NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Paksaan

Tiga hari lagi, rekaman ini akan naik ke internet.

Kalimat itu sampai ke meja Budiman Tanuwijaya pada pagi yang sama ketika Perkasa Enviro Tbk menggelar rapat final sebelum pencatatan saham di IDX.

Amplop ekspres itu dibuka oleh sekretaris, lalu naik ke ruang kerja pribadi di lantai atas kantor Perkasa International. Tidak sampai sepuluh menit, Kevin Tanuwijaya dipanggil.

Ketika Kevin masuk, wajah Budiman sudah lebih dingin daripada marmer meja kerjanya.

Flash disk kecil tergeletak di antara mereka.

"Jelaskan," kata Budiman.

Kevin menatap benda itu. Rahangnya mengeras. "Papa dengar dari siapa?"

Budiman tidak menjawab. Ia menekan remote. Layar di dinding menyala.

Rekaman lift. Nadia tertawa di samping Kevin. Rekaman ruang tamu. Suara Nadia tentang polis dan rumah. Potongan berita PT Kencana Abadi. Foto Porsche Panamera dengan plat B 17 KTN.

Wajah Kevin kehilangan warna.

"Itu bisa dijelaskan."

"Kamu mau jelaskan kepada saya, atau kepada wartawan pasar modal?" suara Budiman tetap rendah. "Perkasa Enviro masuk IDX dalam hitungan hari. Satu skandal perselingkuhan saja bisa saya tutup. Tapi istri orang, polis asuransi, perusahaan cangkang, nama Surya Prasetyo di Mega Awan, dan Benny Halim ditangkap Dittipideksus? Kamu pikir publik bodoh?"

Kevin mengepalkan tangan. "Surya yang menyerang dulu."

Budiman berdiri.

Untuk pria seusianya, gerakannya masih tajam. "Anak bodoh. Orang miskin yang kamu injak itu sekarang memegang lehermu karena kamu memberinya semua tali."

"Papa..."

"Suruh perempuan itu cerai. Hari ini." Budiman menunjuk layar. "Putuskan masalah rumah tangga itu sebelum berubah menjadi masalah perusahaan. Kasih dia uang kalau perlu. Tapi namamu tidak boleh muncul lagi bersama Nadia Kusuma."

"Aku tidak bisa begitu saja..."

"Bisa." Budiman memotong. "Atau saya cabut semua aksesmu dari Kencana Abadi sebelum bursa dibuka."

Kevin terdiam.

Satu jam kemudian, Nadia menerima transfer Rp 500 juta.

Pesan Kevin menyusul.

Terima cerai. Jangan lawan dulu. Ini perintah Papa. Kalau kamu bikin Perkasa Enviro terganggu, aku juga tidak bisa menolongmu.

Nadia membaca pesan itu berkali-kali.

Tangannya gemetar.

Kemarin ia masih yakin Kevin adalah tempat berlindung. Hari ini, uang Rp 500 juta itu terasa seperti uang tutup mulut. Bukan hadiah. Bukan cinta.

Harga agar ia diam.

Ia melempar handphone ke sofa, lalu menjerit sampai pembantu harian di dapur berlari keluar.

Namun pada sore hari, ia tetap datang ke tempat yang Surya tentukan: kantor kecil seorang mediator keluarga di Jakarta Selatan, tempat Surya menunggu bersama satu map dokumen.

Nadia memakai kacamata hitam. Pipi bekas tamparan sudah tidak terlihat, matanya menyimpan sesuatu yang lebih gelap.

"Kamu puas?" tanyanya begitu duduk.

"Belum."

Nadia tertawa pahit. "Tentu. Laki-laki miskin kalau baru pegang sedikit kuasa memang lupa diri."

Surya membuka map. "Aku akan mengajukan perceraian ke pengadilan yang berwenang di Jakarta Selatan. Kamu bisa datang baik-baik di tahap mediasi, atau aku ajukan semua bukti sejak awal."

"Bukti perselingkuhan? Silakan. Kamu pikir aku takut malu?"

"Bukan hanya perselingkuhan." Surya mengeluarkan daftar. "Polis asuransi jiwa. Surat donor ginjal. Rekaman ruang tamu. CCTV lift. Kaitan PT Mega Awan. Surat utang palsu. Jebakan Dewi. Pembakaran Alphard. Pembakaran kos."

Setiap poin jatuh seperti paku.

Nadia menatap kertas itu. Senyum mengejeknya menghilang perlahan.

"Kamu tidak bisa membuktikan semuanya."

"Tidak perlu semuanya untuk membuat hakim melihat pola. Dan tidak perlu semuanya untuk membuat Budiman Tanuwijaya panik."

Nama Budiman membuat Nadia menggigit bibir.

Surya melihatnya.

Benar.

Di mata Nadia, Surya mungkin masih bekas suami miskin. Tetapi Budiman adalah pintu menuju hidup yang ia impikan bersama Kevin. Kalau pintu itu tertutup, semua rencananya tinggal puing.

"Apa yang kamu mau?" tanyanya akhirnya.

"Cerai bersih. Tidak ada tuntutan harta darimu. Tidak ada utang palsu. Tidak ada gangguan kepada Dewi. Semua barang pribadiku dikembalikan. Dan kamu hadir di mediasi tanpa drama."

"Lalu kamu tidak akan menyebarkan rekaman?"

"Selama kamu tidak menyentuhku dan keluargaku."

Nadia menatapnya lama.

"Kamu berubah."

"Tidak." Surya merapikan dokumen. "Aku hanya berhenti menjadi orang bodoh yang kamu butuhkan."

Nadia menandatangani surat pernyataan awal dengan tangan kaku.

Dua hari kemudian, Surya berdiri di depan gedung pengadilan Jakarta Selatan bersama map berisi dokumen. Meilu tidak masuk bersamanya. Ia hanya mengirim pesan sebelumnya: daftar berkas, alur mediasi wajib, dan satu kalimat pendek.

Saya tidak bisa ikut urusan perdata Anda. Tapi pastikan semua bukti dicatat rapi. Jangan beri celah.

Surya mengikuti nasihat itu.

Permohonan dan gugatan disusun dengan bahasa bersih. Ia tidak menulis amarah. Ia menulis fakta: kekerasan psikis, perselingkuhan, perencanaan yang mengancam keselamatan, perjanjian pranikah, bukti elektronik, saksi, dan dokumen pendukung.

Pada hari mediasi pertama, Nadia datang terlambat dua puluh menit.

Ruang mediasi tidak besar. Ada meja panjang, dua kursi berhadapan, dan mediator yang berbicara dengan nada lelah karena terlalu sering melihat pasangan saling menghancurkan.

"Tujuan mediasi adalah mencari kemungkinan perdamaian," kata mediator.

Nadia langsung menyandarkan punggung. "Saya tidak mau berdamai. Tapi saya juga tidak mau dipermalukan."

Surya menatap mediator. "Saya menghormati proses mediasi. Namun berdasarkan kondisi rumah tangga, perselingkuhan berulang, ancaman terhadap keselamatan pribadi, dan bukti bahwa pihak lain menggunakan dokumen keuangan untuk menjerat saya, saya menilai rumah tangga ini tidak mungkin dipertahankan."

Mediator mengangkat alis, mungkin tidak menyangka Surya akan berbicara setenang itu.

Nadia menyela. "Dia membesar-besarkan semua. Dia dendam karena Papa meninggal."

Surya membuka satu halaman ringkasan.

"Saya tidak akan membuka video di ruangan ini kecuali diminta. Tapi daftar bukti sudah saya serahkan: CCTV kompleks, rekaman smart home, perubahan penerima manfaat polis, surat donor, dokumen Mega Awan, dan BAP awal terkait Benny Halim. Saya juga bersedia menghadirkan saksi dari pihak ketiga."

Nadia menggenggam tasnya sampai buku jarinya memutih.

Surya melanjutkan, suaranya tetap datar. "Saya tidak meminta harta keluarga Kusuma. Perjanjian pranikah mereka sendiri memastikan itu. Saya hanya meminta putusnya perkawinan secara hukum, perlindungan dari utang palsu, dan pencatatan bahwa saya tidak bertanggung jawab atas tindakan finansial yang dilakukan tanpa sepengetahuan saya."

Ruangan hening.

Mediator menulis beberapa catatan.

Untuk pertama kalinya, Nadia tidak punya kalimat tajam yang bisa langsung dilemparkan. Di rumah, ia bisa berteriak. Di depan keluarga, ia bisa berakting. Tetapi di ruangan ini, setiap teriakan berubah menjadi catatan. Setiap kebohongan meminta bukti.

Dan Surya datang membawa bukti.

Mediasi hari itu tidak menghasilkan perdamaian.

Tetapi menghasilkan sesuatu yang lebih penting bagi Surya: proses resmi telah bergerak.

Saat keluar dari gedung pengadilan, Nadia berjalan beberapa langkah di belakangnya. Matahari sore jatuh di tangga, membuat bayangannya memanjang.

"Surya."

Ia berhenti. Namun, tidak berbalik penuh.

Nadia melepas kacamata hitamnya.

Matanya merah. Bukan karena sedih.

Karena benci.

"Kamu akan menyesal," katanya pelan. "Aku bersumpah."

Surya menatapnya sebentar.

"Masuk antrean," jawabnya.

Ia turun tangga tanpa menoleh.

Di belakangnya, kebencian Nadia tidak lagi tersembunyi.

Ia menyala terang, menunggu kesempatan berikutnya untuk membakar apa pun yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!