Alkea, gadis gigih dan pantang menyerah. Ia mulai jatuh cinta pada sepupunya sejak usia remaja, Hasan Dinata namanya.
Alkea tidak ingin mengalah pada gadis manapun, ia teguh pada cinta dan pendiriannya untuk menjadikan hasan sebagai miliknya.
Akankah Hasan menyambut uluran tangan sepupunya dan meninggalkan tunagannya? Temukan jawabannya hanya di novel Sepupu, Jadikan Aku Istrimu.
Happy Reading. IG author: @hasma_mahmud
Dukung karya ini dengan banyak cinta, like, komen, poin and vote sobat semua akan mendekatkan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasma mahmud, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Dinata.
Kondisi rumah sakit pagi itu nampak ramai, dua ambulance berhenti tepat di dekat Denan yang sedang berdiri.
Tampaknya, sebuah kecelakaan besar telah terjadi, kecelakaan yang melibatkan truk pengangkut barang dan sebuah mobil yang di kendarai oleh sopir taksi online. Lagi-lagi jalanan yang licin menjadi penyebab kecelakaan, mobil yang di kendarai sopir taksi online menabrak pembatas jalan, kemudian terpental menghantam truk pengangkut barang. Sebaik apa pun seseorang berkendara, dan sebagus apa pun seseorang berlatih, tetap saja ia akan menemui takdirnya. Celaka, hidup dan mati semuanya ada dalam kendali yang Kuasa.
Memang, takdir hidup dan mati tak dapat di ubah, namun setidaknya tetaplah berdo'a pada Allah agar di jauhkan dari marabahaya, hanya itu yang bisa di lakukan seorang manusia untuk tetap terikat dengan Tuhannya.
Setelah pasien kecelakaan itu masuk, Denan pun masuk, ia berjalan menuju ruangan sahabatnya yang menjadi dokter di rumah sakit tempatnya menyumbangkan darahnya kemarin.
"Hay, bro." Denan masuk tanpa mengetuk pintu karena sebelumnya ia sudah memberi kabar akan berkunjung.
"Kau ada di sini? Aku pikir kau sedang bercanda." Ucap sang pemilik kantor yang ada di lantai lima itu.
"Kau tahu kan aku tidak pernah bercanda dalam urusan mendesak? Tidak dulu, tidak juga sekarang." Timpal Denan dengan nada suara tegasnya. Ia duduk di sofa menyusul sahabatnya.
"Mendesak? Masalah apa? Apa kau sakit? Apa aku perlu memeriksa kondisimu? Ayo, ikut aku."
"Tidak. Tidak. Bukan itu masalahnya, aku datang karena ada kepentingan peribadi. Kau ingat saat aku datang bersama pasien wanita yang tertembak kemarin?" Tanya Denan tak ingin membuang waktu lagi.
Tidak ada jawaban untuk Denan selain anggukan kepala pelan.
"Aku dengar wanita itu sudah siuman, aku datang untuk mengunjunginya." Celetuk Denan sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Kau terlambat, dia sudah pulang pagi ini. Dia terus merengek minta pulang, karena itulah dokter senior yang menanganinya terpaksa memberikan izin, dengan catatan wanita itu akan menjalani rawat jalan." Ucap dokter sakaligus sahabat Denan itu.
Putus asa!
Hal itu memenuhi diri Denan Anggara, ia mengutuk dirinya sendiri kenapa ia tidak datang lebih pagi.
"Kau tahu aku menyumbangkan darah pada wanita itu sebagai terima kasih karena dia menyelamatkanku?" Denan bertanya karena ada maksud lain yang terbersit di dalam otaknya.
"Iya, terus?" Keluh dokter itu tanpa menatap Denan, ia terlalu fokus pada laporan yang ada di tangannya.
"Untuk apa bertanya, kau tahu jawabannya." Sela Denan dengan tatapan tajam.
"Tidak. Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin tiada secepat itu, kau tahukan aku belum menikah?" Dokter muda yang duduk di depan Denan menyilangkan kedua tangan di depan dada sebagai bentuk penolakan tegasnya.
"Apa kau mau di pecat sebagai sahabat?" Ancam Denan sembari melempar bantal kecil yang ada di pangkuannya tepat di wajah dokter itu. Mereka bersahabat sejak lama, karena itulah tak ada sikap tersinggung yang terlihat dari gerak-gerik dokter itu.
"Dasar pemaksa."
"Ingat, aku akan membantumu untuk kali ini saja. Jadi, jangan pernah memintanya di lain waktu, jika kau berani melakukan itu, aku sendiri yang akan memecatmu jadi sahabaku." Gerutu dokter itu lagi.
"Iya, baiklah." Ucap Denan sembari menahan tawa. Ia tahu ucapan sahabatnya itu hanya ancaman konsong tak berarti, kebahagiaan Denan jelas terpancar di raut wajahnya, walau ia belum berkenalan dengan gadis impiannya, setidaknya ia sudah berusaha untuk mendapatkan informasi penting tentang gadisnya dari dokter yang merupakan sahabat terbaiknya.
Sementara itu di tempat berbeda, atau tepatnya di mansion Dinata, kedatangan Alkea dan Hasan di sambut dengan suka cita. Semua orang berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan pasangan baru itu.
"Umma, Baba, kalian jahat." Alkea langsung berhambur kedalam pelukan Umma Yuna setelah mengatakan keluhan singkatnya, Alkea menangis dalam pelukan ibunya seolah mereka telah terpisah lama.
"Dasar anak nakal, kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya kau bahagia karena Umma meninggalkan kalian berdua?" Umma Yuna mencubit hidung bangir putri berharganya, wajah cantik yang mulai menunjukkan kerutan itu mulai tersenyum bahagia.
"Tante benar, seharusnya kak Alkea bahagia karena kami meninggalkan kalian berdua, dengan begitu kak Hasan bisa, hufttt." Maryam langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan saat melihat tatapan tajam Ummi Raina, tatapan itu seolah mengatakan jangan katakan apa pun.
"Ada apa? Kenapa kalian diam? Dan kenapa kalian menatap Maryam seperti itu? Apa ada rahasia yang tidak boleh ku ketahui? Katakan Umma?" Alkea yang tak tahu apa pun hanya bisa menatap semua orang dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Masuklah, nak. Kau harus istirahat, nanti kami akan jelaskan segalanya." Ummi Raina memegang tangan Alkea, ia menuntun gadis itu masuk, kemudian meminta Maryam mengantar sepupu sekaligus kakak iparnya ke kamar barunya.
Di kamar.
"Kenapa kau membawaku kemari? Aku tahu aku mengalami cedera tapi untungnya aku tidak mengalami amnesia. Ini kamar Kak Hasan, bukan kamar ku." Ucap Alkea sembari mencubit pipi gembul Maryam Dinata.
"Iya, aku tahu, kak. Aku juga tidak mengalami amnesia, mulai saat ini dan seterusnya ini yang akan menjadi kamar kak Alkea." Ujar Maryam menegaskan.
"What? Impossible?" Alkea melotot, rasanya ia ingin mencubit Maryam namun ia mengurungkan niatnya saat menyadari kedatangan Hasan.
"Apanya yang impossible? Semuanya possible saja bagiku." Sahut Hasan membuat Alkea melotot padanya.
"Dek, terima kasih. Kau boleh pergi. Dan satu lagi, tutup pintunya." Pinta Hasan sambil menyerahkan benda berukuran tipis kepada Maryam, benda yang Alkea yakini sebagai sogokan.
Sedetik kemudian, tersisa Alkea dan Hasan di kamar. Kamar yang menjadi saksi bisu betapa kesalnya Alkea saat Hasan mencoba meraup bibir tipisnya.
"Aku memperingatkanmu, jangan lakukan hal seperti terakhir kali. Aku sendiri tidak tahu kenapa Umma, Ummi, Abbi dan Baba mengizinkan kak Hasan bersamaku di dalam kamar walau mereka tahu kita bukan pasangan.
Satu yang pasti, jika kau berani melakukan tindakan pemaksaan, aku akan membawamu ke..." Ucapan Alkea menggantung di udara, ia tidak tahu harus berkata apa selanjutnya.
"Duduk, di sini." Hasan menepuk ranjang di samping kirinya, ia meminta Alkea dengan suara lembutnya.
"Tidak akan. Dari pada aku duduk di dekat mu, lebih baik aku melompat dan jatuh dari ketinggian." Tolak Alkea dengan nada suara datar.
Hasan berusaha menahan amarah, mendengar jawaban Alkea membuatnya ingin menyumpal bibir sepupunya itu dengan bibirnya. Ia tidak pernah membayangkan kalau Alkea yang dulu mengejarnya dan selalu mengirimkan pesan perhatian tiba-tiba berubah menjadi gadis jutek hanya dalam hitungan jam.
"Baiklah, kau bisa duduk dengan tenang di sana. Dengarkan saja apa yang akan ku katakan, karena setelah ini kau akan menjadi tawananku." Hasan menatap Alkea dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tawanan?
Hasan yang bodoh, tak bisakan dia mengatakan kalau Alkea adalah miliknya dan dia akan selalu menjaganya? Untuk apa mengatakan 'Tawanan' jika kata-kata itu akan menjadi boomerang.
...***...
j*jik laaah begitu..
ngaku benci, kok kissing kissing???
cowok udah bicara kasar gitu pun
masih jg disamperin....
yok cabut!!!
pindahla dan pergilah sejauh mgkn.
kl dia jodohmu, insyaaAlloh akan bersua jg
salken, thor syantiq☺
deg deg an nih..
kl dah cerita ttg PaRiban-.an...
😂
.