Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang mulai tumbuh!
Kalimat demi kalimat meluncur begitu mulus dari bibir Arsen, terbungkus rapi oleh narasi sosok anak yang berbakti dan suami yang bertanggung jawab.
Diksi yang ia pilih teratur, tanpa cela, dan disampaikan dengan intonasi yang begitu tenang.
Siapa pun yang mendengarnya mungkin akan mengangguk patuh, terbuai oleh pesona seorang pria idaman yang tampak memikul beban dunia demi keluarganya.
Namun tidak bagi Rindu. Pria di hadapannya ini adalah orang yang sama yang membagikan napas padanya selama tiga tahun terakhir.
Rindu terpaku menatap suaminya. Ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Arsen, mengurainya satu per satu di dalam kepala, mencari celah logis yang mungkin bisa menenangkan jiwanya yang bergetar.
Namun, makin keras ia berusaha mencerna, makin kuat rasa aneh yang menggerogoti hatinya. Intuisi seorang istri jarang sekali meleset. Saat ini, nalurinya tidak lagi sekadar berbisik, melainkan menjerit keras, memperingatkan bahwa Arsen sedang menyembunyikan sesuatu.
Rindu menunduk, menatap jemari Arsen yang melingkari kedua tangannya. Usapan hangat di punggung tangannya, gerakan yang biasa memberikan rasa aman dan menjadi tempatnya berlabuh saat lelah, kini terasa dingin, kaku, dan asing.
Sentuhan itu tidak lagi mengalirkan kasih sayang, melainkan kepura-puraan yang dipaksakan.
Ada keraguan yang makin membesar di dalam dada Rindu, bagaikan benalu yang menggerogoti rasa percayanya hingga ke akar terkecil.
"Mas..." suara Rindu terdengar begitu lirih, hampir menelan ludahnya sendiri. Suara itu menyelinap tipis di antara kecanggangan yang mengudara rapat di dalam ruangan.
"Iya, sayang?" sahut Arsen.
Rindu menatap mata suaminya dalam-dalam, mencari binar kejujuran ada di sana.
"Kalau ada sesuatu, bilang sama aku ya, Mas."
Arsen mengembuskan napas perlahan, tatapannya melembut, sebuah ekspresi yang dipelajari dengan sangat baik untuk menghapus semua keraguan yang kini memenuhi mata sang istri.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik tubuh Rindu perlahan ke dalam pelukannya.
Hangat tubuh lelaki itu menyelimuti Rindu, sama seperti pelukan-pelukan yang selalu berhasil menenangkan hatinya. Namun entah mengapa, kali ini pelukan itu terasa amat berbeda.
Seolah-olah bukan untuk melindungi Rindu dari kesedihan, melainkan untuk menyembunyikan sesuatu dari tatapan matanya, sesuatu yang tidak ingin dilepaskan Arsen begitu saja.
Arsen mengusap lembut rambut Rindu, mengulang yang biasa ia lakukan saat memanjakan istrinya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, ya," bisiknya pelan di dekat telinga Rindu.
"Aku pasti akan selalu jujur sama kamu."
Kalimat itu meluncur begitu tenang. Tidak ada jeda, tidak ada keraguan, bahkan terdengar sangat meyakinkan. Sebuah perpaduan nada bicara dan kehangatan palsu yang begitu sempurna.
Rindu memejamkan mata sesaat di dalam pelukan suaminya. Ia ingin mempercayai setiap ucapan Arsen.
Sungguh, ia ingin sekali menjadi istri yang patuh dan menyerahkan seluruh keraguan ini pada takdir. Selama tiga tahun, lelaki itulah tempatnya bersandar, tempatnya berbagi lelah, dan tempatnya menaruh seluruh kepercayaan tanpa sisa.
Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat pula suara kecil di dalam hatinya berbisik bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Apalagi semalam, saat Arsen berbohong padanya, memang Arsen memberikan alasan yang begitu masuk akal. Tapi, karena terlalu masuk akal itulah, Rindu merasa ada yang disembunyikan.
Kalimat itu meluncur begitu tenang. Tidak ada jeda, tidak ada keraguan, bahkan terdengar sangat meyakinkan. Siapa pun yang mendengarnya mungkin akan percaya sepenuhnya.
Rindu memejamkan mata sesaat di dalam pelukan suaminya. Ia ingin mempercayai setiap ucapan Arsen. Selama tiga tahun, lelaki itulah tempatnya bersandar, tempatnya berbagi lelah, dan tempatnya menaruh seluruh kepercayaan.
Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat pula suara kecil di dalam hatinya berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Setiap kali ditanya, jawabannya selalu sama.
Apalagi semalam, saat Arsen berbohong padanya, memang Arsen memberikan alasan yang begitu masuk akal. Tapi, karena terlalu masuk akal itulah, Rindu merasa ada yang disembunyikan.
Ia perlahan melepaskan diri dari pelukan Arsen lalu menatap wajah suaminya lekat-lekat.
"Kamu benar nggak bohong sama aku, Mas?"
Pertanyaan itu membuat senyum Arsen sempat membeku sepersekian detik sebelum kembali mengembang.
"Aku ngapain bohong sama istriku sendiri?"
Arsen menyentuh pipi Rindu dengan lembut.
"Kamu ini terlalu banyak pikiran."
Rindu memaksakan senyum tipis, meski dadanya masih dipenuhi sesak yang sulit dijelaskan.
"Maaf... mungkin aku memang kebanyakan mikir."
"Nah, gitu dong." Arsen terkekeh kecil. "Aku kerja keras juga buat siapa kalau bukan buat kamu?"
Kalimat itu kembali terdengar manis, terlalu manis.
Di balik senyumnya, Arsen berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi menghantui pikirannya.
Tangannya masih tampak tenang, tetapi jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya.
Ia sadar, Rindu mulai merasakan perubahan sikapnya.
Semakin lama ia mempertahankan kebohongan ini, semakin besar pula kemungkinan semuanya terbongkar.
Bayangan wajah wanita lain itu tiba-tiba muncul di benaknya.
Wanita yang telah beberapa bulan lalu ia nikahi secara diam-diam.
Tidak seorang pun mengetahui pernikahan itu. Bahkan kedua orang tuanya sendiri.
Selama Rindu tidak tahu, rumah tangganya akan tetap terlihat baik-baik saja.
Begitulah yang selalu diyakinkan kepada Arsen.
Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Setiap kali menatap mata Rindu, rasa bersalah selalu datang menghantam tanpa ampun.
Perempuan yang kini berdiri di hadapannya adalah sosok yang selama ini mencintainya tanpa syarat. Tidak pernah menuntut apa pun selain kejujuran dan kesetiaan.
Dan justru dua hal itulah yang telah ia hancurkan.
"Aku janji," ucap Arsen sekali lagi sambil menggenggam kedua tangan Rindu.
"Apa pun yang terjadi, aku nggak akan pernah nyembunyiin sesuatu dari kamu."
Ucapan itu terasa seperti duri yang menusuk dadanya sendiri.
Sebab pada saat yang sama, sebuah cincin pernikahan lain tersimpan rapi di dalam laci apartemen yang ia sewakan untuk istri keduanya.
Setiap janji yang keluar dari bibirnya berubah menjadi kebohongan baru.
Rindu mengangguk pelan.
"Iya, Mas."
Hanya dua kata sederhana.
Namun entah mengapa, kalimat itu membuat Arsen merasakan firasat buruk yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah kebohongan yang selama ini ia kubur rapat tidak akan bisa bersembunyi selamanya.
Karena sekuat apa pun seseorang menutupi kebenaran, akan selalu ada celah kecil yang pada akhirnya membuka semuanya. Dan ketika hari itu tiba, bukan hanya kepercayaan Rindu yang hancur, melainkan juga rumah tangga yang selama ini Arsen perjuangkan dengan penuh kepura-puraan.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰