NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 2

Mataharii pagi di pinggiran kota terasa lebih hangat ketimbang di tengah kota yang penuh dengan polusi asap kendaraan. Siska menggeliat di atas kasur busanya yang digelar langsung di lantai kamar atas. Kamar itu masih kosong, hanya ada satu lemari pakaian plastik lipat dan tumpukan kardus bukunya yang belum sempat dirapikan.

​Meskipun semalam dia sempat merasa tidak nyaman karena suara-suara derit kayu rumah tua yang asing, pagi ini rasa cemas itu menguap begitu saja saat mencium aroma masakan yang lezat dari arah dapur di lantai bawah.

​Siska segera mandi, berganti pakaian santai, lalu turun ke bawah. Di dapur, dia melihat Selfi sedang sibuk memotong sayuran di dekat wastafel. Langkah kaki Selfi tampak agak berat karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan kesembilan. Perut buncitnya membuat wanita itu harus sering-sering bersandar pada meja dapur untuk menopang tubuhnya.

​"Pagi, Mbak Selfi! Wah, masak apa nih? Baunya enak banget," sapa Siska sambil menghampiri meja makan.

​Selfi menoleh dan tersenyum hangat, wajah keibuannya tampak bersinar. "Eh, Siska. Ini Mbak cuma masak sayur sop sama goreng tempe. Kebetulan kemarin sore Mas Ferdi sempat beli bahan-bahan di warung depan lorong. Ayo, buruan duduk, kita sarapan bareng."

​Siska membantu menata piring di atas meja. Tak lama kemudian, Ferdi keluar dari kamar utama dengan pakaian kerja yang rapi. Sebagai seorang suami sekaligus calon ayah, Ferdi tidak punya banyak waktu untuk bersantai setelah pindahan. Dia harus tetap bekerja demi mengumpulkan biaya persalinan yang tinggal menghitung hari.

​"Kardus-kardus di atas sudah kamu rapikan belum, Sis?" tanya Ferdi sambil menarik kursi makan dan mengambil sepotong tempe goreng yang masih panas.

​"Belum semua, Mas. Rencananya siang ini baru mau Siska bereskan. Kan hari ini Siska nggak ada jadwal kuliah," jawab Siska.

​"Bagus deh. Tolong jagain Mbakmu juga ya selama Mas kerja. Kalau ada apa-apa, atau kalau perutnya mulai terasa mules, langsung telepon Mas. Jangan nunggu nanti-nanti," pesan Ferdi dengan nada cemas yang wajar bagi seorang suami yang menanti kelahiran anak pertama.

​"Siap, Mas Ferdi. Aman kalau sama Siska," sahut Siska sambil mengacungkan jempolnya.

​Selfi ikut duduk di sebelah suaminya. Saat menuangkan air minum untuk Ferdi, Siska menyadari ada sesuatu yang sedikit berbeda dari kakak iparnya. Selfi mengenakan daster lengan panjang, dan tangan kanannya terlihat agak kaku saat bergerak. Setiap kali melakukan sesuatu, Selfi seolah-olah berusaha menyembunyikan telapak tangan kanannya di balik lipatan daster atau di bawah meja. Namun, Siska tidak terlalu memikirkannya, mengira mungkin tangan Selfi hanya sedang pegal atau bengkak karena bawaan hamil tua.

​Setelah sarapan selesai dan Ferdi berangkat kerja menggunakan sepeda motornya, suasana rumah kembali menjadi sepi. Siska memulai aktivitasnya menyapu lantai dari lantai dua hingga ke teras depan. Daun-daun kering dari pohon beringin tua yang tumbuh di pembatas jalan tampak berserakan di halaman.

​Saat sedang mengayunkan sapu lidi di dekat pagar besi yang sudah agak berkarat, Siska mendengar suara pintu rumah sebelah terbuka. Dia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya keluar ke teras. Pria itu memakai kaos oblong putih polos dan sarung kotak-kotak berwarna hijau. Di tangannya, ada sebuah cangkir seng berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap.

​Pria itu adalah Pak Cahyo, satu-satunya tetangga yang rumahnya paling dekat dengan mereka. Rumah-rumah lain di gang itu jaraknya agak berjauhan dan dipisahkan oleh kebun kosong.

​Siska, yang ingin menjaga hubungan baik sebagai pendatang baru, segera menghentikan aktivitas menyapunya. Dia tersenyum ramah dan menganggukkan kepala. "Selamat pagi, Pak," sapa Siska dengan suara yang cukup keras agar terdengar menyeberangi halaman.

​Pak Cahyo menghentikan langkahnya di teras. Dia menatap Siska selama beberapa detik sebelum akhirnya berjalan pelan mendekati pagar pembatas halaman mereka. Wajah pria tua itu tampak datar, dengan gurat-gurat usia yang tegas dan sepasang mata cekung yang terlihat lelah.

​"Pagi, Neng," balas Pak Cahyo, suaranya terdengar berat dan serak. Dia meletakkan cangkir kopinya di atas tiang pagar beton. "Baru pindah kemarin ya? Saya lihat banyak barang diangkut pakai bak terbuka."

​"Iya, Pak. Saya Siska. Itu yang barusan berangkat kerja Mas Ferdi, kakak saya, sama istrinya Mbak Selfi yang lagi hamil," kata Siska mencoba bersikap akrab.

​Pak Cahyo mengangguk-angguk perlahan. Pandangannya beralih dari Siska ke arah bangunan rumah tua dua lantai yang sekarang ditempati keluarga kecil itu. Ada tatapan aneh di mata Pak Cahyo—sebuah kombinasi antara rasa rindu, cemas, dan sesuatu yang menyerupai rasa takut yang disembunyikan.

​"Suami-istri muda, ya?" gumam Pak Cahyo, lebih kepada dirinya sendiri. "Baguslah kalau rumah ini akhirnya ada yang menempati lagi. Sudah lama sekali kosong. Hampir lima tahun semenjak keluarga yang dulu pergi."

​"Oh ya, Pak? Pemilik yang dulu pindah ke mana kalau boleh tahu?" tanya Siska penasaran. Agen properti yang menjual rumah ini tidak bercerita banyak, hanya mengatakan pemiliknya butuh uang cepat.

​Pak Cahyo terdiam sejenak. Dia mengambil sebatang rokok kretek dari kantong sarungnya, menyalakannya, dan menghirupnya dalam-dalam sebelum menjawab. "Mereka pindah jauh, Neng. Sangat jauh. Orang kota bilang, mencari suasana baru. Tapi ya... rumah tua seperti ini memang selalu punya caranya sendiri untuk memilih siapa yang boleh tinggal di dalamnya."

​Kalimat Pak Cahyo terdengar agak puitis sekaligus janggal di telinga Siska. Namun, sebelum Siska sempat mencerna maksud ucapan tersebut, Selfi berjalan keluar dari pintu depan sambil membawa sebuah wadah plastik berisi jemuran baju bayi yang baru dicuci.

​"Siska, ini jemuran baju adek mau ditaruh di sebelah mana ya yang paling banyak kena matahari?" tanya Selfi tanpa melihat ke arah pagar.

​"Di sebelah kanan teras aja, Mbak, agak maju biar nggak ketutup bayangan pohon," jawab Siska.

​Mendengar suara Selfi, Pak Cahyo menoleh. Pandangan pria tua itu langsung tertuju pada perut buncit Selfi yang tertutup daster longgar. Ekspresi wajah Pak Cahyo melunak, ada senyuman tipis yang sangat tulus muncul di bibirnya yang hitam karena asap rokok.

​"Wah, sudah besar ya kandungannya, Neng. Berapa bulan?" tanya Pak Cahyo dengan nada yang jauh lebih ramah dan hangat dari sebelumnya.

​Selfi agak terkejut karena baru menyadari keberadaan tetangga mereka. Dia tersenyum sopan, meskipun tangan kanannya refleks meremas ujung dasternya erat-erat, menyembunyikannya di balik wadah jemuran. "Eh, iya Pak. Sudah masuk sembilan bulan. Tinggal nunggu hari lahirnya saja, minta doanya ya Pak supaya lancar."

​"Pasti, pasti saya doakan," kata Pak Cahyo sambil mengangguk pelan. "Anak pertama selalu membawa rezeki yang besar. Tapi ingat, rumah tua seperti ini hawanya sering berubah kalau malam. Jaga kondisi badan, jangan terlalu lelah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ketuk pintu rumah saya. Saya hampir selalu ada di rumah."

​"Iya, Pak. Terima kasih banyak atas kebaikannya," jawab Selfi ramah.

​Setelah berbincang kecil, Pak Cahyo pamit untuk kembali ke dalam rumahnya, membawa kembali cangkir kopinya yang mulai mendingin. Siska memperhatikan punggung pria tua itu sampai hilang di balik pintu.

​"Pak Cahyo ramah juga ya, Mbak. Walaupun mukanya agak kelihatan galak di awal," ujar Siska sambil melanjutkan menyapu daun beringin.

​Selfi hanya mengangguk pelan. Dia meletakkan wadah jemurannya di atas kursi teras, lalu menatap tangan kanannya yang sejak kemarin tidak bisa dia bebaskan dari cincin permata merah yang dia temukan di lemari rias kuno. Di bawah terik matahari pagi, batu permata itu berkilau dengan sangat indah, memancarkan warna merah tua yang begitu pekat.

​Namun, di balik keindahannya, Selfi merasakan jari manisnya mulai terasa sedikit kebas dan berdenyut lirih. Seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalam cincin itu, yang perlahan-lahan mulai mengikatkan diri ke dalam urat nadinya.

​Selfi mengembuskan napas berat, menatap Siska yang masih sibuk dengan sapunya. Dia memutuskan untuk tetap menyimpan rahasia ini sendiri. Dia tidak ingin membuat Siska ikut panik, dan yang terpenting, dia tidak ingin merusak kebahagiaan Ferdi yang begitu bersemangat menyambut rumah baru dan calon bayi mereka.

​Hanya cincin biasa yang kesempitan karena jariku bengkak, hibur Selfi dalam hati, mencoba menolak segala firasat buruk yang mulai berbisik di benaknya. Dia tidak tahu, bahwa keputusan untuk diam adalah awal dari hitung mundur yang tidak akan bisa dia hentikan.

​jangan lupa like dan komen ya suy 🤗

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!