Seorang wanita muda sengaja menyembunyikannya identitasnya, ia bernama YULIANA ALANA, ia ingin menyelidiki kematian orang tuanya menurutnya tidak wajar, ia ingin mengambil perusahaan papanya yang diambil Pamannya setelah kematian orang tuanya, segala rintangan ia hadapi saat ingin mengambil kembali perubahan orang tuanya
Setelah ia menyelidiki ia menemukan bukti yang mengarah pada kemungkinan bahwa kematian orang tuanya adalah ulah dari keluarga besar sang ayah.
Semua anggota keluarga besar mengakui kesalahannya dan menerima konsekuensi.
YULIANA ALANA mengambil kembali kendali atas perusahaan dan mengembalikan kehormatan keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Hari ini hari pertama Queen bekerja di mengurus proyek, ia mencoba mempelajari kerjanya, banyak kesulitan dan tidak ia pahami, ia sampai hampir menyerah tidak sanggup mengerjakannya.
"Kenapa dia tidak mau bertanya kepadaku? Padahal aku sudah menunggu dari tadi," gumam Alex. Ia sengaja membuat pekerjaan yang sulit di mengerti agar Queen meminta bantuannya, tapi sudah hampir sore Queen tidak ada bertanya kepadanya.
"Akhirnya bisa juga," gumam Queen setelah lelah mempelajari kerjaannya.
Alex mondar mandir di depan pintu ruangan Queen ia ingin sekali masuk keruangan Queen, tapi tidak ada alasan yang tepat untuknya masuk keruangan Queen.
Queen membuka pintu ruangannya tepat saat Alex berdiri tegap di depan pintu ruangannya, Alex terkejut melihat Queen sudah berdiri di depannya begitu juga dengan Queen ia sama terkejutnya melihat Alex sudah ada dihadapannya.
"Saya ingin bertanya pekerjaan yang saya berikan pagi tadi sudah selesai kamu kerjakan?" tanya Alex beralasan.
"Sudah Pak, ini baru saja saya mau mengantar keruangan bapak," jawab Queen sambil menunjukan berkas yang ia bawa.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Alex. Lalu ia melangkah pergi.
"Ini Pak, berkasnya tidak dibawa?" tanya Queen.
"Oh, iya aku sampai lupa," jawab Alex lalu ia menerima berkas yang diberikan Queen. Setelah menyerahkan berkas itu Queen kembali keruangannya, sedangkan Alex memandang Queen masuk keruangannya dari kejauhan. tadinya ia sudah pergi setelah menerima berkas yang di berikan Queen, tapi saat suara pintu di buka ia membalikkan badannya dan melihat Queen masuk keruangannya.
"Kenapa aku begitu Penasaran dengan dia, apa aku menyukainya? Tidak mungkin jangan sampai aku menyukai perempuan lain aku sudah menikah itu tidak baik menyukai perempuan lain selain istriku," kata Alex didalam hati menepis semua pikirannya tentang Queen.
**
Wijaya saat ini menghubungi Tomi.
"Halo, Bos," jawab Tomi dari sembarang sana.
"Kamu harus kawal Fani jangan sampai ia lolos, kalau Fani sudah bisa dibawa pulang kamu bawa Fani rumah barunya nanti saya kirim alamatnya di sana sudah ada penjaga yang akan mengawalnya!" kata Wijaya.
"Baik, Bos," jawab Tomi. Sambungan telepon terputus.
Tidak sengaja Alvin mendengar papanya berbicara di telepon saat ia ingin masuk keruangan papanya, Alvin bertanya-tanya kenapa papanya menyebut nama Fani.
"Apa papa, masih berhubungan dengan Fani di belakangku? awas saja kalau memang papa masih berhubungan dengan Fani aku tidak akan mengampuni mereka berdua, aku harus menyelidikinya jangan sampai aku di bohongi papa," kata Alvin didalam hati.
Alvin tidak jadi keruangan papanya ia kembali keruangannya sesampainya di ruangannya Alvin tidak fokus bekerja karena masih kepikiran dengan hubungan papanya dan Fani.
Putra sudah mengetuk ruangan Alvin dari tadi tapi Alvin masih sibuk dengan lamunannya. Lalu Putra masuk dan menyapa Alvin. Alvin terkejut mendengar suara Putra.
"Kenapa tidak ketuk pintu dulu baru masuk," kata Alvin protes.
"Maaf, tadi saya sudah mengetuk pintu berulang kali, tapi kamu tidak menyahut," jawab Putra.
"Sudah tidak usah di bahas, ada perlu apa bapak keruangan saya?" tanya Alvin.
"Saya ingin bertanya kenapa Dea mengantikan pak Rizal menangani Proyek yang saat ini sedang berjalan? saya lihat kerja pak Rizal cukup bagus tidak ada masalah," tanya Putra.
"Aku tidak tau masalah itu, kalau bapak ingin tau tanyakan langsung kepada papa," jawab Alvin.
"Baik, kalau begitu saya permisi," kata Putra.
"Iya," jawab Alvin cuek. Lalu Putra keluar dari ruangan Alvin.
"Sial! Anak sama papanya sama saja, ditanya jawabannya tidak ada yang memuaskan," gumam Putra. Karena ia sudah bertanya kepada Wijaya tentang Queen yang di tugaskan menangani proyek. Tapi jawabannya tidak masuk akal, hanya karena pak Alexander yang meminta sungguh tidak proporsional, pikir Putra.
Sore harinya Alvin segara membuntuti papanya sepulang dari kantor karena ia ingin menyelidiki apa papanya. Tapi ia melihat mobil papanya mengarah pulang kerumah mereka, Alvin bisa bernafas lega melihat papanya pulang kerumah.
Tapi kecurigaan Alvin belum hilang walau papanya pulang kerumah, malam harinya Alvin sengaja meletakkan kamera di ruangan papanya agar ia tau apa kerja papanya setiap malam di ruangannya, Alvin sangat penasaran karena papanya masuk keruangannya tengah malam dan keluar hampir subuh, selama ini Alvin tidak perduli tapi saat ia tau tadi papanya masih menyebut nama Fani Alvin ingin tau apa saja kegiatan papanya.
Alvin masuk kekamarnya setelah meletakkan kamera di ruangan papanya.
"Aku harus tau apa saja yang di lakukan papa, papa sepertinya mencurigakan," gumam Alvin.
Sedangkan Queen baru saja sampai di kontrakannya kerjaan hari ini sangat banyak membuat dirinya lembur. baru saja ia membaringkan badannya suara ponselnya berbunyi lalu ia melihat siapa yang menghubungi, ia heran nomor tidak dikenal yang menghubungi, dengan ragu ragu Queen menerima telepon dari nomor tidak di kenal.
"Halo, siapa ini?" tanya Queen.
"Halo, ini aku pak Putra," jawab Putra dari sebrang sana.
"Ada apa bapak menghubungi saya?" tanya Queen merasa heran tidak biasanya putra menghubunginya.
"Saya ingin tanya kenapa kamu yang di minta menggantikan pak Rizal menangani Proyek kita yang bekerja sama dengan pak Alexander?" tanya Putra menyelidiki.
"Saya juga kurang tau Pak, kata pak Wijaya pak Alex sendiri yang meminta," jawab Queen apa adanya.
"Saya hanya merasa ada yang aneh dengan permintaan pak Alexander," kata Putra.
"Aku juga kurang tau Pak," jawab Queen.
"Kamu harus hati-hati dengan pak Alexander, saya takut dia ada maksud jahat kepadamu, kemarin saat pak Alexander datang ke kantor ia memperhatikanmu, sepertinya ia tertarik kepadamu kamu harus hati-hati dia sudah punya istri," kata Putra.
Queen terkejut mendengar pemikiran pak Putra sejauh itu.
"Saya rasa tidak mungkin pak Alexander menyukaiku, kalau pak Alex ingin bermain main banyak perempuan cantik diluar sana," jawab Queen.
"Kenapa tidak mungkin? Kamu cantik matamu bisa membius para pria apa lagi senyumanmu membuat aku tidak bisa tidur," kata Putra tanpa sadar mengutarakan isi hatinya.
Queen terkejut mendengar perkataan pak Putra kepadanya.
"Apa maksudnya bapak bicara seperti itu?" tanya Queen penasaran. Seketika Putra tersadar sudah salah bicara kepada Queen.
"Mampus aku, kenapa aku bisa keceplosan, apa yang harus aku jawab ya, aku belum berani mengutarakan isi hatiku, takut Queen menolak diriku," kata Putra dalam hati.
"Bapak masih di sana?" tanya Queen kerena Putra diam saja.
"Iya, maaf ada tamu besok kita lanjut bicaranya," kata Putra. lalu ia mematikan teleponnya buru buru.
Queen mendesah melihat sikap Putra sangat aneh menurutnya.
Sedangkan Putra mengutuk dirinya yang sudah lancang bicara kepada Queen.
"Bagaimana besok aku bertemu dengannya apa yang harus aku katakan kepadanya kalau besok bertemu," gumam Putra, ia tidak bisa tidur memikirkannya.
nikmatilah api yg km nyalakan ke Fani, bs merembet kemana mana
sngt menghibur🙏🤗
Ending yg bahagia.. 👍👍☺️
semangat terus berkarya k Yun.. ✊🤗