"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 - Bukan Anak Kandung
Mas Kevin.
Dua kata itu diam di layar seperti pisau yang belum dicabut.
Raka tidak bergerak selama hampir satu menit.
Video tetap berjalan tanpa suara. Ratna menunduk, mengetik, tersenyum, lalu memasukkan ponsel ke saku. Setelah itu ia berjalan keluar dari bingkai seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kalau kamera itu memiliki audio, mungkin Raka bisa mendengar suaranya. Mungkin ia bisa mendengar tawa manja yang dulu tidak pernah diberikan kepada suaminya. Tetapi Raka sengaja mematikan audio.
Ia tidak menyesal.
Satu nama sudah cukup untuk membuka pintu yang lama ia kunci dengan kebodohan.
Mas Kevin.
Dalam kehidupan sebelumnya, nama itu muncul terlalu terlambat. Saat Raka hampir mati, saat tubuhnya dingin, saat semua kerja kerasnya habis untuk orang yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Ia hanya sempat mendengar potongan kata dari mulut Ratna dan Budi.
Anak itu bukan...
Kalimatnya putus bersama napasnya.
Sekarang, ia tidak perlu menunggu maut untuk menyelesaikan kalimat itu.
Raka menutup video, menyalin file ke folder terenkripsi, lalu memberi nama: Ratna_Kevin_indikasi_awal.mp4.
Indikasi.
Belum bukti penuh.
Ia tidak akan jatuh ke lubang yang sama dengan orang-orang Hartono: merasa benar hanya karena emosi sedang panas.
Pagi berikutnya, Ratna pulang sebentar bersama Nila.
Anak kecil itu mengantuk, rambutnya diikat asal-asalan, memeluk boneka kelinci lusuh di dada. Ratna tampak sibuk dengan ponsel, terlalu sibuk untuk memperhatikan Raka yang berdiri di dekat dapur.
"Aku titip Nila sebentar. Ibu minta aku ke rumah," kata Ratna datar.
"Berapa lama?"
"Jangan banyak tanya. Kamu kan di rumah."
Raka menatap Nila.
Anak itu mengucek mata. "Papa..."
Suara kecil itu menghantam tempat yang berbeda dari amarahnya.
Raka tidak tersenyum. Ia juga tidak membentak.
"Duduk dulu, Nila."
Nila duduk di sofa, memeluk bonekanya, lalu menonton video anak-anak dari ponsel lama. Ratna keluar lagi kurang dari sepuluh menit kemudian, meninggalkan bau parfum murah dan suara pintu yang ditutup keras.
Raka berdiri di ruang tengah.
Di depan matanya ada anak yang selama bertahun-tahun ia panggil sayang.
Di kepalanya ada nama pria lain.
Ia mengepalkan tangan, lalu perlahan membuka jari-jarinya.
Nila tidak memilih lahir dari kebohongan siapa pun.
Jika ada yang harus dihancurkan, itu Ratna.
Bukan anak ini.
Raka mengambil gelas plastik baru, menuang susu UHT, lalu meletakkannya di meja kecil.
"Minum dulu."
Nila menatapnya sebentar. "Papa nggak kerja?"
"Papa ada urusan."
"Mama marah?"
"Minum saja."
Kalimat itu terdengar lebih dingin daripada yang ia inginkan. Nila menunduk, kedua tangan kecilnya memegang gelas.
Raka memalingkan wajah.
Beberapa menit kemudian, ketika Nila sibuk dengan kartunnya, Raka masuk ke kamar kecil yang biasa dipakai menyimpan barang anak itu. Di sana ada sikat gigi kecil, sisir merah muda dengan beberapa helai rambut, dan handuk bergambar kartun.
Ia mengambil sikat gigi yang sudah dipakai dan beberapa helai rambut dari sisir, memasukkannya ke kantong sampel steril yang ia beli pagi itu dari apotek. Untuk sampel dirinya, ia menggunakan swab pipi sendiri sesuai instruksi paket pengambilan.
Tangannya tenang.
Terlalu tenang.
Justru itu yang membuat dadanya terasa kosong.
Siang itu, setelah Ratna menjemput Nila kembali dengan wajah kesal karena Raka tidak menanyakan ke mana ia pergi, Raka langsung menuju sebuah laboratorium independen yang bekerja sama dengan rumah sakit swasta.
Resepsionis perempuan memeriksa formulirnya.
"Untuk tes paternitas, Pak?"
"Ya."
"Hasil standar tiga sampai lima hari kerja. Ada layanan cepat dua hari, biaya lebih tinggi."
"Pakai yang cepat."
"Untuk keperluan pribadi atau legal?"
Raka menatap meja putih di depan resepsionis. "Awalnya pribadi. Tapi saya perlu laporan yang bisa dikonsultasikan ke pengacara."
Perempuan itu mengangguk. "Kami bisa keluarkan laporan resmi laboratorium. Untuk proses pengadilan, biasanya pengacara akan memberi arahan lanjutan jika perlu verifikasi tambahan."
"Tidak masalah."
Total biaya Rp 12.800.000.
Raka membayar tanpa tawar.
[Transaksi tervalidasi.]
[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga: Rp 12.800.000.]
[Cashback 10x diproses: Rp 128.000.000.]
Saldo: Rp 16.769.433.900.
Dulu, uangnya habis untuk susu, sekolah, dokter, pesta ulang tahun, dan kebutuhan keluarga yang selalu lebih besar dari gajinya.
Sekarang, uang itu kembali sepuluh kali lipat untuk membeli kebenaran.
Dokter laboratorium, pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan suara rendah, memeriksa kelengkapan sampel.
"Pak Raka, saya perlu sampaikan. Tes seperti ini sering berat secara emosional."
"Saya tahu."
"Hasilnya bisa mengubah hubungan keluarga."
"Keluarga saya sudah berubah sebelum hasil keluar."
Dokter itu berhenti menulis. Ia menatap Raka sebentar, mungkin ingin bertanya, tetapi profesionalismenya menahan lidah.
"Baik. Kami akan proses secepat mungkin. Mohon pastikan nomor telepon aktif."
"Kirim juga salinan digital terenkripsi."
"Bisa."
Dua hari terasa lebih panjang daripada dua tahun.
Raka tidak menelepon Ratna. Ia tidak menanyakan Kevin. Ia hanya mengamati kamera, menyusun folder bukti, membaca dasar proses cerai talak di Pengadilan Agama, dan mencari nama pengacara terbaik di Surabaya.
Ratna beberapa kali mengirim pesan.
Ratna: Kamu masih mau keras kepala?
Ratna: Ibu bilang kamu harus datang malam ini.
Ratna: Jangan pikir karena punya mobil kamu bisa kurang ajar.
Raka tidak membalas.
Pada hari ketiga, email dari laboratorium masuk pukul 09.17.
Subjeknya pendek.
Hasil Tes Paternitas.
Raka duduk di meja kerja, mengunduh file, lalu memasukkan kata sandi yang dikirim melalui SMS.
PDF terbuka.
Ada logo laboratorium, nomor laporan, tanggal, identitas sampel, dan tabel penanda genetik yang panjang.
Matanya langsung turun ke bagian kesimpulan.
Kalimat itu berdiri sendiri, rapi, tanpa emosi.
Berdasarkan analisis DNA, individu laki-laki yang diuji tidak dapat dinyatakan sebagai ayah biologis dari anak yang diuji.
Raka membaca lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kursi di bawahnya terasa keras. Udara dari AC menyentuh kulitnya, tetapi punggungnya panas.
Bukan anak kandung.
Jadi benar.
Selama bertahun-tahun, ia memberi makan keluarga Hartono sekaligus membiayai kebohongan mereka. Ia menggendong anak yang setiap tawa kecilnya dipakai Ratna sebagai rantai. Ia bekerja sampai punggungnya sakit untuk membayar susu yang mungkin bahkan pernah dibanggakan kepada pria lain.
Nila tertawa dalam ingatannya.
Papa pulang?
Papa capek?
Papa beli roti?
Raka menutup mata.
Amarahnya ingin mencari wajah untuk dipukul.
Tetapi wajah pertama yang muncul adalah wajah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Ia membuka mata lagi.
Tidak.
Ia tidak akan menjadi monster hanya karena Ratna adalah pendusta.
Raka menyimpan laporan itu ke tiga tempat: laptop terenkripsi, drive cloud pribadi, dan flash drive baru yang ia masukkan ke kotak besi bersama kontrak, invoice, serta salinan rekaman kamera.
Setelah itu ia mencetak satu eksemplar.
Kertas masih hangat saat keluar dari printer.
Di pojok bawah, nomor laporan terlihat jelas.
Inilah kunci yang dulu tidak ia miliki.
Bukan untuk mempermalukan Nila.
Bukan untuk berteriak di depan tetangga.
Untuk memutus rantai.
Ponselnya bergetar lagi.
Ratna: Malam ini pulang cepat. Kita perlu bicara soal uang untuk Budi.
Raka menatap pesan itu, lalu menatap laporan DNA di tangannya.
Lucu.
Setelah semua ini, mereka masih mengira topiknya adalah uang.
Ia memasukkan laporan ke map hitam, menutupnya perlahan, dan suaranya keluar rendah.
"Ratna, perceraian ini... kamu tidak bisa menolak."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....