NovelToon NovelToon
Wanita Malam

Wanita Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”

mas aku bukan orang baik pergih saja:"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Malam: Rumah sakit

Aku bergegas menuju ruangan loket pembayaran dengan langkah terburu-buru, seolah waktu terus berlari meninggalkanku. Di sana antrean memanjang, orang-orang berdesakan dengan urusan masing-masing, suara riuh dan deru napas yang tak sabar memenuhi ruangan sempit itu. Namun bagiku, semuanya terasa samar. Yang ada di kepalaku hanya satu hal: tanda tangan persetujuan operasi transplantasi hati Ibu.

Tangan yang menggigil kian terasa saat pena menyentuh kertas. Setiap goresan tinta itu terasa seperti menggoreskan sesuatu pada dadaku sendiri—campuran antara rasa takut yang mencekam dan harapan yang tak ingin kupadamkan. Setelah semua urusan selesai, aku tak bisa diam. Aku mondar-mandir tak henti di depan pintu ruang operasi. Mata tak lepas menatap lampu merah yang menyala terang, seolah menjadi saksi bisu betapa hancur dan berharapnya hatiku saat ini.

Enam jam. Hanya enam jam waktu yang tercatat di jam dinding, tapi rasanya seperti telah berjalan berabad-abad. Setiap detik terasa berjalan lambat, menahan napas, menahan rasa sakit, dan menahan segala doa yang kupanjatkan dalam hati.

“Bu... Ibu harus kuat. Tolong jangan tinggalkan aku... Aku cuma punya Ibu.”

Tak ada lagi ayah yang pulang membawa cerita. Tak ada saudara yang saling menguatkan. Hanya kami berdua yang saling mengisi kekosongan hidup masing-masing. Ibu adalah rumahku, tempatku pulang, tempatku menangis, dan tempatku merasa utuh. Tanpanya, aku hanyalah bayangan yang tak tahu arah.

Air mata berkumpul di pelupuk mata, tapi aku paksa untuk tak jatuh. Aku harus kuat. Jika aku lemah, siapa yang akan menjadi tempat Ibu bersandar nanti?

Hingga akhirnya... cahaya merah itu perlahan berganti menjadi hijau.

Pintu terbuka perlahan. Dokter Himawan melangkah keluar dengan wajah yang mulai terlihat lega. Tanpa sadar kakiku melangkah cepat menghampirinya.

“Dok... bagaimana keadaan Ibu saya?” suaraku bergetar hebat, hampir tak terdengar meski aku berusaha sekuat tenaga.

Dokter tersenyum tipis, menyentuh bahuku pelan. “Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, Nona Alya. Untung saja kamu segera mengambil keputusan. Tadi sesaat sebelum dimulai, tekanan darah Ibu sempat turun drastis. Kalau tertunda sedikit saja, mungkin kami tak bisa menjamin hasilnya.”

Rasanya seolah seluruh beban dunia yang kubawa selama bertahun-tahun tiba-tiba terlepas dari pundakku. Lututku lemas, napasku terhela panjang, dan air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya tumpah juga.

“Syukurlah... Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawa Ibu saya...”

“Nanti sekitar dua jam lagi Ibu akan dipindahkan ke kamar rawat intensif. Kamu boleh menjenguk sebentar saja, karena kondisinya masih butuh istirahat total.”

“Baik, Dok. Terima kasih...”

Aku berdiri diam di depan kaca ruang pemulihan. Di sana, terbaring sosok wanita yang kucintai lebih dari segalanya. Wajahnya pucat, selang-selang menempel di tubuhnya, tapi napasnya kini teratur.

“Bu, dengar ya... Ibu harus sembuh pelan-pelan. Apa pun akan aku lakukan demi Ibu. Aku janji. Tak akan ada lagi yang menyakiti kita. Tak akan ada lagi kita kesulitan sendirian.”

Meski hati masih penuh kekhawatiran, setitik cahaya harapan mulai menyelinap masuk. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasa bisa bernapas kembali.

 

JANJI DI BALIK KACA

(Bagian 2: Meninggalkan Masa Lalu yang Kelam)

Tak lama kemudian, aku berpamitan pada perawat dan bergegas keluar rumah sakit. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih ada waktu sebelum kelas dimulai pukul dua belas. Aku melangkah keluar dengan perasaan yang masih campur aduk.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiranku melayang pada apa yang baru saja kulewati. Uang sebesar itu... uang yang tak mungkin kuhasilkan dari beasiswa atau uang jajan biasa. Uang itu datang dari sebuah perjanjian yang tak pernah kubayangkan akan kujalani.

Dunia malam. Tempat yang penuh kemewahan semu, senyum yang tak tulus, tatapan yang merendahkan, dan bisikan-bisikan tajam yang menusuk hati. Selama ini aku berpura-pura tegar, berpura-pura tak mendengar, berpura-pura itu hanya sekadar pekerjaan. Padahal setiap malam, saat kembali ke kamar kecilku, aku menangis dalam diam. Merasa kotor, merasa hina, merasa menjual harga diri demi selembar uang yang nyawanya lebih berharga daripada diriku sendiri.

Tapi hari ini... aku berjanji pada diriku sendiri: itu sudah berakhir.

Aku tak akan pernah kembali ke tempat itu. Tak akan pernah lagi membiarkan orang lain menganggapku sekadar benda penghibur. Aku Alya—anak yang berjuang, mahasiswi yang punya mimpi, dan putri yang ingin membahagiakan ibunya dengan cara yang terhormat.

Namun di balik rasa lega itu, ada bayangan gelap yang tak kunjung hilang. Sosok pria dingin yang memegang kendali atas segalanya saat itu. Tuan Kevin Mahendra.

Dia yang datang seolah membawa segalanya, namun sekaligus membawa syarat yang tak bisa kutolak. Dia yang membayarnya, dia yang membebaskanku dari tekanan mami, dia yang memastikan tak ada yang menyentuhku lagi di sana. Tapi semua itu bukan cuma-cuma.

“Segala sesuatu yang kau terima pasti ada timbal baliknya, Alya...” bisik hatiku.

Rasa takut kembali merayap perlahan. Bagaimana jika dia datang menagih janji itu? Bagaimana jika aku harus membayarnya dengan hal yang paling kusayangi selain Ibu—kebebasanku?

Aku menggeleng kuat, mencoba mengusir pikiran itu. Tidak... sekarang aku harus fokus. Kuliahku, masa depanku, dan kesembuhan Ibu. Itulah yang paling penting sekarang.

 

JANJI DI BALIK KACA

(Bagian 3: Raka dan Perasaan yang Tak Terucap)

Jam menunjukkan tepat pukul dua belas saat aku duduk di bangku kelas. Meski pikiran masih sering melayang, aku berusaha sekuat tenaga mengikuti perkuliahan. Hari ini adalah hari Ujian Tengah Semester mata kuliah manajemen. Meski hati sedang berperang, aku tak boleh gagal.

Sore harinya, setelah semua kelas selesai, aku pergi ke taman kampus tempat biasa aku duduk. Di sana teduh, angin berhembus lembut, dan suara pepohonan seolah ikut menenangkan hati yang berisik. Kubuka buku yang belum sempat kubaca, tapi mataku tak bisa fokus pada barisan tulisan.

“Mau coklat nggak, Al?”

Suara itu tiba-tiba terdengar di sampingku. Aku menoleh dan mendapati Raka berdiri sambil memegang sebatang coklat kesukaanku. Wajahnya terlihat cemas saat menatapku.

“Gue liat-liat lu kelihatan pusing banget. Ada apa?” tanyanya pelan.

Aku tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sedang kurasakan. “Enggak ada apa-apa, Ka. Ibu habis operasi, jadi aku cuma kepikiran kondisi dia aja.”

Raka mengangguk paham, namun kerutan di dahinya tak hilang. Ia tahu betul aku tak pernah berterus terang saat sedang kesulitan. Perlahan ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam mengkilap.

“Kalau lu butuh dana buat perawatan atau obat-obatan ibu, pakai aja dulu. Saldo di sini cukup banyak. Gue enggak akan nanya-nanya lagi,” ucapnya tegas namun penuh perhatian.

Aku menatap kartu itu lalu menatap wajah Raka. Hati terasa perih. Selalu saja dia yang ada saat aku jatuh. Selalu saja dia yang menawarkan tangan saat dunia memalingkan wajah dariku.

“Enggak usah, Ka. Udah ada kok, jangan khawatir,” jawabku sambil mengembalikan kartu itu ke tangannya.

“Gak apa-apa, Al. Kalau nanti kurang, jangan sungkan pakai aja dulu.”

“Benar enggak usah, Ka. Kamu udah terlalu banyak bantu aku selama ini. Makasih banget ya...” ucapku dengan suara yang hampir bergetar.

Raka terdiam lama. Matanya menatapku lekat, seolah ada ribuan hal yang ingin ia sampaikan namun tertahan di tenggorokan.

Yang tak kuketahui... di balik tatapan itu tersimpan perasaan yang telah ia jaga selama tiga tahun.

Raka bukan sekadar teman yang baik. Ia adalah putra dari keluarga terpandang, pemilik perusahaan besar yang namanya dikenal luas di kota ini. Kampus tempat kami belajar pun tak lepas dari bantuan dana keluarganya. Namun di hadapanku, ia tak pernah menampakkan keangkuhan itu.

Bahkan beasiswa penuh yang kuterima—yang membuatku bisa melanjutkan kuliah di tempat bergengsi ini—bukan murni hasil ujianku saja. Tanpa sepengetahuanku, Raka lah yang diam-diam meyakinkan yayasan, mengurus segala persyaratan, dan memastikan aku tak terhalang biaya.

Saat keluargaku sendiri menganggapku anak yang sulit diatur, yang tak tahu berterima kasih, yang hanya membebani... Raka justru hadir dan memperlakukanku seperti manusia yang berharga.

Ia tak pernah meminta balasan. Tak pernah mengakuinya. Cukup melihatku tersenyum dan tetap bertahan, baginya itu sudah lebih dari cukup.

Namun hari ini, saat aku menolak bantuannya... ia mengerti ada sesuatu yang sedang kusembunyikan. Ada beban yang lebih berat dari sekadar uang. Ada ketakutan yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun, termasuk padanya.

Raka menatapku lembut, lalu menyelipkan kembali kartu itu ke saku. “Oke... kalau begitu gue percaya sama lu. Tapi ingat satu hal, Al. Selama gue ada di sini, lu enggak sendirian. Kalau dunia luar jahat sama lu, setidaknya gue enggak akan pernah begitu.”

Kalimat itu terasa seperti pelukan hangat di tengah badai yang masih berkecamuk di hatiku. Namun semakin hangat perhatiannya, semakin berat rasa bersalahku. Karena aku tahu... aku tak bisa membalas perasaannya. Saat ini, bahkan masa depanku sendiri belum tentu menjadi milikku.

 

(Bagian akan dilanjutkan: Kedatangan Kevin, Perjanjian yang Harus Dijalani, dan Perjuangan Memilih Antara Hutang dan Hati)

1
Ikhsan Ramadhan
cerita seru semangat
vegaa
bagus
Didi Mulyadii
bagus banget
nurulmarisa: terimakasih dukunganya🤩
total 1 replies
Didi Mulyadii
kenapa alya harus berkorban kaya gitu ya
nurulmarisa: demi uang pak🤣
total 1 replies
putri_raisa
kesel deh sama orang tua kevin mandang status banget😵‍💫
nurulmarisa: bisa lah orang yang beradaa maunya sama satu kasta🥲
total 1 replies
Naura Azizah
apa gak merinding ya si Alya di deketin om om kaya Kevin kalo ganteng mah hayu aja gemes alurnya Manarik KA update dong aku kepo kelanjutannya 😍🤣🤭
nurulmarisa: awal awal takut dia pas di perhatin om om ganteng🤣
total 1 replies
Naura Azizah
kayanya si Raka suka Alya deh segitu capernya bejir🤭🤣
nurulmarisa: cinta bertepuk sebelah tangan dia😵‍💫🤣
total 1 replies
vegaa
suka banget sama perhatian Kevin,tapi Alya bakal suka gak si soal dia udah om om tuh jadi kepo kelanjutannya di tunggu updatenya ya KK seru nih aku ada gemes gemesnya🤣
nurulmarisa: siap Kaka Kaka ku dak sabar nich💪🤭🤣
total 3 replies
Andira
jadi makin seru ni ceritanya lanjut kk semnggtt🤭
nurulmarisa: terimakasih KK aku makin semangat KK♥️🫶
total 1 replies
Andira
aku kalo jadi Alya baper parah seperhatian itu kevin
Andira: semua cowo gitu love bombing hehe🤣
total 2 replies
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak ceritanya Bagus banget aku suka alur yang terakhir lanjut kak bagaimana nih makin seru kak bisa komen ya kita semangat ya semangat yah kak bikin karyanya oh iya pak aku punya 3 novel kalau kakak suka mampir-mampir ya kak terima kasih
Feni sang penulis novel: terima kasih ya kak semoga kakak suka ya dengan karya aku ada tiga karya aku tolong baca semuanya ya kak semoga kakak suka dan tolong berikan bintang 5 dan tolong berikan komentar untuk ketiga novel aku kak terima kasih
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
semangat buat author 💛💛
nurulmarisa: makasih komen kk ,kk juga semangat ya 🙏💪
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
sampai segitunya banget yah🤭
nurulmarisa: sebener ke paksa aja kerja begitu karna nominal gede maklum dunia malam🥲🫠
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
lagian cowoknya gragas banget sih/Smug/
nurulmarisa: kaya itu efek mabuk itu sepeleng🤣
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
kenapa Alya melakukan itu?
nurulmarisa: lagi enak enak kerja,malah di godain om om kk, mana ganteng lgi🤣👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!