Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"
Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERPERANG DENGAN PERASAAN SENDIRI
Tiba tiba Bram terbatuk batuk, Velin segera menghampirinya.
" Ini minum." Velin menyodorkan segelas air putih.
Bram menatapnya lalu tersenyum sinis. " Tidak perlu sok peduli padaku. Aku bisa sendiri tanpa perlu kamu kasihani." Ketus Bram.
Bram memencet tombol nurses, tak lama seorang perawat datang menghampiri mereka.
" Ada yang bisa saya bantu, tuan, nyonya?"
" Tolong ambilkan saya minum. Dan tolong usir dia dari sini."
Suster tersebut melongo mendengar ucapan Bram. " Bukan kah tadi tuan sendiri yang meminta nyonya Velin ke sini?"
" Kamu salah dengar, saya bilang orang dengan nama itu tidak boleh datang ke sini." Ujar Bram.
" Ah maaf tuan, saya salah." Ucapnya. Ia menatap Velin dengan perasaan tidak enak. " Maafkan saya nyonya, rupanya saya salah dengar."
" Tidak apa apa sus, kalau begitu saya pergi dulu. Kalau ada apa apa dengan tuan Bram, tolong segera kabari saya." Ujar Velin.
" Apa kamu tidak dengar kalau aku tidak mau bertemu denganmu? Jadi, aku harap apapun yang akan terjadi padaku kamu tidak perlu muncul di hadapanku. Jangan pernah pedulikan aku, atau kau akan melihat kematianku untuk yang kedua kali." Ancam Bram.
" Baiklah kalau itu maumu, aku pergi dulu." Mungkin sudah sepantasnya Bram membenci dirinya. Velin segera keluar dari ruangan Bram.
Bram menatapnya dengan perasaan entah. " Maafkan aku!"
Velin tidak langsung pergi, namun ia masih berdiri di depan pintu. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok.
" Kenapa dia langsung berubah total seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apa dia membenciku? Atau karena aku sudah keterlaluan padanya? Ya Tuhan, mengapa rasanya hatiku begitu pedih mendapat perlakuan dingin darinya? Apa ini rasa bersalah atau karena aku sudah menaruh perasaan padanya?" Gumam Velin.
Ceklek...
Velin terkejut begitu pun dengan suster yang tadi masuk.
" Nyonya, anda masih di sini?" Tanya suster dengan tagname Tina.
" Iya sus, apa dia baik baik saja?" Tanya Velin.
Suster Tina menarik tangan Velin menjauh dari ruangan Bram.
" Ada apa sus?"
" Sepertinya ada yang tuan Bram sembunyikan dari anda nona. Mungkin ini tentang kondisinya saat ini. Karena tadi sebelum di periksa oleh dokter, tuan Bram menyebut nama anda dan bilang ingin bertemu dengan anda. Tapi setelah ketemu dokter, tuan Bram jadi berubah total. Dia terlihat murung tapi menyimpan emosi yang mendalam, dia juga terlihat seperti banyak beban pikiran begitu." Ujar suster Tina.
" Aku harus bertemu dokter. Dokter siapa yang menangani Bram?"
" Dokter Johnson."
" Baiklah, tolong antar saya ke ruangannya!" Ujar Velin.
" Silahkan nyonya!"
Mereka berdua menuju ruangan dokter Johnson. Dokter syaraf yang menangani Bram saat ini.
Tok tok
" Masuk!"
Velin masuk ke dalam, sedangkan suster Tina kembali ke ruangannya.
" Silahkan duduk nona! Ada yang bisa saya bantu?"
Akhirnya Velin menanyakan tentang keadaan Bram. Betapa terkejutnya Velin ketika dokter Johson menjelaskan kondisi Bram saat ini. Kaki Bram lumpuh total akibat terseret badan mobil beberapa meter. Syaraf kakinya mati, tidak bisa berfungsi lagi. Kemungkinan untuk kembali normal sangatlah tipis. Sedangkan kepalanya, ia mengalami gagar otak.
" Ya Tuhan, malang sekali nasib Bram. Aku jadi tambah bersalah. Ya Tuhan maafkan aku!" Batin Velin. Sekarang ia tahu alasan perubahan sikap Bram kepadanya. Mungkin Bram tidak mau merepotkannya.
" Terima kasih dok, saya akan mendatangkan dokter profesional dari luar negeri untuk menangani proses penyembuhannya. Anda nanti bisa bekerja sama dengan beliau." Ujar Velin.
" Sungguh suatu kehormatan bagi saya jika saya bisa bekerja sama dengan dokter itu nona." Ucap dokter Johson.
" Kalau begitu saya permisi." Velin meninggalkan ruangan dokter Johson.
Velin kembali ke ruangan Bram, ia harus meminta penjelasan pada Bram tentang sikapnya. Ia juga akan memberikan dukungan penuh pada Bram.
Ceklek...
Velin masuk ke ruang rawat, Bram menoleh ke arahnya.
" Kenapa belum pergi? Apa menunggu aku mati dulu baru kamu bisa pergi?"
Velin berjalan menghampiri Bram, ia berdiri di tepi ranjang.
" Apa ini yang benar benar hatimu inginkan?"
Bram mengerutkan keningnya.
" Kamu benar benar ingin aku pergi karena kamu membenciku atau karena aku tidak boleh tahu tentang keadaanmu saat ini?"
Deg...
Bram menatap Velin, " Apa dokter Johson memberitahu Velin masalah ini? Bukan kah dia sudah berjanji padaku untuk menyembunyikan kondisiku saat ini dari Velin? Ah aku lupa siapa Velin, rumah sakit ini milik keluarganya. Tentu saja dia bisa dengan mudah mengorek informasi itu." Ujar Bram dalam hati.
Velin duduk di kursi samping ranjang, ia menggenggam tangan Bram membuat Bram sedikit terkejut.
" Bagaimana pun kondisimu, aku akan mencoba menerimamu. Kita hadapi ini bersama sama. Aku akan memanggil dokter terbaik untuk menyembuhkanmu. Kakimu pasti bisa sembuh, suatu hari nanti kamu bisa berjalan normal kembali kak."
Bram tertegun dengan ucapan Velin, dari sekian banyak kata yang Velin ucapkan, hanya kata kata mau menerimamu yang berhasil menarik perhatian Bram.
" Kamu mau menerimaku?" Velin menganggukkan kepala.
" Sebagai apa?" Tanya Bram lagi.
" Sebagai calon suamiku."
Deg...
Jika Bram mendengar ini beberapa hari lalu, ia akan merasa sangat bahagia. Namun ucapan itu sudah terlambat baginya.
" Jangan karena keadaanku kamu jadi mengasihaniku. Aku tidak butuh belas kasih darimu. Aku bisa mengurus hidupku sendiri." Ujar Bram menarik tangannya.
Velin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, ia harus bisa merangkai kata agar tidak menyinggung perasaan Bram.
Ia menghela nafas panjang, " Sebenarnya keputusanku untuk menerimamu aku ambil sebelum aku tahu keadaanmu."
Lagi lagi Beam terkejut mendengarnya.
" Aku sadar jika aku salah karena telah memanfaatkanmu demi kepentinganku sendiri. Apa kamu tahu?" Velin menatap Bram.
" Saat kamu kecelakaan, aku begitu takut terjadi hal buruk padamu. Aku merasa tidak siap jika harus kehilanganmu. Dan saat kamu terbaring koma, aku merasa rindu ingin bertemu. Aku rindu perhatianmu padaku. Aku rindu segalanya yang ada padamu." Velin kembali menatap Bram hingga saat ini manik mata mereka bertemu.
" Aku tidak tahu perasaan apa yang aku miliki untukmu. Aku tidak mau terlalu cepat menafsirkan perasaan ini sebagai cinta. Kamu tahu bagaimana masa laluku. Bahkan setelah ini, mungkin aku tidak akan percaya lagi dengan yang namanya cinta. Aku.. Aku... " Velin menjeda ucapannya.
" Aku takut terluka lagi, aku takut kamu seperti mas Zayn yang akan mengkhianati aku suatu hari nanti. Aku belum siap menjalin hubungan baru, itu sebabnya kemarin aku menolakmu. Aku minta maaf, aku masih ragu dengan perasaanku." Ucap Velin.
Bram menggenggam tangan Velin. " Aku sudah berkali kali bilang padamu, aku tidak seperti om Zayn yang mudah tergoda wanita lain. Meskipun kamu miskin, meskipun kamu tidak bisa memiliki keturunan sekalipun, aku akan tetap mencintai kamu. Kamu alasan hidupku Vel, aku tidak bisa hidup tanpamu."
Velin mendongak menatap Bram.
" Tapi sekarang kondisiku seperti ini. Aku tidak pantas mendampingi wanita sesempurna dirimu. Aku akan berusaha untuk melupakanmu. Aku terima semua takdir yang tidak memungkinkan kita untuk bersatu. Jangan merasa bersalah atas apa yang menimpaku. Semua ini karena keegoisanku. Kau ikhlas menerima nasibku sekarang ini. Sekarang pergilah! Kejar mimpimu! Aku bahagia bisa melihatmu dari sini." Ujar Bram. Ia telah merelakan semua yang ia impikan untuk hidup bersama Velin. Ia tidak mau menjadi beban untuk Velin. Velin wanita sempurna, dia cantik dan bergelimang harta. Pria seperti apapun pasti bisa ia dapatkan. Bukan mahasiswa cacat dan miskin seperti dirinya.
" Jangan berkata seperti itu kak! Sama sepertimu yang selalu menemaniku di saat aku terpuruk, aku juga akan selalu menemanimu di sini. Anggap saja aku sedang menebus dosaku padamu. Masalah hubungan kita, kita bisa memulai dengan pelan. Boleh ya aku di sini merawatmu?" Pinta Velin.
Bram nampak ragu, tapi keinginan untuk bersama Velin begitu kuat.
" Aku.. "
" Dia..."
TBC....