NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaring yang Mulai Merapat

Pagi itu, ruang rapat utama di lantai teratas gedung Nandotomo Group kembali dipenuhi oleh ketegangan, namun kali ini bukan karena amarah tak beralasan sang CEO. Jiro duduk tegak di kepala meja. Di sisi kanannya, seorang pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas abu-abu mahal duduk sembari membuka sebuah laptop khusus yang terhubung ke jaringan hukum pusat. Pria itu adalah Budiyono, pengacara paling senior sekaligus ahli hukum pidana terbaik yang dimiliki oleh keluarga Nandotomo selama tiga generasi.

Senjani duduk di sisi kiri Jiro, menggenggam erat sebuah map berisi dokumen asli kepemilikan truk almarhum ayahnya. Kehadiran Senjani di ruang rapat direksi ini sempat memicu tanda tanya di kalangan staf operasional, namun satu tatapan tajam dari Jiro sudah cukup untuk membungkam semua mulut yang ingin bergunjing.

"Tuan Jiro, Nona Senjani," Pak Budiyono membuka suara, membetulkan letak kacamata minusnya sebelum memutar layar laptop menghadap mereka berdua. "Investigasi senyap yang kita lakukan selama empat puluh delapan jam terakhir membuahkan hasil yang sangat signifikan. Kami berhasil melacak aliran dana dari G-Nandotomo Holding, yaitu perusahaan cangkang milik Grayson yang mengalir ke sebuah rekening atas nama mantan kepala mekanik di perusahaan otobus tempat mendiang Tuan Dion Kiran bekerja dulu."

Senjani menahan napasnya, memajukan tubuhnya ke depan meja marmer. "Mantan kepala mekanik? Apakah dia yang menyabotase rem truk Ayah saya, Pak?"

"Ya, tebakan Andar benar, Nona Senjani," Pak Budiyono mengangguk tegas. "Dua hari setelah kecelakaan hebat itu terjadi, mekanik tersebut mendadak mengundurkan diri dengan alasan mudik ke kampung halamannya di Jawa Tengah. Namun, catatan perbankan menunjukkan ada dana masuk sebesar lima ratus juta rupiah ke rekening istrinya, tepat dua belas jam sebelum truk Tuan Surya dinyatakan siap jalan dari bengkel."

Brak!

Jiro menggebrak sandaran lengan kursinya dengan tangan kiri yang mengepal kuat. Matanya berkilat marah, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. "Bajingan itu lagi... dia benar-benar memperlakukan nyawa manusia seperti pion di papan catur miliknya!"

"Mas, tenang... ingat kondisi kakimu," Senjani buru-buru mengulurkan tangannya, mengusap lengan tegap milik Jiro dengan gerakan lembut yang menenangkan. Sentuhan hangat istrinya terbukti ampuh, napas Jiro yang semula memburu perlahan mulai kembali teratur, meskipun rahang tegasnya masih mengeras menahan gejolak emosi.

Jiro menoleh menatap Senjani, menggenggam balik jemari istrinya dengan erat di atas meja, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguatkan wanita itu. "Jangan khawatir, Sayang. Jaring hukum kita sudah terpasang. Aku tidak akan membiarkan tikus itu lepas kali ini."

Jiro kembali menatap pengacaranya. "Pak Budiyono, apakah bukti-bukti ini sudah cukup untuk menyeret Grayson kembali dari Kalimantan dengan status tersangka pembunuhan berencana?"

"Secara teori hukum pidana, ini sudah lebih dari cukup, Tuan Jiro," jawab Pak Budiyono dengan senyuman profesional yang sarat akan keyakinan. "Namun, kita memiliki satu kendala kecil. Mantan kepala mekanik itu saat ini berstatus buron. Begitu berita tentang penangkapan pelayan kamar Anda yang menukar obat mencuat ke media dua hari lalu, mekanik tersebut langsung melarikan diri dari kampung halamannya. Jika kita tidak bisa membawanya ke depan penyidik untuk memberikan kesaksian langsung, Grayson bisa menggunakan pengacara mahalnya untuk berargumen bahwa aliran dana itu hanyalah transaksi bisnis biasa."

Mendengar hal itu, Senjani merasakan dadanya kembali menyempit oleh rasa cemas. "Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pak? Kita tidak bisa membiarkan Grayson lolos begitu saja setelah menghancurkan hidup keluarga kami."

Jiro tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh kelicikan khas seorang penguasa bisnis tertinggi. Dia bersandar pada kursi kulitnya, mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di atas meja dengan ritme yang teratur.

"Dia tidak akan bisa lolos," ucap Jiro dengan nada suara yang sangat tenang namun mematikan. "Grayson adalah pria yang tamak dan penuh kepanikan. Begitu dia tahu posisinya terancam di pedalaman Kalimantan, dia pasti akan mencoba menghubungi sekutu-sekutu lamanya di Jakarta untuk mencari perlindungan atau melarikan diri ke luar negeri."

Jiro menoleh ke arah Adriano yang berdiri siaga di dekat pintu masuk. "Drian, aktifkan penyadapan tingkat tinggi pada seluruh jalur komunikasi satelit yang digunakan di area perkebunan sawit Kalimantan milik kita. Awasi setiap panggilan keluar atau pesan singkat yang dikirimkan oleh Grayson atau Kumala."

"Baik, Tuan Muda. Perintah dilaksanakan," jawab Adriano membungkuk hormat, lalu segera melangkah keluar ruangan untuk berkoordinasi dengan tim IT forensik mereka.

Jiro menarik tubuh Senjani mendekat, mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh kelembutan di depan Pak Budiyono yang berpura-pura sibuk merapikan berkas di laptopnya. "Dua hari lagi adalah peringatan enam bulan kepergian ayahmu, bukan?"

Senjani tertegun, matanya berkaca-kaca menatap suaminya. Dia tidak menyangka Jiro mengingat detail tanggal tersebut dari berkas kepolisian yang dibacanya. "Iya, Mas..."

"Kita akan pergi ke makam beliau bersama-sama setelah semua ini selesai, oke?" bisik Jiro dengan suara bariton yang dalam, sarat akan janji yang mutlak. "Aku akan membawa kepala Grayson berlutut di depan nisan mertuaku untuk menebus seluruh darah dan air mata yang telah dia tumpahkan dari keluarga kita."

Di bawah binar lampu ruang rapat yang mewah, Senjani menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Jiro. Rasa takut dan trauma masa lalu yang sempat menghantui hidupnya kini telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh keyakinan yang membara bahwa keadilan yang selama ini tertunda... akhirnya akan segera tegak di bawah jemari suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!