Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Suara derap langkah petugas kepolisian yang menyeret staf pengkhianat itu perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang masih terasa pekat di lobi utama. Suasana yang semula tegang berangsur-angsur mereda ketika Tuan Dixon memundurkan langkahnya, memberikan ruang bagi asisten pribadinya untuk mengambil alih pelantang suara.
Asisten bertubuh tegap itu berdehem pelan. "Apa yang baru saja kalian saksikan adalah konsekuensi mutlak bagi siapa pun yang berani mengkhianati perusahaan ini," ucapnya dengan suara tegas, menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Namun, sedetik kemudian, raut wajah sang asisten melunak. "Tapi, Luca Group tidak hanya memberikan hukuman. Kami juga selalu memberikan apresiasi tinggi bagi mereka yang berdedikasi. Seperti tradisi tahunan kita, hari ini kami akan memberikan piagam penghargaan beserta bonus eksklusif kepada beberapa karyawan terbaik tahun ini yang performanya luar biasa."
Mendengar hal itu, kasak-kusuk kecil mulai terdengar di antara barisan karyawan. Ketegangan yang mencekam berganti menjadi rasa penasaran yang mendebak-debuk.
"Ada tujuh orang yang terpilih tahun ini," lanjut sang asisten sembari membuka map dokumen di tangannya. Ia mulai membacakan nama-nama karyawan terbaik itu satu per satu dari berbagai divisi. Setiap kali sebuah nama disebutkan, tepuk tangan meriah bergemuruh dari para staf.
Cia tetap berdiri tenang di barisannya, ikut bertepuk tangan formal untuk rekan-rekannya yang maju ke depan. Sampai akhirnya, sang asisten menyebutkan nama terakhir.
"Dan yang ketujuh, dari Divisi Analisis Pasar... Valencia."
Deg.
Jantung Cia berdesir hebat. Senyum kemenangan seketika terbit di dalam hatinya. “Akhirnya... ini dia waktu yang gue tunggu-tunggu,” batinnya bersorak kegirangan. Penghargaan ini bukan sekadar bonus finasial bagi Cia, melainkan panggung utama yang akan menyeret dirinya langsung ke dalam radar pengawasan Dixon Luca Alessandro.
"Wah, Valencia! Hebat kamu, maju sana!" bisik Citra dari sebelahnya, menyenggol lengan Cia dengan wajah ikut bangga.
Diiringi suara tepuk tangan yang riuh rendah dari seluruh karyawan divisi, Cia mulai melangkah keluar dari barisan. Ia berjalan dengan anggun, mengatur ritme ketukan sepatu hak tingginya agar terdengar konstan dan berkelas di atas lantai marmer. Setelan kemeja putih leher V dan celana cokelat tuanya membungkus lekuk tubuh indahnya dengan sangat proporsional, memancarkan aura wanita karier yang cerdas sekaligus memikat.
Cia berdiri berjejer bersama enam karyawan terpilih lainnya di depan barisan. Satu per satu dari mereka menerima map penghargaan dan jabat tangan dari Asher—nama asisten pribadi Dixon yang baru Cia ketahui hari ini.
Saat giliran Cia tiba, Asher tersenyum sopan dan menyerahkan map beludru hitam itu. "Selamat, Saudari Valencia. Pertahankan kinerja luar biasamu," ucap Asher ramah.
"Terima kasih banyak, Tuan Asher," balas Cia dengan senyuman manis dan suara lembut yang diatur sedemikian rupa.
Namun, tepat setelah Cia menerima penghargaan itu, atmosfer di sekitarnya mendadak terasa membeku. Rasa dingin yang sangat familier tiba-tiba menusuk kulit tengkuknya.
Cia memberanikan diri untuk menggeser sedikit pandangannya ke arah samping, tempat di mana Dixon Luca Alessandro berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada.
Dan benar saja. Sepasang mata elang Dixon yang tajam kini tengah terkunci rapat pada sosok Cia.
Tatapan pria berusia 39 tahun itu luar biasa pekat, dingin, dan mengintimidasi. Sorot matanya yang gelap bergerak meneliti setiap jengkal wajah Cia—mulai dari mata, hidung, hingga berhenti agak lama di bibir ranum Cia yang dilapisi lipstik nude. Tatapan Dixon seolah-olah sedang menguliti Cia hidup-hidup, mencocokkan siluet wanita karier di depannya ini dengan memori panas tentang gadis liar yang meracis lehernya di bar dua malam lalu.
Dixon mengenali aroma parfumnya. Dixon mengenali struktur rahang dan bibir itu. Kilat keterkejutan yang sangat tipis sempat melintas di mata sang miliarder, sebelum akhirnya berganti menjadi tatapan berburu yang sangat berbahaya.
Cia tahu, penyamarannya telah terbongkar di detik ini juga.
Menggunakan kemampuan aktingnya yang sudah terlatih, Cia langsung memutuskan kontak mata dengan cepat. Ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura menjadi seorang pegawai rendahan yang merasa sangat gugup dan takut karena ditatap secara intens oleh sang Direktur Utama yang terkenal kejam. Bahunya sengaja dibuat sedikit bergetar halus, memberikan kesan bahwa dirinya hanyalah gadis lugu yang terintimidasi oleh kekuasaan Dixon.
Di balik tundukan kepalanya, Cia menyembunyikan seringai tipisnya. “Tatap gue sesuka lo, Tuan Dixon. Cari tahu seberapa dalam lubang jebakan yang udah gue siapin buat lo dan anak perempuan kesayangan lo itu,” batin Cia tajam, membiarkan riuh tepuk tangan penutupan acara menyamarkan detak jantungnya yang berpacu gila karena adrenalin yang meletup-letup.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan