Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuntut penjelasan
Setelah balapan itu berakhir, suasana lintasan masih dipenuhi sorakan para penonton.
Namun tiba-tiba sebuah mobil minibus hitam perlahan memasuki area sirkuit.
Lampu mobil itu menyapu kerumunan para pembalap yang masih berdiri di sekitar lintasan.
Beberapa anggota Black Mamba langsung menoleh bersamaan.
Mobil itu berhenti tidak jauh dari tempat Ara dan Derren berada.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria muda turun dari dalam mobil.
Tubuhnya tinggi tegap. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, sementara aura dingin dan berwibawa langsung terasa begitu dia melangkah mendekat.
Suasana yang tadi ramai mendadak menjadi lebih hening.
Beberapa anggota Black Mamba bahkan langsung menundukkan kepala.
“Ketua.” bisik salah satu dari mereka.
Ara yang melihat pria itu langsung terdiam.Matanya membelalak lebar seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Mian,” ucap Ara tanpa sadar.
Jantungnya berdetak keras.
Dia benar-benar tidak menyangka orang itu akan muncul di tempat seperti ini.
Di sisi lain, Damian menghentikan langkahnya beberapa meter dari Ara.Tatapannya langsung tertuju pada gadis itu.Senyum tipis muncul di bibirnya.
Tatapan yang lembut sama seperti tatapannya kepada Alea selama ini.Namun bagi Ara, pemandangan itu justru membuat pikirannya semakin kacau.
Apa-apaan ini? batin Ara.
Kenapa Damian ada di sini?
Dan… kenapa mereka memanggilnya ketua?
Ara berdiri kaku di tempatnya.
Matanya terus menatap wajah pria itu seolah sedang memastikan sesuatu.
Gue nggak mimpi kan? batin Alea di dalam dirinya.
"Itu Damian sahabat gue."
Sementara itu Damian mengalihkan pandangannya ke arah semua orang yang berada di lintasan.
Tatapannya berubah serius.
“Ada apa ini?” tanyanya dengan suara tenang namun tegas.
Lalu matanya kembali berhenti pada Ara.
“Kenapa tadi saya melihat Arabella hampir jatuh ke jurang?”
Suasana lintasan mendadak menjadi semakin tegang.
Beberapa orang langsung saling pandang.Sementara Ara masih berdiri membeku di tempatnya.
Pikirannya benar-benar kacau.
Karena sekarang hanya ada satu pertanyaan besar di kepalanya.
Apakah Damian benar-benar ketua Black Mamba?
" Tidak ketua, itu hanyalah kecelakaan kecil antara Queen dan Derren," jawab salah satu anggota Black Mamba yang kebetulan berada di pihak Derren.
" Kecelakaan kecil," ulang Damian pelan.
Dia lalu menoleh menatap ke arah Ara. Tatapannya tajam namun penuh rasa penasaran.
" Apa benar itu Queen?" tanya Damian sembari menaikan sebelah alisnya, menatap Ara tanpa berkedip.
Sedangkan Ara tampak linglung saat ditatap seperti itu. Dia hanya berdiri diam, seolah belum sepenuhnya memahami situasi yang sedang terjadi.
" Bentar," kata Ara sembari mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang menunggu.
Tatapannya menyapu wajah orang-orang di sekitarnya.
" Kenapa kalian semua memanggil dia Ketua?" tanya Ara sembari menunjuk ke arah Damian, lalu menatap ke arah anggota Black Mamba satu per satu.
Beberapa dari mereka saling berpandangan, tampak bingung dengan pertanyaan itu.
" Loh, Queen. Dia itu kan sahabat terbaik kamu. Bahkan lo sudah nganggap dia sebagai kakak lo sendiri," kata Febby kepada Ara sembari menatapnya dengan bingung.
Ara menganggukkan kepala dengan pelan, meskipun ekspresi wajahnya masih penuh tanda tanya.
" Lalu kenapa kalian memanggilnya ketua?" tanya Ara lagi, suaranya terdengar lebih pelan namun penuh kebingungan.
" Itu semua perintah dari lo, Queen," jawab Rafaell tanpa ragu.
Ara langsung menoleh menatap Rafaell dengan dalam, seolah ingin memastikan apakah yang didengarnya barusan benar atau tidak.
" Gue?" tunjuk Ara kepada dirinya sendiri, jelas tidak percaya.
" Kenapa kamu sudah lupa sama saya, Queen?" tanya Damian sembari menaikan sebelah alisnya lagi.
Nada suaranya terdengar santai, tapi sorot matanya tidak lepas dari wajah Ara.
Damian tahu pasti Ara terkejut dengan keadaan seperti ini. Namun memang begitulah kenyataannya.
Ara menggelengkan kepala dengan kuat. Tangannya terangkat memijit pelipisnya dengan kasar, seolah kepalanya tiba-tiba terasa berat.
" Astaga, kenapa harus Damian lagi," gumam Ara tanpa sadar.
Baik di kehidupannya sebagai Alea ataupun sebagai Ara, kenapa dunianya selalu saja berputar di sekitar Damian—sahabatnya sendiri.Seolah takdir terus mempertemukan mereka dalam cara yang tidak pernah dia duga.
" Ada apa denganku, Queen?" tanya Damian lagi, kali ini suaranya sedikit lebih pelan, namun penuh rasa ingin tahu.
Tatapannya masih tertuju pada Ara, mencoba membaca sesuatu dari wajah gadis itu.
" Tidak ada apa-apa," jawab Ara pada akhirnya.
Damian menatap Arabella sejenak, mencoba membaca sesuatu dari wajah gadis itu. Namun Ara tetap terlihat biasa saja, seolah memang tidak terjadi apa-apa.
Akhirnya Damian hanya menganggukkan kepala pelan.
" Alea lo selalu saja seperti ini dari dulu. Dasar keras kepala," gumam Damian dalam hati.
Damian tidak melanjutkan percakapan mereka. Dia memilih kembali fokus pada topik utama yang sejak tadi membuat dadanya terasa panas.
Tatapannya berubah tajam.
" Jadi kenapa Ara bisa hampir jatuh ke jurang tadi?" tanya Damian dengan suara dingin.
Dia menyapu semua orang dengan tatapan tajamnya.
" Kalian tahu bagaimana kalau Ara benar-benar jatuh, hah?" lanjutnya.
Tidak ada yang menjawab.
" Dia bisa mati," kata Damian dengan suara yang semakin berat.
Lalu dia menekankan kata terakhir dengan jelas.
" Mati."
Tatapannya kini berhenti tepat pada satu orang.
Semua anggota Black Mamba langsung menundukkan wajah mereka. Tidak ada yang berani menyela ucapan Damian.
Bahkan untuk menjawab pertanyaan itu saja, tidak ada satu pun yang cukup berani membuka mulut.
Suasana di tempat itu langsung berubah sunyi.Hanya suara angin malam yang terdengar pelan, sementara tatapan Damian masih menusuk tajam ke arah Derren.
" Jawab, sialan! Kenapa diam?" bentak Damian kepada semua orang.
Suara bentakannya menggema di tengah jalan gunung yang gelap. Membuat beberapa anggota Black Mamba refleks menegang.
Tidak ada yang berani menatap Damian secara langsung.
Sampai akhirnya Rafaell menarik napas pelan.
" Ketua sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah Queen," kata Rafaell akhirnya.
Damian langsung menoleh tajam ke arahnya.
" Maksud lo?"
Rafaell menelan ludah sebelum melanjutkan.
" Tadi awalnya cuma balapan biasa antara Queen sama Derren," jelasnya pelan.
" Tapi di tikungan terakhir tiba-tiba ada orang yang tergeletak di tengah jalan."
Beberapa anggota Black Mamba langsung menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Rafaell.
" Queen sebenarnya bisa saja tetap lurus dan menang," lanjut Rafaell.
" Tapi kalau dia lakukan itu, orang itu pasti ketabrak."
Damian sedikit menyipitkan matanya.
Rafaell menarik napas lagi sebelum melanjutkan.
" Jadi Queen sengaja membelokkan motornya tajam buat menghindari orang itu."
" Makanya motornya hampir jatuh ke jurang."
Suasana kembali hening.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Damian masih berdiri di tempatnya, rahangnya mengeras mendengar penjelasan itu.
Tatapannya perlahan beralih ke arah Ara.
" Lo masih sama seperti dulu, Alea," gumamnya pelan.
Selalu nekat menolong orang lain.
Bahkan kalau itu harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Deg
"Mian..."
kenapa ya mereka bisa begitu sama Ara??
lanjut baca 😍😍😍