Seorang anak merupakan anugerah bagi sebuah keluarga, namun bagaimana jika anak itu terlahir dari sebuah hubungan yang salah?
Claresta, gadis dengan sikap yang dingin karena hasil perlindungan dirinya dari kerasnya kehidupan yang harus ia hadapi,
Luka itu bukan dari orang lain melainkan dari orang tuanya sendiri, orang tua yang seharusnya bisa disebut Rumah, Resta justru tak mendapati hal itu dari kedua orang tuanya ...,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JackRow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan Seorang Christian
"Ayah harus kembali melakukan medical check up besok pagi! jangan melupakan nya! diriku akan menanti ayah di rumah sakit besok!"
Pria yang baru saja kembali itu nampak terdengar tegas dalam memperingatkan jadwal kegiatan sang ayah.
"Aaaaaghh seperti nya baru kemarin diriku mengunjungi mu di rumah sakit untuk melakukan hal itu Nak!"
"Kemarin ayah bilang? itu telah terjadi empat minggu yang lalu ayah! ingat ayah sering mengkonsumsi makan makanan manis akhir-akhir ini dan jangan lupakan asap nikotin yang selalu ayah sulut!" pria dengan iris mata amber itu kembali berucap tegas dihadapan Tuan Dominic.
"Baiklah dokter Erdogan! diriku sungguh ingin memeluk mu jika sudah seperti ini!" pria paruh baya itu nampak mendekati sang putra.
"Tidak ayah! tolong jangan lakukan hal itu, aku masih belum membersihkan diri! mungkin terlalu banyak kuman yang bisa memicu datangnya penyakit pada tubuh ku ini!"
Erdogan seketika melangkah cepat menuju kamar.
Tuan Blare hanya bisa kembali menghela nafas kasar,
"Tidak steril! kalimat itu selalu ia jadikan senjata saat diriku ingin memeluk nya! putra kecil ku itu kini sungguh sudah dewasa! ayah beruntung karena memiliki mu Erdogan! entah apa jadinya jika diriku tinggal seorang diri di rumah ini," Tuan Blare kembali bergumam seorang diri.
Claresta, apa benar berita yang beredar tentang dirinya? atau berita itu hanyalah berita sampah hasil rekaan dari mommy nya?
Pikiran Tuan Blare kembali melayang, sedikit banyak pria itu turut mencemaskan gadis yang beberapa hari ini tak ditemui nya.
...*****...
"Mom ..., tolong buka pintunya! luka ini kembali terasa sangat nyeri mom! aku mohon buka pintunya!" suara Claresta terdengar begitu lirih, gadis itu tak lagi mampu berteriak seperti beberapa jam sebelumnya.
Tubuhnya lunglai, ia nampak meringkuk seorang diri di atas dingin dan gelapnya lantai ruangan, perlahan tangan nya meraih tas yang sedari tadi terlempar tak jauh dari tubuhnya. Claresta mencoba memeriksa ponselnya, ia nampak membaca dengan setengah sadar banyaknya notifikasi panggilan tak terjawab dari Christian.
Tristan menghubungi ku? haruskah aku meminta nya untuk datang kemari?
"Aaaaaassh, bagaimana ini?" gadis itu kembali mendesis, nyeri pada luka nya kembali terasa menjalar di seluruh tubuhnya, mata beratnya kembali terpejam.
Tristan tolong,
Sebuah pesan singkat ia coba kirimkan pada sang serigala meskipun tak lama setelah itu ponselnya mati seketika.
Claresta kembali meringkuk, tak ada yang bisa ia perbuat matanya kembali nampak buram, gadis itu akhirnya kembali tak sadarkan diri di dalam gudang yang gelap nan sunyi.
'Claresta apa kau mendengar ku? Cla tolong buka matamu! aku disini untukmu, aku mohon bertahan lah, Claresta!'
"Suara itu? aku mengenalnya! tapi siapa? tolong aku! aku mohon! kenapa rasanya sangat dingin! bahkan rasanya hampir membeku kan seluruh tubuh ini, aku mohon!"
Malam itu Clara Emilia Ramsey kembali mengamuk dan lepas kendali, ia membuat kekacauan seorang diri dalam kamarnya.
"Sialan! aaaaaghh! apa yang telah ku lakukan? kenapa diriku jadi gegabah seperti ini?" wanita itu nampak gusar dan memaki dirinya sendiri didepan cermin besar dalam ruangan kamarnya.
Seluruh pelayan hampir tak tidur semalaman karena beberapa insiden yang telah terjadi di rumah itu.
Kalwa, sang pelayan senior di kediaman mewah itu nampak menghela nafas dalam, ada rasa lega juga khawatir dalam dirinya.
Tolong lindungi Nona Muda Ya Tuhan, tolong lindungi anak asuh ku,
Wanita tua itu kembali terlihat menitikkan air matanya ditengah kekacauan yang harus ia bereskan bersama para pelayan lainnya.
Disisi lain Tuan Blare juga nampak gelisah, pria tua itu nampak mendengar percakapan sang putra yang harus kembali ke rumah sakit atas permintaan Christian sahabat nya.
"Apa benar yang telah ku dengar? nona Lucia? Claresta? apa maksud dari percakapan Erdogan dengan sahabat nya? apa terjadi sesuatu pada putri ku? haruskah aku menyusul ke rumah sakit sekarang?" pikiran pria tua itu kembali berkecamuk, ia semakin menggeser dan bergerak kesana-kemari di atas ranjang nya.
Hampir sepanjang malam Christian juga tak dapat menenangkan dirinya, pria itu bahkan tak berhenti mondar-mandir bak mengukur panjang lantai di ruang tunggu sebuah kamar rawat di rumah sakit.
Aku mohon Tuhan, selamat kan lah dia,
diriku berjanji akan menjadi pria yang lebih baik, jika Kau menyelamatkan nyawanya, aku mohon pada-Mu, tolong untuk kali ini ... diriku benar-benar memohon Tuhan,
Setelah sekian lama! Christian akhirnya kembali melantunkan sebuah do'a serta permohonan dalam hatinya.
"Bagaimana keadaannya Erdogan? dia baik-baik saja kan? aku mohon berikan kabar baik untuk ku!" Christian seketika menghampiri pria bermata amber yang nampak terlihat lesu dihadapan nya.
"Sayatan luka pada pergelangan tangannya mengalami infeksi, itu yang menyebabkan ia mengalami demam tinggi bahkan hingga menggigil kedinginan, area pergelangan tangannya juga semakin terlihat membengkak! apa dia mengalami kekerasan fisik selama ini? ada beberapa luka lebam juga pada bagian tubuh serta kakinya,"
Christian semakin mengusap kasar wajahnya dengan sebelah tangan, ia tak menyangka dengan hal-hal buruk yang telah dialami oleh gadis yang kini telah memikat hatinya.
"Kau tenanglah Tristan! diriku juga para dokter lain sudah memberikan penanganan terbaik untuk Claresta, semoga saja kondisinya segera membaik!" pria itu kembali menepuk pelan pundak sahabat nya, mencoba meyakinkan bahwa gadis impiannya akan baik-baik saja.
"Terima kasih Erdogan! maaf jika aku selalu memanggil mu di jam istirahat! aku tidak tahu harus bagaimana ketika perawat bilang hanya ada dokter magang di rumah sakit ini!"
"Jangan sungkan! kau sudah bisa masuk ke ruangan nya sekarang!"
Christian seketika berlalu dengan langkah terburu meninggalkan Erdogan,
Memasuki kamar rawat Claresta, pria tinggi kekar itu kembali terlihat pilu saat mendapati gadis yang sebelumnya selalu nampak keras kepala itu terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang ditangan nya.
"Kau harus segera pulih Claresta! untuk dirimu sendiri juga untuk ku!" Christian nampak menghela nafas dalam, jemarinya tak henti membelai lembut pergelangan tangan gadisnya yang tak kunjung terlepas dari kain kasa.
Erdogan nampak termenung seorang diri, pria itu melepas sarung tangan medis dan berlalu menuju ruang istirahat para dokter di rumah sakit.
"Apa aku turut bersimpati padanya? gadis itu? bagaimana ia bisa bertahan dengan radang nyeri yang begitu hebat selama berhari-hari?" Erdogan kembali bergumam seorang diri, pria itu nampak menengadahkan kepalanya sembari menutup mata.