Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: MASUK SD SUMBERMULYO DAN GURU BU SITI
Tiga minggu telah berlalu sejak Rangga pertama kali menginjakkan kaki di gubuk Nenek Saroh. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas desa—bahkan sekarang ia bisa membawa dua ember air penuh tanpa banyak berhenti, meski napasnya tetap tersengal-sengal di tanjakan terakhir. Otot-otot tangannya mulai terbentuk jelas, dan kulitnya yang dulu putih kini telah berubah menjadi sawo matang yang sehat. Namun ada satu hal yang selalu mengganjal di hatinya, yang membuatnya gelisah setiap kali melihat anak-anak lain memakai seragam putih-merah di pagi hari.
Suatu malam, saat Nenek Saroh dan Rangga duduk di teras menikmati angin malam sambil mengupas jagung untuk dimasak esok hari, Rangga memberanikan diri bertanya. “Nenek, aku mau sekolah. Di desa ini ada sekolah, kan?”
Nenek Saroh berhenti mengupas. Ia menghela napas panjang, dan untuk beberapa detik hanya suara jangkrik yang terdengar. “Ada, Nak. Di ujung dusun, sekitar dua kilometer dari sini, ada SD Negeri Sumbermulyo. Gedungnya hanya dua ruang kelas, gurunya hanya satu orang, tetapi anak-anak di sini semua sekolah di sana.” Ia menoleh, menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Nenek tidak tahu apakah kau bisa masuk, Nak. Kau… tidak punya dokumen. Tidak ada akta kelahiran, tidak ada kartu keluarga. Di mata negara, kau tidak ada. Dan Nenek… Nenek tidak punya uang untuk mengurus surat-surat.”
Rangga menunduk, memandangi jagung di tangannya. Itu adalah realitas pahit yang mulai ia sadari. Ia adalah anak hilang yang tidak tercatat, yang mungkin sudah dianggap mati oleh kepolisian kota. Jika ia muncul dengan identitasnya, ia mungkin akan dikembalikan ke keluarga atau—yang lebih menakutkan—kembali ke pembunuh yang masih berkeliaran. Tetapi ia sangat ingin belajar. Ia ingin membaca, menulis, menghitung. Ia ingin menjadi pintar, seperti ayahnya yang dulu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas kematian orang tuanya dengan kebenaran, dan untuk itu, ia membutuhkan pendidikan.
“Tapi Nenek akan berusaha,” kata Saroh tiba-tiba, suaranya mantap. “Besok pagi, Nenek pergi ke rumah Pak Lurah. Beliau orang baik, sering membantu warga miskin. Nenek akan minta surat keterangan domisili untukmu. Nenek mungkin harus menjual beberapa ekor ayam untuk biaya administrasi, tetapi tidak apa. Pendidikanmu lebih penting.”
Rangga memeluk neneknya erat-erat, air mata mengalir di pipinya. “Terima kasih, Nek. Aku janji akan belajar sungguh-sungguh. Aku akan membanggakan Nenek.”
Keesokan harinya, Nenek Saroh berjalan kaki hampir tiga kilometer ke rumah Pak Lurah Mardiono di ujung desa. Rangga tidak ikut—ia di rumah menjaga ayam dan memasak nasi untuk makan siang. Hatinya berdebar-debar sepanjang hari. Ia membayangkan duduk di bangku kelas, memegang buku tulis, mendengarkan guru menjelaskan pelajaran. Ia bahkan membayangkan memiliki teman sekelas, bukan hanya teman bermain. Namun ia juga takut—takut jika usahanya gagal, takut jika ia selamanya tidak bisa sekolah seperti anak-anak lain.
Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berubah jingga, Nenek Saroh pulang. Dari kejauhan, Rangga sudah melihat senyum di wajah neneknya—senyum yang membuat kerut-kerut di wajahnya menjadi lebih dalam tetapi lebih indah.
“Nak! Pak Lurah setuju!” seru Nenek Saroh sebelum sampai di halaman. “Beliau akan membuatkan surat keterangan domisili dengan nama Rangga, anak asuh Saroh. Kau bisa sekolah mulai minggu depan!”
Rangga melompat kegirangan, berlari menyambut neneknya dan memeluknya hingga hampir terjatuh. “Nenek! Aku bisa sekolah! Aku bisa!”
“Iya, iya, Nak. Tapi Nenek harus membeli seragam, buku, dan tas. Nenek sudah menabung dari hasil menjual telur dan sayuran. Cukup, Insya Allah,” kata Saroh sambil mengusap kepala cucu angkatnya.
Minggu pagi itu, Rangga bangun lebih awal dari biasanya—sebelum ayam jantan berkokok. Ia sangat bersemangat sehingga tidak bisa tidur. Nenek Saroh menyiapkan seragam putih-merah yang dibeli dari pasar kecamatan. Seragam itu sedikit kebesaran—karena Nenek membeli ukuran lebih besar agar bisa dipakai sampai dua tahun ke depan—dan sepatunya adalah sandal jepit karet karena Nenek tidak mampu membeli sepatu sekolah. Tetapi bagi Rangga, seragam itu adalah pakaian terbaik yang pernah ia kenakan. Ia memakainya dengan penuh kebanggaan, menyisir rambutnya yang panjang dengan sisir kayu, meskipun tidak ada cermin di gubuk.
Nenek Saroh memandangnya dengan mata berkaca-kaca. “Nak, kau tampan sekali. Seperti… seperti ayahmu, mungkin.” Suaranya bergetar.
Rangga menatap neneknya. “Nenek pernah melihat ayahku?”
Saroh terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Tidak, Nak. Nenek hanya membayangkan. Ayahmu pasti orang baik, karena dia memberimu kehidupan. Dan kau akan menjadi orang baik, karena Nenek akan membesarkanmu dengan kasih sayang.” Ia memeluk Rangga erat. “Sekarang pergi. Jangan terlambat.”
Perjalanan ke SD Sumbermulyo memakan waktu sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Rangga melewati sawah-sawah yang mulai dipanen, melewati rumah-rumah panggung warga yang asap dapurnya mengepul, dan melewati pohon beringin besar tempat ia biasa bermain. Sesampainya di sekolah, ia terdiam.
Gedung SD Sumbermulyo hanya dua ruang kelas dari papan kayu yang sudah lapuk, dengan atap seng yang mulai berkarat dan berlubang di beberapa bagian. Lapangan upacara hanya tanah yang dipadatkan, tanpa rumput, dengan tiang bendera dari bambu yang sedikit miring. Tidak ada laboratorium, tidak ada perpustakaan, hanya papan tulis hitam dan bangku-bangku kayu yang sebagian kakinya sudah patah. Di sana, sekitar tiga puluh anak dengan seragam lusuh berkumpul, berdiri di barisan yang tidak rapi. Mereka menatap Rangga dengan rasa penasaran—anak baru selalu menjadi pusat perhatian di desa.
Seorang guru perempuan muda, mungkin baru berusia dua puluh lima tahun, berjalan mendekati gerbang. Wajahnya bulat dengan kacamata bundar bergaya vintage, rambutnya diikat ekor kuda sederhana, dan ia mengenakan kemeja putih dan rok batik yang sudah pudar. Ia tersenyum ramah melihat Rangga.
“Kau pasti Rangga, anak yang ditemukan Nenek Saroh di hutan,” katanya, suaranya lembut tetapi berwibawa. “Namaku Bu Siti. Aku guru sekaligus kepala sekolah di sini. Selamat datang di SD Sumbermulyo. Jangan sungkan, semua anak di sini baik-baik.”
“Terima kasih, Bu,” jawab Rangga dengan sopan, membungkuk sedikit seperti yang diajarkan Nenek.
Bu Siti membawanya masuk ke ruang kelas utama. Anak-anak langsung ramai, berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk. Namun Rangga melihat wajah-wajah yang dikenalnya—Joko melambaikan tangan lebar dari bangku belakang, Karti tersenyum dengan poninya yang bergoyang, Ucok mengacungkan jempol, dan Dullah yang gemuk memekik pelan, “Rangga! Di sini!” Rangga merasa dadanya hangat. Ia tidak sendirian.
“Anak-anak, ini teman baru kalian. Namanya Rangga. Dia akan belajar di sini mulai hari ini. Tolong bantu dia beradaptasi, ya. Jangan diejek, jangan dibully,” kata Bu Siti sambil menatap tajam ke arah beberapa anak yang suka usil.
Hari itu, Rangga duduk di bangku yang sama dengan Joko, di barisan kedua dari depan. Bu Siti mengajarkan membaca dan menulis—hal-hal yang sebenarnya sudah ia kuasai di istana dulu, tetapi ia tetap mendengarkan dengan antusias. Baginya, pelajaran di sekolah desa bukan hanya tentang ilmu, tetapi tentang proses menjadi manusia. Di sini, tidak ada tutor privat, tidak ada buku mewah, tetapi ada semangat yang tulus untuk belajar.
Saat jam istirahat, semua anak berkerumun di sekitar Rangga. Mereka bertanya tentang kota, tentang rumah besarnya, dan apakah benar ia punya kolam renang. Ucok, yang sudah menjadi teman akrabnya, malah melindungi Rangga dari pertanyaan-pertanyaan yang terlalu dalam.
“Sudah, jangan tanya-tanya. Yang penting Rangga sekarang bagian dari kita. Ayo, kita main ke belakang sekolah! Ada pohon rambutan yang sedang berbuah!” seru Ucok, dan semua anak berlarian.
Rangga mengikuti mereka, tertawa. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti anak kecil yang normal. Ia punya sekolah, punya guru, punya teman, dan punya nenek yang mencintainya. Kehidupannya mungkin tidak semewah dulu, tetapi ia lebih bahagia. Ia lebih hidup.
Di belakang sekolah, di bawah pohon rambutan yang rindang, Rangga dan teman-temannya makan rambutan merah yang manis. Jus buah itu menetes di dagu mereka, dan mereka saling mengejek dengan suara riuh.
“Rangga, kau makan rambutannya kayak monyet!” teriak Dullah.
“Kau sendiri kayak babi! Sepuluh biji sudah kau habiskan!” balas Rangga.
Semua tertawa terbahak-bahak. Dan di tengah tawa itu, Rangga bersyukur. Di sini, di SD Sumbermulyo yang reot, di antara teman-teman yang kotor dan polos, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki di istana kaca: kebahagiaan yang sederhana, tulus, dan nyata.
---
[Bersambung...]
---