Pada suatu waktu dalam hidupku, aku menemukanmu. Kau curahkan seluruh kasih sayangmu padaku. Dan entah sejak detik ke berapa setelah pertemuan kita, aku begitu yakin kau adalah jodohku.
Jalan yang kita lalui begitu mulus. Hingga aku bertemu dengan orang lain yang mencoba membuatku berpaling darimu. Untungnya, semesta masih mendukung kita bersama. Menunjukkan kebenaran agar kita kembali menyatu. Ya, menyatu dalam ikatan suci perkawinan. Mengucap janji sehidup semati
Sejak saat itu kerikil-kerikil silih berganti datang. Menguji kesabaran, dan cinta kita. Melemahkan pikiran, sekaligus menguatkan rasa. Tapi, aku tahu kau adalah belahan jiwaku. Imamku.
Dan akhirnya kuputuskan sejauh apapun kakimu melangkah, aku akan tetap mengikuti jejakmu. Menembus ruang
dan waktu. Menapaki jalanan penuh duri dan batu yang berkali membuatku terjatuh. Tapi, aku tetap mengikutimu. Semua kulakukan karena kau adalah belahan jiwaku. Dan kemanapun takdir membawaku pergi, aku akan tetap kembali padamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Bangkok
Perjalanan kembali ke Bangkok terasa lebih cepat dibandingkan saat kami berangkat tempo hari. Mungkin karena sudah lewat dua kali jadi terasa lebih cepat.
Siang hari kami berhenti untuk makan siang di restoran masakan lokal. Ayah bernostalgia saat masih berkuliah di Thailand. Katanya sewaktu di Thailand Ayah suka bermain dan menjelajah sana sini, tidak sepertiku yang malas keluar apartemen dan hanya keluar sesekali.
Kami menyantap makanan dan beristirahat sebentar. Satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Bangkok.
Senja hari kami sudah sampai di apartemen. PiJoy membantu Mas Jana menurunkan barang-barang kami dan menaruhnya di depan apartemen. Kak Sarah dan Pi Joy kemudian berpamitan untuk pulang.
Paman Aroon yang tahu aku baru saja kembali kemudian berlari kecil kearahku dan membantu membawa barang-barang kami ke unitku. Paman Aroon memang selalu baik dan sering sekali membantuku. Ia sudah kuanggap sebagai keluarga pertamaku saat aku menginjakkan kaki di Thailad. Ia membantu membawakan koper Ayah dan Ibu sampai ke atas.
Sesampainya di atas aku menelpon Trisa untuk membukakan pintu. Meskipun aku juga membawa kuncinya, tapi aku sangat malas untuk mencarinya di dalam tasku.
Trisa kemudian membuka pintu dan menyapa Ayah Ibuku. Paman Aroon juga membantu meletakkan koper di dalam unit kami. Ia kemudian meninggalkan kami dan memintaku untuk menghubunginya jika memerlukan sesuatu.
"Ayah sama Ibu nanti tidur di kamarku ya. Aku tidur sama Trisa, terus Mas Jana tidur di ruang tamu ya hehehe" Kataku menggoyahkan perhatian Ayah dan Ibu pada unit apartemenku.
"Nasib... Udah jauh-jauh dari Indonesia, niatnya mau melepas rindu sama calon istri, eh malah disuruh tidur di sofa ruang tamu.." Mas Jana menggerutu tapi tentu saja ia hanya bercanda.
"Hahaha, kamu ini Nak.. Yasudah nanti Ayah temani kamu tidur di sini." Kata Ayah.
"Eh enggak usah Yah.. Ayah di dalam saja sama Ibu. Jana di sini sendiri juga tidak apa-apa. Jana hanya bercanda kok hehee"
"Huss Mas Jana udah ya jangan ribut.. Trisa cariin pinjeman kasur deh. Bentar ya Trisa turun dulu minta tolong ke Paman Aroon tadi.." Belum sempat kami jawab, Trisa sudah berlari keluar.
Aku membiarkan Trisa mencari Paman Aroon sendirian. Ayah memintaku menyusulnya tapi aku tidak mau.
Kuajak Ayah dan Ibu ke kamarku. Sementara Mas Jana membantu membawakan koper mereka ke dalam kamarku. Ayah dan Ibu terlihat lega sudah melihat sendiri tempat tinggal anaknya.
Aku menyuruh mereka untuk membersihkan badan. Sementara aku dan Mas Jana mandi di kamar Trisa karena ia belum juga kembali. Aku menyuruh Mas JAna mandi terlebih dahulu agar nanti Trisa tahu bahwa Mas Jana sedang menumpang di kamar mandinya.
Aku menunggu di sofa ruang tamu. Tidak lama kemudian Trisa datang bersama Paman Aroon dengan membawa sebuah kasur. Setelah meletakkan kasurnya, Paman Aroon berpamitan. Kami berterimakasih padanya.
"Beres kan Ta.. Hahaha.." Kata Trisa memamerkan hasil dari merepotkan Paman Aroon.
"Iya tau deh.. Kamu emang tukang rusuh hahaha.. Eh by the way Sa, Mas Jana lagi mandi di kamar mandi kamu nih. Soalnya Ayah sama Ibu make kamarku. Kamu enggak keberatan kan?" Kataku pada Trisa
"Enggak Ta.. Biarin Mas Jana mandi di sana. Eh kita siapin makanan dulu yuk. Tadi aku mampir beli bahan juga waktu balik sama Grace." Ujar Trisa sambil menarik tanganku menuju ke dapur.
maaf thor karena kebanyakan baca cerita cinta segitiga kebanyakan endingnya kyk gini jadi kebawa halu 😁✌️
mendingan shinta pisah aja ma jana,daripada akan sakit hati bahkan kedepannya akan lbh sakit,berani yakin deh seorang jana tidak akan bisa hidup tanpa wanita yg diakuinya sbg sahabat yaitu sarah,krn secara tidak sadar jana sudah sangat bergantung pada sarah dan tidak akan mungkin meninggalkan sarah yakin deh sampai udah hafal aq 🤭✌️mending shinta mundur aja daripada terus2an sakit hati
penasaran
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
ditunggu ya kelanjutannya slalu hadir JODOH TERPAKSAKU
salam hangat JODOH TERPAKSAKU
🌸🌸🌸🌸🌸
aku hadir membawa like 😉
dan....wanita itu mungkinkah trista ya,mereka berada dlm satu rumah bukan tidak mungkin ketika hubungan jana dan sinta lagi bermasalah disini trista tempat jana curhat krn mereka sering ketemu dirumah dan mungkin hubungan mereka akan lebih dekat dan lbh intim tanpa sadar jana menghianati sinta dgn sahabatnya
ditunggu kelanjutannya thor
dan mari saling dukung dari 🤫JODOH TERPAKSA🤭