Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Peri di Cangkir Kopi
Aroma pekat dari biji kopi hitam yang direbus terlalu lama berbaur dengan bau oli mesin dan bensin dari beberapa unit motor sport yang terparkir di dalam ruang hanggar. Malam ini, markas besar rahasia dari geng motor The Iron Phantoms sebuah kompleks gudang kontainer tua yang menyamar sebagai bengkel logistik di dekat kawasan pelabuhan utara Jakarta tampak jauh lebih bising dari biasanya. Suara gelak tawa kasar bersahutan, diiringi oleh denting botol kaca yang beradu di bawah siraman lampu neon putih yang kaku. Namun, di sudut ruangan utama yang terisolasi oleh sekat tripleks tebal, atmosfer justru terasa sangat kaku dan dingin.
"Lo yakin kalau peladen sistem siber sekolah itu gak bisa ditembus lagi oleh anak-anak kita, Bimo?"
Gava Ernando meletakkan cangkir kopi porselen hitamnya dengan sebuah ketukan yang cukup keras di atas permukaan meja kayu panjang yang dipenuhi coretan kapur taktis. Suara bentakan baritonnya yang serak dan rendah seketika menghentikan analisis yang sedang berjalan di depan komputer jinjing. Gava menyandarkan punggung tegapnya yang dibalut jaket kulit hitam dengan logo tengkorak besi ke sandaran kursi kulit yang sudah usang. Sepasang mata elangnya yang liar menatap lurus ke depan, memancarkan aura pemberontak yang sangat pekat khas seorang penguasa jalanan yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya sejak kecil.
Bimo, sang wakil ketua geng motor yang memiliki postur tubuh tambun dan tato ular kecil di lehernya, menggaruk tengkuknya dengan ekspresi wajah yang sarat akan rasa frustrasi. "Beneran, Bos. Si Rian yang biasa menjebol peladen nilai ujian sekolah sampai memodifikasi data absensi pusat aja kali ini angkat tangan total. Dia udah nyoba pakai berbagai macam program injeksi kode sejak sore tadi, tapi hasilnya tetap sama. Begitu enkripsi perangkat komputer kita menyentuh folder rahasia dengan nama depan 'Azrint', sistem utama sekolah langsung menolak secara otomatis. Malah, komputer jinjing milik Rian hampir saja hangus terkena serangan virus pembalik tingkat militer."
Gava terdiam sejenak, membiarkan helaian rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan jatuh membingkai dahinya yang kaku. Jemarinya yang dipenuhi oleh jajaran cincin perak kaku mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dalam sebuah ritme yang sangat konstan dan monoton. Pikirannya mendadak menerawang jauh, kembali melintasi batas memori siang tadi di halaman belakang sekolah. Wajah cantik dengan kulit seputih peri yang pucat bersih itu kembali terlukis dengan sangat jelas di balik pekatnya kepulan asap rokok di dalam gudang kontainer ini.
Gava memejamkan sepasang matanya perlahan, membayangkan kembali bagaimana bando mutiara putih yang bertengger di rambut hitam setengah ikat milik Azrint berkilat indah diterpa cahaya matahari siang. Bibir penuh yang dipulas warna merah marun alami, tatapan sepasang mata sewarna karamel tua yang menatapnya penuh dengan cemoohan dingin, hingga cara kaku jemari lentik gadis itu saat mencengkeram tali tas jinjing desainer mahalnya semuanya terasa begitu membekas dan mengusik ego terdalamnya. Itu bukan lagi sekadar ketertarikan remaja yang biasa dan manis. Itu adalah sebuah hantaman obsesi yang murni yang belum pernah dirasakan oleh seorang Gava Ernando dari gadis mana pun di kalangan borjuis dunia atas.
"Bos? Lo kok malah ngelamun dari tadi? Ada yang aneh dengan ingatan lo tentang anak baru itu?" Bimo melambaikan tangan besarnya yang kasar tepat di depan wajah Gava, mencoba memecah keheningan psikologis yang mendadak mencekik sudut ruangan tersebut.
Gava membuka matanya kembali secara mendadak, kilatan tajam dan dingin seketika terpancar dari manik matanya yang hitam. "Gak ada yang aneh. Gue cuma mikir, ada ratusan anak motor di bawah kendali lingkar jalanan kita, tapi kenapa nyari asal-usul dan latar belakang satu orang cewek kelas satu aja kalian gak becus?"
"Masalahnya ini bener-bener gak masuk akal untuk ukuran anak orang kaya biasa, Bos," sahut Rian, sang peretas andalan geng yang akhirnya mendongak dari balik layar komputer jinjingnya yang masih menampilkan barisan kode kegagalan berwarna merah darah.