NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kesalahan yang Terjadi Sendiri

Seminggu abis sepakat mau percepat kiriman barang dengan syarat berkas rapi, laporan mulai nyampai satu-satu ke meja Viona dan Faris Arjuna. Awalnya kelihatan cuma selisih dikit, orang biasa lihat pasti bilang “ah kebetulan aja”, tapi kalau diteliti pelan-pelan kayak Faris Arjuna ngelakuin, polanya kelihatan jelas banget kayak garis lurus di papan tulis. Di catatan keluar gudang utama tertulis jumlah dan mutu barang sesuai standar, eh pas di lembar terima yang ditandatangani Rusdi, angkanya dikurangi dikit dan keterangannya diubah halus. Yang bikin geleng kepala: selisihnya selalu menguntungkan pihak mereka, seolah udah diatur pas sejak hari pertama.

Sore itu asisten Rusdi datang tergesa-gesa, keringat dingin udah ngebasah dahinya padahal ruangan ber-AC adem banget. Dia naruh tumpukan kertas agak berantakan, terus ngomong terbata-bata berusaha tutupi semuanya cuma salah tulis biasa.

Mohon maaf Nona Viona, Mas Faris Arjuna… pasti cuma salah tangan pas nulis terburu-buru, banyak kiriman berbarengan jadi mata kurang teliti dikit. Besok pagi saya benahin semuanya beres, janji deh nggak ada yang kurang.”

Faris Arjuna cuma duduk nyender santai, kaki disilang enak, satu tangan muter-muter rokok di jari kayak mainan doang, matanya melirik tipis sambil senyum miring yang nggak bikin takut tapi bikin nggak enak hati. Dia diam sebentar dulu biar penjelasan itu tenggelam, baru jawab pelan tapi menusuk ke inti:

Salah tulis ya? Boleh deh kalau sekali dua kali, siapa sih yang nggak pernah nulis salah pas sibuk. Tapi coba kita lihat baik-baik ya… salahnya selalu pas angkanya, selalu ke kantong Rusdi yang untung, dan muncul tepat sehari sebelum laporan keuangan disusun. Kalau satu kali kebetulan, dua kali masih bisa bilang kurang hati-hati… tapi kalau berulang terus dengan pola yang sama, namanya bukan salah tulis lagi. Itu tulisannya memang dibuat beda dari awal, nggak sadar-sadar.”

Muka asisten itu makin pucat kayak lihat hantu siang bolong, bibirnya komat-kamit tapi nggak keluar kata yang bisa nahan omongan Faris Arjuna. Dia cuma nunduk dalam, tangan megang pinggiran meja seolah takut jatuh berdiri sendiri. Viona kasih batas waktu tegas tapi tetap sopan:

Kami kasih waktu tiga hari aja, mulai hari ini. Benahin semua catatan dari hari pertama kerja sama sampai sekarang. Kalau habis waktu masih ada yang nggak cocok atau nggak jelas, kami anggap ini disengaja dan lapor sesuai hukum yang berlaku.”

Pas si pemuda itu buru-buru pergi nunduk dan nggak berani melirik balik, Faris Arjuna baru nyalain rokoknya bunyi cesss pelan, hirup dalam terus hembuskan asapnya memutar naik ke atas. Dia ketawa kecil seolah baru lihat kelakuan lucu kucing yang nyembunyiin tulang.

Nah sekarang mulai terasa dikit tekanannya Bu Viona. Orang yang biasa main selubung, pas ada yang kebuka dikit, dia malah makin panik dan berusaha nutup pakai cara sembarangan. Padahal kalau dari awal jujur, nggak perlu susah begini kan? Kayak orang yang pakai topi gede buat nutup kepala botak, pas angin berhembus dikit, dia malah makin megang topinya kuat sampai lehernya pegal.”

Faris Arjuna melanjutkan sambil mainin ujung rokok di jari, gaya ngomongnya santai tapi nyelekit halus:

Yang bikin ketawa dikit Bu Viona… mereka pikir selisih dikit itu nggak bakal kelihatan, nggak bikin rugi banyak kalau dilihat sekilas. Padahal dikit yang ditumpuk tiap hari, tiap minggu, lama-lama jadi gunung yang nggak bisa ditutup kain tipis lagi. Mereka nggak sadar: setiap kali ngubah angka, mereka itu sebenarnya ninggalin jejak yang lebih jelas dari tanda tangannya sendiri. Semakin terburu-buru mau benahin, semakin banyak kesalahan baru yang keluar ganti yang lama — kayak nambal tembok yang bolong pakai tanah basah, makin ditekan makin merembet keluar ke mana-mana.”

Faris Arjuna nunjuk berkas yang udah ditandai tinta merah di bagian yang ganjil:

Lihat ini Bu Viona, ada tanggalnya mundur dua hari, nomor urutnya terulang dua kali, tanda tangannya goyah beda jauh sama yang asli. Semua ini keluar gara-gara mereka nggak punya waktu cukup buat ngatur rapi — padahal kesempitan waktu itu datangnya dari keinginan mereka sendiri buat bergerak diam-diam dari awal.”

Dia geleng-geleng kepala seolah kasihan tapi nggak kehilangan ketajamannya:

Jadi kita cuma duduk santai aja Bu Viona, nggak usah buru-buru. Biarin mereka kerja keras membetulkan yang nggak bisa dibetulkan lagi. Orang yang udah masuk jalan berliku, susah balik lurus tanpa ninggalin bekas. Semakin dia berusaha meluruskan jalan yang bengkok, semakin dia terjerat kuat di dalamnya sendiri. Nanti pas hari ketiga tiba, buktinya malah makin lengkap, ditambah kebingungan mereka sendiri jadi saksi paling jelas kalau semuanya memang udah direncanakan dari awal.”

Viona mengangguk puas sambil menyimpan berkas itu ke laci terkunci rapat.

Kamu bener Faris Arjuna, mereka sendiri yang bikin jebakan buat diri mereka.”

Tentu aja Bu Viona,” jawab Faris Arjuna sambil senyum sengklek khasnya dan menyandarkan punggung lebih leluasa lagi. “Ini baru kulit luarnya doang lho Bu Viona, dalamnya ada lagi yang lebih lucu. Tadi pagi Faris Arjuna sempat ngobrol santai sama tukang parkir yang jaga depan gudang Surya Abadi itu, dia bilang sering lihat mobil bak tertutup rapat lewat pas matahari udah terbenam sepenuhnya, lampunya diredupkan sampai nyaris padam dan sopirnya nggak mau melambai kalau dipanggil. Pikirnya pake jalan belakang dan malam-malam jadi aman, padahal jejak roda yang nempel lumpur basah bakal kelihatan jelas sampai pagi, sama kayak bekas sepatu di lantai yang berdebu. Belum lagi bau barang yang beda sama yang biasa keluar dari situ, nggak bisa sembunyi lama cuma ditutup terpal tebal. Mereka pikir nggak ada yang peduli, padahal Faris Arjuna catat semuanya pelan-pelan tanpa mereka sadari. Nanti pas waktunya tiba, semuanya bakal terbuka sendiri tanpa perlu kita susah payah mencarinya.”

Faris Arjuna memutar ujung rokoknya perlahan sambil melanjutkan ngomong santai: “Yang paling bikin ketawa lagi Bu Viona, tukang parkir itu juga bilang ada orang yang sering bawa tas kertas tebal masuk lewat pintu samping, nggak pernah lewat pintu utama yang ada penjaganya. Faris Arjuna sudah pastikan juga, jalan belakang itu permukaannya belum lama diperbaiki tapi ada bekas gerobak berat yang bolong di beberapa titik, jadi kalau diteliti lagi nanti jelas siapa yang lewat kapan.

Mereka kira semua itu aman dan nggak ada yang ingat, padahal Faris Arjuna sudah catat jam lewat, jenis kendaraan, bahkan nomor polisi yang sempat kelihatan meski ditutupi debu. Semua ini ditumpuk pelan-pelan aja, nggak terburu-buru. Biarkan mereka makin yakin nggak ada jejak, makin rajin menyusun rencana sendiri. Nanti pas waktunya dibongkar semuanya, mereka sendiri yang bingung dari mana asalnya semua bukti itu, padahal semuanya tercipta dari kelakuan mereka sendiri.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!