Nella, si cewek yang barbar banget. Dari sikap absurd, tingkah yang paling tepok jidat.
Siapa yang akan peduli, kalau Nella itu punya segala alasan buat orang-orang terpingkal tertawa, bahkan jungkir balik.
Seorang pria yang rupawan cukup dibilang kayak artis china. Ternyata punya ke tarikan terhadap Nella.
Dari omongan Nella ke Edy. Semua pun terjalin begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lsaywong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngeselin
Nella enggan untuk pindah posisi sebagai sekretaris Edy. Tapi di dalam dirinya senang terus bahagia.
Tetap saja ia kesal sama Om Edy, apalagi ia sedang menyusun semua barang di dalam kotak. Para rekan-rekannya mendekati Nella tengah merapikan yang penting untuk di bawa.
"Ciyeee... sudah naik pangkat, nih. Aku kapan, ya..." sindir Ida
"Naik pangkat apaan, bikin pekerjaan makin numpuk saja!" balas Nella
"Ya, kan, masih enak jadi sekretaris apalagi sering lihat muka gantengnya si Bos," kata Lidya
"Uh! Kalau enggak kamu saja deh, gantiin posisiku. Rasanya bakalan jadi apa. setelah di tempat itu," seru Nella selesai merapikan semua tidak ada yang tertinggal lagi.
"Loh, memang kenapa? Bagus malah jadi sekretaris daripada posisi bagian anak bawang selalu di marahi mulu sama bos sendiri. Ada salah surat peringatan, apalagi sama GM lebih menyebalkan, malahan." Lidya menggoceh panjang lebar.
Ya, semua ada di gedung hotel ini rata-rata enggak ada yang suka sama GM ( General Manager) soalnya dia itu banyak peraturan aneh tidak pernah anak.
Nella juga kesal sama GM-nya, apalagi peraturan terbaru. Setiap keluar dari toilet di haruskan menulis jam keluar dan jam kembali. Gila benar deh.
"Kak Christine sering-sering, lah, lihat diriku. Aku pasti akan merindukan kalian semua ada di lantai enam." Mulai lagi lebay si Nella-nya.
"Enggak usah sok lebay deh, Nel. Kami sering lewat di tempat kamu, kok. Apalagi, Toni lebih sering ke tempatmu. Biasa Brifing membahas keuangan," kata Lidya mengantar Nella ke depan pintu kantor terakhirnya.
Padahal kantornya satu gedung, hanya tidak rela pisah dengan mereka. Kini otak Nella tengah berputar - putar memikirkan bagaimana ketika Om Edy ketemu dirinya. Apakah ekspresinya tetap sama cuek kayak muka triplek? atau masih sok dingin kayak es batu di Kutub Utara.
Buat apa mikirin itu lelaki, sekarang Nella bukan cewek barbar yang suka di PHP-in atau pun yang sering patah hati karena di tinggal satu alasan tak masuk akal.
Masa enggak rasa apa - apa sama Nella, terus dua tahun yang lalu di rumah sakit itu apaan? Kata-kata janji yang terus terlontar dari mulutnya benaran akan nikahi ia, apaan coba?
Pikiran Nella terus bertanda tanya yang hampir buat ia sendiri kesal dan jengkel kepada Edy.
Di hembuskan napas amat panjang itu, ia sudah berjanji tidak akan menjadi cewek barbar suka patah hati. Ah, biarlah lebay, siapa suruh jual mahal sama dirinya si Edy.
Sampai di tempat meja kosong, posisi sekretaris. Impian Nella nih, sayangnya ia tidak memilih jurusan sekretaris, pekerjaannya saja ia tidak tahu. Kalau asisten pribadi masih mending, bisa di lakukan.
"Nella," suara ciri khas berat amat mendalam, menekan banget.
Nella membeku dalam diam, soalnya posisi sekarang ini ia membelakangi Edy yang tengah berdiri di depan kantor milknya.
Please deh, Om... jangan bikin jantung Lala debar-debar mulu. Batinnya dalam hati
"Nella," panggilnya lagi.
Ah... please jangan panggil, Lala belum siap menghadap. Terlalu cepat debarannya. Batinnya lagi.
Nella masih tetap berdiri membelakangi Edy tidak berkutik sama sekali. Edy yang menyandar tubuh di tepi pintu, bergerak untuk mendekati Nella.
Edy senang banget bisa ketemu cewek barbar, sekarang dia jauh berbeda dua tahun lalu itu. Penampilannya lebih dewasa, ia merasa yakin kalau cewek barbar ini masih memiliki rasa cinta kepadanya.
"Selamat siang, Pak. Saya sekretaris baru pindahan dari accounts receivable supervisor." Di ulurkan tangan di depan Edy.
Edy terdiam sejenak, menatap wajah cewek barbar masih sama, hanya satu berbeda, sikapnya lebih dewasa. Senyumannya, ya, Edy merindukan senyuman manis dari Nella.
Nella memang sengaja tidak menunjukkan senyum pada Edy. Karena ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak menjadi cewek barbar dua tahun yang lalu.
Om Edy, makin ganteng saja, senang bisa ketemu Om di sini, Batin Nella dalam hati, berbunga-bunga dan merindukan sosok lelaki yang di nanti selama dua tahun lebih itu.