NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

"Iya, kamu," kata Paman Aji sambil tersenyum.

Tara terdiam beberapa saat. Di kepalanya justru bukan wajah calon suami yang muncul, melainkan bayangan biaya hidupnya dan keluarganya. Lalu, entah mengapa, bayangan lain ikut muncul. Seorang tentara berseragam loreng. Jadi... kalau nikah sama tentara... berarti aku bakal jadi ibu Persit? Tara tahu itu dari teman-teman satu angkatannya yang sering membahas tentang dan polisi. Mereka memang menjadi korban 'halo dek', berharap menjadi ibu Persit atau ibu Bhayangkara.

Mata Tara langsung berbinar. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengangkat tangan kecilnya sambil tersenyum lebar. "Aku?"

Semua orang menatapnya.

"Jadi calon ibu Persit?" Tara mengangguk semangat sebelum berkata mantap, "Oke! Siap terima, Nek!"

Seisi ruang tamu langsung membelalak kaget. Beberapa detik yang lalu Tara masih mengantuk dan ingin kabur ke kamar. Sekarang... Dialah orang yang paling cepat menerima perjodohan itu.

Meski usul mengalihkan perjodohan kepada Tara mulai diterima semua orang, Nenek Bani justru belum terlihat lega. Beliau menatap Tara cukup lama. Ada satu hal yang masih mengganjal di hati. "Sebenarnya Nenek berat."

Semua orang kembali memandang beliau.

"Sarif itu usianya sudah dua puluh delapan tahun. Sedangkan kamu baru sembilan belas tahun. Baru setahun lulus SMA, sekarang juga baru mengajar les bahasa Inggris." Nenek Bani khawatir perbedaan usia sembilan tahun itu akan menjadi masalah. Menurutnya, Tara masih terlalu muda untuk menjadi istri seorang pria yang sudah matang dan mapan.

Namun, Tara justru tersenyum lebar. Baginya, persoalan itu sama sekali bukan masalah. "Umur hanyalah angka, Nek."

Semua orang menoleh ke arahnya.

Tara mengangkat kedua bahunya santai, seolah yang sedang dibahas bukan masa depannya sendiri. "Yang penting orangnya baik, bertanggung jawab, dan nggak nyusahin. Soal umur, aku nggak pernah mempermasalahkan." Ia bahkan mengangguk mantap sambil tersenyum jahil. "Aku siap lahir batin kok."

Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak hening. Lalu... "Uhuk... uhuk..." Pamannya tersedak minuman. Diam-diam ada perasaan tidak nyaman, keponakannya masih terlalu muda, apa benar sudah siap berumah tangga? Tapi kalau bukan Tara, berarti putrinya, Ratna. Jelas itu tak mungkin sebab sejak awal putrinya sudah menolak.

Kedua adik Tara spontan menutup wajah karena malu. Nina langsung memijat pelipis. Sementara Nenek Bani hanya bisa menghela napas panjang. Dasar cucu satu ini. Kalau bicara memang selalu di luar dugaan. Padahal yang dimaksud "siap lahir batin" oleh Tara hanyalah siap menjalani pernikahan, tetapi cara mengucapkannya sukses membuat seluruh keluarga salah tingkah.

Semua orang mengira Tara menerima perjodohan itu karena terlalu polos atau sekadar asal mengiyakan. Padahal, Tara memiliki alasan yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun. Ia tahu, jika tidak menikah, besar kemungkinan beberapa bulan lagi ia akan dikirim ke luar kota untuk kuliah. Bukan karena ibunya ingin menjauhkannya, tetapi karena jurusan yang diinginkannya tidak tersedia di kota mereka. Tara tidak mau itu terjadi.

Sejak ayahnya meninggal dunia, ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari Nina bekerja keras menerima pesanan katering, sementara Tara hanya bisa membantu sebisanya.

Tara tidak tega jika ibunya masih harus memikirkan biaya kuliah, biaya kos, uang makan, dan kebutuhan hidupnya di kota lain. Apalagi ia masih memiliki dua adik laki-laki, Taufan dan Akmal. Dalam pandangan Tara, masa depan kedua adiknya jauh lebih layak diperjuangkan. Ia rela mengalah jika itu bisa membuat ibunya sedikit lebih ringan menjalani hidup.

Baginya, mimpi bisa ditunda. Atau ditiadakan seperti tekadnya saat menerima kelulusan, tidak akan lanjut kuliah. Tetapi melihat ibunya kelelahan setiap hari adalah sesuatu yang tidak sanggup ia abaikan.

Karena itulah, saat perjodohan dengan Sarif ditawarkan, Tara justru melihatnya sebagai jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mungkin bagi orang lain itu adalah sebuah keterpaksaan. Namun bagi Tara, itu adalah cara agar ibunya tidak lagi memikul beban seorang diri. Ia percaya, selama calon suaminya adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, ia mampu belajar mencintai setelah menikah. Baginya, jodoh memang bisa datang dengan cara yang tak terduga.

Tara sangat mengenal ibunya. Kalau ia terang-terangan mengatakan tidak ingin kuliah, Nina pasti tidak akan pernah mengizinkannya. Bukan karena ibunya keras kepala. Justru sebaliknya. Nina adalah tipe orang tua yang rela berkorban apa pun demi masa depan anak-anaknya. Ia tidak akan pernah tega membunuh mimpi putrinya hanya karena keadaan ekonomi. Kalaupun harus berutang atau bekerja lebih keras, Nina pasti akan melakukannya agar Tara tetap bisa kuliah.

Itulah yang membuat Tara semakin tidak tega. Belum lagi Nenek Bani yang sejak lama selalu mendesak Nina agar Tara melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurut beliau, cucu-cucunya harus berpendidikan tinggi demi menjaga nama baik dan gengsi keluarga besar Bani.

Karena itu, Tara sengaja tidak pernah mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin menunda, bahkan mungkin mengurungkan niat kuliah jika keadaan keluarga belum memungkinkan. Ia hanya beralasan ingin "libur" setahun setelah belajar selama dua belas tahun tanpa jeda.

Semua orang menganggap alasannya lucu. Bahkan sepupunya melabelinya sebagai pemalas. Padahal, di balik senyum dan candanya, Tara sedang berusaha melindungi ibunya dari beban yang tidak pernah ingin ia tambahkan. Ia lebih memilih memendam keinginannya sendiri daripada melihat sang ibu memaksakan diri demi mewujudkan mimpinya.

Suasana yang sempat kembali tenang itu rupanya tidak bertahan lama. Ratna kembali merasa gatal untuk berkomentar. Ia mendecak pelan, lalu menyilangkan kedua tangan di dada. "Yakin banget mau nerima? Jangan asal semangat dulu. Jadi istri tentara itu nggak semudah yang kamu bayangkan, Tara." Nada suaranya terdengar seperti sedang mengingatkan, tetapi senyum tipis di sudut bibirnya membuat semua orang tahu kalau ucapan itu juga mengandung sindiran.

Tara hanya melirik sekilas, lalu mengembuskan napas pelan. Ia sudah menduga, kakak sepupunya itu pasti belum selesai berkomentar. "Sesulit apa pun, aku akan hadapi." Tara menjawab santai sambil mengangkat bahu. Wajahnya justru terlihat antusias, seolah yang sedang dibahas bukan pernikahan, melainkan liburan.

Ratna mendengus pelan. "Dasar genit. Masih muda, yang dipikirin malah nikah. Bukannya fokus kuliah."

Belum sempat Tara membalas, sebuah suara polos terdengar dari ujung sofa. "Ya udah..." Semua menoleh. Akmal, si bungsu keluarga Tara, mengangkat tangan dengan wajah tanpa dosa. "Biar Kak Tara nggak jadi genit, Kak Ratna aja yang dijodohkan."

Seisi ruangan langsung terdiam. Lalu....paman Aji tak kuasa menahan tawa, sampai menepuk-nepuk paha sambil terkekeh. "Mulutmu itu lho, Mal!"

Wajah Ratna seketika menghitam.

Sementara Akmal hanya mengedikkan bahu, merasa ucapannya sangat masuk akal. Baginya, masalah itu sederhana. Yang satu menolak. Yang satu menerima. Jadi, kenapa masih diperdebatkan?

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!