NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian yang memilukan

Keheningan menyelimuti seluruh vila, lampu-lampu utama sudah dimatikan. Hanya lampu teras dan beberapa lampu dinding yang masih menyala redup, memancarkan cahaya kekuningan yang menciptakan bayangan panjang di lantai marmer.

Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari arah persawahan.

Sesekali embusan angin malam menggoyangkan dedaunan pohon besar yang tumbuh di sekitar halaman vila.

Di dalam kamar belakang, Aji yang baru saja terlelap mendadak membuka mata.

Prang!

Suara benda pecah itu terdengar begitu jelas, memecah keheningan malam.

Aji mengangkat kepalanya dari bantal. Dia duduk perlahan sambil mengucek mata yang masih berat.

"Apa itu..." Gumamnya.

Beberapa detik dia hanya diam, mencoba memastikan apakah suara tadi benar-benar nyata atau hanya terbawa mimpi.

Namun setelah suasana kembali sunyi, rasa penasarannya justru semakin besar.

Dia mengenakan sandal, lalu membuka pintu kamar. Koridor belakang tampak kosong, tidak ada siapa pun.

Aji melangkah perlahan menuju ruang depan. Langkahnya bergema pelan di lantai yang dingin.

Begitu sampai di dekat pintu utama, pandangannya langsung tertuju ke arah tangga teras.

Keningnya berkerut.

"Lho..."

Sebuah vas bunga besar dari tanah liat yang sebelumnya menghiasi sisi tangga kini telah pecah berkeping-keping.

Pecahannya berserakan di anak tangga hingga ke halaman.

Tanah hitam dan tanaman hias yang berada di dalamnya ikut berhamburan.

Aji mendekat sambil menghela napas.

"Kenapa bisa pecah begini?"

Dia berjongkok dan mengambil salah satu pecahan vas.

Masih terasa kokoh.

"Mungkin ada kucing..."

Kalimat itu terhenti di bibirnya sendiri. Dia lalu menoleh ke kanan dan kiri, hlaman tampak kosong.

Lagi pula, pikirnya, seekor kucing rasanya tidak mungkin mampu menjatuhkan vas sebesar itu hingga hancur berkeping-keping.

Aji menggeleng pelan.

"Ah... mungkin memang sudah retak dari dulu."

Dia mencoba menerima penjelasan itu, barangkali tanah liatnya sudah rapuh di makan usia.

Dia menarik napas panjang dan hendak berdiri. Namun pada saat yang sama, tanpa dia sadari, ada seseorang yang sedang berjalan perlahan dari balik gelapnya halaman.

Langkah orang itu nyaris tak bersuara. Sedangkan, Aji masih memandangi pecahan vas, sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok asing di belakangnya.

Suasana di sekeliling mendadak terasa begitu sunyi. Bahkan suara jangkrik seolah menghilang.

Saat Aji akhirnya berdiri, sebuah suara pelan terdengar tepat di belakang telinganya.

"Jangan berteriak."

Tubuh Aji langsung menegang, dia membeku di tempat. Napasnya tertahan. Sebuah parang sudah berada di lehernya.

Seseorang berdiri sangat dekat di belakangnya. Yang di susuk oleh empat orang lainnya yang juga mendekat.

Dalam cahaya redup lampu teras, hanya siluet tubuh pria itu yang terlihat jelas. Wajahnya sebagian tertutup kain gelap.

Pikirannya mendadak kosong, dia ingin berteriak. Ingin memperingatkan semua penghuni vila.

Namun suaranya seolah hilang, pria itu tetap berbicara dengan nada rendah.

"Tenang."

"Ikuti saja apa yang kami bilang."

Dadanya naik turun menahan napas yang mulai tidak beraturan. Di tengah dinginnya udara malam, dia justru merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Pelan-pelan dia memberanikan diri bertanya.

"Si... siapa kalian?"

Pria yang berdiri paling dekat tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju ke arah vila yang berdiri megah di hadapan mereka.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Barulah pria itu berkata dengan suara pelan namun tegas,

"Itu bukan urusanmu."

Aji tetap diam.

Pria itu melanjutkan,

"Yang perlu kamu lakukan sekarang hanya satu."

Ia memberi isyarat singkat kepada empat rekannya yang langsung menyebar mengamati halaman vila.

"Bawa kami masuk."

Aji menggeleng pelan. Dia tidak mungkin bisa membawa para mereka masuk kedalam.

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, pria itu mendekat selangkah. Bilah parang yang berada di tangannya tetap terarah ke leher Aji sebagai ancaman agar dia tidak melakukan tindakan nekat.

"Dengarkan baik-baik."

Nada bicaranya tetap rendah, tetapi terdengar penuh tekanan.

"Kami tidak ingin membuat keributan."

"Kalau kamu tetap tenang dan melakukan apa yang kami perintahkan, semuanya akan lebih mudah."

Jantung Aji berdegup semakin keras, pikirannya bercampur aduk.

Dia ingin berteriak memperingatkan Pak Gunawan, ingin berlari masuk ke dalam rumah. Namun ia sadar, gerakan sekecil apa pun bisa memancing reaksi dari orang-orang yang kini mengepungnya.

Salah seorang pria lain melangkah mendekat.

"Cepat." Ucap Pria yang pertama kembali berbicara.

"Masuk ke dalam." Kata pria yang lebih tinggi.

"Berikan semua barang berharga."

Semuanya membawa parang, mereka berdiri tenang, seolah sudah memperhitungkan setiap langkah yang akan dilakukan.

Aji menarik napas panjang.

"Kalau... kalau saya menolak?"

Suasana mendadak menjadi hening, pria itu menatap Aji tanpa berkedip.

"Kami tidak datang ke sini untuk berdebat."

"Jangan mempersulit keadaan." Ucapan itu membuat Aji semakin gugup.

Dia melirik ke arah lantai dua vila. Pak Gunawan, Bu Sri, Mbok Warsih, Sumi, dan Lela kemungkinan besar masih tertidur lelap, sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di luar.

Aji mengepalkan tangannya pelan, dia sadar, apa pun keputusan yang diambilnya dalam beberapa detik ke depan dapat menentukan nasib semua orang yang berada di dalam rumah itu.

Di dalam vila, keheningan malam yang semula menenangkan perlahan terasa berbeda.

Mbok Warsih yang sejak tadi terlelap mulai membuka mata. Entah mengapa, tidurnya terasa tidak nyenyak malam itu.

Dia mengerjapkan mata beberapa kali, dari luar, terdengar suara lirih yang samar-samar seperti orang sedang berbicara.

Mbok Warsih mengernyit.

"Siapa yang masih bangun malam-malam begini?" Gumamnya pelan.

Dia duduk di tepi ranjang, lalu memasang telinga.

Mbok Warsih membuka pintu kamarnya dengan hati-hati.

Koridor vila tampak lengang.

"Aji?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Mbok Warsih terus berjalan menuju ruang depan. Semakin mendekati pintu utama, suara percakapan itu semakin jelas.

"Aji..?" Panggilnya sekali lagi.

Namun, pemandangan yang di lihatnya, seketika membuat Mbok Warsih tertegun.

Matanya membelalak, dii bawah cahaya lampu teras, dia melihat Aji berdiri kaku.

Beberapa orang yang bertopeng berdiri disana. Salah seorang berdiri dengan tangan yang mengulurkan parang tepat di leher Aji.

Selama beberapa detik Mbok Warsih hanya terpaku.

Otaknya seperti menolak mempercayai apa yang sedang dilihat.

"A... Aji..." Rasa takut yang luar biasa langsung menyergap Mbok Warsih.

Tanpa mampu menahannya lagi, ia menarik napas panjang.

"Tolong...!"

Suara teriakannya memecah kesunyian malam. Teriakan itu menggema hingga ke dalam vila.

Saat perhatian para penyusup terpecah oleh teriakan Mbok Warsih, Aji bergerak secepat mungkin untuk menjauh dari pria yang menahannya.

"Mbok, masuk!" teriak Aji sekuat tenaga.

Teriakan Mbok Warsih yang menggema di halaman vila membuat suasana seketika berubah kacau.

"Tooolooong...!"

Suara itu memecah keheningan malam. Kelima pria bertopeng itu spontan menoleh ke arah pintu utama.

Kesempatan yang hanya berlangsung sepersekian detik itu tidak disia-siakan Aji.

Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, dia berusaha melepaskan diri dari kepungan. Tubuhnya bergerak cepat, memanfaatkan apa yang masih diingatnya dari latihan bela diri yang pernah dia pelajari bertahun-tahun lalu.

Salah satu tangannya menepis orang yang paling dekat dengannya, lalu dia mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak.

"Ayo!" bentak salah seorang pria kepada rekan-rekannya.

Aji memasang kuda-kuda seadanya. Napasnya memburu, dia sadar betul dirinya bukan petarung hebat.

Apa yang dia lakukan sekarang hanyalah naluri untuk bertahan dan memberi kesempatan bagi penghuni vila agar menyadari bahaya yang sedang terjadi. Atau setidaknya mereka bisa melarikan diri.

Dia berusaha menghindari kepungan, bergerak ke kanan lalu ke kiri, mencari celah untuk lolos.

Namun lawan yang dihadapinya bukan hanya satu orang. Mereka berjumlah lima, mereka datang dengan persiapan yang jauh lebih matang.

Aji mulai kewalahan, setiap kali dia berhasil menghindar dari satu orang, yang lain sudah menutup jalannya.

"Tangkap dia!" terdengar salah seorang memberi aba-aba.

Jarak mereka semakin rapat, Aji menggertakkan gigi.

Dalam hati dia hanya memikirkan satu hal. Yang penting mereka jangan sampai masuk ke dalam vila.

Dia kembali mencoba menerobos kepungan.

Saat berpapasan dengan salah satu pria bertopeng, refleks tangannya menyambar bagian penutup kepala orang itu.

Brak!

Kain hitam itu terlepas.

Pria tersebut spontan mundur beberapa langkah sambil berusaha menutupi wajahnya.

Namun semuanya sudah terlambat, dalam cahaya lampu teras yang redup, wajah pria itu terlihat jelas.

Aji membeku.

Matanya membelalak.

"Kamu...?"

Pria itu ikut terdiam sesaat, tatapan mereka saling bertemu.

Ekspresi terkejut muncul di wajah Aji, dia kenal wajah itu, bukan sekali dua kali dia melihatnya, tapi berkali-kali.

Aji masih mematung, mulutnya terbuka sedikit, hendak menyebutkan sebuah nama. Namun, belum sempat suara itu keluar, pria tersebut memberikan isyarat dengan tatapan mata yang mematikan kepada rekan-rekannya.

Tanpa peringatan, salah satunya langsung mengayunkan parangnya keleher Aji.

Srettt.

Aji bahkan tidak sempat merasakan sakit yang hebat. Tubuhnya yang tadi menegang seketika lunglai.

Dalam satu ayunan yang sangat brutal, parang itu memutus hubungan antara leher dan bahunya.

Kepala Aji menggelinding di atas lantai teras, meninggalkan jejak merah yang mulai menggenang di lantai.

Tubuhnya yang tak lagi bernyawa tersungkur tepat di depan pintu utama yang masih terbuka sedikit, seolah menjadi penjaga terakhir yang gagal mempertahankan apa yang ingin di jaganya.

Di dalam, Mbok Warsih yang masih mematung menahan napas. Matanya terbelalak melihat pemandangan mengerikan itu. Suara teriakan yang tersangkut di tenggorokannya lenyap, digantikan oleh kesunyian mematikan.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!