BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Jejak Masa Lalu yang Tertinggal
Tiga hari telah berlalu sejak malam ketegangan di restoran SCBD. Kehidupan pernikahan kontrak antara Riko dan Rani berjalan dengan rutinitas yang kaku namun perlahan mulai membentuk pola. Setiap pagi, Riko memastikan sofa tempat tidurnya kembali rapi sebelum Bi Inah masuk. Setiap sore, dia akan pulang ke rumah ini, menanti kedatangan sang ratu bisnis dengan kecanggangan yang masih setia menyelimuti atmosfer kamar utama mereka.
Siang itu, rumah mewah Rani tampak begitu sunyi. Rani tentu saja berada di kantor pusat perusahaannya, sementara Riko terpaksa berdiam diri di rumah. Operasional Pratama Corp sedang dalam masa transisi pembukaan blokir aset oleh bank setelah cek dari Rani cair sepenuhnya. Karyawannya dirumahkan sementara dengan gaji tetap aman, membuat Riko memiliki banyak waktu luang yang justru membuatnya merasa tidak berguna.
Riko berjalan mondar-mandir di koridor lantai dua dengan segelas kopi hitam di tangan kirinya. Rasa bosan mulai menyiksanya. Sebagai pria yang terbiasa bekerja belasan jam sehari, berdiam diri seperti ini rasanya seperti siksaan fisik.
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang terletak di sebelah kamar utama mereka. Pintu itu menuju ke ruang kerja pribadi Rani di rumah—sebuah ruangan yang sejak awal sudah diperingatkan Rani agar tidak pernah dimasuki oleh Riko.
Namun, monolog batin Riko bergolak. Rasa penasaran mengalahkan kepatuhannya pada kontrak. Ditambah lagi, siang itu pintu tersebut tampak sedikit renggang, seolah Bi Inah lupa menutupnya rapat setelah membersihkannya tadi pagi.
Dengan gerakan perlahan, Riko mendorong pintu tersebut. Cklek.
Ruang kerja Rani didesain dengan sangat maskulin namun tetap elegan. Rak buku besar berbahan kayu mahogani berjejer rapi, dipenuhi oleh buku-buku hukum bisnis, manajemen, dan biografi tokoh dunia. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja berukuran sedang dengan laptop dan tumpukan berkas yang tertata sangat simetris.
Riko melangkah masuk, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Dia meletakkan gelas kopinya di atas meja, lalu berjalan mendekati rak buku. Pikirannya melayang pada masa tiga tahun lalu, saat mereka masih berbagi ruang kerja sempit yang berantakan, jauh berbeda dengan ruangan steril ini.
Saat hendak berbalik untuk keluar agar tidak melanggar janji lebih jauh, pandangan Riko mendadak terkunci pada salah satu laci paling bawah dari meja kerja Rani. Laci itu sedikit terbuka, dan selembar map kertas berwarna cokelat lusuh tampak menyembul keluar, kontras dengan berkas-berkas lain yang semuanya mulus dan baru.
Riko mengerutkan dahi. Ada dorongan kuat di dalam dadanya yang mendesak untuk memeriksa map tersebut. Dia berlutut di samping meja, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menarik map cokelat lusuh itu keluar.
Begitu matanya membaca tulisan tangan yang tertera di cover map tersebut, napas Riko seketika tercekat di tenggorokan.
Proyek Sinergi Bersama - Pratama & Rani (Cetak Biru Utama)
Ini adalah berkas proyek tiga tahun lalu. Proyek yang seharusnya menjadi batu loncatan bagi perusahaan bersama yang mereka rintis dulu. Proyek yang juga menjadi alasan mengapa Riko pergi meninggalkan Rani dengan kemarahan yang membakar.
Tiga tahun lalu, Riko menemukan bahwa cetak biru proyek ini bocor ke tangan perusahaan saingan besar, membuat usaha mereka hancur sebelum berkembang. Di saat yang sama, seorang investor bernama Pak Gunawan mendatangi Riko dan membawa bukti-bukti manipulasi yang mengarah pada tanda tangan Rani, menyatakan bahwa Rani sengaja menjual ide itu demi mendapatkan modal pribadi untuk mendirikan Rani Group. Riko yang telanjur kecewa dan sakit hati langsung mencap Rani sebagai pengkhianat dan memilih pecah kongsi tanpa mau mendengarkan penjelasan Rani sedikit pun.
Dengan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang, Riko membuka lembaran map cokelat itu. Di dalamnya, terdapat berkas analisis keuangan masa lalu, namun yang mengejutkan adalah adanya beberapa lembar surat perjanjian tambahan di bagian paling belakang yang belum pernah dilihat Riko sebelumnya.
Itu adalah surat perjanjian antara Rani dan Pak Gunawan, tertanggal tepat dua hari sebelum kasus kebocoran cetak biru itu terjadi tiga tahun lalu.
Riko membaca baris demi baris kata di surat itu dengan mata yang melebar sempurna. Seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas, dan pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap begitu saja.
Di dalam surat itu tertulis dengan sangat jelas: Rani menyerahkan seluruh hak paten pribadi atas namanya kepada Pak Gunawan sebagai jaminan, demi mendapatkan pinjaman dana taktis sebesar dua miliar rupiah untuk menutupi kerugian operasional bersama mereka akibat sabotase pihak ketiga.
Ada juga catatan kaki bermaterai dengan tanda tangan Pak Gunawan yang menyatakan bahwa Rani menolak menjual ide proyek tersebut, dan justru mengorbankan aset pribadinya sendiri agar perusahaan yang dia rintis bersama Riko tidak gulung tikar. Sementara kasus kebocoran cetak biru yang dulu menimpa mereka, murni adalah kelakuan orang dalam suruhan Pak Gunawan sendiri untuk memecah belah mereka berdua.
"J-jadi... selama ini..." Riko bergumam lirih, suaranya bergetar hebat.
Tangan Riko yang memegang berkas itu mulai gemetar pekat. Fakta yang baru saja dia baca menjungkirbalikkan seluruh keyakinan yang dia pegang selama tiga tahun terakhir ini. Rani tidak pernah mengkhianatinya. Rani tidak pernah menjual ide mereka demi mendirikan perusahaannya sendiri. Sebaliknya, wanita itu justru mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkannya, sementara dia... dia pergi dengan ego dan kemarahan besar, mencaci Rani sebagai pengkhianat, dan bersumpah untuk menjatuhkannya.
Riko mengingat kembali bagaimana dingin dan ketusnya sikap Rani selama tiga tahun ini padanya. Sekarang dia paham. Sikap dingin Rani bukanlah karena keangkuhan seorang pemenang, melainkan sebuah benteng pertahanan dari seorang wanita yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena pengorbanannya dibalas dengan tuduhan kejam dan ditinggalkan begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk bicara.
Monolog batin Riko dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat sangat, menghimpit dadanya hingga terasa sesak dan menyakitkan. Dia telah menjadi pria paling bodoh di dunia.
Brak!
Suara pintu ruang kerja yang didorong dengan kasar mengejutkan Riko dari lamunannya. Dia tersentak, langsung mendongak menatap ke arah pintu.
Di ambang pintu, Rani berdiri dengan napas yang sedikit memburu. Wajah cantiknya tampak pucat, namun sepasang mata indahnya kini memancarkan kilat amarah dan keterkejutan yang luar biasa saat melihat map cokelat lusuh itu berada di tangan Riko. Rani rupanya pulang lebih awal dari kantor, dan pemandangan di depannya ini adalah mimpi buruk yang paling dia hindari.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄