NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Suasana di depan gerbang utama kediaman keluarga Shen mendadak sunyi senyap. Windu angin pagi seolah tertahan di udara.

​Yunche menoleh, menatap gadis di sampingnya dengan mata membelalak. Dia benar-benar tidak menyangka Gu Qingli akan pasang badan membela dirinya di depan umum. Bukan cuma Yunche yang terperanjat; para pemuda keluarga Shen yang berkerumun di belakang pun ikut melongo tak percaya.

​Semua orang tahu betul reputasi Yunche—pemuda dengan bakat semenjana, tertahan di ranah Pengumpulan Qi tingkat dua, dan kerap dianggap tak bermasa depan. Selama ini, tak ada seorang pun yang mau ambil pusing jika ada yang mencemoohnya. Bahkan Yunche sendiri sudah kebal dan menganggapnya angin lalu.

​Namun kini, seseorang berdiri pasang badan untuknya. Seseorang yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengannya.

​Bibir Yunche perlahan terangkat, membentuk ukiran senyum tipis yang tulus. "Terima kasih."

​Gu Qingli meliriknya sekilas. "Untuk apa?"

​"Sudah membelaku."

​"Aku tidak membelamu," sahut Gu Qingli cepat dengan nada datar.

​"Oh." Yunche manggut-manggut santai. "Berarti aku yang salah dengar."

​Gu Qingli langsung memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan Yunche. "Aku hanya tidak suka melihat ada orang yang sembarangan bicara, itu saja."

​Yunche terkekeh pelan. "Baiklah, baiklah."

​Zhou Minghao, yang sejak tadi menyaksikan interaksi tersebut, tiba-tiba meledakkan tawa hambar. "Hahaha!"

​Gu Qingli menatapnya tajam. "Apa yang lucu?"

​"Tidak ada," jawab Zhou Minghao sembari menggeleng pelan. Matanya melirik Yunche, lalu kembali menatap Gu Qingli dengan binar penuh ejekan. "Aku hanya merasa ini sangat menggelikan."

​"Menggelikan?"

​"Kau, seorang jenius kebanggaan keluarga Gu, berdiri pasang badan hanya demi membela pemuda lemah di ranah Pengumpulan Qi tingkat dua?" Zhou Minghao menyipitkan mata. "Apakah pecundang ini begitu penting bagimu?"

​Pertanyaan menohok itu membuat udara sekitar makin terasa ganjil. Gu Qingli bungkam, sementara Yunche tertegun.

​Kening Gu Qingli berkerut dalam. "Jangan bicara sembarangan!"

​"Aku cuma bertanya," sahut Zhou Minghao santai.

​Tiba-tiba, Yunche mengangkat satu tangannya ke udara. "Permisi... kalau boleh, aku mau menjawab."

​Sontak semua mata tertuju padanya. Yunche melangkah maju satu pukulan, menyejajarkan posisinya dan pasang badan di hadapan Gu Qingli.

​"Yunche," tegur Gu Qingli cemas.

​"Tenanglah." Yunche menoleh sekilas, lalu kembali menatap Zhou Minghao dengan raut tenang. "Dia tidak perlu menganggapku penting, karena aku memang bukan siapa-siapa."

​Bisik-bisik mulai kasak-kusuk di antara kerumunan.

​Yunche tersenyum tipis, merangkai kata demi kata. "Tapi kalau kau ingin menghina seseorang..." Dia menunjuk dadanya sendiri. "...hina saja aku sepuasmu. Jangan bawa-bawa orang lain."

​Zhou Minghao terpaku sejenak.

​"Kalau mau mencaci saya, silakan. Tapi jangan libatkan dia," tegas Yunche sambil menunjuk Gu Qingli.

​Gu Qingli menatap punggung pemuda di hadapannya itu. Ada sesuatu dari nada bicara Yunche yang membuat dadanya mendadak berdesir aneh.

​Zhou Minghao akhirnya terkekeh dingin. "Menarik. Jadi sampah seperti kau masih punya harga diri?"

​"Sedikit," sahut Yunche santai.

​"Sayangnya..." Aura Zhou Minghao mendadak melesat drastis. Energi spiritual yang tebal menekan udara di sekitarnya. "...harga diri tidak akan bisa menyelamatkan nyawamu!"

​Yunche refleks mundur satu langkah. "Eh, santai!"

​Gu Qingli bersiap pasang kuda-kuda untuk maju, tetapi Yunche membentangkan tangannya, menahan gadis itu. "Tunggu."

​"Apa lagi? Kau bukan lawannya!" tegur Gu Qingli panik.

​"Aku tahu."

​"Kalau tahu, kenapa tidak mundur?!"

​Yunche menatap Zhou Minghao, lalu mengulas senyum tipis yang sulit diartikan. "Aku cuma ingin mencoba."

​"Kau sudah gila?!"

​"Mungkin sedikit."

​"Shen Yunche!"

​"Tenanglah, Gu Qingli." Yunche menggenggam erat pedang kayu di tangannya. "Aku tahu aku tidak akan menang."

​Gu Qingli tertegun. "Lalu kenapa?"

​Yunche menyeringai pelan. "Tapi setidaknya, aku harus mencoba berjuang."

​Kalimat itu langsung menyengat ingatan Gu Qingli. Dia teringat sesi latihan mereka di hari-hari sebelumnya. Yunche jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit kembali. Pemuda itu selalu kalah, tetapi tidak pernah sekalipun menyerah atau berhenti melangkah.

Gu Qingli meremas jemarinya rapat-rapat. "Yunche... hati-hati."

​Yunche menoleh. Untuk sepersekian detik, dia menangkap selapis kecemasan yang amat tipis di mata gadis itu. Sangat tersamar, tetapi sungguh ada.

​"Serahkan padaku," balas Yunche percaya diri.

​Perbedaan kekuatan di antara mereka bagai langit dan bumi. Pengumpulan Qi tingkat dua melawan tingkat kesembilan adalah laga bunuh diri. Tidak ada seorang pun di sana yang berpikir Yunche memiliki peluang, bahkan Yunche sendiri.

​Zhou Minghao berdiri berkacak pinggang dengan angkuh. "Maju dan seranglah!"

​Yunche mengangkat pedang kayunya. "Jangan menyesal, ya."

​"Kalimat itu harusnya untuk dirimu sendiri!" tawa Zhou Minghao pecah.

​Yunche menarik napas dalam-dalam. Dalam satu hembusan, dia melesat maju! Satu langkah, dua langkah—pedang kayunya menebas lurus!

​BANG!

​Tebasan itu berhenti menahan udara. Zhou Minghao hanya mengangkat satu telapak tangannya untuk menahan mata pedang kayu Yunche tanpa bergeser senti pun.

​Yunche terbelalak. "Wah... telapak tanganmu keras juga."

​Zhou Minghao mengernyit murka. "Shen Yunche!"

​Sadar bahaya, Yunche bergegas melompat mundur. Namun, gerak Zhou Minghao jauh lebih cepat. Kilatan bayangan melesat membuntutinya.

​BOOM!

​Satu pukulan bertenaga menghantam bahu Yunche, melemparkannya memantul di tanah hingga berguling beberapa meter.

​"Yunche!" Gu Qingli bergerak refleks hendak menolong.

​Namun sebelum langkahnya sampai, Yunche sudah menyeret tubuhnya untuk bangkit berdiri. Dia mengusap debu di bahunya yang berdenyut nyeri. "Aku... tidak apa-apa."

​Gu Qingli menatapnya cemas. "Kau yakin?"

​"Masih utuh."

​Zhou Minghao tersenyum mengejek. "Masih mau berlagak tangguh?"

​Yunche mengangguk tegas. "Lanjut!"

​Zhou Minghao melesat lagi, kali ini tanpa rasa kasihan. Serangannya menjelma menjadi runtutan hantaman mematikan.

​BANG! Yunche terkena telak.

​BANG! Hantaman kedua mendarat di dada.

​BANG! Tubuhnya terlempar lagi menabrak tanah.

​Namun setiap kali tubuhnya tersungkur, Yunche selalu menyeret kakinya untuk kembali berdiri tegak.

​Gu Qingli mengepalkan tangannya hingga memutih. "Cukup, Yunche! Berhenti!"

​Yunche menoleh perlahan dengan napas memburu. "Kenapa?"

​"Kau tidak akan bisa menang!"

​"Aku tahu."

​"Kalau tahu, kenapa tidak menyerah?!"

​Yunche terdiam sejenak. Dia menatap pedang kayunya yang retak, lalu mengalihkan pandangannya pada Zhou Minghao.

​"Sebab..." Yunche mengulas senyum kecil di balik wajahnya yang belepotan debu. "...aku belum selesai."

​Gu Qingli terpaku. Zhou Minghao mendesis dingin. "Kalau begitu, biar kubuat kau selesai sekalian!"

​Zhou Minghao mengangkat kedua tangannya. Energi spiritual berwarna ungu pekat menggumpal ganas di kepalan tangannya. Serangan ini berada di tingkat yang jauh berbeda dari sebelumnya!

Gu Qingli membelalak. "Zhou Minghao, hentikan!"

​"Tenang, Nona Gu. Aku tidak akan membunuhnya, cuma membuatnya cacat sebentar!" tawa Zhou Minghao pecah.

​Gu Qingli hendak melompat memotong serangan itu, tetapi Yunche mendahuluinya dengan mengangkat pedang retaknya tinggi-tinggi. "Jangan ikut campur, Qingli!"

​"Dia bisa membunuhmu!"

​"Kalau begitu..." Yunche menarik napas sedalam-dalamnya. "...aku cuma perlu menghindarinya!"

​"Tinju Pemecah Batu!" bentak Zhou Minghao sembari meluncur bagai meteor.

​Pukulan berenergi tinggi itu menghantam pertahanan Yunche.

​DUAMMMM!

​Ledakan energi memicu dentuman keras. Tubuh Yunche melayang deras dan terbanting keras ke tanah, memicu kepulan debu tebal yang membubung ke udara.

​"Yunche!" Gu Qingli berlari tanpa peduli sekitar.

​Namun dari balik kepulan debu, sebuah tangan kurus meraba tanah, menopang tubuh yang gemetar hebat. Yunche bangkit berdirinya perlahan-lahan. Pakaiannya robek dan kotor, wajahnya dipenuhi luka gores, tetapi kedua matanya masih memancarkan binar tekad yang tak padam.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!