Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26 Cetak gol
Axel melepas pelukannya dari Vania, lalu menarik tangan kedua orang tuanya itu masuk ke dalam rumah.
"Ma, Pa, Axel punya cerita lagi!" serunya sambil meletakkan tas di sofa.
Vania dan Gio saling pandang, kemudian tersenyum. Rutinitas sore mereka memang selalu sama, mendengar celotehan Axel tentang harinya.
"Guru bilang Axel cocok jadi pemimpin, Ma. Soalnya Axel nggak pilih-pilih teman," ucap Axel sambil menyeruput susu cokelat buatan Vania.
Gio duduk di samping anaknya, menyandarkan punggung. "Terus kata Axel apa?"
"Axel bilang ke Bu Guru, 'Axel belajar dari Papa. Papa itu pemimpin, tapi Papa paling sayang sama Mama dan Axel'."
Kalimat polos itu membuat dada Gio sesak. Vania menahan senyum, matanya berkaca. Tujuh tahun, dan luka lama itu benar-benar sudah jadi pelajaran.
Malamnya, setelah Axel terlelap, Gio menarik Vania ke balkon kamar. Angin malam berembus pelan.
"Van," Gio menggenggam tangan istrinya. "Kamu ingat janjiku tujuh tahun lalu? Perusahaan ini untuk masa depan Axel."
Vania mengangguk. "Aku ingat."
"Akta perusahaannya sudah atas nama Axel. Tinggal kita bimbing dia sampai dewasa." Gio menatap mata Vania lekat. "Tapi ada satu hal yang belum berubah sampai sekarang."
"Apa?"
"Kamu tetap satu-satunya wanita yang ku kejar mati-matian. Dulu, sekarang, sampai nanti."
Vania tertawa kecil, menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Gio. "Gombal kamu nggak berubah, Gio Abraham."
"Bukan gombal. Itu doa," balas Gio, mengecup puncak kepala Vania. "Doa supaya Tuhan jaga kamu dan Axel, sampai napas terakhirku."
Dari kamar, terdengar suara Axel mengigau pelan, "Papa... Mama..."
Dua pasang mata itu langsung menoleh ke arah pintu, lalu kembali bertatapan. Tidak perlu kata-kata. Mereka tahu, rumah ini sudah utuh.
Badai memang pernah datang. Tapi setelahnya, Tuhan mengirim pelangi yang bernama Axel. Dan Gio bersumpah, dia akan menjadi penjaga pelangi itu seumur hidupnya.
"Em, bagaimana kalau kita buatkan adik untuk Axel? Dia sudah sekolah, dan pasti senang jika punya adik." Gio menggendong Vania ala bridal style, meskipun wanita itu menolak, Gio tetap membawanya masuk ke dalam kamar.
Vania memukul pelan dada Gio, wajahnya sudah semerah tomat.
“Gio! Turunin. Axel bisa dengar,” bisiknya panik, tapi senyumnya tidak bisa bohong.
Gio menendang pintu kamar hingga tertutup, lalu dengan hati-hati menurunkan Vania di atas ranjang. Ditahannya kedua sisi tubuh istrinya sambil menatap lekat.
“Axel udah tidur dari tadi, Sayang. Dan kamar dia di ujung. Kedap suara,” godanya, senyum miring khas Gio yang dulu sempat membuat Vania kesal, kini justru membuat jantungnya berdebar kencang.
“Jadi gimana? Kamu setuju kalau kita membuatkan adik untuk Axel? ” Gio mendekatkan wajahnya, hidungnya menggesek hidung Vania. Napasnya terasa hangat.
Vania menggigit bibir bawahnya, salah tingkah. “Kamu ini... kalau ngomongin anak lagi, semangatnya ngalahin pas rapat tender miliaran.”
“Ya jelas,” Gio terkekeh pelan. “Tender miliaran itu buat masa depan perusahaan. Kalau 'proyek' ini,” dia mencubit hidung Vania gemas, “buat masa depan keluarga kita. Lebih penting.”
Vania akhirnya menyerah, mengalungkan tangannya di leher Gio. “Terus kalau anaknya perempuan, kamu mau ngajarin dia apa? Nggak mungkin kan ngajarin bisnis mulu kayak Axel.”
Gio mengernyit, pura-pura berpikir serius. “Kalau perempuan... Papa bakal jadi satpam pertama dia. Nggak ada lelaki yang boleh nyakitin anak Papa. Papa yang bakal ajarin dia kalau dia itu berharga, nggak boleh dipermainkan. Persis kayak Mama.”
Jawaban itu sukses membuat pertahanan Vania runtuh. Matanya panas. Tujuh tahun lalu, lelaki ini hampir menghancurkan hatinya. Hari ini, lelaki yang sama berjanji akan menjaga hati putrinya, bahkan sebelum putrinya ada di dunia.
Di luar, hujan rintik mulai turun. Di dalam kamar, dua hati yang pernah retak kini berdetak dalam irama yang sama, merencanakan masa depan baru.
“Jadi...” Gio menaikkan alisnya jail, “jawabannya iya?”
Vania menjawabnya bukan dengan kata-kata. Digenggamnya wajah Gio, ditariknya mendekat sampai sisa jarak di antara mereka hilang.
"Gio..." Vania setengah berbisik, setengah protes. Pipi dan lehernya sudah merona sempurna. "Axel —"
"Dia gak akan bangun, Sayang. Axel sudah kelas 1 SD, dia sudah besar. Dia pernah bilang ke aku, 'Kapan Axel punya adik, Pa? Biar Axel bisa jaga seperti Papa menjaga Mama.'' suara Gio melunak. "Kamu tega menolak permintaan jagoan kita?"
Vania mendengus, mencubit pinggang Gio pelan. "Kamu bawa-bawa Axel biar aku gak bisa nolak, ya?" ucapan itu sukses membuat Gio terkekeh pelan. Dengan tidak sabaran dia langsung menyambar bibir mungil milik Vania.
........
BERSAMBUNG
ADUDU... OTHOR DEG DEGAN NIH, KIRA KIRA ADIK AXEL BAKALAN JADI GAK YAHH??? ☺️