NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Aroma gurih dari sosis babi asap yang dipanggang di atas tungku perlahan memenuhi seisi rumah, menggantikan sisa-sisa ketegangan hari itu dengan rasa kenyang yang menenangkan. Setelah menghabiskan makan malam darurat mereka yang luar biasa nikmat, Julian membereskan mangkuk kayu bekas mereka makan, lalu menatap Yisla yang mulai menguap kecil.

"Yisla, sana masuk kamar dan tidur," ujar Julian sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.

"Badai di luar makin parah, di dalam kamar pasti lebih hangat. Gih."

Yisla tidak langsung bergerak. Gadis itu justru mengeratkan pelukannya pada lututnya, menatap kobaran api tungku dengan pandangan bimbang.

"Aku... aku tidak mau tidur di kamar, Jul."

"Hah? Kenapa?" Julian mengernyit heran.

"Aku mau tidur di sini saja. Di luar... sama kamu," bisik Yisla pelan, wajahnya sengaja ditenggelamkan ke balik lututnya, membuat suaranya terdengar agak meredam.

Deg!

Jantung Julian rasanya melompat ke tenggorokan.

"T-tidur di luar? Berdua?!" Julian melotot, refleks menoleh ke arah pintu depan seolah-olah bayangan Vito dengan kapak gedenya bisa mendobrak masuk kapan saja.

"Jangan gila, Yisla! Kalau Kak Vito tiba-tiba pulang tengah malam dan melihat kita tidur jajaran di dekat tungku, kepalaku beneran bakal dipotong jadi tiga bagian!"

Yisla mendongak, menatap Julian dengan sepasang mata bulatnya yang sembab, memancarkan bauran antara sisa trauma tadi siang dan sebuah permohonan yang tulus.

"Aku masih takut, Julian... Kalau aku di kamar sendirian, aku terus-menerus terbayang suara orang-orang sindikat itu membanting barang-barang. Di sini... dekat tungku dan dekat kamu, rasanya jauh lebih aman."

Melihat binar rapuh di mata Yisla, benteng pertahanan Julian langsung runtuh. Rasa bersalah sebagai pencipta yang telah memberikan penderitaan pada karakternya kembali mencuat.

Julian menghela napas panjang, mengalah. "Ya sudah... Tapi pasang pembatas, ya! Kamu tidur di sisi kanan tungku, aku di sisi kiri!"

...***...

Malam kini semakin larut. Badai salju di luar rumah makin brutal, kontras dengan kehangatan intens yang tercipta di depan tungku api.

Julian kini berbaring telentang beralaskan karpet kulit hewan. Namun, pembatas jarak yang ia buat tadi mendadak tidak berguna. Yisla perlahan menggeser posisi tidurnya, meringkuk semakin dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.

Julian menahan napas saat merasakan embusan napas hangat Yisla menerpa lehernya. Ia menoleh perlahan, mendapati wajah gadis itu hanya berjarak beberapa senti.

"Jul... kamu beneran tidur?" bisik Yisla, seulas senyum jahil tiba-tiba terukir di bibir tipisnya.

"B-belum. Kenapa?" suara Julian mendadak serak.

Yisla tidak menjawab. Jarinya yang mungil perlahan bergerak, menelusuri rahang Julian dengan lembut, membuat bulu kuduk cowok itu meremang seketika.

"Julian. Kamu... takut Kak Vito pulang, atau takut karena ada aku di dekat kamu?"

Sialan, aku malah digodain sama karakter buatanku sendiri! pekik Astra panik dalam hati.

"Yisla, jangan main-main. Mending kamu tidur," tegur Julian, mencoba terdengar tegas walau suaranya bergetar.

Bukannya menjauh, Yisla justru memajukan wajahnya. Matanya melirik turun ke arah bibir Julian, lalu kembali menatap matanya lekat-lekat.

"Kalau aku nggak mau tidur... gimana?" tantang Yisla pelan, nadanya begitu memabukkan di telinga pemuda itu.

Ketegangan di antara mereka seketika berubah menjadi teramat pekat. Julian seolah lupa kalau dirinya adalah seorang author dari dunia lain. Di bawah temaram cahaya jingga api tungku, Yisla terlihat luar biasa cantik dan mengundang.

Entah siapa yang memulai, Julian perlahan memiringkan tubuhnya, menangkup sisi wajah Yisla dengan telapak tangannya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi gadis itu secara perlahan. Kini jarak di antara mereka terkikis habis. Napas mereka mulai berkejaran, saling berembus di atas bibir satu sama lain.

Jemari mungil Yisla meremas ujung mantel wol Julian, menarik cowok itu untuk semakin dekat. Mereka benar-benar hampir kebablasan melanggar batas suci plot malam itu.

KRETEK!

Sebuah kayu bakar di dalam tungku mendadak patah dan memercikkan bunga api yang cukup terang.

Julian langsung tersentak, mengerjapkan matanya dengan panik dan buru-buru menarik kepalanya mundur secara drastis. Wajahnya seketika memerah padam sampai ke telinga.

Gila, gila, gila! Hampir aja keperjakaanku hilang! batin Astra menjerit histeris, mencoba mengumpulkan kembali jiwanya yang nyaris melayang.

Yisla juga buru-buru memalingkan muka, gadis itu menarik selimut wolnya sampai menutupi seluruh wajahnya karena malu yang luar biasa setelah puas menggoda Julian.

"E-eh... Anu, Yisla... apinya sepertinya mau mati, aku tambah kayu dulu ya!" seru Julian terbata-bata, ia buru-buru langsung bangkit duduk dengan kaku dan menyibukkan diri membolak-balik kayu bakar tanpa arah yang jelas.

Di balik selimut, terdengar kikikan kecil Yisla yang terdengar puas karena berhasil membuat sang 'pria sejati' kelabakan setengah mati.

Julian terus membolak-balik kayu bakar dengan gerakan yang kaku, sementara otaknya masih berputar liar memikirkan detak jantungnya yang belum juga melambat.

Suara kikikan kecil Yisla dari balik selimut pelan-perlahan mereda, menyisakan kembali keheningan malam yang hanya diisi oleh deru badai di luar.

"Julian..."

Suara Yisla kembali memanggil, kali ini tidak lagi terdengar dari balik selimut.

Julian menoleh, dan sedetik kemudian napasnya tercekat. Yisla sudah menurunkan selimutnya. Dengan gerakan yang begitu anggun namun berani, gadis itu merangkak mendekat, lalu sedetik kemudian ia sudah memosisikan dirinya duduk di atas pangkuan Julian, menatap pemuda itu dari atas.

"Y-Yisla?! Kamu—"

"Aku tidak sedang bermain-main, Julian," potong Yisla lirih. Tatapannya tidak lagi memancarkan kejahilan, melainkan sebuah kerinduan dan rasa takut kehilangan yang mendalam setelah seharian ini dihantam berbagai teror.

Julian terpaku, tangannya terkunci di sisi tubuhnya, tidak tahu harus diletakkan di mana. Kedekatan fisik ini terasa begitu intim hingga Julian bisa merasakan kehangatan tubuh Yisla yang menembus mantel wolnya.

Yisla menundukkan wajahnya, perlahan menyatukan dahinya dengan dahi Julian. Napas mereka kembali bertaut, terasa panas di antara dinginnya malam udara.

"Jangan pernah berpikir untuk tinggalkankan aku seperti tadi... Berjanjilah," bisik Yisla teramat dekat di depan bibir Julian.

Astra dalam tubuh Julian benar-benar kehilangan seluruh logikanya sebagai seorang author. Semua kalkulasi plot, peringatan Vito, hingga batas-batas narasi menguap begitu saja dari kepalanya.

Di depan matanya kini hanya ada Yisla—gadis yang ingin ia lindungi dengan segenap jiwanya.

"Aku janji," bisik Julian serak.

Dan kali ini, tidak ada lagi kayu bakar yang patah untuk menginterupsi adegan mereka.

Julian menggerakkan tangannya naik, mencengkeram pinggang Yisla dengan erat, sementara Yisla mengalungkan kedua lengannya di leher Julian. Jarak yang tersisa di antara mereka terkikis habis saat Julian memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh kehangatan.

Yisla melenguh pelan, meremas rambut di tengkuk Julian saat ciuman itu terasa semakin menuntut dan intens. Di bawah temaram cahaya tungku api, tubuh Yisla yang berada di atas Julian bergerak secara selaras, membawa mereka berdua hanyut semakin jauh ke dalam suasana malam musim dingin yang memabukkan.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Julian perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Napasnya memburu, matanya menatap sayu wajah Yisla yang kini sudah sepenuhnya merah padam dengan bibir yang sedikit basah.

Kesadaran Astra perlahan mulai kembali menapak ke bumi. Cukup, Astra. Kalau diteruskan lebih dari ini, genre ceritamu bakal berubah total, batinnya mengingatkan diri sendiri dengan sisa-sisa kewarasan yang ada.

Julian mengelus pipi Yisla dengan lembut, mencoba menstabilkan suaranya.

"Sudah, ya? Sekarang... kamu beneran harus tidur, Yisla. Istirahatlah."

Yisla menatap Julian lekat-lekat, sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan wajah yang masih sangat malu. Ia perlahan turun dari pangkuan Julian, lalu kembali merangkak ke sisi kanan tungku, menggulung dirinya rapat-rapat di dalam selimut wol tanpa berani menatap Julian lagi.

Julian mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu. Ia menunggu dalam diam selama hampir setengah jam, memastikan ritme napas Yisla di seberang tungku sudah berubah menjadi teratur dan pelan—tanda bahwa gadis itu telah terlelap sepenuhnya ke alam mimpi.

Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, Julian perlahan bangkit berdiri tanpa menimbulkan suara terkecil sekalipun. Ia berjalan mengendap-endap menjauhi kehangatan tungku api.

Demi menjaga batas suci dan keselamatan kepalanya dari tebasan kapak Vito besok pagi, Julian memilih untuk menggelar karpet kulit hewan cadangan di sudut ruangan yang paling jauh, tepat di dekat pintu kamar Vito.

Di sana, di bawah dinginnya sudut ruangan yang remang-remang, Julian merebahkan diri sambil menatap langit-langit kayu dengan senyum tipis yang tersisa di bibirnya. Bab malam ini benar-benar di luar garis outline-nya, tapi Astra sama sekali tidak menyesalinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!