Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Titik Nadir
Taksi tua itu melaju tanpa arah yang pasti, suara mesinnya yang menderu seolah menjadi detak jantung bagi Naura dan Kaelith yang kini terjebak dalam keheningan yang menyesakkan. Di luar, lampu-lampu kota berkedip seperti bintang yang enggan bersinar di tengah malam yang mendung. Di dalam, bau keringat, tanah, dan sisa-sisa trauma dari gudang bawah tanah itu masih melekat kuat di pakaian mereka.
"Pak, bisa tolong berhenti di depan masjid atau tempat ramai yang buka 24 jam?" pinta Kaelith dengan suara parau.
Sopir taksi hanya mengangguk tanpa banyak tanya. Ia tahu, pasangan muda di belakangnya itu sedang mengalami sesuatu yang jauh melampaui masalah asmara biasa. Setelah taksi berhenti di depan sebuah minimarket yang terang benderang di pinggiran kota, Kaelith membayar ongkos dengan sisa uang di dompetnya—yang untungnya tidak disita oleh anak buah ayahnya.
Mereka turun dan segera masuk ke area parkir yang sepi. Kaelith terduduk di kursi depan minimarket, menyandarkan kepalanya ke dinding beton yang dingin. Wajahnya yang babak belur terlihat sangat kontras di bawah lampu neon minimarket yang menyilaukan.
"Kita nggak bisa terus-terusan lari, Nau," bisik Kaelith setelah lama terdiam. "Dimas punya jaringan luas di kantor redaksi lo. Dia pasti akan memutarbalikkan fakta dan bikin kita kelihatan seperti pelaku kriminal yang mencoba memeras perusahaan bokap gue."
Naura duduk di sampingnya, membiarkan dinginnya beton meresap ke tulang punggungnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih meninggalkan bekas kemerahan akibat ikatan plastik. "Gue tahu. Tadi gue sempat terpikir, apa yang terjadi kalau kita menyerah saja? Apa kalau kita pergi sejauh mungkin dan melupakan semuanya, hidup bakal lebih tenang?"
Kaelith menoleh, menatap Naura dengan pandangan yang dalam. "Lo tahu jawabannya, kan? Kita nggak akan pernah tenang. Setiap kali lo lihat berita tentang korupsi, setiap kali lo lihat mahasiswa kesulitan bayar uang kuliah sementara gedung baru itu dibangun pakai uang haram, lo bakal merasa bersalah. Kita sudah terlalu jauh masuk ke lubang ini untuk keluar tanpa membawa kebenaran."
Naura tersenyum getir. "Gue tahu. Gue cuma lagi capek, Kael. Gue capek dikejar-kejar, capek dikhianati, dan capek harus takut setiap kali ada langkah kaki di belakang gue."
Kaelith meraih tangan Naura, menggenggamnya dengan jemari yang terasa dingin. "Gue minta maaf. Seharusnya gue nggak pernah narik lo ke dunia gue. Seharusnya gue cari cara lain yang nggak melibatkan nyawa lo."
"Jangan pernah bilang begitu," sela Naura tegas. "Keputusan ini punya gue juga. Gue yang mau liput demo itu, gue yang mau investigasi. Dan gue nggak nyesel sudah kenal sama lo."
Kalimat itu membuat suasana berubah. Kaelith terdiam, menatap Naura dengan binar yang tak bisa dijelaskan. Di tengah kelelahan yang luar biasa, ada ketulusan yang murni di antara mereka. "Gue juga," gumam Kaelith. "Mungkin ini adalah satu-satunya hal yang nggak gue sesali dalam hidup gue sejauh ini."
Namun, momen tenang itu tidak bertahan lama. Ponsel Kaelith yang sudah lama tidak aktif, tiba-tiba berdering. Sebuah nomor tak dikenal. Kaelith ragu sejenak sebelum mengangkatnya.
"Halo?"
"Kaelith. Jangan bodoh lagi." Itu suara ayahnya, Pramudita Atharrazka. Nadanya tidak lagi penuh amarah seperti kemarin, melainkan terdengar tenang dan meremehkan. "Kamu pikir kamu bisa lari? Kamu pikir kamera pengawas di seluruh kota ini tidak bisa melacak taksi yang kalian naiki? Saya tahu kalian ada di minimarket daerah Cileungsi."
Kaelith memucat. Ia segera berdiri, menarik Naura untuk ikut berdiri. "Jangan ikut campur urusanku lagi, Yah!"
"Ayah tidak ingin mencampuri urusan kamu, Ayah hanya ingin kamu segera menghentikan semua ini," suara Pramudita terdengar seperti sedang bernegosiasi. "Serahkan gadis itu, dan Ayah akan biarkan kamu pergi ke luar negeri. Lupakan semua ini, dan mulailah hidup baru. Kamu anak Ayah, Kael. Ayah tidak ingin membunuhmu."
"Aku bukan anak ayah lagi kalau ayah terus jadi monster!" Kaelith menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia menatap Naura dengan panik. "Mereka tahu kita di sini. Kita harus pergi sekarang!"
Tanpa banyak bicara, mereka berlari menjauh dari minimarket, masuk ke gang-gang kecil yang gelap. Mereka berlari tanpa arah, hanya mengikuti insting agar tidak tertangkap. Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah bangunan tua yang tampak terbengkalai—sebuah bekas bengkel mobil.
Kaelith mendobrak pintu belakang yang sudah lapuk. Mereka masuk ke dalam bengkel yang gelap, penuh dengan bangkai mobil yang berdebu.
"Ini tempat aman untuk sementara," bisik Kaelith sambil mengunci pintu.
Naura terduduk di lantai, napasnya terengah-engah. "Kael, kalau mereka bisa melacak kita lewat kamera, artinya kita nggak punya kesempatan buat lari lewat jalan raya. Kita harus cari cara buat memancing mereka ke tempat lain."
Kaelith terdiam, matanya menatap sebuah mobil tua yang masih terparkir di bengkel. "Ponsel lo. Masih nyala?"
"Masih. Kenapa?"
"Taruh ponsel lo di mobil ini. Terus kita lari lewat jalur belakang bengkel yang tembus ke hutan kota. Mereka bakal mikir kita masih di dalam bengkel karena pelacakan GPS ponsel lo masih ada di sana. Gue yakin kita nggak hanya di intai lewat kamera pengawas tapi mereka juga masang pelacak di HP lo pas ketangkap tadi."
"Dan lo?"
"Gue bakal ninggalin ponsel gue di sini juga," jawab Kaelith. "Kita bakal jadi hantu malam ini."
Rencana itu terdengar sangat berisiko, namun itu adalah satu-satunya harapan mereka. Naura meninggalkan ponselnya di bangku mobil, lalu mereka berdua merangkak keluar lewat jendela kecil di bagian belakang bengkel. Mereka sampai di area rimbun yang merupakan pintu masuk hutan kota.
Malam itu, mereka merayap melewati semak-semak yang basah, menghindari setiap lampu sorot yang mungkin muncul dari mobil-mobil patroli anak buah Pramudita. Naura merasa tubuhnya sudah mencapai titik nadir. Kakinya luka-luka, bajunya basah oleh embun, dan perutnya perih karena belum makan seharian.
"Sedikit lagi," bisik Kaelith, yang terus memegang tangan Naura agar tidak terpisah.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar berhenti di dekat bengkel. Suara pintu dibanting dan teriakan-teriakan kasar mulai terdengar. Rencana mereka berhasil. Orang-orang itu mulai mengepung bengkel.
"Mereka ada di dalam! Serbu!"
Kaelith dan Naura tidak menoleh. Mereka terus merayap hingga sampai di sisi lain hutan kota yang tembus ke area perumahan warga yang ramai. Saat mereka sampai di jalan raya, mereka akhirnya bisa bernapas lega. Mereka berada di wilayah yang aman, jauh dari kejaran anak buah Pramudita.
Di bawah lampu jalan yang temaram, mereka terduduk di sebuah halte bus. Kaelith menatap Naura yang tampak sangat lemah. Wajah Naura pucat pasi, namun matanya masih menunjukkan tekad yang luar biasa.
"Nau, kita harus ke rumah seseorang yang bisa kita percaya," kata Kaelith. "Rumah Rania. Adik lo. Dia satu-satunya orang yang nggak punya hubungan sama perusahaan bokap gue."
Naura mengangguk lemah. "Dia ada di kost-annya di dekat kampus. Jauh, tapi mungkin itu satu-satunya tempat aman."
Mereka memulai perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, Kaelith sempat berhenti di sebuah apotek 24 jam untuk membeli obat luka dan air mineral. Ia merawat luka-luka Naura dengan sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh barang yang sangat berharga.
"Sakit?" tanya Kaelith saat mengoleskan alkohol pada luka di lutut Naura.
"Sedikit," jawab Naura. Ia menatap wajah Kaelith yang kini terlihat lebih tenang. "Kael, setelah ini semua selesai... apa yang bakal terjadi sama kita?"
Kaelith terdiam. Ia meletakkan kapas, lalu menatap Naura. "Gue nggak tahu. Gue nggak tahu apakah gue bakal bisa balik ke kampus, atau apakah gue bakal dipenjara. Tapi ada satu hal yang pasti..."
"Apa?"
"Gue bakal mastiin lo aman. Apa pun risikonya, apa pun harganya. Lo adalah hal yang paling berharga yang gue temukan di tengah kekacauan ini," ucap Kaelith dengan suara rendah yang menggetarkan hati Naura.
Naura menunduk, merasakan kehangatan di dadanya. Ia tidak pernah mengira bahwa di balik semua ketegangan dan bahaya, ia akan menemukan sosok yang begitu tulus di dalam diri sang ketua BEM.
"Ayo," ajak Kaelith setelah mereka selesai. "Kita harus sampai ke tempat Rania sebelum matahari terbit."
Mereka berjalan kembali di bawah sinar rembulan yang mulai pudar. Malam itu benar-benar menjadi titik nadir dalam hidup mereka, namun juga titik di mana mereka akhirnya menyadari betapa kuatnya ikatan yang telah mereka bangun. Mereka bukan lagi sekadar dua orang yang terjebak dalam skandal korupsi, melainkan dua jiwa yang saling menjaga di tengah dunia yang berusaha menghancurkan mereka.
Saat fajar mulai menyingsing, mereka sampai di depan kos-kosan Rania. Dengan tangan yang gemetar, Naura mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rania muncul dengan mata yang masih mengantuk, namun berubah menjadi kaget saat melihat kakaknya yang penuh luka bersama seorang pria yang ia kenali dari berita kampus sebagai Ketua BEM.
"Mbak? Kak Kaelith? Kalian... apa yang terjadi?" tanya Rania dengan nada panik.
"Nanti gue ceritain, Ran," jawab Naura lemah. "Tolong, biarin kami masuk."
Rania segera menarik mereka masuk ke dalam kamar kosnya yang sempit namun terasa seperti istana bagi mereka saat ini. Saat pintu tertutup dan terkunci rapat, Naura jatuh pingsan di pelukan Rania. Kaelith segera menangkapnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang sangat mendalam.
"Naura! Bangun!" teriak Kaelith.
Itu adalah malam terpanjang dalam hidup mereka. Malam di mana mereka kehilangan segalanya—pekerjaan, nama baik, dan keamanan, namun di saat yang sama, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah kesetiaan yang tak teruji oleh bahaya apa pun. Dan saat matahari akhirnya terbit, Naura dan Kaelith tahu bahwa pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka harus segera merencanakan langkah terakhir: mengungkap semuanya kepada dunia sebelum waktu mereka habis.