Setelah 1000 tahun berlalu, Putri Amora yang merupakan putri dari kerajaan vampir telah terlahir kembali sebagai manusia biasa yang bernama Shania. Takdir juga mempertemukannya kembali dengan Pangeran Leon, pangeran dari bangsa serigala, yang bereinkarnasi menjadi Adrian.
Kisah cinta terlarang di masa lalu membuat keduanya terbunuh, dan pangeran Leon mendapat kutukan, dia tetap menjadi manusia serigala yang menjelma di tubuh Adrian dan begitu tertarik dengan jiwa murni Amora yang berada di tubuh Shania.
Kisah cinta merekapun terulang kembali. Akankah mereka bisa bersatu atau hubungan mereka akan berakhir tragis seperti sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Aarrrggghhh!!!!" Adrian berteriak dan memukuli tembok dengan tangannya untuk melampiaskan segala kekecewaannya. Emosinya tidak bisa dia tahan hingga dadanya terasa sesak. Ototnya mulai menegang. Dia merasakan gen serigala itu bereaksi lagi, tapi dengan sekuat tenaga Adrian menahan dirinya. "Gue benci sama diri gue sendiri! Eeerrrgghhh!!!"
Aura tidak sengaja melihat Adrian yang berada di belakang sekolah saat itu, dia langsung berjalan menghampiriya. "Ian lo kenapa?"
Badan Adrian seperti tak berdaya lagi. Dia beringsut duduk bersandar di lantai. Adrian benar-benar terlihat kacau.
Aura begitu kasihan melihat Adrian saat ini. Dia ikut terbawa perasaan. Aura ikut duduk dan memegang kedua pundak Adrian. "Lo tenangin pikiran lo. Jangan terbawa emosi."
"Shania udah tahu tentang masa lalunya. Dia sudah memakai gelang itu." cerita Adrian singkat.
"Bagus dong. Terus apa lagi yang lo pikirin. Lo tinggal jujur sama Shania tentang keadaan lo saat ini."
"Shania mengira kalau kita sama-sama terlahir sebagai manusia. Dia gak tahu kalau sebenarnya di diri gue masih ada gen serigala itu." kata Adrian sambil menundukkan pandangannya.
"Shania pasti bisa nerima lo apa adanya." Aura terus meyakinkan Adrian yang sudah hampir putus asa itu.
"Gak!" Adrian masih kekeh dengan pendiriannya. "Gue gak bisa jujur sama Shania. Entah kenapa gue takut dan sulit banget untuk bilang yang sebenarnya sama dia."
Adrian berdiri yang diikuti oleh Aura. "Apa lo lupa kalau besok ada prom night, dan besok itu adalah hari spesial buat Shania. Lo gak boleh melewatkan momen yang tepat ini."
"Yah, gue pasti akan buat surprise buat Shania meskipun gak lewat gue," ucap Adrian sambil terus berjalan.
Aura masih saja mengikuti langkah Adrian. "Yan, maksud lo apa? Gue gak ngerti."
"Gue cuma mau Shania melupakan perasaannya sama gue. Jadi, gue harus buat dia jatuh cinta dengan orang lain."
Aura menarik tangan Adrian agar Adrian menghentikan langkahnya. "Gak! Gue gak akan biarin itu. Cukup Kak Mora dan Pangeran Leon yang cintanya hancur. Gue gak akan biarin lo sama Shania berpisah."
"Tapi itu gak mungkin..." Adrian menghentikan perkataannya saat dilihatnya Shania sudah berada di dekatnya bersama Edo. Adrian bisa bernapas lega. Untunglah Shania sudah sadar. Lalu dia menarik tangan Aura dan mengajaknya pergi.
"Aura!" panggil Shania sambil mengejar Aura.
Aura menoleh dan menghentikan langkahnya. "Ian lepasin tangan gue!"
Adrian pun melepaskan tangan Aura.
Shania berjalan mendekati Aura. Mereka saling bertatapan. Tiba-tiba Shania memeluk Aura. "Gue seneng, akhirnya gue punya seorang adik. Meskipun gue hanya reinkarnasi dari kakak lo."
"Kak Mora..." Aura semakin mempererat pelukannya. Dia begitu sangat merindukan saat-saat seperti ini.
"Gue sekarang Shania, lo panggil gue Shania." Shania melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Aura. "Tapi kita akan tetap menjadi saudara."
Aura pun tersenyum. Akhirnya kerinduannya pada kakaknya terobati juga.
Adrian tersenyum tipis melihat mereka berdua kemudian secara perlahan dia membalikkan badannya dan beranjak pergi menuju kelas.
"Ian!"
Adrian menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan dari Devi. Terlihat Devi sedang berjalan ke arahnya.
"Lo besok datang kan ke acara prom night?" tanya Devi.
"Hmm,, emang kenapa? Jangan bilang lo mau jadi pasangan dansa gue. Gue gak mau!"
Devi memukul pundak Adrian karena bukan itu maksudnya. "Lo ke-PD-an banget. Kali ini gue gak akan ngajak lo."
"Terus?"
"Gue cuma ingin bahagiain sahabat gue aja. Lo datang kan sama Shania?" tanyanya lagi.
Adrian menggelengkan kepalanya. "Dia datang kok, tapi bukan sama gue."
"Lo kenapa sih? Ayolah, ajak Shania pergi sama lo. Shania gak mau datang kalau lo gak ngajak." Devi masih saja kekeh. Dia ingin Adrian datang bersama Shania meskipun dia sendiri akan terluka.
"Shania pasti datang. Gue kan ngisi band di acara itu, gak mungkinlah gue ikutan dansa juga."
"Ih, elo jadi cowok PHP banget. Sekarang Shania udah cinta sama lo tapi lo malah menjauh. Bullshits lo!!" setelah itu Devi pergi.
"Lagi PMS kali yah tuh anak. Pakai otot banget." Adrian berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk dibangkunya yang berada di belakang Dika. Mereka langsung mengobrol tentang penampilan bandnya besok malam.
"Yan, gimana jadi nyanyi lagu itu?" tanya Dika.
"Jadi dong, ntar sore kita latihan." jawab Adrian.
"Lo serius gak ikutan kontes raja dan ratu dansa?" tanya Dika lagi. Sebenarnya Adrian memang salah satu kandidat yang cocok untuk dinobatkan sebagai raja dansa.
"Gak, kan lo pada mau manggung masak iya gue mau ngedansa sendiri. Lagian juga mau dansa ama siapa? Ama sapu?" Adrian menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya.
"Ya sama Shania lah. Lo gak ajak dia? Dia pasti ngarep banget lo ajak dansa."
Adrian menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Hari ini sudah tiga orang dengan kata-kata yang hampir sama dia dengar. "Biar dia sama orang lain aja yang lebih bisa menjaga dia."
"Terserah lo deh." Dika pun pasrah dengan opini sahabatnya kali ini yang sedang begitu labil itu.
jgn lupa mampir jg ke karyaku "faith"
ayok kita saling dukung😁