NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Perhatian yang Berbeda.

​​Pagi itu, matahari belum sepenuhnya menyembul. Jam dinding bahkan belum menunjukkan pukul lima. Arkana melirik ke kamar yang terbuka kecil. Hanifah masih tertidur pulas dengan posisi miring sambil memeluk bantal kecil, tangannya berada di atas perut yang mulai membesar.

​Arkana tersenyum tipis. Ia bangkit perlahan dari tempat tidur agar tidak membangunkan istrinya.

​Sesampainya di dapur, ia langsung menanak nasi dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. "Hari ini masak yang sederhana saja," gumamnya.

​Tak lama kemudian, aroma tumis sayur memenuhi dapur. Sementara itu, Hanifah terbangun karena mencium aroma masakan. Ia tersenyum kecil lalu berjalan perlahan menuju dapur.

​"Mas..."

​Arkana langsung menoleh terkejut. "Lho, kok bangun? Bukannya Mas suruh istirahat?"

​"Aku sudah enakan, Mas. Boleh bantu?" tanya Hanifah.

​Arkana langsung menggeleng tegas. "Tidak."

​"Cuma ambil piring saja?"

​"Tidak."

​"Kalau cuci piring?"

​"Tidak juga, Dek."

​Hanifah mengembuskan napas pelan. "Mas... aku bosan kalau tidak melakukan apa-apa."

​Arkana menghampiri istrinya, lalu menggenggam kedua bahu Hanifah dengan lembut. "Dengar ya. Kata bidan kemarin apa?"

​Hanifah menunduk pasrah. "Bed rest..."

​"Nah. Berarti tugas Hanifah sekarang cuma satu," ucap Arkana.

​"Apa?"

​"Istirahat."

​Hanifah mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku jadi merasa tidak berguna."

​Arkana tertawa kecil, mencubit pelan hidung Hanifah. "Siapa bilang? Kamu lagi mengandung tiga calon jagoan kita. Itu sudah pekerjaan paling berat."

​Hanifah akhirnya ikut tersenyum. "Mas ini ada-ada saja."

​"Sudah, duduk saja di ruang tamu. Nanti kalau sarapan sudah siap, Mas panggil."

​Hanifah menurut. Ia berjalan menuju ruang tamu sambil sesekali mengusap perutnya. Tak lama kemudian, Bibi Ratna keluar dari kamar dengan pakaian kerja rapi. Ia melihat Arkana masih sibuk di dapur.

​"Lho? Kamu lagi yang masak, Arkana?" tanya Bibi Ratna terheran-heran.

​"Iya, Bi. Hanifah masih harus banyak istirahat."

​Bibi Ratna mengangguk pelan. "Bagus juga. Tapi jangan semua pekerjaan kamu ambil sendiri. Nanti istrimu jadi kebiasaan malas."

​Arkana hanya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Bi. Untuk sementara saja, yang penting Hanifah dan anak-anak sehat."

​Bibi Ratna tidak membalas lagi. Ia mengambil teh yang sudah dibikin oleh Arkana dan meminumnya sebelum berangkat.

​Beberapa menit kemudian, mereka bertiga duduk di meja makan. Arkana meletakkan sepiring penuh nasi di depan Hanifah.

​"Nih. Harus dihabiskan ya," perintah Arkana.

​Hanifah melotot melihat piringnya. "Lho? Banyak sekali, Mas."

​"Kan makannya buat empat orang sekaligus," goda Arkana.

​Hanifah terkekeh. "Ih, Mas..."

​Bibi Ratna yang melihat tingkah keduanya hanya menggelengkan kepala pelan. Selesai sarapan, Arkana merapikan piring ke dapur. Hanifah refleks berdiri.

​"Mas, biar aku saja yang cuci."

​Belum sempat melangkah, Arkana langsung menahan tangannya. "Sudah. Duduk. Mas bisa sendiri."

​"Tapi..."

​"Perintah bidan," potong Arkana cepat.

​Hanifah akhirnya kembali duduk. Bibi Ratna memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa, lalu berdiri sambil membawa tas kerjanya.

​"Bibi berangkat dulu."

​"Hati-hati, Bi," ucap Arkana dan Hanifah kompak.

​Sebelum keluar rumah, Bibi Ratna sempat menoleh kembali kepada Hanifah. "Istirahat boleh. Tapi jangan dipakai rebahan terus seharian. Sesekali jalan-jalan di halaman juga tidak apa-apa. Toh, ibu hamil seharusnya banyak gerak, bukan rebahan aja."

​Hanifah hanya mengangguk sopan. "Baik, Bi."

​Setelah Bibi Ratna pergi, Arkana langsung berbisik kepada istrinya. "Yang didengar cuma kata bidan ya, Dek. Bukan kata siapa-siapa."

​Hanifah tertawa kecil. "Iya, Mas."

​Tak sampai setengah jam setelah Arkana berangkat kerja, terdengar suara salam dari depan rumah.

​"Assalamu'alaikum."

​Hanifah segera membuka pintu. "Wa'alaikumsalam... Bu Sulastri."

​Bu Sulastri berdiri membawa kantong berisi buah dan sayuran segar. "Ibu tadi ke pasar, sekalian belikan buah dan sayur buat kamu."

​Hanifah langsung menggeleng sungkan. "Aduh, Bu... kenapa jadi sering merepotkan begini?"

​Bu Sulastri tersenyum hangat. "Repot apanya? Ibu senang kok. Lagipula sekarang kamu tidak boleh capek." Beliau langsung melangkah masuk menuju dapur. "Nah, siang ini biar Ibu yang masak. Hanifah duduk saja."

​Hanifah tersenyum haru. "Terima kasih banyak, Bu."

​Bu Sulastri menoleh sambil tersenyum lebar. "Kalau nanti dedek-dedek lahir... Ibu mau jadi nenek angkat mereka, ya?"

​Hanifah tertawa kecil. "Boleh banget, Bu!"

​Menjelang siang, aroma sayur yang menggugah selera memenuhi seluruh rumah. Bu Sulastri menuangkan sayur ke dalam mangkuk besar.

​"Nah, selesai."

​Hanifah yang duduk di kursi ruang makan tersenyum. "Harum sekali, Bu."

​"Harus harum, biar calon ibunya mau makan," kekeh Bu Sulastri.

​Hanifah mengusap tengkuknya malu. "Tapi akhir-akhir ini kalau mencium bau bawang masih suka mual, Bu."

​"Ibu tahu. Makanya tadi bawangnya cuma sedikit," jawab Bu Sulastri ramah.

​Hanifah mencicipi sesendok kuah. Matanya langsung berbinar. "Enak sekali!"

​"Alhamdulillah." Bu Sulastri ikut duduk di samping Hanifah, matanya tertuju pada perut Hanifah. "Sudah mulai sering bergerak?"

​Hanifah mengangguk ceria. "Iya, Bu. Kadang malam malah aktif sekali."

​Bu Sulastri tertawa pelan. "Wah... sepertinya nanti tiga-tiganya lincah."

​"Semoga saja sehat semua ya, Bu."

​"Aamiin."

...----------------...

​Menjelang sore hari, suara motor Arkana terdengar memasuki halaman. Hanifah baru saja hendak berdiri ketika Arkana sudah lebih dulu melangkah masuk ke rumah.

​"Eits... duduk saja. Mas yang ke sini," cegat Arkana cepat.

​Hanifah terkekeh. "Mas tahu saja."

​"Ya jelas, Mas hafal." Arkana duduk di samping istrinya. "Gimana hari ini? Capek?"

​Hanifah menggeleng. "Tidak. Bu Sulastri tadi datang, masak buat aku."

​Arkana tersenyum lega. "Alhamdulillah. Berarti kamu makan banyak?"

​"Iya, Mas."

​Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Bibi Ratna keluar dengan pakaian rumah santai setelah selesai mandi sepulang kerja.

​"Loh, Arkana sudah pulang?" tanya Bibi Ratna.

​"Iya, Bi."

​Bibi Ratna duduk di kursi ruang makan, menatap Hanifah. "Hanifah, tadi kamu benar-benar tidak mengerjakan apa-apa?"

​Hanifah menjawab pelan. "Tidak, Bi. Tadi Bu Sulastri yang memasak."

​Bibi Ratna mengangguk kecil. "Ya sudah kalau memang masih disuruh istirahat sama bidan. Tapi jangan kelamaan rebahan. Sesekali jalan pelan di halaman juga tidak apa-apa. Bergerak sedikit tidak apa-apa, untuk kesehatan bayimu juga."

​Arkana menghentikan gerakannya yang sedang menuangkan air minum. "Bi," panggil Arkana.

​Bibi Ratna menoleh. "Iya?"

​"Kata bidan, Hanifah diminta bed rest total," tegas Arkana.

​Bibi Ratna mengangguk santai. "Iya, Bibi tahu. Hanya saja badan juga perlu digerakkan sedikit biar tidak pegal."

​Arkana tersenyum sopan namun tegas. "Nanti saya tanyakan lagi ke bidan saat kontrol berikutnya, Bi."

​Bibi Ratna hanya mengangguk pendek. "Nah, begitu lebih baik."

​Malam mulai larut. Setelah salat Isya, Arkana dan Hanifah duduk diruang tamu, tempat Arkana tidur untuk sementara selama ada bibi Ratna.

Hanya lampu tidur kecil yang menyala hangat. Hanifah duduk dan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya sambil mengusap perut.

​"Mas..."

​"Hm?"

​"Kalau nanti dedek lahir... kita kasih nama apa ya?" tanya Hanifah penasaran.

​Arkana tersenyum. "Mas juga belum kepikiran. Soalnya kan belum tahu laki-laki atau perempuan."

​Hanifah terkekeh. "Iya juga ya. Berarti nanti saja."

​Suasana kembali hening sejenak, sebelum Arkana tiba-tiba tersenyum sendiri.

​"Kenapa senyum-senyum, Mas?" tanya Hanifah mengernyit.

​"Mas baru punya ide."

​"Ide apa?"

​Arkana menggeser tubuhnya lebih dekat. "Daripada bingung memanggil mereka bertiga... bagaimana kalau sementara kita kasih nama panggilan?"

​Hanifah tampak antusias. "Nama apa?"

​Arkana mengangkat satu jari. "Yang paling tua... Eka." Kemudian ia mengangkat dua jari. "Yang kedua... Dwi." Lalu tiga jari. "Yang terakhir... Tri."

​Hanifah terdiam beberapa detik, lalu tawanya pecah. "Hahaha... Mas ini lucu sekali!"

​"Lucu kenapa? Tapi kamu suka, kan?"

​"Walaupun lucu, tapi aku suka," jawab Hanifah riang.

​Arkana ikut tertawa. "Jadi nanti kalau mereka lahir, yang paling tenang pasti anak pertama, kita kasih nama Eka. Kalo yang paling usil dan anak kedua kita panggil Dwi. Yang paling terakhir biasanya paling aktif namanya Tri."

​Hanifah menggeleng sambil tertawa. "Belum lahir saja Mas sudah tebak-tebakan untuk sifat mereka."

​"Kan biar gampang." Arkana lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut Hanifah. "Halo... Eka... Dwi... Tri... Ayah lagi ngobrol sama kalian."

​Beberapa detik kemudian... Hanifah tiba-tiba membelalak kaget. "Mas!"

​"Apa, Dek?"

​"Gerak!"

​"Yang benar?" tanya Arkana antusias.

​"Iya!"

​Arkana semakin menempelkan telapak tangannya. Tak lama, sebuah tendangan kecil kembali terasa kuat. Mata Arkana langsung berbinar.

​"MasyaAllah... itu pasti Tri!" seru Arkana girang.

​Hanifah langsung tertawa. "Loh, kok Tri?"

​"Soalnya paling aktif."

​"Belum tentu. Bisa saja Eka, atau Dwi," sanggah Hanifah.

​Mereka kembali tertawa bersama. Arkana kemudian menggenggam erat tangan Hanifah.

​"Dek... terima kasih ya."

​"Untuk apa, Mas?"

​"Sudah menjaga mereka dengan baik."

​Mata Hanifah mulai berkaca-kaca terharu. "Aku juga harus berterima kasih, karena Mas selalu ada buat aku."

​Arkana mengecup pelan punggung tangan istrinya. "Kita sama-sama jaga mereka sampai lahir dengan selamat, ya."

​Hanifah mengangguk dengan senyuman tulus. "Aamiin."

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!