ke atas meja berkarat.
Di samping amplop itu, Riko meletakkan sebuah foto.
Pria bertato itu menunduk, melihat foto Darren Bramantyo yang sedang tersenyum berwibawa dalam balutan jas formal.
Alis sang eksekutor sedikit terangkat. "Tuan Darren? Penguasa Bramantyo Corporation?"
"Dia sudah tidak berguna. Otaknya sudah rusak," jawab Riko tanpa ada sedikit pun getaran ragu di suaranya.
"Aku ingin target dilenyapkan dengan rapi. Saat ini dia sedang bersembunyi di sebuah rumah sederhana milik seorang mahasiswa bernama Jonas. Aku akan mengirimkan alamat lengkapnya malam ini juga."
Pria bertato itu mengambil amplop uang tersebut, menimbangnya di tangan, lalu tersenyum menyeringai.
"Bagaimana Anda ingin dia mati? Kecelakaan? Atau serangan jantung?"
"Buat seolah-olah dia murni tewas karena serangan asma akut atau gagal jantung akibat kondisi jiwanya yang gila," perintah Riko, matanya berkilat kejam.
"Jangan sampai ada bekas luka luar yang mencurigakan, agar polisi langsung menutup kasusnya sebagai kematian wajar."
"Dua hari," ucap sang eksekutor tegas sembari memasukkan foto Darren ke dalam sakunya.
"Dua hari lagi, kontrak ini akan selesai."
Riko mengangguk puas, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan gudang tua itu tanpa penyesalan.
Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan tumpukan uang warisan dan saham mutlak yang akan segera ia nikmati bersama Andre.
Ia benar-benar merasa di atas angin. Namun, baik Riko maupun sang eksekutor tidak menyadari bahwa sinyal ponsel yang digunakan Riko untuk mengirimkan alamat rumah Jonas telah terenkripsi dan disadap secara real-time oleh jaringan satelit milik Deacon di Toronto.
Detik-detik menuju badai pembalasan kini mulai berputar maju.
Di ruang fisioterapi khusus Rumah Sakit Toronto, cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela-jendela besar, menyinari sosok wanita yang sedang berdiri di depan cermin panjang.
Jihan menatap pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk.
Ia hanya mengenakan pakaian rumah sakit berwarna biru muda yang sederhana dan longgar, namun pakaian itu kini tampak begitu pas di tubuhnya.
Lemak yang dulu menggelambir di area perut, lengan, dan pipinya kini telah hilang pasca-operasi besar yang dilaluinya.
Garis rahangnya tegas, lehernya jenjang, dan bentuk tubuhnya kini tampak begitu ramping, proporsional, dan sangat anggun.
"Seperti bukan diriku..." ucap Jihan lirih, jemarinya yang lentik menyentuh pipinya sendiri.
Transformasi fisik yang begitu drastis ini membuatnya merasa seolah-olah sedang menatap orang asing yang sangat cantik di dalam cermin.
Namun, Jihan tidak boleh terlena dengan penampilan barunya.
Fokus utamanya saat ini adalah memulihkan fungsi motorik kakinya yang sempat cedera parah akibat kecelakaan maut itu.
"Jangan terburu-buru, Jihan. Fokus pada keseimbanganmu," ujar Deacon yang berdiri setia di sampingnya, mengawasi dengan pandangan protektif.
Jihan mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengangkat kaki kanannya yang masih terasa kaku untuk mengambil langkah pertama. Namun, begitu telapak kakinya menyentuh lantai rumah sakit yang dingin, otot-ototnya yang masih lemah mendadak lemas. Keseimbangan tubuh Jihan goyah seketika.
"Ah!" Jihan terpekik kecil, tubuhnya hampir jatuh terjerembap ke depan.
Dengan refleks kilat seorang mantan perwira, Deacon langsung bergerak maju.
Kedua lengan kekar Deacon dengan sigap memegangi pinggang Jihan yang kini terasa begitu ramping, menahan bobot tubuh wanita itu agar tidak membentur lantai.
Jarak mereka menjadi begitu dekat, hingga Jihan bisa merasakan deru napas hangat Deacon di puncak kepalanya.
"Pelan-pelan," bisik Deacon lembut namun tegas, memastikan pegangannya di pinggang Jihan tetap kuat dan stabil untuk menyalurkan topangan.
"Otot-ototmu baru saja pulih dari trauma besar. Jangan dipaksakan langsung berjalan cepat."
Jihan mencengkeram lengan kekar Deacon untuk menstabilkan posisinya, napasnya tersengal akibat syok kecil tadi.
Ia mendongak, menatap mata Deacon dengan penuh rasa terima kasih.
Di balik penampilan barunya yang memukau layaknya Cinderella, Jihan tahu ada jalan terjal penuh kerikil tajam yang harus ia lalui di Jakarta untuk menyelamatkan Darren dan Angela dari rencana busuk Andre dan Riko.
Di sudut ruang fisioterapi, saat Deacon masih menopang pinggang Jihan, ponsel taktis di saku jas Deacon tiba-tiba bergetar hebat disertai bunyi alarm berfrekuensi rendah.
Itu adalah enkripsi peringatan darurat dari sistem penyadapan satelit miliknya.
Sinyal ponsel Riko baru saja mentransmisikan koordinat rumah Jonas ke jaringan eksekutor bayaran.
Deacon membantu Jihan duduk di kursi roda terdekat, lalu dengan cepat merogoh ponselnya dan menghubungi Jonas di Jakarta.
Klik.
Panggilan langsung tersambung.
"Halo, Pa? Ada apa?" tanya Jonas di seberang telepon, suaranya berbisik lirih karena tidak ingin membangunkan Angela yang baru saja tertidur.
"Jonas, dengarkan Papa baik-baik dan jangan memotong," ucap Deacon dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh otoritas militer.
"Riko baru saja menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan Darren. Mereka sudah mengantongi alamat rumahmu. Gerakkan tim pengawal rahasia yang sudah Papa siapkan di Jakarta. Pindahkan Darren dan Angela ke safe house nomor tiga di Sentul sekarang juga! Jangan tinggalkan jejak apa pun!"
"Apa?! Pembunuh bayaran?!" Jonas terkesiap, namun kesigapan mentalnya langsung bangkit.
"Baik, Pa. Aku laksanakan sekarang juga. Dalam lima menit kami sudah kosongkan rumah ini."
Sambungan telepon diputus. Deacon memasukkan kembali ponselnya, rahangnya mengeras menahan amarah yang membara.
Jihan yang mendengar percakapan itu langsung mencengkeram lengan kursi rodanya.
Wajah cantiknya memucat karena panik, memikirkan keselamatan Darren dan Angela yang kini di ujung tanduk.
Tanpa memedulikan rasa nyeri yang luar biasa di kaki kanannya, Jihan bersikeras bangkit berdiri lagi.
Ia memaksa kakinya melangkah, mencoba berjalan menembus rasa sakit yang menusuk tulang.
"Aku harus bisa jalan, Deacon! Aku harus pulang sekarang! Mas Darren dalam bahaya!" seru Jihan, air matanya menetes menahan perih di kakinya.
Tubuhnya kembali limbung karena dipaksakan.
Deacon dengan sigap langsung menangkap tubuh Jihan, menahannya agar tidak terjatuh, lalu mendudukkannya kembali ke kursi roda dengan tegas.
"Jangan bodoh, Jihan!" bentak Deacon pelan namun tajam, menatap lurus ke dalam manik mata Jihan yang berair.
"Darren dan Angela sudah ada di tempat yang aman. Jonas sedang memindahkan mereka ke safe house milikku. Pembunuh bayaran itu tidak akan bisa menyentuh mereka."
Deacon memegang kedua pundak Jihan, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Ingat rencana kita. Kamu tidak bisa pulang dengan kaki pincang dan kondisi selemah ini. Kita harus menghancurkan Andre dan Riko secara legal dan mutlak. Jika kamu gegabah, semua perjuangan kita di Toronto akan sia-sia."
Mendengar kata-kata Deacon, Jihan mengatur napasnya yang memburu.
Rasa sakit di kakinya perlahan terkalahkan oleh logika dan ketegasan sang mantan perwira.
Sambil menghapus air matanya, Jihan perlahan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Seringai dingin dan tekad membara kini kembali mengunci fokusnya.
Cinderella siap menanti waktu yang tepat untuk menjatuhkan vonisnya.