"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.
Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!
Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Jeritan Maria menggema di halaman rumah kecil itu, memecah udara sore yang biasanya tenang. Rambutnya sudah acak-acakan, pipinya merah dan bengkak akibat tamparan, sementara tubuhnya didorong dan ditarik tanpa ampun oleh Nenek Murni.
“Pak Joko! Tolong aku!” teriak Maria dengan suara serak, hampir putus asa. “Dia memukulku tanpa alasan!”
Namun Nenek Murni tidak berhenti. Wajah wanita tua itu dipenuhi amarah yang jarang terlihat sebelumnya. Tangannya mencengkeram lengan Maria dengan keras, sementara matanya menyala penuh kebencian.
“Perempuan tidak tahu malu!” bentaknya. “Kamu berani merusak nama keluarga kami!”
Di sampingnya, Lina berdiri dengan wajah cemas—setidaknya itu yang tampak dari luar. Nenek Murni segera memanggilnya.
“Lina! Pegang dia! Jangan biarkan dia kabur!” perintahnya.
Lina sempat ragu sejenak. Banyak tetangga sudah berdatangan dan berdiri di sekitar halaman, menyaksikan keributan itu dengan mata penuh rasa ingin tahu. Jika dia benar-benar membantu menyiksa Maria, namanya pasti akan menjadi bahan gosip tetangga.
Dengan cepat dia membuat keputusan.
“Astaga, Nenek! Jangan begitu!” kata Lina sambil berpura-pura mencoba menenangkan situasi.
Dia mendekat, lalu memegang bahu Maria seolah hendak menahannya. Namun gerakannya justru menarik tubuh Maria sedikit menjauh dari Nenek Murni, membuat tangan wanita tua itu kehilangan keseimbangan.
“Ayo tenang dulu! Jangan bertengkar seperti ini!” lanjut Lina dengan suara keras agar para tetangga mendengarnya.
Namun secara halus dia justru memutar posisi Maria, membuat lengan wanita itu kembali berada dalam jangkauan Nenek Murni.
Plak!
Tamparan keras kembali mendarat di wajah Maria.
Suara itu begitu nyaring hingga beberapa orang yang menonton tanpa sadar menarik napas.
Plak!
Tamparan kedua menyusul tanpa jeda.
Maria hampir jatuh jika Lina tidak menahannya. Pipinya kini bengkak di kedua sisi, bibirnya pecah hingga darah merembes keluar.
Nenek Murni masih gemetar karena marah.
Baginya, tuduhan bahwa Budi adalah anak haram adalah penghinaan yang tak bisa ditoleransi. Dia sangat menyayangi cucunya itu—anak laki-laki satu-satunya dari garis keluarga ini.
Jika benar Budi bukan darah keluarga mereka, maka nama baik keluarga besar yang sudah dibangun selama puluhan tahun akan hancur.
“Perempuan sialan!” teriaknya. “Berani sekali kamu mempermalukan kami!”
Di tengah keributan itu, Pak Joko akhirnya tersadar sepenuhnya dari amarah yang sebelumnya membutakan pikirannya. Suara jeritan Maria yang terus menggema membuat kepalanya berdenyut.
Dia melangkah maju dengan wajah dingin.
Tangannya mencengkeram lengan Maria dengan kuat hingga hampir membuat wanita itu menjerit lagi.
“Cukup.”
Suaranya rendah, namun penuh ancaman.
“Sekarang jelaskan dengan jelas,” katanya perlahan, menatap Maria dengan mata dingin seperti es. “Siapa sebenarnya ayah Budi?”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Semua orang menahan napas.
Maria gemetar hebat. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi wajah yang sudah penuh luka.
“A-apa maksudmu…?” katanya dengan suara pecah.
Pak Joko tidak mengalihkan pandangannya.
“Jawab aku.”
Tubuh Maria mulai bergetar lebih kuat. Tangannya mengepal di dada, seolah mencoba menahan sesuatu yang hampir meledak.
“Aku tidak pernah… tidak pernah berselingkuh!” tangisnya keras.
Dia jatuh berlutut di tanah.
“Aku diperlakukan tidak adil!” teriaknya. “Semua orang menuduhku tanpa bukti!”
Tangisnya semakin keras.
“Kalau kalian tidak percaya, lebih baik aku mati saja bersama Budi!”
Beberapa tetangga mulai berbisik-bisik, suasana menjadi semakin tegang.
Di pinggir kerumunan, Aminah berdiri dengan wajah muram seolah ikut sedih melihat keadaan itu.
Namun di dalam hatinya, pikirannya jauh lebih dingin.
Ini saat yang tepat.
Dia melangkah maju beberapa langkah.
“Ayah…” katanya pelan.
Pak Joko menoleh.
Aminah menundukkan kepala sedikit, lalu berkata dengan suara lembut yang terdengar penuh kepedihan.
“Jangan mudah percaya kata Nenek.”
Semua orang langsung menoleh padanya.
“Sejak dulu Nenek selalu lebih menyukai Paman Kedua,” lanjutnya perlahan. “Bahkan tadi… Bibi Lina juga jelas membantu secara tidak adil.”
Kalimat itu seperti percikan minyak di atas api.
Pak Joko mengerutkan kening.
Pagi tadi dia memang baru saja memutuskan untuk menghentikan bantuan beras dan uang kepada Nenek Murni karena berbagai keluhan Maria.
Sekarang, kata-kata Aminah membuat pikirannya kembali terguncang.
Apakah semua ini memang ada hubungannya dengan keberpihakan ibunya?
Aminah melihat perubahan di wajahnya.
Diam-diam dia mundur dua langkah ke belakang, menyatu kembali dengan kerumunan.
Di dalam hatinya, sebuah pikiran dingin muncul.
Bertengkarlah lebih keras.
Semakin hancur kalian semua, semakin adil rasanya.
Nenek Murni jelas mendengar tuduhan itu.
Wajahnya langsung berubah merah padam.
“Kamu berani menuduhku?” bentaknya kepada Aminah.
Namun sebelum dia sempat melangkah lebih jauh, Maria tiba-tiba berhenti menangis.
Dia perlahan berdiri.
Matanya merah, tetapi tatapannya kini keras seperti batu.
“Kalau begitu,” katanya dengan suara serak namun tegas, “berikan bukti bahwa aku berselingkuh.”
Semua orang terdiam.
Maria menatap langsung ke arah Nenek Murni.
“Jika Nenek tidak bisa membuktikannya,” lanjutnya, “aku akan gantung diri di depan pintu rumah Paman Kedua!”
Beberapa orang langsung bergumam kaget.
Ancaman itu terlalu ekstrem.
Namun Maria belum selesai.
Air matanya masih mengalir, tetapi suaranya kini dipenuhi kemarahan yang terpendam bertahun-tahun.
“Nenek selalu pilih kasih!” teriaknya.
“Dari dulu selalu begitu!”
Dia menunjuk ke arah Pak Joko.
“Pak Joko dikirim ke pedesaan bekerja keras, sementara pekerjaan ayahnya justru diberikan kepada Paman Kedua!”
Kerumunan mulai berisik.
“Ketika aku melahirkan dan masih lemah setelah nifas,” lanjut Maria, “Nenek bahkan tidak mau datang merawatku!”
“Namun ketika keluarga Paman Kedua punya anak, Nenek dengan senang hati pergi menjaga mereka!”
Beberapa tetangga mulai saling berpandangan.
“Beras dan uang yang kami kirim setiap bulan,” kata Maria lagi dengan suara bergetar, “apakah semuanya dipakai untuk membantu keluarga kami?”
Dia tertawa pahit.
“Atau justru diberikan kepada keluarga Paman Kedua?”
Nenek Murni terdiam sesaat, wajahnya berubah semakin gelap.
Maria kemudian menarik tangan Budi yang masih terisak.
Anak itu hampir tidak bisa berdiri karena luka-luka di tubuhnya.
Dengan hati yang remuk, Maria memaksa Budi berlutut di tanah.
“Ayo,” katanya dengan suara gemetar. “Minta maaf pada Nenek.”
Budi yang masih kecil hanya menurut sambil menangis.
“Nenek… maaf…” katanya terbata-bata.
Adegan itu membuat beberapa orang yang menonton merasa perih di dada.
Anak kecil yang penuh luka dipaksa berlutut di depan kerumunan orang dewasa yang bertengkar.
Beberapa tetangga mulai memandang Maria dengan simpati.
Namun tiba-tiba sebuah suara perempuan terdengar dari belakang kerumunan.
“Tunggu dulu.”
Semua orang menoleh.
Seorang wanita paruh baya dari desa yang juga tinggal di kompleks itu melangkah maju.
Dia menatap Maria dengan mata tajam.
“Bukankah dulu kamu yang mengusir Ibu Dewi dari rumah ini?” katanya.
Suasana langsung berubah.
Orang-orang yang sebelumnya membela Maria mendadak terdiam.
Nenek Murni seperti menemukan kesempatan emas.
“Benar!” serunya keras.
Dia menunjuk Maria dengan jari gemetar.
“Perempuan ini punya riwayat buruk!”
“Dia datang ke rumah kami dalam keadaan hamil!”
“Dan memaksa Ibu Dewi—istri pertama Pak Joko—pergi dari rumah!”
Kerumunan langsung gempar.
Beberapa orang saling berbisik dengan wajah terkejut.
“Jadi… Budi bukan bayi prematur?” bisik seseorang.
“Berarti dia sudah hamil sebelum menikah?”
“Kasihan sekali Ibu Dewi…”
Gosip menyebar dengan cepat seperti api yang menyambar rumput kering.
Dalam hitungan menit, cerita lama yang selama ini terkubur kembali terbongkar.
Wajah Pak Joko berubah pucat.
Maria berdiri kaku di tengah halaman, dikelilingi tatapan penuh tuduhan dari para tetangga.
Sementara itu, di pinggir kerumunan, Aminah menatap semua itu dengan mata tenang.
Keluarga yang dulu menyakitinya.
Satu per satu, mereka kini saling menghancurkan.
Dan keributan di kompleks perumahan karyawan pabrik kaleng itu baru saja mencapai puncaknya.
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔