Rindu di kala kita mencintai seseorang akan terasa indah jika berbalas, namun jika rindu di kala mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain Bagaikan pungguk merindukan bulan
kisah wanita yang ingin balas dendam pada ibu dan saudara tirinya yang telah membuat hidupnya menderita
suatu hari wanita itu bertemu dengan mantan kekasinya yang ternyata menjadi suami saudari tirinya
akankan dia mendapatkan jalan untuk balas dendamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Tetua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Jati dan Rindu sudah siap untuk pergi, memakai jaket dan celana tebal karna disana pasti dingin, Rindu memakai kupluk yang menutup telinganya
tak banyak barang di bawa, hanya satu tas ransel kecil yang Rindu bawa karna tak mau Ribet, itupun hanya untuk menaruh dompet HP dan daleman Rindu saja, tak membawa baju ganti begitu juga Jati
sekitar 2 jam mereka sampai ditempat glamping, turun dari mobil Jati menenteng kresek berisi camilan yang di beli dalam perjalanan tadi
mereka langsung menuju tenda yang sudah di pesan sebelumnya
terlihat banyak pengunjung disana yang sedang menikmati pemandangan malam, udaranya sejuk belum begitu dingin
"nyaman" Rindu meletakan tas ranselnya di atas kasur kemudian melihat sekeliling kamar, fasilitasnya lengkap, ada TV, AC, Kasur dan sofa, hanya saja kamar mandinya yang terpisah
terdapat kursi dan meja kecil di depan tenda, Rindu duduk untuk menikmati langit malam, mengedarkan pandanganya ke kanan dan kekiri, beberapa orang mengobrol di depan tenda masing masing, ada juga yang sedang duduk di depan api unggun kecil
pandanganya terhenti pada sosok lelaki yang sedang duduk sambil memejamkan matanya, sosok yang begitu Rindu kenal
"pak Kala?" Rindu bangun dari duduknya, mendekati pria itu untuk memastikanya
Rindu berdiri tepat di depanya, benar saja dia itu Kala sang mantan
"pak Kala..." panggil Rindu dengan suara keras, tanganya sudah berada di pinggang wajahnya sudah kesal
Kala yang mendengarnya sangat Kaget, matanya pun melotot tak percaya siapa yang ada di depanya, setelahnya memejamkan matanya lagi
"bapak ngikutin saya yah?"
"nggak"
"kok bisa tiba tiba ketemu disini?"
"mana saya tau" Kala menjawab masih memejamkan matanya, menikmati sentuhan angin malam
"boong, pasti ngikutin"
"saya nggak bohong yah, lagian mana saya tau kamu mau kesini" Kala memang tak bohong, Kala memang sudah berada disana sejak sore untuk menikmati terbenamnya matahari, Kala kesana untuk menghindari Cinta, karna terlalu malas untuk bersamanya, sedangkan Rindu selalu bersama Jati
untuk menenangkan pikiranya yang pasti
Jati masuk ke tendanya sendiri setelah mengantar Rindu, setelah menaruh barangnya Jati keluar untuk menemui Rindu,Jati menghampiri Rindu yang terlihat sedang bicara dengan seorang laki laki
"pak Kala juga disini?" tanya Jati tak ada yang menjawab
Mau tak mau ketenangan Kala terusik, kesal sudah pasti, niat hati ingin mendapatkan ketenangan, malah bertemu dengan sumber yang membuatnya kesal. kedekatan Jati dan Rindu yang membuat Kala kesal
"Huuuhhh" Kala menghembuskan nafasnya kasar
"iyah, sudah dari sore saya disini" Rindu pun terdiam, malu dia pikir Kala sengaja mengikutinya
"oh" jawab Jati singkat
"mumpung kamu disini aku mau melanjutkan obrolan kita tadi siang" Kala melirik Jati mengisyaratkan agar di beri waktu berdua sama Rindu
Rindu melirik Jati sekilas
"nggak papa, Jati udah tau semuanya" Kala mengangguk
Jati dan Rindu pun duduk di lantai kayu, begitu pun Kala yang turun dari kursinya merasa tak enak duduk di atas sendirian sedang yang lain di bawah
"aku minta maaf karna sudah salah membencimu" ucap Kala serius meminta pada Rindu, sungguh sangat tulus, ia sangat menyesalinya
"sudah lah pak kita lupakan saja" ucap Rindu tak kalah serius
"tapi aku masih penasaran kenapa Ari mau membantu Cinta, apa dia suka sama kamu" tanya Kala pada Rindu
"udah lah pak kita nggak usah bahas itu dulu mending kita seneng seneng disini, iya nggak Jat?" ucap Rindu yang di angguki oleh Jati
"gimana kalo kita bikin sosis bakar?" Jati memberi saran, kedua temanya setuju
"ok kalo gitu aku ambil bahanya dulu, pak Kala tolong siapin pangganganya" Jati bergegas ke dalam tenda mengambil belanjaan yang tadi dibawanya, tinggal Rindu dan Kala
keduanya duduk bersebelahan memandang langit yang sama
"apa sikap bapak selalu seperti itu sama Cinta?" tanya Rindu, beberapa kali Rindu melihat sikap singin Kala pada Cinta
"memang sikapku seperti apa?"
"iya itu dingin, tak ada cinta di matamu" ucap Rindu sedikit memonyongkan bibirnya
"kamu kan tau dari dulu memang aku seperti itu pada wanita, kecuali kamu" Kala mengucapkan kata "kamu" penuh penekanan
"ishh..." Rindu berdecih
"dia sudah jadi istrimu, Bapak harus bersikap baik padanya"
"aku tidak mencintainya" ucap Kala serius menatap Rindu, Rindu melihat keseriusan dimata Kala