Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0026. Menjemput
🍄🍄🍄
-
-
-
Mita saat ini termenung dikamarnya, memikirkan kejadian dirumah sakit yang entah mengapa sulit dicerna oleh kepalanya. Seolah-seolah Mita belum menerima kenyataan itu.
“Aku hamil...” gumamnya.
“Aku hamil? Kenapa harus hamil? Kenapa aku hamil?”
Pertanyaan tak masuk akal yang hanya keluar dari mulut itu.
“Aku tak percaya jika aku benar-benar hamil... mungkin ada yang salah dengan alat pemeriksaan yang digunakan oleh dokter Sena tadi. Ya... mungkin begitu.” Mita mengangguk-anggukan kepalanya seolah meyakini ucapannya.
“Aku kan dokter kandungan? Jadi aku bisa periksa diriku sendiri,” ujarnya nampak santai saja, sambil berjalan kearah lemari untuk mengambil alat khusus kehamilan.
Namun langkahnya ia hentikan begitu saja, saat belum mencapai lemari itu.
“Dokter Sena tak mungkin salah...” Mita memundurkan tubuhnya dan kembali duduk diatas ranjang. “Dokter Sena sudah bekerja dirumah sakit selama bertahun-tahun. Sebelum aku lahir pun dokter Sena sudah menjadi seorang dokter.” Mita lantas menghela nafas sangat panjang. Lalu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang dengan pikiran yang berkecamuk.
Padahal sejak pulang tadi, ia belum mengganti pakaiannya. Dan belum memakan bubur yang diberikan oleh Fadli. Ia pun sampai melupakannya jika bubur tersebut sedang ia letakkan dimesin pemanas.
Mita lantas beralih mengelus perutnya, yang pada saat itu masih datar.
“Bukankah lucu? Jika perut yang kempes ini ada isinya? Bahkan seorang anak?”
“Apa yang kakak katakan?!”
Suara itu berasal dari ambang pintu, dan itu adalah Miko. Siapa lagi kalau bukan lelaki remaja itu, yang sangat berani masuk kedalam kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu itu.
Miko lantas mendekati kakaknya dengan menggerakkan kursi rodanya.
Sudah beberapa kali, sudah beribu-ribu kali. Mita merasakan rasa nyeri pada jantungnya. Ketika melihat adik satu-satunya yang hanya bisa menggunakan kursi roda, dan tak bisa menggunakan kedua kakinya untuk berjalan. Hati Mita benar-benar sakit melihatnya. Namun Mita selalu menutupi rasa itu dengan senyum cerahnya.
“Mino kok belum tidur?” Mita berdiri dari baringnya. Dan berjalan untuk mendekat pada sang adik, lantas kemudian ia memeluk adiknya itu.
“Kakak ish!” Miko melepas pelukan itu dan Mita pun melepaskannya. “Aku kesini cuman mau nanya, itu bubur siapa yang ada didapur? Kok masih dipanasin? Nanti gosong kalau dibiarin.”
“Astaga!” Mita langsung menepuk keningnya. “Kakak lupa... itu bubur kakak... gimana gosong gak?” tanyanya.
Miko menggeleng tak mematuti tingkah laku kakaknya. “Untung ada aku kak. Kalau enggak pasti udah kebakaran tuh dapur kita.”
Mita langsung menyentil mulut adiknya itu. “Hus! Ngomongnya jangan yang jelek.”
Miko mendengus, “Tapi kak? Apa yang kakak katakan tadi? Isi perut kakak ada isinya?”
Mita langsung gelagapan mendengar pertanyaan itu.
“Ya, ya... ada isinya dong Mino... kalo gak ada kakak nanti kelaparan dong?” Mita mencoba menutupinya. Belum tepat untuk mengatakannya sekarang.
“Tapi aku denger tadi, kalau diperut kakak ada anaknya?” Miko lantas memicingkan matanya, menatap sang kakak dengan curiga. “Atau jangan-jangan kaka–”
“Jangan-jangan apa? Udah ah, kamu cepet tidur lagi sana. Kakak mau mandi, udah keringetan nih!” sela Mita langsung mendorong kursi roda adiknya untuk keluar dari kamarnya.
“Eh? Tapi-tapi–”
“Udah... tidur ya adikku tersayang...” ucap Mita sambil tersenyum pada adiknya.
“Tapi gimana dengan buburnya kak?” tanya Miko yang pada saat itu berada diluar kamar kakaknya.
“Udah kamu makan aja.”
“Beneran?” Miko mengangkat sebelah alisnya.
“Iya...” Mita mengangguk santai. Sampai ia tiba-tiba mengingat sesuatu.
“Yaudah, aku makan aja sampai habis. Kebetulan aku juga sedang lapar, enak nih makan bubur anget malem-malem.” Celetuk Miko lantas memutar kursi rodanya untuk bersiap pergi.
“Eh tunggu!”
Miko menyerigai seketika, “Apa lagi?” tanyanya tanpa menoleh kebelakang.
“Jangan dimakan, kakak lupa tadi belum sempat makan dirumah sakit.” Mita mengingat jika bubur itu pemberian dari Fadli. Jadi ia sedikit tak rela memberikan bubur itu kepada adiknya.
“Bodo amat! Kakak kan bisa pesen makanan. Atau suruh aja bi Siti untuk buatin makanan.” Miko kemudian melanjutkan perjalanannya.
Seketika Mita langsung mengejar adiknya. “Tidakkkk! Jangannn!”
°°°°°
Pagi harinya, seperti biasa Mita akan berangkat kerumah sakit, setelah ia selesai sarapan.
“Kakak berangkat dulu ya? Kamu belajarnya yang rajin disekolah.” Ujar Mita sambil mengelus rambut adiknya.
“Kakak tenang aja... adikmu ini selalu dapat peringkat pertama disekolah. Jadi, gak rajin pun otak ku tetep encer, top cer!” jawab Miko dengan bangga.
“Dih sombong banget,” cibir Mita, sambil terkekeh melihat adiknya. “Yaudah ya. Kakak berangkat dulu.”
“Dih! Gak nunggu-nungguin,” cibir Miko.
“Kamu lama sih...”
Kemudian Mita berjalan keluar dari rumah tanpa menunggu adiknya.
“Halo mang..” Mita menyapa supir khusus keluarganya, yang saat itu sedang membersihkan mobil.
“Eh, non Mita... mau berangkat non?”
“Iya mang.” Mita lantas berjalan menuju mobil pribadinya berada.
“Eh non! Kok kesana?”
Mita mengerut bingung mendengar ucapan itu. “Loh? Kan mau berangkat mang?”
“Iya non, tapi bukannya berangkat sama temennya? Itu diluar sudah ada yang nunggu.”
“Hah?” Mita sangat bingung, sehingga karena penasaran ia pun berjalan keluar dari garasi dan menuju depan rumah.
Mita lantas melotot saat melihat mobil Fadli yang terparkir didepan sana. Ia lantas langsung berlari menghampirinya.
“Dokter Fadli?!” teriak Mita, tepat dijendela mobil pria itu. Saat itu jendelannya terbuka sedikit.
Lelaki itu menoleh, dan dengan gerakan cepat langsung membuka pintu mobil itu.
“Kenapa lari-lari?” Fadli menatap heran wanita itu, ia melihat Mita yang sedang mengatur nafasnya.
“Kenapa dokter ada disini?” Mita bertanya balik.
Fadli menatap Mita dengan tatapan tajam. “Bukankah sudah saya katakan. Jika mulai sekarang saya yang akan mengantar anda sampai kerumah sakit dengan selamat!” tegasnya, membuat Mita menganga. Mita tak menyangka jika yang dikatakan pria itu benar-benar serius.
-
-
-
🍄🍄🍄
Ayo komenlah wahai pembaca... berilah tanggapan kalian setelah membaca bab ini😉
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪