NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Kedatangan Si Penghianat

Hampir saja gue membuka mulut buat jawab pertanyaan Queen...

Tapi kata-kata itu gue telan lagi.

Karena pintu ruang inap gue terbuka pelan.

Dan di ambang pintu, berdiri sosok yang 3 hari terakhir ini paling gue benci di dunia. Keenan Jeremi. Suami gue. Photografer.

" Papa!!!!!!! "

“Iya, Sayang.”

Suara Keenan lembut. Penuh cinta. Tangannya ngerangkul Queen erat. Seolah dia bapak terbaik sedunia.

Sedangkan tangan mungil Queen udah melingkar di leher Keenan. Muka dia cerah. Lupa sama luka mamanya.

“Papa ke mana aja sih?” Celoteh Queen polos. “Mama masuk rumah sakit, tapi Papa malah nggak ada. Tadi Queen sama Bi Asih yang bawa Mama ke sini, Pah. Soalnya Mama luka-luka... darahnya buaaanyak banget, Pah... Hiiiii... Queen takut banget kalau Mama kenapa-napa...”

Gue langsung diem. Dada gue sesek.

Keenan menelan salivanya kasar. Tenggorokannya naik-turun. Sorot mata dia ketemu sorot mata Queen yang penuh ketakutan.

“Ma... maafkan Papa, Sayang... Tadi Papa ada job mendadak di studio. Photoshoot model...” Jawabnya gugup. Lidahnya kelu.

Gue ketawa dalam hati. "Job mendadak? Iya. Job nidurin modelnya sendiri, Clara Adellia. Model papan atas yang tiap hari kerja sama dengan Lo di agensi itu."

Tanpa Keenan sadari, ada sepasang mata yang lagi nusuk dia dari ujung kepala sampai kaki. Yaitu Mata gue.

Dan pas mata kami ketemu... dia langsung salah tingkah. Gugup.

Gue langsung buang muka. Karena jujur, hati gue keiris. Sesak.

Cih Photografer hebat.nyatanya Lensa dia bisa nangkep keindahan. Tapi kenapa dia gak liat kebusukan dia sendiri?

Kalau nurutin ego, gue pengen nyakar muka dia sekarang juga. Pengen teriak sekenceng-kencengnya: “DASAR LO BAJINGAN!”

Tapi gue liat Queen. Queen masih nempel di leher Keenan. Dekat banget sama bapaknya.

Gue gak tega. Gue gak mau Queen kehilangan figur ayah, meskipun bapaknya sampah.

“Ayo, Pah... Liat Mama...” Seru Queen. Dia turun dari gendongan Keenan, terus narik tangan Keenan ke arah brankar gue.

Langkah mereka berhenti pas di depan gue.

Gue masih buang muka. Nafas gue gue atur. Dalam... keluar... dalam... keluar... Biar gue gak meledak.

“Papa sama Mama kok diem-dieman aja sih...” Queen celingak-celinguk bingung.

“I... iya, Sayang...” Keenan canggung. Tangannya berkeringat dingin. Tangan yang biasa megang kamera profesional 50 juta, sekarang gemetar.

Dia ngelirik gue. “Emm... bagaimana keadaan kamu?”

Gue menoleh pelan. Tatapan gue kosong. Datar. Tapi dalem.

“Seperti yang kamu lihat.” Suara gue dingin. Mati rasa.

“Mm... maksudku... ada yang luka parah?” Keenan panik. Matanya langsung jelalatan ngeliatin tubuh gue dari ujung kepala sampai kaki. Cari luka.

Gue senyum sinis. Senyum yang gue yakin paling nyakitin dia.

“Ada.”

“Yang mana yang luka parah?” Dia beneran panik. Tangannya mau nyentuh gue.

Gue tepuk tangannya. “Jangan sentuh gue! "sentakku pelan."Tangan lo kotor. Kebanyakan megang model j4lang itu!.”

Keenan langsung Diam.

Lalu gue tunjuk dada gue sendiri. Ditekan keras. “Luka yang gue rasain sekarang, gak ada apa-apanya dibanding luka yang lo toreh di sini, Mas. Luka karena lo pilih nolong selingkuhan lo daripada jaga istri lo sendiri!”

Jleb

Wajah Keenan langsung pias. Pucat. Kaku. Dia tau gue ngomongin apa.

Bi Asih yang dari tadi diem, akhirnya buka suara. Dia paham banget kondisi kami lagi panas.

“Mm... Nona Queen, mau gak ikut Bibi keluar beli makan buat Mama?”

Mata Queen langsung berbinar. “Mau, Bi! Tapi Queen minta es krim ya!”

“Siap, Nona. Beres.” Bi Asih ketawa kecil. Lalu pamit. “Tuan, saya bawa Nona Queen beli makan buat Nyonya ya? Sekalian beliin Tuan? Tuan kan habis dari studio, pasti capek.”

“Enggak usah, Bi. Saya masih kenyang. Habis makan di luar sama tim.” Tolak Keenan halus. Bohong lagi.

Bi Asih manggut. “Baik, Nyonya. Bibi titip Nona Queen ya.”

“Iya, Bi. Tolong titip Queen.”

Setelah pintu ketutup, hening.

Tinggal gue dan Keenan. Dua orang asing yang dulu pernah satu ranjang.

Dia masih berdiri di samping brankar gue. Ngelepasin gue dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya sendu. Bersalah.

“Maaf...”

Satu kata itu keluar dari mulutnya. Tapi gue gak nengok. Maaf dari dia udah gak ada harga.

Keenan memejamkan mata. Nafasnya berat. “Netha... gue tau gue salah. Sebagai suami... sebagai photografer yang harusnya jaga etika...”

“Etika?” Gue nyela. “Etika lo kemana pas lo motret Clara setengah telanjang di rumah gue? Etika lo kemana pas lo nyentuh dia di ranjang gue?”

“Netha... itu khilaf...”

“Khilaf itu kalau salah pencet shutter, Mas. Bukan salah masukin Burung!.”

Gue kasar? Iya. Karena 5 tahun gue terlalu lembut sama dia.

Keenan terdiam. Gak bisa jawab. Karena dia tau, gue bener.

“Apa salah gue, Mas?!” Sahut gue cepat. Suara gue lirih, tapi tiap katanya nusuk. “Selama 5 tahun gue setia, gue jagain rumah, jagain anak, jagain nama lo. Salah gue di mana sampai lo tega ngancurin semua di rumah gue sendiri? Demi model lo?”

Sorot mata penuh benci gue tembak ke arah dia.

“Netha... aku minta maaf...”

“APA SALAH GUE, MAS?! KATAKAN! KATAKAN!” Suara gue naik satu oktaf. Emosi yang gue tahan 3 hari akhirnya jebol.

Keenan kembali memejamkan mata. Nafasnya dalam. “Tega ya kamu, Mas... Aku bener-bener gak habis pikir sama kelakuan bejat lo itu!”

Grepp.

Dengan cepat, Keenan narik tubuh gue ke pelukannya. Dekapannya erat. Kayak orang tenggelam.

“Lepasin gue, brengsek! Lepasin,gue bajingan!” Gue memberontak. Tangan gue mukul dada dia sekuat tenaga.

“Netha... Sayang... maafkan aku...” Dekapannya malah makin kenceng. Padahal gue terus ngelawan.

“Aku gak butuh maaf dari lo! Aku benci lo! Lepasin gue! Gue jijik sama tangan kotor lo yang nyentuh gue! Tangan yang tiap hari megang kamera, tapi juga megang pelakor!” Bentak gue. Tapi lama-lama tenaga gue habis. Pukulan gue melemah.

“Maafkan aku, Sayang... Maaf karena gue udah ngelukain lo. Maaf... gue khilaf...” Lirih Keenan. Air matanya netes di bahu gue.

Dan pas gue denger kata ‘khilaf’ itu lagi... bendungan terakhir di mata gue jebol.

Air mata gue jatuh. Tanpa suara.

“Ceraikan aku sekarang juga, Mas.”

Kalimat keramat itu akhirnya keluar dari bibir gue. Pelan. Tapi jelas.

Tubuh Keenan langsung kaku. Pelukannya kendor.

Jantung dia berhenti sedetik. Gue tau. Karena dada dia yang nempel ke dada gue juga ikutan berhenti.

“Netha... jangan...bicara seperti itu sayang” Suaranya patah patah.

Gue mendorong dia. Kuat. Sampai dia mundur setapak.

“Jangan panggil gue sayang lagi. Lo udah kehilangan hak itu 3 hari lalu. Pas lo milih gendong model lo dan ninggalin gue sekarat di lantai rumah kita.”

Keenan menggeleng. Matanya merah. “Gue gak bisa, Netha. Gue gak bisa cerain lo. Gue masih cinta lo.”

“Cinta?” Gue ketawa. Ketawa getir. “Cinta lo itu busuk, Mas. Kalau memang Lo Cinta kenapa ninggalin gue berdarah-darah demi J4lang itu! Jadi simpan cinta busuk lo itu buat Clara.! " bentakku marah

“Clara... dia... dia cuma...”

“DIEM!” Bentak gue. “Jangan sebut nama itu di depan gue. Rasanya gue Muntah dengar nama Model murahan itu!.”

Keenan terpaku. Dia gak bisa jawab. Karena dia tau, dia salah.

Gue ngelap air mata gue pakai punggung tangan. Cepat. “Gue gak butuh belas kasihan lo. Gue butuh kebebasan. Jadi segera urus surat perceraian kita Mas. Hari ini juga!”

“Netha... kasih gue kesempatan buat jelasin. Buat nebus salah gue...”

“Kesempatan?” Gue nyengir. “Kesempatan lo udah habis pas lo nendang perut gue. Pas lo pilih Pelakor itu daripada gue. Sekarang giliran gue yang mutusin.”

Ceklek

Pintu kebuka lagi. Bi Asih masuk sama Queen. Bawa kantong makanan.

“Mama... Papa...” Queen langsung lari ke gue. “Mama udah baikan?”

Gue langsung ganti ekspresi. Senyum. Cepat. “Udah, Sayang. Mama udah baikan karena ada Queen.”

Keenan nunduk. Dia gak berani liat Queen. Bersalah.

Bi Asih naruh makanan di meja. “Ini makanan buat Nyonya. Tuan mau saya siapin kursi? Tuan kan habis kerja motret seharian.”

“Gak usah, Bi.” Keenan buru-buru jawab. “Saya... saya harus balik ke kantor. Ada meeting sama klien model.”

Alasan. Lagi-lagi alasan.

Queen langsung manyun. “Papa mau pergi lagi? Padahal Queen kangen...”

Keenan jongkok di depan Queen. Nyubit pipinya. “Papa janji, ya. Nanti malem Papa pulang. Bawain kamera mainan buat Queen. Oke? Biar Queen bisa jadi model kayak Tante Clara.”

Nama itu keceplosan.

Muka gue langsung datar lagi. Dingin.

“Iya...” Queen setengah mau, setengah gak mau.

Keenan berdiri. Ngelirik gue sekilas. Tatapannya campur aduk. Bersalah, takut, nyesel.

“Netha... kita bicara lagi nanti, ya?”

Gue gak jawab. Gue cuma fokus nyuapin Queen. Seolah dia gak ada.

Keenan kecewa. Dia jalan keluar. Tapi sebelum pintu ketutup, dia berhenti.

“Netha... gue tau gue gak pantas minta maaf. Tapi... jaga diri lo baik-baik. Jangan... jangan terlalu benci sama gue.”

Pintu ketutup.

Hening lagi.

Queen nengok ke gue. “Mama marah sama Papa ya? Karena Papa nyebut Tante Clara?”

Gue ngecup kening Queen. “Enggak, Sayang. Mama cuma... capek.”

“Capek kenapa, Ma?”

“Capek karena Papa lo, photografer hebat, tapi gak bisa bedain mana model mana istri.”

Queen manggut. Gak ngerti. Tapi dia peluk gue lagi. Erat.

Dan di pelukan anak gue itu, gue bersumpah.

Gue bakal bangkit. Gue bakal hancurin Keenan pelan-pelan. Gue bakal rebut semua yang dia rampas dari gue.

Termasuk rumah ini. Termasuk Queen. Termasuk nama baik dia sebagai photografer.

Karena mulai hari ini... gue bukan lagi Kimira Janetha yang lemah.

Gue adalah Netha. Janda yang belum cerai, tapi udah mati rasa.

Dan janda mati rasa... adalah janda yang paling berbahaya.

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!