Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Miliarder dengan Nama yang Sama
Minggu sore, hujan turun pelan di luar Apartemen Menteng Park.
Eve duduk bersandar di sofa, kaki ditutup selimut tipis, kepala menyandar di bahu Edric. Di meja ada mangkuk popcorn, dua gelas teh hangat, dan remote yang sejak tadi dikuasai Eve karena Edric memilih film dokumenter perang terlalu sering.
"Kita menonton sesuatu yang ringan," kata Eve.
"Berita ekonomi ringan?"
"Tidak ada yang ringan dari grafik saham."
Namun setelah tiga kali mengganti saluran, televisi berhenti pada program berita bisnis. Presenter sedang membahas forum APEC dan daftar pengusaha Indonesia yang hadir.
"Orang terkaya di Jakarta, Edric Kho, hari ini menghadiri forum APEC..."
Eve langsung mengangkat kepala.
Di layar muncul rekaman seorang pria berjas berjalan di antara pengawal, tetapi wajahnya diburamkan. Di bawahnya tertulis nama yang terlalu familier.
Edric Kho.
Eve menoleh pelan pada pria di sampingnya.
Edric memakan popcorn dengan tenang.
"Kamu bukan orang terkaya itu, kan?" tanya Eve.
"Bukan tidak mungkin."
Eve memukul bahunya dengan bantal kecil. "Jangan bercanda. Kalau kamu sekaya itu, untuk apa tinggal di apartemen biasa dan membiarkan istrimu bekerja lembur sampai punggung patah?"
"Mungkin istrinya suka bekerja."
"Mungkin suaminya terlalu pelit."
Edric tersenyum. "Mungkin juga."
Eve tertawa dan kembali bersandar. "Nama kalian sama persis. Lucu sekali. Bayangkan kalau aku bilang ke Dan, suamiku Edric Kho. Dia pasti mengira aku menikah dengan miliarder misterius."
Edric mengganti saluran dengan cepat.
"Eh, aku belum selesai menertawakan orang kaya itu."
"Kasihan dia."
"Kamu membela dia lagi. Sejak dulu kamu sensitif kalau CEO Kho Group dibahas."
"Saya peduli pada keadilan untuk pria yang sering difitnah karena tidak muncul di kamera."
"Kamu benar-benar aneh."
Mereka bertaruh sore itu karena berita berikutnya membahas rencana Kho Group menambah vendor bahasa untuk kerja sama regional.
"Linguara tidak mungkin menang," kata Eve. "Kami bagus, tapi kecil. Vendor besar pasti lebih kuat."
"Saya rasa Linguara akan menang."
"Kamu terlalu percaya diri."
"Mau bertaruh?"
Eve menoleh. "Apa taruhannya?"
"Yang kalah harus mengabulkan satu permintaan pemenang. Kapan saja boleh ditagih."
Eve menyipit curiga. "Permintaan yang wajar."
"Tentu."
"Tidak boleh menyuruhku berhenti kerja."
"Saya tidak akan."
"Tidak boleh menyuruhku memaafkan orang yang belum pantas dimaafkan."
"Tidak akan."
Eve mengulurkan jari kelingking. "Setuju."
Edric mengaitkan kelingkingnya. "Setuju."
Seminggu kemudian, seluruh kantor Linguara hampir meledak.
Bu Mira keluar dari ruang meeting dengan wajah yang sulit dipercaya. "Kita dapat kontrak tahunan Kho Group."
Orang-orang bertepuk tangan, beberapa berteriak. Dan langsung memutar kursinya ke meja Eve.
"Kamu sadar ini berarti apa?"
"Bonus?" tanya Eve.
"Bonus, lembur, dan kesempatan memakai jas baru."
Eve masih menatap email pengumuman. Nilai kontraknya jauh lebih besar daripada proyek Linguara biasanya. Waktu penandatanganannya juga terlalu cepat. Ia merasa senang, tetapi di balik senang ada rasa heran.
Malamnya, Edric hanya berkata, "Saya menang."
Eve menunjuknya dengan sumpit. "Kamu mencurigakan."
"Saya optimis."
"Optimis yang menyeramkan."
"Permintaan saya disimpan dulu."
"Kenapa?"
Edric menatapnya lembut. "Untuk saat yang paling penting."
Eve berpura-pura bergidik. "Kamu terdengar seperti penagih utang romantis."
"Saya bisa hidup dengan julukan itu."
Sementara itu, Dan dan Feli memulai perang kecil mereka sendiri.
Pada malam setelah welcome dinner, Feli minum terlalu banyak karena merayakan Rangga yang dipermalukan. Dan, yang secara moral tidak tega meninggalkan perempuan mabuk di hotel, mengantar Feli ke kamar yang sudah dipesan Jerry untuk keluarga Kho.
Masalah pertama: Feli menggigit bahu Dan karena mengira ia mencoba mengambil tasnya.
Masalah kedua: Feli muntah di kemeja mahal Dan.
Masalah ketiga: pagi harinya, Feli bangun, melihat Dan tertidur di kursi dekat pintu, lalu menendangnya karena mengira sesuatu yang buruk telah terjadi.
Dan jatuh dari kursi dengan teriakan tertahan.
"Kamu pikir aku apa?" protesnya sambil menunjukkan bahu dengan bekas gigi. "Yang menyerang itu kamu, bukan aku!"
Feli memegang kepala yang pening, lalu melihat kemeja Dan yang sudah rusak. "Aku muntah di situ?"
"Dengan penuh komitmen."
"Aku akan bayar."
"Tidak perlu. Aku akan menyimpannya sebagai bukti kejahatan."
Sejak hari itu, setiap kali Dan datang ke Linguara dengan bekas gigitan yang sengaja ia tunjukkan, Feli mengirim pesan ancaman lewat Eve. Anehnya, keduanya selalu menemukan alasan untuk bertemu lagi. Eve menyebutnya bencana berulang. Edric menyebutnya masalah yang bukan tanggung jawabnya.
Minggu kelima berubah menjadi minggu keenam, lalu ketujuh.
Hidup Eve dan Edric menemukan ritme yang lembut.
Pagi hari, mereka membuat sarapan bersama. Eve mengajari Edric beberapa kata Cirebon yang ia dengar dari Oma Ong dulu, dan Edric mengucapkannya dengan aksen terlalu rapi sampai Eve tertawa. Malam hari, Edric mengajarinya bermain catur. Eve kalah tiga kali, lalu menuduh Edric memakai strategi tentara.
"Ini catur, bukan operasi militer."
"Papan ini punya wilayah, prajurit, dan pengorbanan. Itu cukup dekat."
Eve melempar kacang ke arahnya.
Di balkon, mereka sering duduk melihat lampu Jakarta. Edric mengganti sandal lama Eve dengan yang baru, warna biru lembut, tetapi Eve baru menyadarinya dua minggu kemudian. Jerry mulai datang dengan mobil yang lebih biasa, meski wajahnya setiap kali seperti pengusaha bangkrut. Oma Liana sesekali mengetuk pintu membawa kue talam atau onde-onde, masih dengan peran tetangga baik hati yang terlalu tahu jadwal cucunya.
Eve tidak curiga. Ia hanya merasa, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah tidak lagi berarti tempat ia harus bersiap terluka.
Suatu sore, matahari turun merah di balik gedung. Edric berdiri di balkon, memeluk Eve dari belakang. Angin membawa bau hujan jauh.
"Andai hidup bisa terus seperti ini," kata Eve pelan.
Lengan Edric mengencang di pinggangnya. "Pasti bisa."
Ia mengatakannya lembut, tetapi matanya menatap pantulan kota dengan bayangan gelisah. Ada terlalu banyak hal yang belum ia katakan. Terlalu banyak kebetulan yang harus terus ditambal.
Dua bulan kemudian, kebetulan itu mulai runtuh.
Ponsel Eve berdering saat ia sedang merapikan dokumen di meja kerja. Nomornya dari Cirebon.
Ia mengangkat dengan senyum kecil, mengira mungkin kabar dari tetangga lama Oma Ong.
"Halo?"
Suara di seberang membuat senyum itu hilang.
Wajah Eve berubah pucat.