Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta
Arlan sangat kesal. amarahnya seakan ingin meledak, ketika Sania mengatakan kalau ia sedang bersama Dennis.
Arlan bertambah kesal karena mendadak Erika datang kekantornya, Arlan sudah berpesan pada sekertarisnya. Siapapun tidak boleh masuk keruangannya, namun Erika menerobos masuk keruangannya.
Sekertais Arlan tidak berani melarang Erika masuk, Ia tahu Erika adalah istri Arlan.
Arlan ingin meminta Erika untuk pergi dari kantornya dengan alasan ia sedang banyak pekerjaan.
Belum sempat Arlan mengusir Erika, Sekretarisnya menelphone dan memberitahu dirinya kalau ada seorang wanita yang ingin menemuinya.
Seketaris Arlan mengatakan wanita itu bernama Sania, Arlan tersenyum tipis. ia begitu marah pada Sania, tapi entah mengapa ia merasa senang Sania datang ketempat kerjanya.
Dengan cepat Sania bisa merubah suasana hati Arlan. Hanya mendengar nama Sania saja, Arlan sudah merasa senang.
Arlan yang semula marah dan uring uringan tiba tiba tersenyum senang, Erika kegirangan melihat senyum diwajah Arlan. Wanita itu mengira, Arlan tersenyum setelah melihat kedatangannya.
Dengan penuh rasa percaya diri Erika duduk dipangkuan Arlan, Arlan memijat pelipisnya. tidak tahu kenapa ia merasa tidak nyaman berdekatan dengan Erika.
Senyuman kembali terlukis diwajah Arlan disaat Arlan mendengar suara ketukan pintu, Arlan menutupi kedua telinga Erika dengan dua tangannya.
Erika serasa melayang terbang tinggi jauh keawan, Mendapatkan perlakuan manis dari Arlan tentu saja Erika merasa sangat tersanjung.
"Meskipun aku sudah menikah dengan Arlan, Arlan tidak pernah menyentuhku. Arlan bilang, itu karena aku hamil. dia takut membahayakan bayiku. apa sekarang dia melakukannya?" Ucap Erika dalam hati.
Erika menatap Arlan penuh harap, ia berharap suaminya itu mau menyentuhnya. harapan itu sirna ketika Erika mendengar suara benda jatuh.
Erika sangat kesal saat ia melihat Sania sudah berada didalam ruangan itu, Sania juga memecahkan vas bunga yang ada disana.
Erika mengusir Sania dari ruangan itu, tapi siapa sangka justru Arlan meminta Erika untuk keluar dari ruangan itu.
Dengan kesal dan dengan hati yang dipenuhi oleh amarah, Erika kemudian pergi meninggalkan Arlan dan Sania.
Arlan dan Sania saling berpandangan, jarak mereka sangat dekat karena Sania sudah berada dipangkuan Arlan.
"Kenapa kamu datang kekantorku? Sengaja ingin mengganguku dan Erika?"
Arlan merasa jantungnya berdebar debar,didekat Sania ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan, saat ia sedang bersama Erika.
"Aku sudah bilang, aku mau bertemu nenekku. Tolong bilang sama orang orang suruhan kamu itu, biarkan aku masuk kekamar nenek."
"Apa Dennis tidak bisa membantumu? Sampai kamu memohon mohon padaku." Arlan tersenyum mengejek.
Sania jadi kesal, rasanya percuma saja ia membujuk Arlan. Arlan tidak akan mengijinkan Sania bertemu dengan neneknya.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah aku akan menemui nenek secara paksa." Sania ingin berdiri dari pangkuan Arlan, tapi Arlan justru memegangi pinggang Sania agar Sania tidak bisa berdiri.
"Aku akan mengijinkanmu bertemu dengan nenek, Kamu ini memang tidak sabaran. kenapa kamu tidak menungguku dirumah? bilang saja kalau kamu kangen." Goda Arlan seraya memeluk pinggang Sania.
"Karena aku tidak akan pulang kerumah."
Sania sudah memutuskan, ia akan pergi dari rumah, Sania tidak sudi lagi tinggal satu rumah dengan Erika. ia juga tidak bisa tinggal dengan ibu Eva, ibu mertua yang membenci dirinya
Dulu rumah itu dipenuhi kebahagiaan. Sania merasa semua lelah dan masalahnya akan terasa ringan saat ia pulang kerumah, kemanapun Sania pergi ia ingin cepat cepat pulang karena Sania merasa betah dirumah.
Kini rumah itu seperti tempat asing bagi Sania, Sania bahkan malas untuk pulang kerumah itu.
"Apa katamu?" Arlan menurunkan tangannya dari pinggang Sania, ia terlihat marah.
"Kamu lupa? kalau kamu keluar dari rumah, aku akan menghentikan biaya pengobatan nenek." Arlan kembali mengancam Sania.
"Arlan aku mohon, biarkan aku keluar dari rumah. aku tidak bisa tinggal serumah dengan Erika."
Sania merasa, ia tidak akan sanggup jika terus terusan melihat kemesraan Arlan dan Erika.
Melihat wajah Sedih Sania, hati Arlan menjadi luluh.
"Memangnya kamu mau pergi kemana? Mau kabur lagi bersama Dennis?"
"Aku mau tinggal dirumah sakit, aku mau menemani nenek. mungkin saja kalau aku ada didekat nenek, nenek bisa cepat sembuh."
Arlan terdiam untuk sesaat ia berpikir. rasanya terlalu jahat jika ia membiarkan Sania dan Erika tinggal satu rumah.
"Tiga hari, kamu boleh menemani nenek selama tiga hari." Arlan akhirnya mengijinkan Sania keluar dari rumah.
"Aku mau menemani nenek sampai sembuh." Sania berencana untuk pergi selamanya dari rumah Arlan, tapi mengapa Arlan hanya memberinya waktu tiga hari.
"Tiga hari atau kamu tidak usah pergi."
Arlan memang tidak pernah mau mendengarkan pendapat serta keinginan Sania. kalau Arlan sudah membuat keputusan, Sania hanya bisa menurut. Sania tidak akan bisa menolak karena Arlan selalu punya cara untuk mengancam Sania.
"Baiklah." Sania akhirnya pasrah, ia menuruti kemauan Arlan.
Setidaknya selama tiga hari, Sania tidak perlu bertengkar dengan Erika dan selama tiga hari ia tidak perlu mendengar omelan ibu Eva.
Sania ingin berdiri dari pangkuan Arlan, tapi lagi lagi Arlan tidak membiarkan Sania berdiri ia memeluk pinggang Sania erat erat.
"Mau kemana?" Tanpa rasa canggung Arlan menyandarkan kepalanya didada Sania.
Sania membuat Arlan lupa segalanya. Arlan bahkan lupa, kalau ia seharusnya marah dan membenci Sania.
"Kamu tahu Sania? aku sebenarnya sangat marah padamu dan seharusnya aku membencimu karena kamu sudah. menghianatiku. aku tidak tahu, kenapa aku tidak bisa membencimu?" Arlan memejamkan matanya.
"Kamu salah. Aku yang seharusnya membencimu. Aku juga tidak tahu, kenapa aku tidak bisa membencimu?"
Arlan tidak berkata apa apa ia hanya diam, sesaat kemudian Sania merasa tangan nakal Arlan mulai menyusup kedalam bajunya.
"Arlan, apa yang kamu lakukan?"
Sania ingin mendorong dada Arlan lalu ia pergi dari tempat itu, tapi tubuhnya berkata lain. Sania seakan menikmati sentuhan Arlan.
Sania memejamkan matanya, ia membiarkan Arlan menyentuh setiap inci tubuhnya. Sania juga tidak menolak, ketika dengan lembut Arlan mencium bibirnya.
Arlan kemudian berdiri sambil menggendong Sania, ia ingin membawa Sania kedalam kamar yang berada dibelakang ruangannya. Belum sempat Arlan berjalan tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.
Arlan berdecak sebal, dengan berat hati ia menurunkan tubuh Sania dari gendongannya.
"Pergilah kekamarku, tunggu aku disana. ingat, jangan coba coba keluar atau kabur dari disini."
Seperti manusia bodoh, Sania menurut saja dengan perrintah Arlan, Perintah yang sepertinya tidak bisa dibantah.
Sania masuk kedalam kamar yang ada dibelakang ruang kerja Arlan, Setelah menutup pintu Sania menempelkan telinga kanannya pada pintu. Ia ingin tahu, Siapa yang datang.
"Masuk." ucap Arlan sambil merapikan kemejanya yang berantakan.
Arlan tertegun ketika melihat ibu Eva masuk kedalam ruangannya
"Ibu, tumben ibu tidak mengetuk pintu."
Ibu Eva biasanya selalu masuk sembarangan, ia tidak pernah mengetuk pintu karena itu Arlan merasa heran ketika ibunya mengetuk pintu.
"Ibu Kira, Erika ada disini dan kalian sedang... " Ibu Eva tersenyum meledek.
"Ibu.. aku dan Erika tidak pernah melakukan itu." Arlan kesal karena ibu Eva meledeknya, ia jadi kelepasan bicara.
Arlan memang tidak pernah menyentuh Erika. seingatnya, ia hanya melakukannya satu kali. itupun dalam keadaan tidak sadar.
"Apa maksudmu?" Ibu Eva menatap tak percaya pada Arlan.
"Erika sedang hamil, Dokter mengatakan kandungannya lemah. untuk sementara, aku tidak bisa menyentuhnya."
Arlan tidak berbohong, apa yang dikatakannya Arlan memang benar, Arlan pernah mengantar Erika kerumah sakit.
Dokter mengatakan, kandungan Erika lemah. Erika harus banyak istirahat dan tidak boleh melakukan banyak aktifitas yang melelahkan.
"Ibu ada perlu apa?" Arlan ingin ibu Eva cepat pulang karena ia sudah tidak sabar menemui Sania dikamarnya.
"Kamu tidak suka ibu datang kesini?" Ibu Eva bisa mencium gelagat aneh anaknya.
"Bukan begitu bu, aku sedang sibuk kerja. kalau ibu disini, aku tidak bisa bekerja yang ada aku malah menemani ibu ngerumpi."
"Kamu..sudah mulai berani sama ibu. Ya sudah, ibu pulang dulu. ibu datang kesini cuma mau mencari Erika, tapi karena dia tidak ada. ibu pulang saja, ibu tidak akan mengganggumu lagi." Ibu Eva pergi dengan wajah yang tampak kesal.
"Kenapa ibu jadi mirip Erika? apa karena ibu terlalu akrab dengan Erika? jadi sikap Erika menular padanya." Arlan mengegelengkan kepalanya.
"Aku sampai melupakan Sania."
Arlan buru buru menutup pintu ruang kerjanya lalu ia menguncinya, setelah itu ia masuk kedalam kamarnya.
Arlan melihat Sania berdiri melamun, pandangan matanya menatap keluar jendela.
"Sayang. maaf, aku lama." Arlan memeluk Sania dari belakang." Kata kata sayang keluar begitu saja dari mulut Arlan.
Sania tidak menyadari kalau didalam hati Arlan hanya ada Sania seorang, Bahkan tidak ada sedikitpun ruang dihati Arlan yang diisi oleh Erika. Sania, Sania dan hanya Sania yang selalu Arlan pikirkan.
"Lepaskan aku. Jangan sentuh aku lagi." Sania melepaskan pelukan Arlan, Ia langsung balik badan.
Sania dan Arlan berdiri berhadap hadapan.
"Kamu kenapa sayang? marah?" Tanya Arlan dengan suara yang terdengar lembut ditelinga Sania.
Hati Sania sempat tergetar ketika ia mendengar Arlan memanggilnya dengan sebutan sayang, tapi Sania segera menepis rasa itu.
"Arlan, jangan mempermainkan aku lagi. sudah cukup sampai disini. aku mau, kita cerai. aku akan mengurus perceraian kita setelah anakku lahir dan selama kita menunggu bercerai. jangan pernah sentuh aku, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi."
Sania melangkahkan kakinya, ia ingin keluar dari kamar itu, tapi saat Sania memegang daun pintu Arlan kembali memeluknya dari belakang.
"Sania, jangan pergi. katakan, kenapa tiba tiba kamu marah?" Arlan memeluk Sania erat erat, ia tidak rela Sania pergi.
"Aku tidak marah, aku cuma sadar diri. kamu tidak pernah menganggap aku sebagai istri, aku ini hanya pelampiasan."
"Pelampiasan? apa maksudmu?"
"Erika sedang hamil, kamu tidak bisa menyentuhnya. karena itu kamu melampiaskannya padaku, yang kamu pikirkan cuma Erika. padahal aku juga sedang hamil." Sania marah marah, Sejak hamil Sania memang lebih sensitif.
"Apa kandungan kamu juga lemah?" Setelah Sania bicara begitu panjang hanya itu yang Arlan katakan.
"Aku tidak tahu, aku belum periksa kedokter."
"Kamu akan tahu sekarang." Arlan menggendong Sania.
"Sudah aku bilang, jangan sentuh aku." Sania memukul mukul dada Arlan.
"Diamlah, nanti kamu jatuh." Arlan membawa Sania keatas tempat tidur, Ia kemudian membaringkan tubuh Sania.
Sania menggeser tubuhnya, Sania ingin menjauh dari Arlan, tapi bukan Arlan namanya jika ia tidak bisa menaklukan Sania.
Arlan terus mendekati Sania sampai tubuh Sania terpojok disudut tempat tidur.
"Sani, dengarkan aku. aku tidak pernah mau tidur dengan Erika. aku cuma melakukannya satu kali, itupun aku tidak sadar." Wajah Arlan semakin dekat pada wajah Sania.
"Aku tidak mau menyentuh Erika, kamu tahu kenapa? karena saat bersama Erika aku membayangkan dirimu. aku sadar. wanita yang aku cintai, itu adalah dirimu bukan Erika." Setelah sekian lama memendam rasa, Arlan akhirnya menyatakan cintanya pada Sania.
Sania memegangi dadanya, ia merasa detak jantungnya berdetak lebih kencang dan tidak tahu sejak kapan, bibir Arlan sudah menempel dibibir Sania.
Sania memejamkan matanya ketika Arlan kembali mencium bibirnya.