NovelToon NovelToon
Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cacctuisie

“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.

Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.

“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTIKCD - Panggilan Baru

“Aku kira kamu bakalan bohong ke Iren. Di awal niatnya bohong, kan? Kamu bilang gak sengaja makan di tempat kerja aku terus suka. Terus kamu akhirnya jujur tentang pernikahan kita. Kamu gak khawatir kalau Iren bakalan bilang ke mama?” tanya Nasya sangat penasaran.

Saat ini, Elgan sedang berada di kamar Nasya. Setelah kepulangan Iren dan Lala, tak lama Elgan mendadak masuk ke kamar Nasya dan duduk di dekatnya yang hendak berbaring. Melihat Elgan seakan ingin berbincang dengannya. Nasya pun mengurungkan niatnya untuk tidur.

Tiba-tiba saja, Elgan mengusap pucuk kepala Nasya pelan dan dilakukannya beberapa kali. “Aku tau persis sikap Iren. Buktinya dia mau minta maaf sama kamu, walaupun perbuatannya lumayan susah di maafin, kan? Tapi, karena kamu manusia yang berhati lembut, masih mau memaafkan dan malah pingin banget akrab sama Iren,” jawab Elgan. 

Nasya menurunkan tangan Elgan, mengerucutkan bibirnya. “Hm, kamu gak bantu sekali tadi. Coba kamu minta Iren kasih tau siapa pemilik nomor yang gak dikenal itu. Memang beda dari nomor yang masuk di HP aku, tapi Iren kan tau. Kata kamu itu Reina yang kirim pesan ke aku. Apa mungkin yang kirim ke mama itu juga perbuatannya Reina?” ujar Nasya yang mulai berani mengungkapkan keluh kesahnya. 

Jika mengatakan kata nyaman, mungkin Nasya lebih dulu merasakan kenyamanan bersama dengan Elgan. Sikapnya yang kadang berubah-ubah, tetapi tetap sikap manisnya yang tak terduga yang membuat Nasya mulai jatuh hati pada suami kontraknya itu. Bohong jika Nasya tak merasakan apapun ketika Elgan melakukan hal-hal kecil yang menurutnya hal biasa. Namun, berbeda dari penilaian Nasya yang membuatnya luluh. 

“Coba pahami kalimat aku barusan. Aku memahami sangat sikap Iren. Kalau dia gak mau bilang, pasti ada alasan dibalik itu. Mungkin gak ada kaitannya sama kita,” balas Elgan mencoba meraih telapak tangan Nasya. 

Lagi-lagi Nasya menolak disentuh. “Karena itu aku makin dibenci mama loh, Mas. Mama mikirnya aku yang kirim foto itu. Dikiranya aku mau ambil hati mama dengan cara licik. Padahal, aku gak tau menahu. Mana Iren juga gak mau kasih tau mama. Aku masih terpojokan karena itu, Mas,” sahut Nasya semakin kesal jika mengingat mertuanya. 

“Yakin kamu mau dapat perhatian mama? Aku pikir kamu gak terlalu peduli. Selain itu, aku selalu berpikir kamu gak akan mau seserius itu sama keluargaku,” balas Elgan. 

“Kamu pikir menantu mana sih yang gak mau deket sama mertuanya. Walaupun aku gak tau akhir dari kita gimana, tapikan aku juga ingin dianggap ada di keluarga suami,” jawab Nasya. 

Elgan tersenyum sekilas. Memainkan dirinya, mengikis jarak yang lagi-lagi membuat Nasya deg-degan. Tatapannya semakin hari semakin berbeda. Nasya mencoba mundur, tapi salah satu tangan Elgan menahannya. 

“Kamu pasti disayang mama dengan cara ini. Mau apa nggak?” kata Elgan dengan tatapan dibuat serius. 

“Memangnya ap—apa?” tanya Nasya, suaranya terdengar kaku. 

“Buatin mama cucu,” jawab Elgan dengan santainya. 

Sontak Nasya mendorong Elgan sekuat-kuatnya. “Dih, enak aja. Ingat sama perjanjian dan omongan kamu sendiri ya, Mas. Kamu bilang gak sudi menyentuh, tapi sampai detik ini kamu udah berapa kali menci ….” Nasya cepat-cepat mengatup bibirnya. 

“Nasya-Nasya apa yang mau kamu omongin. Jaga lisan, Sya,” batin Nasya merutuki dirinya dan memejamkan matanya karena terserang malu. 

“Menci apa? Gak mau dilanjutin. Aku gak paham kalau setengah-setengah begini,” celetuk Elgan menahan tawanya karena reaksi Nasya terlihat menyenangkan. 

Nasya bangkit dari tempat duduknya. Mendorong Elgan agar pergi dari kamarnya. Dia malu dan juga kesal dengan tanggapan Elgan yang malah memancingnya untuk terus melakukan hal yang diluar kendalinya. Elgan mengalah, melihat Nasya yang saat ini sudah mulai membaik kondisi hatinya. Rasa kekecewaan sudah mulai menghilang. 

“Kalau mau nyebelin terus kayak begini, mending jangan masuk kamar aku, ya, Mas. Udah sana  mending kamu istirahat.” Nasya mencoba menutup pintu ketika berhasil mengeluarkan suaminya. 

Dengan cekatan, tangan Elgan menahan pintu tersebut. “Yaudah, besok-besok kamu aja yang ke kamarku.” Elgan tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. 

Nasya geleng-geleng kepala. “Udah gak waras ini kamu, Mas. Minggir kalau gak mau kejepit.”

***

Beberapa hari kemudian, waktu seakan cepat sekali berlalu. Hingga kabar Revan dari pertemuan mereka terakhir pun sampai detik ini tak menghubungi maupun menemui Nasya lagi. Rasanya sangat lega, meski tak sepenuhnya. 

Perasaan yang pernah sampai membuatnya bahagia dan melupakan rasa sakit. Kini perlahan mulai pudar bersama dengan waktu yang terus berjalan. Dulu, Nasya pernah merasakan menjadi wanita beruntung bisa mengenal dan didampingi Revan. Hingga hari dimana dia tak menyangka bahwa pria yang selalu tulus itu membohonginya. 

“Hidup memang harus terus berjalan. Aku sampe gak nyangka udah ada di titik ini. Dimana semuanya telah banyak yang berubah,” gumam Nasya di ruang kerjanya. 

Nasya memeriksa pembukuan yang sudah dibuat dan dirapikan Rina. Namun, ketika masih fokus Rina mengetik pintu dengan tergesa-gesa seakan terjadi sesuatu. Nasya pun panik melihat ekspresi Rina pertama kali. 

“Kenapa, Rin?” Nasya memegangi kedua lengan Rina pelan. 

“Haduh, maaf mbak udah bikin panik. Aku lagi nerima pelanggan, banyak banget di depan. Nah, ada siapa tadi. Mbak Iren kalau gak salah sama Lala. Mau ketemu katanya,” kata Rina dibarengi dengan senyuman. 

“Kamu, ya. Mbak usah khawatir kirain ada apa. Yaudah, ayo kita ke depan,” ajak Nasya. 

Baru saja keluar, Lala sudah berlari menghampiri Nasya. Perlakuan Nasya yang selalu hangat, membuat Lala nyaman dengannya. Baru kali ini juga, Iren tidak melarang Lala untuk bertemu dan memeluk Nasya. Biasanya, dia sudah pasang badan agar tetap waspada. Sama sekali tidak ingin Lala berhubungan dengannya. 

“Hallo, sayangnya Tante Nasya,” sapa Nasya. 

“Hari ini Lala dan Mama mau ajak Tante Nasya ke rumah nenek. Mau kasih nenek hadiah,” ujar Lala. 

“Memangnya nenek ulang tahun?” tanya Nasya seraya melirik Iren. 

“Gak ulang tahun, cuma pengen aja. Sekalian, aku mau ajak kamu, emm … Kak,” balas Iren dengan sangat kaku menyebut kata ‘Kak’ ke Nasya. 

Nasya tersenyum lebar sekali, dia sangat terharu mendengarnya. Setelah penantian lama, akhirnya ada yang mengakuinya. Nasya berjalan sambil menggandeng tangan Lala menghampiri Iren lebih dekat. 

“Makasih, ya, Ren. Kamu jadi orang kedua setelah Kakek yang menganggap ada di keluarga ini. Ngomong-ngomong, yakin kamu mau ajak aku ke rumah mama? Takutnya mama masih kayak kemarin, malah tambah gak suka bareng sama kamu dan Lala,” balas Nasya sedikit khawatir. 

“Ada aku, pasti baik-baik aja.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!