Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mili terbangun saat semburat sinar matahari pagi menerobos celah tirai kamar utama.
Jemari tangannya secara refleks meraba bagian tempat tidur di sampingnya, namun yang ia rasakan hanyalah sprei yang rapi, kosong, dan dingin.
David benar-benar tidak kembali ke kamar semalaman setelah pergi meninggalkannya begitu saja.
Dengan perasaan campur aduk antara kebingungan dan rasa cemas yang membuncah, Mili bangkit dari tempat tidur.
Setelah mengganti gaun tidurnya, ia melangkah keluar dari kamar utama untuk mencari keberadaan suaminya.
"David? Kamu di mana?" panggil Mili lembut. Suaranya bergema samar menyusuri lorong-lorong megah rumah besar yang terasa terlampau sunyi pagi itu.
Ia berjalan terus melintasi koridor demi koridor, hingga akhirnya langkah kakinya terhenti tepat di ujung koridor lantai atas yang remang-remang.
DEG!
Jantung Mili berdesir hebat. Di ujung lorong itu, pintu kayu tebal berukir—kamar terlarang yang selalu diperingatkan David sebagai tempat berhantu—tampak sedikit terbuka Renggang. Celah gelap di balik pintu itu seolah memanggilnya.
Mili berdiri mematung di tempatnya. Bayangan peringatan David berbenturan dengan rasa penasaran yang amat sangat di dalam dadanya.
Mengapa pintu itu terbuka? Apakah David baru saja dari sana?
"Apa benar di dalam sana ada hantu?" bisik Mili ragu pada dirinya sendiri.
Dengan helaan napas panjang dan keberanian yang dipaksakan, Mili mengayunkan langkah perlahan mendekati celah pintu tersebut.
Ia menyeburkan jemarinya pada gagang besi dingin, mendorong pintu kayu yang berat itu secara perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang.
Namun, belum sempat matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan di dalam...
BAM!
Mekanisme engsel tebal di pintu itu berayun cepat mendadak membalik.
Pintu kayu berukir itu tertutup rapat dengan dentuman keras!
KLIK!
Suara grendel besi otomatis yang berat mengunci pintu itu secara sempurna dari luar.
Seketika itu juga, keheningan yang mencekik dan kegelapan gulita yang pekat menyelimuti Mili.
Ruangan itu sama sekali tidak memiliki jendela atau celah cahaya sedikit pun.
Rasa panik luar biasa mendadak menusuk dada Mili.
"David! Tolong! Pintunya terkunci!" jerit Mili ketakutan.
Ia berlari menabrak pintu tebal itu, menggedor-gedor permukaannya yang masif dengan kedua telapak tangannya sejadi-jadinya.
"Bibi! Siapa pun di luar... tolong aku! Aku terkunci di dalam!" teriak Mili dengan suara bergetar dan napas terengah-engah.
Namun, dinding dan pintu kamar rahasia itu dirancang kedap suara sempurna.
Jeritan dan gedoran histeris Mili terserap sepenuhnya di dalam kegelapan ruangan, tak setitik pun menembus keluar ke koridor rumah yang sunyi.
Dengan tubuh bergetar hebat dan napas yang tersengal ketakutan, jemari Mili menyusuri dinding batu yang dingin, meraba-raba dalam kegelapan hingga akhirnya merasai sebuah sakelar lampu.
Dengan gemetar, ia menekan sakelar tersebut.
SREKKK!
Lampu sorot redup bernuansa temaram menyala seketika, menerangi tiap sudut ruangan tersebut.
Betapa syok dan hancurnya Mili saat pandangannya menangkap pemandangan di hadapannya.
Ruangan itu bernuansa sangat gelap, luas, dan sama sekali tanpa jendela.
Di salah satu sisi dinding batu yang kokoh, tergantung beberapa bilah cambuk kulit tebal yang ternoda oleh lapisan bercak darah kering yang menebal.
Tatapannya kemudian jatuh ke atas lantai marmer dingin di tengah ruangan—terdapat genangan dan sisa busa darah segar yang masih memerah, bekas milik David beberapa jam lalu.
Kenyataan pahit menghantam dada Mili bagaikan petir di siang bolong.
Kata "hantu" yang selama ini diucapkan David hanyalah kebohongan besar untuk menyembunyikan rahasia kelam, kegilaan, dan rasa sakit menyiksa yang disimpannya sendiri.
Mili menyadari bahwa "monster" yang dimaksud David semalam bukanlah kiasan belaka, melainkan sisi gelap mengerikan yang mengeram di dalam diri suaminya.
Didera rasa takut yang luar biasa, kepala yang sakit, dan kepedihan mendalam atas rahasia kelam David, lutut Mili mendadak lemas.
Tubuhnya tak sanggup lagi menopang beban. Ia merosot dan terduduk lemas di sudut ruangan tergelap, memeluk erat kedua lututnya.
Isak tangis ketakutan pecah di dalam ruangan yang sunyi dan mengurungnya itu.
Airmata mengalir deras membasahi pipinya saat ia memandangi genangan darah dan cambuk berdarah di hadapannya.
"David... aku takut..." gumam Mili terbata-bata di antara isak tangisnya yang pilu, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat sambil terus berharap dan berdoa ada seseorang dari luar yang akan membukakan pintu untuk menyelamatkannya.
Pagi kian menua di kediaman mewah Kartajaya. Bibi berjalan menelusuri lorong menuju kamar utama sambil membawakan nampan berisi sarapan hangat untuk sang Nyonya rumah.
Tok... tok... tok...
"Nyonya Mili? Sarapan paginya sudah siap, Nyonya," panggil Bibi dengan suara lembut dari luar pintu.
Hening.
Sama sekali tidak ada jawaban atau pergerakan dari dalam kamar.
Bibi mencoba mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.
Saat melangkah masuk, ia mendapati kamar utama itu sudah kosong melompong.
Tempat tidur tertata rapi, dan pakaian yang dibeli kemarin masih tersusun di atas meja.
Bibi yang kebingungan lantas turun ke lantai bawah dan bertanya kepada satpam serta para pekerja di luar.
"Mobil Tuan David sudah berangkat dari subuh tadi, Bi," ujar salah seorang penjaga gerbang.
Mendengar hal itu, Bibi dan para pelayan saling berpandangan.
Karena menyadari mobil David sudah tidak ada dan Mili juga tidak terlihat di mana pun, mereka langsung mengambil kesimpulan sendiri.
Mereka mengira Tuan David sengaja mengajak Nyonya Mili pergi ke kantor lebih awal—sekaligus membawanya jalan-jalan romantis seperti kemarin.
Tak ada satu pun pelayan yang berniat memeriksa koridor atas secara menyeluruh.
Terlebih lagi, lorong terlarang di ujung lantai dua adalah area yang paling ditakuti.
David telah mengeluarkan ancaman keras sejak dulu: siapa pun pekerja yang berani melintasi atau mendekati area kamar itu akan langsung dipecat hari itu juga.
Merasa yakin bahwa Nyonya rumah sedang menikmati waktunya bersama sang suami, Bibi bergegas mengambil ponsel rumah.
Ia menghubungi Ibu Ratna, Pak Hendra, dan Ibu Sofia secara bergantian untuk mengabarkan perubahan jadwal.
"Selamat pagi, Ibu... Mohon maaf sekali untuk hari ini sesi belajarnya diliburkan dulu ya. Nyonya Mili diajak Tuan David ikut ke perusahaan pagi-pagi sekali," tutur Bibi dengan sopan melalui sambungan telepon.
Setelah mendapat konfirmasi dari ketiga guru privat tersebut, Bibi menutup teleponnya dengan senyuman lega.
Tanpa sedikit pun menyadari bahwa di ujung koridor lantai atas yang remang dan kedap suara, Mili tengah meringkuk ketakutan dalam kegelapan yang mematikan.
Detik demi detik berlalu lambat menyiksa. Perut Mili melilit hebat didera rasa lapar, sementara napasnya kian sesak dalam keheningan yang memotong asa.
Dalam kegelapan dan kepungan bau amis darah yang memualkan, pertahanan tubuhnya akhirnya runtuh.
Mata Mili terpejam erat, dan tubuh lemahnya jatuh pingsan di sudut lantai dingin ruangan itu.
Sementara itu, di luar, mobil mewah David melaju kencang membelah jalanan.
Sepanjang hari di kantor, pikirannya sama sekali tidak bisa fokus.
Rasa gelisah, rindu, dan penyesalan mendalam membakar dadanya karena telah meninggalkan Mili sendirian setelah kejadian semalam.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, hal pertama yang dicarinya adalah sang istri.
"Di mana istriku?" tanya David tegas kepada para pelayan yang sedang merapikan ruang tengah.
Bibi yang sedang memegang kain lap seketika menghentikan kegiatannya. Raut wajahnya berubah bingung.
"B-bukankah Nyonya, pergi bersama Tuan sejak subuh tadi?"
David seketika membeku. "Apa maksudmu? Aku pergi sendiri!"
"Tapi Tuan... kamar anda kosong dan mobil Tuan sudah tidak ada, kami pikir Nyonya ikut bersama Tuan ke kantor..." bisik Bibi dengan wajah menyiagakan kepanikan.
Kesadaran mengerikan menghantam kepala David bagaikan petir menyambar.
Jantungnya berdegup gila-gilaan. Tanpa membuang waktu satu detik pun, David berlari kesetanan menuju ruang kontrol keamanan rumahnya.
Dengan jemari bergetar hebat, ia memutar ulang rekaman CCTV koridor lantai atas tadi pagi.
David membelalakkan matanya. Di layar monitor, ia melihat sosok Mili yang berjalan ragu, mendekati celah pintu kamar terlarangnya, melangkah masuk, dan...
BAM!
Pintu berat itu tertutup dan terkunci otomatis dari luar.
"TIDAK! MILI!" jerit David meledak.
David berlari sekuat tenaga menaiki tangga, menyusuri koridor remang dengan napas memburu dan air mata ketakutan yang nyaris menetes.
Ia merogoh saku jasnya, merampas kunci master dengan jemari yang gemetar hebat, memasukkannya ke lubang kunci, dan mendobrak pintu tebal itu secara kasar.
BRAKKK!
Saat pintu raksasa itu terbuka lebar, bau amis darah yang kental dan keheningan mencekik langsung menyambut hidung dan inderanya.
Lampu ruangan yang masih menyala terang memperlihatkan segalanya: cambuk berdarah di dinding, genangan darahnya sendiri di lantai, dan di sudut ruangan tergelap
Mili tergeletak tak sadarkan diri. Wajah istrinya pucat pasi bagai kertas, jejak air mata kering berbekas di pipinya, dan tubuh kecilnya terasa dingin saat dijangkau.
David merosot berlutut di lantai. Dengan tangan bergetar ketakutan, ia merengkuh dan membawa tubuh tak berdaya istrinya ke dalam pelukan eratnya.
"Mili... Mili, bangun! Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku!" bisik David dengan suara pecah yang tercekik tangis.
Dada David dihantam rasa bersalah luar biasa yang amat menyiksa.
Rahasia tergelap, gila, dan paling mengerikan dalam hidupnya kini telah telanjang bulat di depan mata wanita yang paling ingin ia lindungi dari kerasnya dunia.