Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 25
Degh!
Tubuh Kano mengerjap, terkesiap dengan suara yang tiba-tiba saja menegur dirinya yang tengah dalam jeratan rasa heran yang menumpat. Lantas lelaki itu berputar ke arah suara itu berasal dan mendapati sosok enam makhluk yang memiliki ekor dan juga sayap yang pernah dia baca di artikel online.
Bola mata lelaki itu membulat. "K-k-kau ... Pe-ri duyung?" seru Kano tak percaya jika makhluk yang tidak dia percaya benar-benar ada.
"Iya. Kami adalah peri duyung, penjaga istana dewa lautan semesta ini," sahut pimpinan sang peri duyung.
Ke-enam makhluk berekor dan bersayap itu mengibaskan ekornya berenang ke dekat Kano yang berdiri dengan kakinya sendiri dan bernapas layaknya di daratan. "Selamat datang kembali ke rumahmu yang sesungguhnya," ucapnya membuat Kano gamam.
"Hah?! Kau jangan asal bicara, aku bukan bangsamu, aku manusia biasa dan aku dilahirkan dari rahim pasangan manusia," tepis Kano dengan tatapan tajam, lelaki itu tidak terima dirinya disebut sebagai bagian dari makhluk berekor dan bersayap.
Para peri duyung tidak menjawabnya, mereka mengurai senyuman tipis-tipis sebagai tanggapan dari penolakan kasar yang dilakukan oleh Kano.
"Kamu tidak mengetahui apapun, Dewa Baruna membiarkan kau hidup dalam rahimnya dan keluar dari rahim wanita itu tidak untuk menjadi manusia," terang sang pimpinan peri duyung membuat Kano semakin mengeras.
"Diam!" bentak Kano tatapannya mengeras, kelopak matanya memerah karena kemarahannya semakin meluap. "Hentikan omong kosong kalian, sangat memuakkan!" sambung Kano dengan nada suara yang masih meninggi seraya menunjuk-nunjuk ke-enam makhluk mitologi di depannya dengan kasar.
"Kau tidak boleh mewarisi sifat keburukan dari kedua orangtua sementara mu, mereka adalah orang-orang yang berjiwa kelam dan berhati durjana. Mereka bukan orangtua yang sesungguhnya, karena ayahmu itu adalah keturunan pembantai bangsa Amora yang dikutuk tidak akan memiliki keturunan jika menikahi bukan manusia," terang panjang dari pimpinan peri duyung itu.
"Stop!" pekik Kano dengan nada suara yang lebih tinggi lagi, laut Lanzeiruz bergetar kala pekikan Kano mengangkasa seraya merentangkan kedua tangannya dan seketika para peri duyung terseret oleh angin kecil yang keluar dari tangan Kano.
"Mari ikut kami ke istana dan kamu akan mengerti siapa kamu, siapa kedua orangtua kamu dan apa hubungannya dirimu dengan semua hal ini," ajak pimpinan peri duyung itu yak tidak jera menghadapi keras hatinya Kano.
"Aku ingin pulang, tempat yang memuakkan ini tidak berguna untukku," tolak kasar dari Kano.
"Tidak bisa! Dewa Baruna telah memerintah untuk membawamu malam ini dan kamu tidak bisa mengelak."
Wanita cantik bersayap dan berekor biru itu mengudarakan siluetnya dan membungkam tubuh Kano dan menjerat lelaki itu sehingga bola mata Kano melebar dan tubuh kekarnya tidak mampu menepis semua siluet biru yang tengah menjeratnya.
"Sialan!" hardik Kano menggegar tubuhnya berusaha keluar dari jeratan siluet biru itu. "Lepaskan! Atau aku bunuh kalian semua ...!" gertak Kano dengan nada suara yang memuncak.
Ke-enam peri duyung itu menyeret paksa Kano menuju istana besar yang terletak dibagian barat laut Lanzeiruz, dengan kecepatan layaknya semburat cahaya yang melesat begitu saja di antara celah-celah ruang sempit.
Sementara di bagian lain dari daratan, tepat pada pukul 23.00 waktu kota Sirevina. Ellena dan Kalea baru keluar dari tempatnya bekerja, terlihat gadis cantik pemilik bola mata merah muda yang selalu bersinar itu merentangkan kedua tangannya ke udara seraya matanya terpejam dan menekuk lehernya ke arah kanan dan kirinya.
"Ah ... Pegel-pegel banget perasaan ya Kal," urainya setelah dia menjatuhkan kedua tangannya lagi terjuntai bebas.
"Iya bener Len, hari ini pelanggan banyak banget, gak kayak biasanya, kenapa ya?" sahut Kalea menautkan jari-jemarinya lalu dia tarik ke depan.
"Gak tahu juga."
"Eh tapi Len ...," seru Kalea kemudian membuat Ellena menoleh dan memasati wajah sang sahabat dengan serius.
"Kenapa?" Tatapan polos Ellena terurai begitu saja di hadapan Kalea.
"Aku tadi kayak lihat Kano deh, itu lo pimpinan Atlantis Aodra, kenapa dia ada di sini ya?" ucap Kalea mengirap rasa heran yang sedari tadi menumpuk di dalam pikirannya.
Degh!
Mendengar nama Kano terburai dari mulut sahabatnya sendiri, Ellena lantas membuntang. Angannya menarik perhatian Ellena kembali pada ingatan yang terjadi beberapa jam lalu saat Kano mendatanginya di toilet khusus karyawan.
"Ka-kamu ingat dia?" tanya Ellena memancing ingatan Kalea yang kerap kali menghilang bahkan ada pula yang lenyap.
"Ya ingatlah Len ... Geng motor Atlantis Aodra itu terkenal banget di seluruh tanah Lescanara, mereka itu yang sering menaklukkan tantangan balapan di kalangan mana pun," terang Kalea dengan ingatan lama yang masih menempel.
"Selain itu ... Kamu tidak ingat lagi tentang mereka?" timpal Ellena masih belum percaya jika ingatan Kalea benar-benar lenyap.
"Apa?" Kalea terhenyak dengan pertanyaan Ellena, gadis itu sama sekali tidak menangkap maksud dari pertanyaan sahabatnya itu. "Emangnya ada hal lain dari mereka?" tanya Kalea kemudian.
Ellena mengurai helaan napasnya terburai panjang. Tatapan tak percayanya masih menjadi pilar tertinggi dalam diri gadis itu.
Kalea benar-benar lupa dengan kejadian-kejadian yang menunjukkan jika geng motor itu sangatlah kejam. Mereka pembunuh dan juga perampas harta orang lain tanpa takut terciduk oleh hukum, seolah-olah negara ini adalah kerajaan otoriter.
Menjelang paras Ellena yang teringa-inga, Kalea lantas mendebik lengan Ellena dengan lembut. "Kenapa Len ... Kayaknya lagi ada yang dipikirkan?" tanya Kalea penasaran dengan apa yang telah menguasai perhatian gadis berparas cantik itu.
"Enggak papa, udah yuk ah kita pulang, ini udah malam banget." Ellena mencoba menepis kecanggungan atas pertanyaan Kalea.
Gadis bertubuh ramping bak seorang model profersional itu menyeret Kalea menjauh dari area tempat mereka bekerja. Dengan langkah gontai kedua gadis cantik itu menyusuri jalanan panjang. mereka bergerak ke arah barat dimana letak kediaman keduanya.
Sampai tiba di rumah mereka masing-masing yang hanya tersekat tiga sampai empat rumah bergaya sederhana dengan arsitektur biasa saja. Kedua gadis itu masuk ke dalam rumahnya masing-masing.
Ellena tak lekas membersihkan dirinya, dia melempar tubuhnya ke atas ranjang yang hanya menampung satu orang saja. Gadis itu membuka akun media sosialnya, dia mulai berselancar di media sosial. Rasanya sudah sangat lama gadis berambut panjang bergelombang itu tak melakukan aktifitas malas-malasannya karena pekerjaannya yang selalu berhasil menyita seluruh waktunya.
Netra bening nan indah milik gadis itu menyeringai karena kerap kali menemukan hal-hal lucu di sana, sampai akhirnya ada sebuah postingan yang entah siapa kreatornya yang membuat Ellena terbangun dari posisi telentangnya.
"Amora? Bangsa Amora?" ucapnya bertanya-tanya pada dinding-dinding kosong yang saling membisu. "Kayak pernah denger atau pernah baca ya tentang bangsa ini?" serunya lagi sembari dia mengubah posisi duduknya menjadi bersila.
Itu adalah sebuah tayangan video singkat degan judul "Kutukan Amora untuk keturunan mafia bengis". Judul yang sungguh menarik untuk ditelusuri, awalnya gadis itu tidak terlalu peduli dengan segala hal yang menurutnya tidak berguna untuk kehidupan.
Namun, setelah bertemu Kano dalam kurun waktu yang singkat, pikiran Ellena perlahan ingin mengetahui segala hal guna untuk menghindari malapetaka yang kerap kali datang menghampirinya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Kutukan bangsa Amora ...!
Terletak dalam buku sejarah terbentuknya kota Sirevina dan kokohnya negara Lescanara, diceritakan jika kota Sirevina terbentuk karena kemurkaan sang dewa laut yang dikenal dengan Dewa Baruna, kematian bangsa Amora menerbitkan sebuah kutukan yang dilontarkan oleh pimpinan pertama bangsa duyung legenda sebelum kematiannya menjelang.
"Seluruh keturunan bedebah seperti kalian tidak akan pernah memiliki keturuan sampai generasi terakhir kalian kecuali anak yang kau pungut, tetapi nasib anak itu akan berakhir sangat mengenaskan, kematian yang akan diberikan oleh keturunan kami!"
Buku sejarah Lescanara De Amora ^^
Untaian huruf telah habis dibaca oleh Ellena, wajahnya mengerut, hatinya terhenyak bersamaan dengan jiwanya yang merinding ketakutan. Kutukan yang sungguh mengerikan, pikir Ellena demikian. Dia kedikkan kedua bahunya seraya dia melempar ponsel pribadinya sembarangan ke sampingnya.
"Menyeramkan, kenapa tanah kelahiranku begitu banyak menyimpan misteri, kayaknya harus pindah negara nih," celoteh Ellena sembari dia memeluk dirinya sendiri.
...----------------...
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏