NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Senyuman yang terukir di wajah tampan Navarro Von-riccardo siang itu di bawah temaram lorong sekolah—terlihat begitu manis.

Namun, bagi seseorang yang memiliki insting bertahan hidup yang tajam, senyuman itu justru tampak seperti seringai iblis yang sedang mengunci target buruannya.

Dan Issabelle? Tentu saja dia merinding.

Sepanjang hidupnya yang penuh dengan latihan militer keras di Frankfurt, ia selalu menjadi pihak yang memegang kendali atau setidaknya mampu membaca pergerakan lawan dengan akurat.

Namun di sini, di sekolah barunya yang seharusnya menjadi tempat penyamaran yang tenang, ia justru mendapatkan serangan pelecehan yang sama sekali tidak terprediksi.

Dada Issabelle rasanya sesak sekali.

Amarah yang bergolak di dalam dirinya berpadu dengan kepanikan yang aneh; jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit yang samar di balik tulang rusuknya.

Ia benar-benar ingin membunuh pria di depannya ini sekarang juga.

Jika saja ini bukan di lingkungan Oakridge High School, pisau titanium di balik kaus kakinya dipastikan sudah bersarang di tenggorokan Navarro.

"Kenapa?" tanya Navarro, suaranya terdengar sangat santai, seolah-olah ia baru saja melakukan percakapan biasa dan bukannya menyudutkan seorang gadis hingga ke dinding beton.

Navarro melangkah maju satu tapak lagi, memperpendek jarak yang sempat tercipta pasca-benturan dahi tadi.

Mata gelapnya turun memandangi rona yang perlahan menjalar di permukaan kulit pucat Issabelle.

"Wajahmu memerah, Mine," ucap Navarro lagi, nada suaranya berbisik rendah, penuh dengan nada provokasi yang mematikan.

Napas Issabelle memburu. Ia tidak bisa lagi menahan bendungan amarah yang merubuhkan logika dinginnya.

Dengan tatapan mata abu-abu yang berkilat penuh dendam murni, ia menatap langsung ke dalam manik mata Navarro.

Bibir tipisnya bergerak cepat, mengeluarkan rentetan kalimat tajam dalam bahasa Jerman yang pekat.

"Hoff, dass wir uns in Zukunft im Guten begegnen, du Bastard! Ich werde dich verstümmeln. Ich werde diese unverschämten Augen, yang berani menatap remehku itu, eigenhändig ausstechen!" desis Issabelle dengan penekanan yang sangat dingin.

'(Jangan harap kita bisa bertemu baik-baik di masa depan, Bajingan! Aku akan memutilasimu. Bagaimana matamu yang lancang menatap remehku itu akan aku congkel keluar sendiri!)'

Suasana di lorong dispenser itu kembali sunyi selama beberapa detik setelah gema bahasa asing itu lenyap.

Issabelle mengira pria di depannya akan bingung atau setidaknya merasa terintimidasi oleh nada bicaranya yang sarat akan ancaman pembunuhan.

Namun, Navarro justru memiringkan kepalanya sedikit.

Ekspresi wajahnya tampak menunjukkan kerutan samar di dahi, seolah-olah ia sedang memproses sesuatu yang sulit.

"Ngomong apa?" tanya Navarro kemudian, nadanya terdengar polos namun matanya tetap mengunci Issabelle dengan intensitas yang sama.

Issabelle membuang mukanya ke samping, mendengus jijik.

Ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk menerjemahkan kalimat tersebut ke dalam bahasa Inggris.

Biarlah pria sialan ini mati dalam ketidaktahuannya bahwa ajalnya sedang dihitung mundur oleh klan Reichenbach.

Namun, di luar dugaan Issabelle, sudut bibir Navarro yang terluka kembali terangkat.

Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Issabelle yang memerah, lalu membisikkan sesuatu yang membuat seluruh sistem saraf gadis itu kembali membeku.

"Aku suka kalau kau bicara kotor seperti itu, mawar kecilku. Haruskah kita melanjutkannya di atas ranjang?" bisik Navarro dengan pelafalan bahasa Jerman yang sangat fasih, dalam, dan terdengar begitu sensual.

DEG.

Issabelle seketika memutar kembali kepalanya dengan cepat, menatap Navarro dengan mata abu-abu yang membelalak sempurna karena syok.

"Kau... kau bisa bahasa Jerman?!" tanya Issabelle, suaranya naik satu oktav karena keterkejutan yang tidak bisa lagi disembunyikannya.

Navarro menarik kepalanya kembali, menampilkan cengiran lebar yang menampakkan deretan giginya yang rapi. Ia mengedikkan bahunya dengan gaya acuh tak acuh.

"Tidak terlalu. Aku baru belajar kemarin karena kamu, Mine," bohongnya dengan ekspresi tanpa dosa yang sangat meyakinkan.

Padahal, kenyataannya sama sekali tidak seperti itu.

Sebagai pewaris utama klan riccardo yang memiliki jaringan bisnis legal dan ilegal yang menggurita hingga ke daratan Eropa Tengah, Navarro sudah menguasai bahasa Jerman sejak ia berusia sepuluh tahun.

Ia memahami setiap kata ancaman mutilasi yang diucapkan Issabelle dengan sangat sempurna, dan tanggapan mesumnya tadi sengaja dikeluarkan untuk memancing reaksi dari gadis misterius ini.

"Minggir, Brengsek," kata Issabelle, suaranya kembali merendah, penuh dengan penekanan yang tajam.

Ia mencoba mendorong dada bidang Navarro dengan telapak tangannya, namun tubuh pria itu tetap bergeming layaknya dinding batu.

Namun, sayang sekali, Navarro tidak memiliki niat untuk membiarkan mangsanya lepas begitu saja setelah ia berhasil memicu reaksi dari sang mawar es.

Ia menangkap pergelangan tangan Issabelle yang mencoba mendorongnya, menggenggamnya erat namun tanpa menyakiti.

"You are mine," bisik Navarro sekali lagi, mengulang klaim mutlaknya dengan nada yang tidak menerima bantahan apa pun.

Mine? Issabelle ingin sekali meludahi wajah tampan itu sekarang juga.

Jantungnya berpacu begitu cepat, bukan karena romansa, melainkan karena kombinasi antara kemarahan murni dan kepanikan karena pertahanannya telah ditembus sedalam ini.

TAP. TAP. TAP.

Suara langkah kaki yang teratur dari arah ujung koridor utama mendadak memecah ketegangan yang mencekam di antara mereka.

Suara gesekan sol sepatu sekolah perempuan dengan lantai semen terdengar semakin mendekat menuju area dispenser air panas.

Seorang siswi tingkat pertama dengan kacamata tebal berjalan perlahan sambil membawa botol minum plastik merahnya, berniat untuk mengisi air minum juga sebelum jam istirahat berakhir.

Begitu melangkahi tikungan koridor, siswi tersebut langsung menghentikan langkahnya sejenak, wajahnya tampak memucat saat melihat sosok Navarro Von-riccardo sedang berdiri sangat dekat dengan seorang murid baru di depan dinding.

Melihat kehadiran orang ketiga dan memanfaatkan celah konsentrasi Navarro yang sempat teralih sekilas ke arah kedatangan siswi tersebut, Issabelle tidak menyia-nyiakan detik itu.

Dengan sentakan kaki yang cepat dan teknik melepaskan diri dari kuncian yang terlatih, Issabelle menarik tangannya dari genggaman Navarro, mengambil botol minum termos hitamnya yang tergeletak di atas lantai dengan gerakan secepat kilat, lalu langsung melesat pergi melarikan diri dari tempat itu.

Ia berjalan setengah berlari menyusuri koridor dengan langkah yang lebar dan tergesa-gesa, meninggalkan Navarro yang hanya berdiri diam memperhatikan punggungnya yang menjauh.

Issabelle perlu menjauh sejauh mungkin dari pria itu; ia perlu menenangkan detak jantungnya yang tidak tenang dan mengembalikan kendali logis atas dirinya sebelum hari sore tiba dan ia harus menghadapi lantai bengkel milik Harrison.

Penyamarannya di Los Angeles kini tidak lagi terasa seperti tempat persembunyian, melainkan sebuah labirin berbahaya tempat ia harus bertarung insting dengan seorang predator bernama Navarro.

...ΩΩΩΩ...

Sementara itu, di koridor ujung yang mulai kembali dilewati oleh satu dua murid, Navarro masih berdiri diam.

Ia mengusap bibir bawahnya yang terluka menggunakan ibu jari, lalu menatap sisa darah yang menempel di sana dengan senyuman yang belum juga luntur.

Setelah memastikan sosok Issabelle benar-benar telah hilang di balik belokan lorong, ia memutar tubuhnya dan melangkah santai kembali menuju area kelas elite 10-A.

Suasana di dalam kelas 10-A masih tampak lengang saat Navarro mendorong pintu kaca tebal ruangan tersebut.

Di sudut barisan sofa kustom yang menyatu dengan meja letter 'U', seorang pemuda berambut cokelat gelap berantakan tampak sedang menyandarkan punggungnya sambil memutar-mutar sebuah pulpen mahal di antara jari-jarinya.

Dia adalah Skylar, sahabat terdekat Navarro di Oakridge High School sekaligus satu-satunya orang di lingkaran utama mereka yang tahu bagaimana membaca emosi seorang Navarro Von-riccardo.

Navarro berjalan mendekat lalu menjatuhkan tubuh besarnya di atas sofa tepat di sebelah Skylar.

Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan kulit sofa dengan gestur yang sangat rileks, mengabaikan fakta bahwa ada memar merah yang mulai kentara di dahinya.

Skylar menghentikan gerakan pulpennya. Ia menoleh, menatap dahi Navarro yang memerah, lalu beralih pada luka goresan kecil yang masih basah di bibir bawah sahabatnya itu.

Skylar menghela napas panjang, lalu memajukan tubuhnya dan berkata lirih agar suaranya tidak terdengar oleh George, Grey dan murid lain yang mulai berdatangan di bagian belakang kelas.

"Kau benar-benar brengsek, Navarro," ucap Skylar dengan nada suara yang sangat rendah, namun sarat akan penekanan.

"Tadi aku tidak sengaja lewat koridor ujung saat ingin ke toilet... dan aku melihatmu menciumnya di depan tempat air panas. Sejak kapan kau menjadi brengsek dan seagresif itu pada seorang gadis di lingkungan sekolah?"

Navarro tidak langsung menjawab.

Ia justru memejamkan matanya sejenak, seolah sedang memanggil kembali sensasi kehangatan dan rasa manis yang tertinggal beberapa menit yang lalu.

Dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, ia membuka mata dan menyahut datar, "Ciuman pertamaku... ternyata tidak buruk."

Mendengar pengakuan santai itu, mata Skylar melebar sedikit sebelum akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Wajah Skylar berubah menjadi sedikit lebih serius.

Tatapan matanya memancarkan rasa protektif seorang sahabat yang paham betul seorang Von-riccardo jika sudah melibatkan perasaan.

"Aku serius, Nav. Aku hanya khawatir kau jatuh cinta padanya," kata Skylar lirih.

"Gadis Jerman itu... dia berbeda dari semua wanita yang pernah mengejarmu. Ada sesuatu yang berbahaya dari caranya menatap orang lain. Jika kau hanya bermain-main, kau bisa menghancurkan dirimu sendiri."

Navarro terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar dingin namun penuh kepastian.

Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Skylar dengan sepasang mata gelap yang berkilat tajam.

"Sayang sekali, Skylar," jawab Navarro dengan nada yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. "Aku sudah menandainya sejak awal. Dia tidak akan bisa pergi ke mana-mana."

Skylar tertegun di tempatnya selama beberapa detik, mencoba mencerna bobot dari kata "menandainya" yang baru saja diucapkan oleh seorang penerus klan Riccardo.

Detik berikutnya, ekspresi khawatir di wajah Skylar luruh sepenuhnya, digantikan oleh binar keterkejutan yang murni dan senyuman lebar yang tak bisa ditahan.

"Seriously? Oh my God... aku turut bahagia mendengarnya, Brother!" seru Skylar setengah berbisik dengan nada antusias, menepuk pundak kokoh Navarro dengan keras.

Bagi Skylar, melihat seorang Navarro akhirnya memiliki obsesi nyata pada seorang wanita adalah awal dari sebuah babak baru yang sangat menarik untuk disaksikan.

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!