NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kotoran di Pergelangan

Suhu dingin sisa hujan semalam masih merayap bebas di antara celah lantai marmer, menembus selimut beludru tipis yang membungkus tubuh Aria. Di atas meja kayu ek dekat peraduan, cangkir porselen berisi teh chamomile yang sudah dingin tidak lagi mengeluarkan uap. Aria duduk bersandar pada tumpukan bantal, membiarkan rambut cokelatnya terurai kusut di bahu. Rasa pening yang tumpul masih berdenyut di balik pelipisnya, sisa dari terkurasnya mana suci miliknya setelah menjinakkan cawan perak semalam.

Ia mengangkat tangan kanan, menatap telapak tangannya sendiri yang tampak sedikit pucat. Di dunia ini, ia adalah Aria Evander, putri seorang baron yang hampir bangkrut. Namun di balik kulit ari yang halus ini, mengalir kekuatan yang sanggup merobek lembar-lembar takdir tertulis. Kekuatan yang, sayangnya, menuntut bayaran fisik yang tidak murah.

“Kau terlalu memaksakan diri,” sebuah suara bergemerincing pelan memecah kesunyian kamar.

Seberkas cahaya keemasan seukuran ibu jari melayang dari balik tirai tempat tidur. Lumi muncul, mengepakkan sayap transparannya yang berkilau lembut. Roh pena takdir itu mendarat di ujung jempol Aria, wajah mungilnya menampakkan gurat kecemasan yang nyata.

“Jika kau terus menggunakan penglihatan waktu dan menulis ulang kenyataan dalam kondisi mana yang sekarat, jiwamu bisa retak sebelum novel ini mencapai bab pertengahan, Aria,” lanjut Lumi, suaranya terdengar seperti bisikan angin malam.

Aria menghela napas panjang, membiarkan dadanya naik turun dengan perlahan. “Aku tidak punya pilihan, Lumi. Jika cawan itu meledak semalam, bukan hanya menara barat yang hancur. Seluruh rencana kita untuk menjauhkan keluargaku dari pusaran konflik ini akan lenyap dalam sekejap.”

Pandangan Aria beralih ke jendela besar yang mengarah langsung ke halaman istana bagian dalam. Langit fajar mulai menyingkap tabir gelap, menggantinya dengan semburat warna jingga dan abu-abu pucat. Namun, bukan keindahan pagi yang menyita pikirannya, melainkan bayangan noda abu-abu kehitaman di manset lengan baju Pangeran Kael semalam.

Noda itu sangat kecil, hampir tidak terlihat jika Kael tidak menggenggam lengannya untuk memastikan keadaannya. Sebagai mantan mahasiswi kedokteran yang sering berurusan dengan zat kimia, dan kini sebagai penyihir yang memahami struktur mana, Aria tahu persis itu bukan noda lumpur biasa. Itu adalah residu bubuk mesiu necromancy—jenis zat peledak hitam yang hanya digunakan dalam ritual sihir terlarang untuk membangkitkan boneka mayat.

Bagaimana mungkin zat sekotor itu berada di pakaian seorang Putra Mahkota yang selalu dijaga ketat oleh ksatria terbaik kekaisaran?

“Kael tidak mungkin berkhianat,” gumam Aria pada diri sendiri, lebih sebagai penegasan daripada sekadar tebakan. “Mana miliknya terlalu murni, terlalu berkilau seperti emas cair. Jika ia menyentuh necromancy, jiwanya akan langsung menolak dan menimbulkan luka dalam.”

“Itu berarti ada orang lain,” Lumi terbang mendekati pipi Aria, memberikan kehangatan magis yang samar untuk meredakan pening di kepala gadis itu. “Seseorang yang sangat dekat dengannya. Seseorang yang memiliki akses ke ruang pribadinya, atau bahkan orang yang memakaikan pakaiannya setiap pagi.”

Kecurigaan itu membuat tengkuk Aria meremang. Pengkhianat tidak berada di luar tembok istana, melainkan merayap di dalam bayang-bayang jubah sang pangeran sendiri.

***

Beberapa jam kemudian, halaman paviliun utama kekaisaran telah menjelma menjadi lautan aktivitas yang sibuk. Kereta-kereta kuda berhias lambang keluarga bangsawan tingkat tinggi berjejer rapi di sepanjang jalan setapak berbatu. Festival Berburu Kekaisaran akan dimulai dalam dua hari, dan seluruh anggota istana tengah bersiap untuk bertolak ke hutan berburu di kaki Gunung Nord.

Aria berjalan dengan langkah anggun yang tertata, mengenakan gaun berburu satin berwarna hijau zamrud yang dipadukan dengan mantel bulu putih di bahunya. Di sampingnya, Mia Florent berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, membawa keranjang kecil berisi botol-botol ramuan penyembuh darurat yang telah Aria siapkan secara rahasia.

“Nona, apakah Anda benar-benar harus ikut?” bisik Mia, suaranya bergetar cemas di antara kebisingan para pelayan yang sedang menaikkan barang-barang ke atas kereta. “Wajah Anda masih sangat pucat. Saya bisa meminta tabib istana untuk memberikan surat izin sakit.”

Aria tersenyum tipis, menepuk punggung tangan Mia dengan lembut. “Jika aku tinggal di sini, Mia, aku hanya akan menjadi sasaran empuk yang terisolasi. Di luar sana, di bawah langit terbuka, setidaknya aku bisa melihat dari arah mana anak panah itu akan datang.”

Langkah Aria terhenti ketika ia mencapai area persiapan utama. Di tengah lapangan, dikelilingi oleh para ksatria berbaju zirah perak, berdiri Pangeran Kael Ashford. Pria itu tampak luar biasa gagah dengan pakaian berburu kulit berwarna hitam berhias sulaman benang emas berbentuk naga. Rambut peraknya yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi, dan sepasang mata biru sedalam samudra miliknya tengah menatap tajam ke arah peta wilayah perburuan.

Di sebelah Kael, Leon Ardent tengah memeriksa tali busur besar dengan saksama. Senyum ceria yang biasa menghiasi wajah sang komandan ksatria naga itu kini digantikan oleh ekspresi serius yang dingin. Kebersamaan mereka memberikan rasa aman yang semu bagi siapa pun yang melihatnya.

Aria mengamati dari jarak aman. Pandangannya tidak tertuju pada Kael atau Leon, melainkan pada barisan pelayan pribadi dan ajudan yang berdiri di belakang sang pangeran. Matanya menyusuri satu per satu wajah mereka, mencari getaran kecemasan, gerakan tangan yang tidak biasa, atau aroma belerang yang mungkin tertinggal.

“Nona Evander,” sebuah suara bariton yang halus dan berirama menyapa dari arah kanan.

Aria tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Aroma parfum mawar hitam yang bercampur dengan wangi kertas kuno langsung memberitahunya. Duke Lucien Veritas berdiri di sana, bersandar pada pilar batu selasar dengan keanggunan yang tampak sangat alami namun mematikan.

“Duke Lucien,” Aria membalikkan tubuhnya setengah putaran, memberikan anggukan hormat yang sempurna sesuai tata krama kelas atas. “Saya tidak mengira Anda akan tertarik dengan persiapan berburu yang bising ini.”

Lucien melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Aria bisa melihat pantulan dirinya di manik mata abu-abu pria itu yang misterius. Duke muda itu tersenyum—sebuah lengkungan bibir yang tidak pernah mencapai matanya.

“Bising adalah samaran terbaik untuk menyembunyikan bisikan, bukan?” Lucien berbisik, matanya melirik sekilas ke arah Kael sebelum kembali menatap Aria. “Bagaimana tidur Anda semalam, Nona? Saya harap mimpi buruk di menara barat tidak mengganggu istirahat indah Anda.”

Aria mengepalkan jemarinya di balik lipatan jubahnya, menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi fisik apa pun yang bisa dibaca oleh pria manipulatif di hadapannya. Lucien tahu terlalu banyak. Pria ini tahu bahwa dunia ini bergerak berdasarkan naskah, dan ia selalu memosisikan dirinya sebagai penonton yang siap merebut kendali saat aktor utama lengah.

“Saya tidur dengan sangat nyenyak, Duke. Terima kasih atas perhatian Anda yang... luar biasa,” jawab Aria dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin.

“Sungguh melegakan,” Lucien menegakkan tubuhnya, melangkah satu tapak lebih dekat hingga aroma tubuhnya mendominasi indra penciuman Aria. “Namun, berhati-hatilah di hutan nanti. Salju di kaki Gunung Nord sangat mudah menyerap warna merah. Dan terkadang, jebakan terbaik adalah jebakan yang dipasang oleh tangan yang paling sering kita jabat.”

Setelah mengucapkan kalimat yang sarat akan ancaman dan petunjuk itu, Lucien melangkah pergi dengan jubah hitamnya yang berkibar ditiup angin pagi, meninggalkan Aria dengan debaran jantung yang kian berkejaran.

Jebakan yang dipasang oleh tangan yang paling sering kita jabat.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Aria saat ia memperhatikan kembali interaksi di tengah lapangan. Kael tampak sedang berbicara dengan kepala pelayan pribadinya—seorang pria paruh baya bernama Hans yang telah melayani keluarga kerajaan selama lebih dari dua dekade. Hans sedang merapikan jubah luar Kael, tangannya bergerak dengan sangat terampil.

Namun, saat Hans mengangkat tangan untuk merapikan kerah baju Kael, gerakan jemarinya yang gemetar tidak luput dari perhatian Aria. Melalui sisa mana yang ia kumpulkan di matanya, Aria mengaktifkan penglihatan waktu dalam skala mikro.

Dunia di sekitarnya mendadak melambat. Warna-warna memudar menjadi abu-abu, menyisakan aliran mana yang berpendar. Di ujung ibu jari dan telunjuk Hans, Aria melihat sisa-sisa energi hitam yang redup namun sangat pekat—energi necromancy yang sama dengan yang ia deteksi pada cawan perak semalam.

Napas Aria tercekat di tenggorokan. Hans, pelayan setia yang telah dianggap Kael seperti ayahnya sendiri, adalah sang pembawa racun.

Saat aliran waktu kembali normal, Aria menyadari bahaya besar yang tengah mengintai. Jika ia menuduh Hans sekarang tanpa bukti fisik yang kuat, ia hanya akan dianggap gila atau mencoba memfitnah pelayan setia keluarga kerajaan. Terlebih lagi, Evelyn Roselia pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk membalikkan keadaan setelah rasa malu yang ia terima di perjamuan semalam.

Aria harus bermain cantik. Ia harus membiarkan bidak catur ini bergerak ke tempat yang ia inginkan.

“Mia,” panggil Aria dengan suara yang sangat rendah, hampir menyatu dengan desau angin.

“Ya, Nona?”

“Pastikan ramuan penawar racun dan pemurni mana yang kita bawa berada di tempat yang paling mudah kujangkau,” kata Aria, matanya tetap terkunci pada sosok Kael yang kini mulai menaiki kuda perang hitamnya. “Di hutan nanti, kita tidak hanya akan berburu binatang liar. Kita akan berburu pengkhianat.”

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!