NovelToon NovelToon
KUNCI CADANGAN

KUNCI CADANGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.

"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."

Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.

Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.

Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?

karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Plaster rumah

BEKASI.

Rumah tua di ujung gang masih ada. Catnya udah pudar. Pohon melatinya udah setinggi 2 lantai.

Di teras, ada kursi goyang 2. Kursi Nenek Sinta. Kosong 1 tahun sejak beliau wafat umur 117.

Yaya umur 39 sekarang. Rambut udah ada uban. CEO Plester Global tapi tiap minggu pasti pulang ke Bekasi. Masak sate pake resep Kek Arga.

Raka suaminya. Ga adiknya. Cinta adiknya. Semua udah punya anak. Total cucu Nenek Sinta sekarang 17 orang.

Yang paling tua: Ara. 19 tahun. Anak Yaya.

Anak kedua: Naya. 17 tahun. Cewek. Pendiem. Mirip Nenek Sinta.

Anak ketiga: Rayya. 15 tahun. Cowok. Bandel. Mirip Kek Arga.

Hari Biasa Yang Nggak Biasa

Senin pagi. Jam 6.

Yaya di dapur. Ngaduk kopi. Aroma Kopi Argaya masih sama kayak 50 tahun lalu.

HP bunyi. Notif kantor. "CEO, rapat jam 8."

Yaya liat ke atas. Kamar Ara kebuka. Kosong. Ranjang berantakan.

"Raka... Ara mana?" tanya Yaya pelan.

Raka dari kamar mandi. "Dari malem nggak pulang Ma. Katanya nginep di kantor."

Yaya diem. Nyruput kopi. Pahit.

Jam 11 siang. Luna dateng.

Luna 25 tahun. Asisten Yaya. Anak yang dulu Yaya angkat dari panti. Sekarang udah kayak anak sendiri. Rambut dikuncir. Bawa map kerja.

"Tante... ini laporan..." Luna naruh map di meja. Tangannya gemeter.

Yaya ngeliat mata Luna. Merah. "Kamu nangis Nak?"

Luna langsung nunduk. "Enggak Tante. Kurang tidur aja."

Malamnya jam 12. Ara baru pulang. Bau parfum cewek. Bukan parfum kantor.

Yaya lagi nunggu di ruang tamu. Lampu temaram.

"Duduk." Suara Yaya datar.

Ara duduk. Jauh. "Ada apa Ma?"

"Dari mana?"

"Kerja Ma. Lembur."

"Kerja sama siapa?"

Ara diem. 5 detik. "Sama Luna."

RUH.

Yaya nggak teriak. Nggak pecahin piring. Dia cuma merem. "Oh."

"Ma, dengerin dulu"

"Udah." Yaya berdiri. Masuk kamar. Kunci.

Di dalem kamar Yaya nangis. Nggak kedengeran. 30 tahun jual plester ke dunia. Hari ini plester di rumahnya sendiri yang lepas.

3 Hari Berantem Dingin

Rumah jadi kuburan.

Raka kerja terus. Naya di kamar dengerin musik kenceng. Rayya main game sampe jam 3 pagi.

Ara + Luna di kantor. Nggak pulang.

Hari ke-4. Nenek Rayya umur 106 dateng. Pake tongkat. "Kenapa rumah ini sepi? Kayak 60 tahun lalu."

Yaya cerita semua. Sambil nyuci piring.

Nenek Rayya dengerin. Terus ngomong 1 kalimat: "Sinta dulu juga gitu. Diam. Terus meledak. Jangan kayak Sinta."

"Terus gimana Nek?"

"Kumpulin. Makan bareng. Ngomong. Plester itu bukan dilempar. Plester itu ditempel pake tangan."

OPERASI MAKAN MALAM 7 HARI

Aturan Nenek Rayya: 7 hari. Wajib makan malam bareng. HP taruh di luar. Yang telat cuci piring.

Hari 1:

Makan sate. Diem semua. Cuma kedengeran suara kunyah. Rayya sendawa. Dimarahin.

Abis makan bubar.

Hari 2:

Yaya masak sayur asem. Raka yang nyuapin Nenek Rayya.

Ara nyolek nasi ke piring Luna. Refleks. Terus kaget sendiri.

Yaya liat. Dada sesek.

Hari 3:

Listrik mati. Lampu teplok doang.

Naya tiba-tiba cerita: "Aku dibully di sekolah. Dibilang 'Anak CEO Plester tapi keluarganya retak'."

Semua diem. Terus Rayya yang biasanya bandel, geser duduk deket Naya. "Ya udah. Besok kakak anter."

Hari 4:

Raka cerita. "Pa dulu waktu umur 20, pernah selingkuh chat sama cewek. 1 bulan. Terus Pa putus. Karena Pa takut jadi kayak Kekek."

Ara kaget. "Pa?!"

"Iya. Semua orang bisa salah Nak. Bedanya... mau ngaku apa nggak."

Hari 5:

Luna yang masak. Masak mie. Tangannya kebakar.

Ara langsung lari ambil plester. Tempelin ke jari Luna. Pelan.

Yaya dari dapur liat. Nggak marah. Dadanya perih tapi... lega.

Hari 6:

Yaya ngomong. "Ma mau jujur. Ma sakit. Sakit banget. Bukan karena kamu selingkuh Nak. Tapi karena kamu bohong. Dan karena Ma ngerasa... Ma gagal."

Ara nangis. Baru nangis hari itu. "Maaf Ma... Aku capek jadi anak sempurna... Aku cuma mau Ma liat aku..."

Yaya peluk Ara. 10 menit. Nggak lepas.

Hari 7:

Makan terakhir. Menu: Sate Kek Arga.

Nenek Rayya mimpin doa. "Ya Allah... rumah ini pernah retak 60 tahun lalu. Sekarang retak lagi. Tempelin lagi Ya Allah. Pake tangan kami sendiri."

"AMIN." Kompak.

Abis makan, Ara maju. Bawa kotak.

Isinya: 4 plester Hello Kitty.

1 buat Yaya. "Maaf Ma. Aku janji jujur."

1 buat Raka. "Maaf Pa. Aku bikin Pa malu."

1 buat Luna. "Maaf. Aku ngelibatin kamu. Kita putus. Buat benerin diri dulu."

1 buat dia. "Buat ngingetin aku... aku manusia."

Luna nangis. Peluk Yaya. "Tante... maafin aku... aku khilaf... aku kesepian..."

Yaya elus kepala Luna. "Udah Nak. Kita sama-sama belajar. Kamu tetap anak Mama."

1 Bulan Kemudian

Rumah rame lagi.

Ara pindah ke kos. Kerja di cabang Plester paling kecil. Gaji UMR. Nggak pake nama Permana.

Luna pindah divisi. Nggak ketemu Ara 3 bulan. Terapi.

Yaya + Raka tiap jumat kencan. Kayak pacaran lagi.

Naya + Rayya tiap malem nonton bareng Yaya.

Di kantor Plester, Yaya bikin kebijakan baru: "CUTI KELUARGA WAJIB". 1 minggu tiap 3 bulan. Buat semua karyawan. Alasannya: "Biar nggak ada lagi anak CEO yang ngerasa nggak dilihat."

1 Tahun Kemudian. 2091.

Ulang tahun Yaya ke-40. Di rumah Bekasi. Sederhana.

Tamu: 17 cucu + Nenek Rayya + karyawan 10 orang + Luna.

Ara dateng bawa kue. Bikin sendiri. Gosong dikit. "Buat Ma."

Yaya tiup lilin. Wish nya cuma 1: "Semoga rumah ini... selalu bau sate... dan selalu ada plester."

Malamnya semua tidur lesehan di ruang tamu. Kayak 60 tahun lalu.

Yaya di tengah. Kepala di pangkuan Raka. Kaki di pangkuan Ara. Tangan dipegang Luna.

Nenek Rayya dari kamar bisik: "Sinta... Mas Arga... liat ya... anak kita... cucunya... udah bisa nempelin sendiri..."

Di luar, angin tiup pohon melati. Wanginya masuk ke jendela.

Di tembok ada tulisan spidol tulisan Rayya:

"RUMAH INI BOLEH RETAK. TAPI NGGAK BOLEH KOSONG."

Di bawahnya, tulisan kecil tulisan Yaya:

"DITEMPEL. 2090."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!