"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 Hutang Baru
Tiga hari kemudian, Angie menemukan Mama Thio sedang sarapan di kamar VIP yang luasnya hampir sebesar rumah lama mereka.
Ada sofa untuk keluarga, kamar mandi pribadi, dan perawat yang datang tanpa harus menekan bel dua kali. Di meja tersusun buah segar serta bunga putih tanpa kartu.
"Siapa yang memindahkan Mama ke sini?" tanya Angie.
Mama mengoles selai pada roti. "Katanya ada donatur."
"Donatur tinggi yang selalu memakai kemeja gelap?"
Mama pura-pura sibuk. "Mungkin."
Perawat yang masuk membawa obat justru menjawab, "Pak Hansen yang mengurus administrasinya. Beliau datang setiap pagi untuk menanyakan hasil pemeriksaan."
Mama Thio berdeham. "Dia hanya merasa bersalah."
"Kemarin beliau juga membawa bubur ikan dari restoran dekat gereja," lanjut perawat tanpa memahami tatapan Mama. "Katanya Ibu lebih suka makanan yang tidak berminyak."
Angie memandang kotak buah, bunga, dan termos makanan di meja. "Mama memberi tahu dia restoran itu?"
"Dia bertanya."
"Dan Mama menjawab?"
"Mama tetap memarahinya setelah menjawab."
Sebuah map terletak di laci meja. Di dalamnya ada salinan perjanjian utang yang sudah direvisi sesuai tuntutan Mama: Angie boleh berhenti kapan pun, cicilan tetap tanpa bunga, dan bantuan medis Mama tidak dapat ditagih sebagai utang.
Hansen benar-benar mengubah rantai yang dulu ia buat.
"Dia keras kepala," kata Mama, mencoba menjaga nada kesal. "Tapi setidaknya telinganya masih berfungsi."
Itu pujian terbesar yang pernah Mama berikan kepadanya.
Angie pulang ke Kediaman Liem dengan kemarahan yang bertahan sampai ia membuka pintu ruang kerja Hansen.
"Kenapa Tuan membantu Mama pindah ke VIP?"
Hansen tidak mengangkat wajah dari laptop. "Karena ruang lama membuat pemulihannya lambat."
"Saya tidak bisa membayar biaya kamar itu."
"Aku tidak meminta pembayaran."
"Tuan selalu bilang begitu sebelum membuat utang baru."
Hansen menutup laptop. "Kalau kamu bersikeras membayar, lakukan dengan cara lain."
Angie menyilangkan tangan. "Cara apa?"
"Pijat bahu dan leher."
Angie meletakkan salinan perjanjian di meja. "Sebelum membahas itu, hasil racun sudah keluar?"
"Campuran stimulan dan obat ilegal yang menurunkan kendali. William menyerahkan gelas serta rekaman dapur kepada penyelidik."
"Rekamannya menunjukkan Celine?"
"Menunjukkan dia membawa gelas dari dapur, tetapi sudut tempat sampah luar tidak terlihat. Laboratorium menemukan sidik jarinya pada botol kosong yang diambil petugas keamanan."
"Lalu kenapa dia masih di rumah?"
"Aku ingin tahu siapa pemasoknya dan siapa yang memberi perintah. Kalau dia diusir sekarang, jalur itu terputus."
Angie tidak menyukai Celine berada dekat Guai, tetapi memahami strategi tersebut. "Dia tidak boleh masuk kamar bayi sendirian."
"Sudah dilarang. Akses kartunya dibatasi."
"Dan tidak boleh menyiapkan makanan atau minuman siapa pun."
"Sudah."
Hansen telah menutup celah sebelum Angie menyebutnya. Namun fakta bahwa ia tetap menahan pelaku di rumah membuat ruang kerja terasa seperti pusat jebakan besar.
Ia menatapnya seolah baru mendengar usul paling tidak masuk akal. "Tuan punya fisioterapis."
"Aku tidak nyaman disentuh mereka."
Kalimat itu mengandung arti yang hanya dipahami keduanya.
"Setelah kejadian malam itu, Tuan masih meminta saya menyentuh?"
Wajah Hansen menjadi serius. "Permintaan, bukan syarat. Kamu boleh menolak. Utangmu tidak bertambah, pekerjaanmu tidak berubah, dan biaya Mama tetap kubayar."
Angie menahan tatapannya. "Kalau saya setuju, saya bisa berhenti kapan saja?"
"Kapan saja."
"Tidak ada pintu terkunci."
"Tidak."
"Dan Tuan tidak menyentuh saya kembali tanpa bertanya."
"Ya."
Angie seharusnya menolak. Namun ia juga ingin memahami kenapa tubuhnya bereaksi hanya kepada pria itu, dan kenapa sentuhan singkat di kolam masih tersimpan begitu jelas.
"Sepuluh menit," katanya. "Sekali saja."
Hansen berdiri dari kursi kerja dan duduk di sofa rendah. Ia melepas jas, tetapi tetap mengenakan kemeja. Angie berdiri di belakangnya, menggosok kedua telapak tangan agar tidak terlalu dingin.
"Saya akan mulai."
"Silakan."
Angie menaruh timer ponsel di meja, mengatur sepuluh menit, lalu membiarkan layar tetap terlihat. "Kalau saya bilang berhenti, kita berhenti."
"Ya."
"Kalau Tuan merasa gejala aneh, bilang."
"Kamu terdengar seperti Kevin."
"Anggap itu hukuman."
Hansen menerima kain hangat yang diletakkan Angie di tengkuknya. Ia tidak mencoba mendekat atau mengubah posisi. Kontrol diberikan kepada Angie dari awal, berbeda dari semua peristiwa sebelumnya.
Ujung jarinya menyentuh bahu Hansen.
Keduanya membeku.
Panas menjalar di tangan Angie, cepat dan terang seperti aliran listrik. Jantungnya memukul terlalu keras. Di bawah telapak tangannya, otot bahu Hansen menegang sebelum perlahan mengendur.
"Terlalu sakit?" tanya Angie.
"Tidak." Suara Hansen lebih rendah dari biasanya. "Lanjutkan."
Ia menunggu beberapa detik, memberi Angie kesempatan menarik tangan. Ketika tekanan jari kembali terasa, barulah napasnya perlahan turun.
Angie memusatkan perhatian pada teknik. Ibu jari menekan otot yang tegang, lalu bergerak menjauh dari tulang belakang. Kemeja menjadi batas aman di antara kulit mereka, meski panas tetap menembus kain.
"Tuan bekerja berapa jam sehari?"
"Terlalu banyak menurut Kevin."
"Menurut saya juga."
"Kamu mulai berani mengatur."
"Gaji saya Rp 100 juta. Saya harus memberi layanan sesuai harga."
Hansen tertawa pelan. Bunyi itu sangat jarang sampai Angie hampir kehilangan ritme pijatan.
Timer baru berjalan empat menit, tetapi ketegangan di bahu Hansen sudah berkurang. Sebaliknya, tangan Angie semakin gemetar karena tubuhnya tidak mampu bersikap netral terhadap kedekatan tersebut.
"Mau berhenti?" tanya Hansen.
Ia terkejut karena pria itu menyadarinya. "Belum."
Angie menekan titik di sisi leher dengan gerakan yang pernah dipelajari dalam pelatihan perawatan dasar. Tubuhnya terus bereaksi, tetapi karena sentuhan itu ia pilih sendiri dan dapat dihentikan kapan saja, rasa takut tidak menguasainya seperti malam saat Hansen diracuni.
Hansen memejamkan mata.
Selama setahun, sentuhan orang lain membuat tubuhnya menolak atau mati rasa. Sekarang, setiap gerakan tangan Angie mengembalikan kesadaran pada saraf, napas, dan detak jantungnya. Ia merasa hidup, tetapi juga menyadari betapa mudah perasaan itu berubah menjadi ketergantungan.
"Ngie," katanya tanpa membuka mata.
Tangan Angie berhenti.
"Apa?"
"Namamu."
"Nama saya Angie."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa dipotong?"
Hansen membuka mata dan menoleh sedikit. "Karena cocok."
"Hanya Tuan yang boleh?"
"Ya."
Jawaban itu terlalu cepat dan terlalu memiliki. Angie melanjutkan pijatan agar Hansen tidak melihat wajahnya yang memanas.
Di luar, Celine berhenti di depan pintu setengah terbuka.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Angie berada tepat di belakang Hansen. Kedua tangan perempuan itu menempel di bahu pria yang tidak pernah membiarkan Celine menyentuh lengannya lebih dari beberapa detik. Mata Hansen terpejam, wajahnya tenang.
Kedekatan itu lebih menyakitkan daripada ciuman yang tidak ia lihat.
Celine pergi tanpa suara, lalu kembali lima menit kemudian setelah menyusun wajahnya.
Ia mendorong pintu.
"Aku mau bicara, Hansen." Senyumnya tipis. "Angie, kamu bisa keluar dulu?"
Angie mengangkat tangan dan hendak melangkah pergi.
Hansen menangkap pergelangannya dengan ringan, lalu segera melonggarkan genggaman agar ia bisa menarik diri jika mau.
"Dia tidak perlu pergi," katanya kepada Celine. "Kalau ada sesuatu, katakan di sini."